Bougenville of Love

Bougenville of Love
57 - Pelan-Pelan Saja.



Damia tetap menunggu di ruang tengah saat Angga mengganti celana di dalam kamarnya. Hingga akhirnya, Angga pun ke luar dari dalam kamar dan kembali menemui Damia.


Melihat Angga ke luar dari dalam kamar, Damia yang sedang duduk di sofa pun langsung bangkit berdiri. Kini posisi Damia dan Angga pun saling berhadapan.


"Aku sudah mengganti celananya, tapi penampilan aku yang seperti ini terlihat seperti orang yang mau pergi kondangan tidak, sih?" tanya Angga


"Tidak juga kok. Lagi pula, kamu tidak perlu dengarkan kata orang lain," jawab Damia


"Lalu, agar tidak terlihat terlalu pengap dan jadi leluasa, kamu bisa membuka kancing teratas kemejanya sebanyak dua buah. Biar aku bantu buka, sini ... " sambung Damia


Damia pun langsung mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh kemeja yang dipakai Angga dan membuka dua buah kancing teratas.


Berada di posisi yang cukup dekat dengan Damia, mampu membuat Angga kembali merasakan debaran tak karuan pada jantungnya.


..."Aku tahu kalau jatuh cinta itu bukan sebuah kesalahan, tapi apa perasaan ini adalah sebuah penyakit? Setiap kali berada di dekat Damia, aku merasa kacau. Aduh ... jantung ini sama sekali tidak bisa tenang," batin Angga...


Damia pun tersenyum dan kedua tangannya bergerak untuk sedikit merapikan kemeja pada tubuh Angga setelah membuka dua kancing kemeja teratas.


"Sudah, terlihat lebih baik ... " kata Damia


"Bagaimana penampilan aku sekarang?" tanya Angga


"Aku suka ... kamu terlihat tampan," ungkap Damia sambil tersenyum.


"Terima kasih. Kamu juga cantik," ucap Angga


"Terima kasih kembali," ucap Damia


..."Kalau kita sudah menikah nanti, kamu saja yang pilihkan baju untuk aku pakai setiap hari. Aku sangat ingin mengatakan seperti itu, tapi rasanya tidak mampu. Lidah ini terasa kelu," batin Angga...


"Apa kamu yakin sudah bisa masuk kuliah hari ini?" tanya Damia


"Ya, aku harus masuk kuliah hari ini. Ada tugas yang harus aku presentasikan hari ini," jawab Angga


"Kapan kamu akan berangkat kuliah? Apa sekarang juga?" tanya Damia


"Ya. Sebentar lagi aku akan berangkat," jawab Angga yang merasa tidak rela berpisah dengan Damia.


"Kalau begitu, aku sudah harus pergi juga dari sini," ujar Damia


"Padahal kita baru bertemu sebentar, tapi sudah harus pisah lagi," kata Angga


"Kalau begitu, apa kamu mau aku antar berangkat kuliah?" tanya Damia menawarkan diri.


"Selama ini kamu sudah pernah mengantar dan menjemput aku, sekarang giliran aku. Tapi, aku hanya mengendarai motor. Sepertinya kamu tidak mau, ya? Karena pasti tidak akan senyaman saat naik mobil," sambung Damia


"Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan. Siapa yang bilang tidak mau? Aku mau kok. Bisa bersama kamu itu adalah kenyamanan terbesar bagi aku," ujar Angga


"Apa kamu yakin? Kamu hanya bisa duduk tanpa bisa bersandar, loh?" tanya Damia untuk memastikan


"Aku bisa bersandar sama kamu kok. Ya ... kalau tidak, juga tidak apa-apa," jawab Angga


..."Aku lupa kalau Damia tidak suka dengan kontak fisik yang berlebihan," batin Angga...


"Kalau kamu memang tidak masalah, ya sudah. Ayo ... tapi, sebelum itu aku mau taruh makanan ini ke dalam kulkas dulu. Kamu harus ingat untuk menghangatkan makanannya sebelum kamu makan nanti," ujar Damia


Damia meraih paper bag yang berisi makanan yang dibawa olehnya. Saat hendak beralih menuju ke dapur untuk menaruh makanan bawaannya di dalam kulkas, Angga pun menahan langkahnya.


"Damia, tunggu dulu ... " kata Angga


"Ya, ada apa?" tanya Damia yang menoleh ke arah Angga setelah menghentikan langkahnya.


"Tidak perlu dimasukkan ke kulkas. Aku bawa saja ke kampus untuk bekal yang aku makan saat istirahat," jawab Angga


"Apa kamu yakin mau bawa makanan ini saat kuliah? Ini lebih enak dimakan saat hangat, kalau dimakan nanti apa lagi tidak dihangatkan lebih dulu tidak akan terasa hangat lagi. Lagi pula, ini adalah makanan berkuah ... apa tidak akan tumpah saat menunggu sampai waktunya kamu istirahat nanti?" tanya Damia


"Ini makanan yang kamu masak sendiri, kan?" tanya balik Angga


"Ya, memang benar. Lalu, apa hubungannya?" tanya balik Damia lagi usai menjawab.


"Karena ini makanan buatan kamu, tentu saja akan aku pastikan untuk aku jaga dengan segenap jiwa dan tidak akan tumpah. Sudah tidak hangat pun tidak masalah. Aku akan tetap suka," jawab Angga


"Padahal aku sengaja membuatkan kamu makanan berkuah yang hangat. Setidaknya kamu coba dulu minum sedikit teh madunya supaya setidaknya kamu bisa merasakannya selagi hangat. Cukup minum beberapa teguk saja," ujar Damia yang mengeluarkan botol berisi teh madu buatannya dari dalam paper bag yang dibawa olehnya dan memberikannya pada Angga.


"Ini artinya aku boleh membawanya untuk dijadikan bekal saat kuliah, kan?" tanya Angga sambil menerima botol berisi teh mau dari Damia.


"Semua ini sudah aku berikan untuk kamu dan sudah jadi milik kamu. Terserah kamu mau diapakan saja," jawab Damia


"Sepertinya aku tidak akan bisa berhenti setelah minum teh madu ini karena rasanya pasti enak," kata Angga


Meski berkata bergitu, Angga tetap meneguk tah madu yang ada di dalam botol tersebut. Beberapa teguk hingga Angga telah menghabiskan hampir setengah dari isi botol baru bisa berhenti meminumnya.


"Sangat enak dan rasa manisnya pas," kata Angga


"Melihat dari cara kamu minum teh madunya tanpa jeda sepertinya itu bahkan sudah tidak terasa hangat lagi, ya? Sepertinya memang aku gagal memberikan kamu hidangan yang hangat," ujar Damia


"Tidak kok. Ini masih terasa sedikit hangat. Aku tidak berhenti meneguknya karena terasa enak," ucap Angga


"Sepertinya kali ini aku yang sudah bersikap kekanak-kanakan. Padahal aku tidak suka dengan sikap yang seperti ini, tapi seolah aku yang melanggarnya. Seolah aku menuntut kamu makan dan minum sesuatu yang hangat. Seolah aku sedang mengatur kamu tentang ini dan itu. Sepertinya kali ini aku sudah bersikap sangat menyebalkan," ujar Damia


"Tidak juga kok. Aku mengerti kamu berbuat seperti ini karena memikirkan kebaikan aku. Kamu tidak menyebalkan, tapi perhatian ... " kata Angga


"Jangan seperti ini dong, harusnya kamu menyadarkan aku dan mengingatkan kalau aku salah. Kalau dibiarkan seperti ini bisa-bisa aku jadi lupa diri dan bahkan sampai bisa mengekang hidup kamu nantinya. Ini adalah sikap seorang pecundang," ucap Damia


"Kamu terlalu menganggap hal ini berlebihan, Damia. Aku tahu kalau kamu bukan orang yang seperti itu. Memang terkadang sikap seperti ini sesekali juga diperlukan. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah," ujar Angga


"Baiklah, aku mengerti. Sepertinya belakangan ini aku jadi lebih sensitif," kata Damia


"Kamu sedang sensitif, tapi masih peduli sama aku. Pacar aku memang orang yang baik," puji Angga


Damia pun langsung tersenyum saat mendengar pujian dari sang kekasih. Angga seolah tahu cara menaikkan mood Damia yang sedang buruk.


"Sudahlah ... katanya, kamu mau berangkat kuliah? Apa kamu memang tidak perlu membawa sesuatu saat kuliah? Bukannya kamu sudah harus berangkat?" tanya Damia


"Benar juga. Aku masih harus mengambil tas di dalam kamar. Kamu tunggu sebentar di sini," jawab Angga


Angga pun meletakkan botol teh madu di tangannya di atas meja. Dan Damia langsung memasukkan kembali botol tersebut ke dalam paper bag.


Damia hanya mengangguk. Suster cantik itu kembali menunggu Angga yang harus kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas miliknya.


Tak butuh waktu lama, Angga pun ke luar dari dalam kamar dan kembali menghampiri Damia.


"Aku sudah siap!" seru Angga yang sudah mengenakan tas ransel di punggungnya.


Damia dan Angga pun beranjak bersama ke luar dari rumah. Tak lupa Damia membawa paper bag yang berisi makanan dan minuman buatannya untuk dijadikan bekal makan untuk Angga saat kuliah.


"Den Angga, sudah mau berangkat kuliah, ya? Biar saya antar, Den. Tadi saya dikasih pesan seperti itu," ujar Pak Dani saat melihat Angga sudah siap dengan tas kuliahnya.


"Hari ini biar saya saja yang antar Angga berangkat kuliah, Pak," ucap Damia


"Den Angga, mau pergi kuliah sama Neng Mia?" tanya Pak Dani


"Iya, Pak. Nanti Pak Dani jemput saya pas pulang kuliah saja, berangkatnya biar saya sama Damia saja. Lalu, tolong bilang ke Bi Ina juga kalau saya sudah berangkat kuliah. Di dalam tadi saya lupa pamitan sama Bi Ina," jawab Angga


"Kalau begitu, hati-hati di jalan," pesan Pak Dani


"Tunggu sebentar. Aku mau mengeluarkan motornya dulu," kata Damia


"Apa mau saya bantu, Neng Mia?" tanya Pak Dani


"Tidak perlu, Pak. Saya sendiri saja. Terima kasih," jawab Damia


Damia pun mengeluarkan motor miliknya hingga ke luar melewati pagar rumah. Angga pun mengikutinya dari belakang. Saat itu barulah Damia memakai helm miliknya.


"Ini helmnya. Untung saja aku tidak pernah lupa untuk selalu bawa helm tambahan. Ayo, naik!" seru Damia sambil memberikan satu helm pada Angga.


"Jadi, kali ini kamu yang antar aku pergi kuliah, ya? Dan kamu yang bawa kendaraannya?" tanya Angga sambil memakai helm pemberian Damia.


"Tentu saja. Kan, sudah aku bilang, aku mau mengantar kamu berangkat kuliah. Apa tidak suka jika harus naik motor?" tanya balik Damia usai menjawab.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku juga bukannya tidak pernah naik motor kok. Aku hanya masih tidak menyangka dan merasa sangat senang," jawab Angga


Angga pun beranjak naik dan duduk di atas jok motor tepat di belakang Damia usai memakai helm.


"Apa kamu sudah merasa nyaman dengan posisi duduknya?" tanya Damia


"Ya, sudah ... " jawab Angga


"Apa kamu sudah terburu-buru atau mungkin waktu kuliahnya sudah mepet? Apa aku perlu ngebut sedikit agar bisa memburu waktu dan sampai ke kampus kamu dengan cepat atau aku jalan pelan-pelan saja?" tanya Damia


"Jalan pelan-pelan saja dan tidak perlu terburu-buru. Aku tidak pernah berangkat kuliah saat waktunya sudah mepet kok. Sekarang juga sama," jawab Angga


..."Pelan-pelan saja, dengan begitu waktu aku berdua sama kamu di perjalanan akan lebih lama. Lagi pula, aku tidak akan terlambat kok," batin Angga...


"Apa aku sudah mirip seperti tukang ojek?" tanya Damia


"Sepertinya memang sedikit mirip. Kamu sangat memerhatikan kenyamanan dan kebutuhan penumpang. Itu artinya kanu adalah pengendara yang baik," jawab Angga


"Kalau begitu, aku jalan sekarang, ya ... " ujar Damia


"Oke," sahut Angga


Damia pun mulai melajukan motor miliknya yang memang mesinnya sudah menyala sedari tadi dengan Angga yang duduk di jok belakang.


"Angga, jangan lupa pegangan!" seru Damia


Mendengar itu, Angga langsung meneluk pinggang ramping Damia dan bersandar pada punggung kekasihnya itu.


"Apa aku boleh bersandar dan peluk kamu seperti ini?" tanya Angga


"Apa tidak seharusnya aku seperti ini? Damia tidak suka sama kontak fisik yang berlebihan. Apa aku lepas lagi saja?" batin Angga


"Terserah kamu saja," jawab Damia


Angga pun tersenyum senang. Baru saja lelaki itu hendak melepaskan pelukannya dan menegakkan kembali badannya. Namun, saat mendengar jawaban dari sang kekasih, ia pun mengurungkan niatnya dan tetap pada posisi ternyamannya itu.


"Pantas saja tidak mau diantar sama Pak tua ini, rupanya mau pergi sama pacarnya yang cantik. Dasar, anak muda ... " gumam Pak Dani setelah Angga pergi bersama Damia.


Saat itu Bi Ina pun ke luar dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk.


"Dan, den Angga sama neng Mia mana? Kamu lihat tidak?" tanya Bi Ina


"Bi Ina, telat, nih ... den Angga sudah pergi sama neng Mia. Neng Mia yang antar den Angga berangkat kuliah," jawab Pak Dani


"Yah ... padahal saya sudah buatkan minuman segar untuk mereka berdua. Tadi saya terlalu asik bersih-bersih, jadi lupa kalau ada tamu. Ya sudah, ini jus jeruknya untuk kamu saja, Dan," ujar Bi Ina


Bi Ina memberikan segelas jus jeruk pada Pak Dani dan membawa segelas jus jeruk lainnya untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Kok yang satunya dibawa lagi?" tanya Pak Dani


"Tidak usah dua-duanya, kamu minum satu gelas saja. Yang satunya buat saya," jawab Bi Ina


"Ya sudah, deh ... terima kasih, Bi Ina," ucap Pak Dani


"Ya, sama-sama ... " balas Bi Ina


Bi Ina pun kembali masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Pak Dani seorang diri di luar.


---


Damia menghentikan laju motornya di dekat gerbang masuk suatu universitas. Suster cantik itu pun beranjak turun dari atas motor setelah Angga yang turun lebih dulu.


"Jadi, kamu kuliah di sini?" tanya Damia sambil memberikan paper bag berisi bekal makanan untuk Angga.


Angga hanya mengangguk kecil sambil menerima paper bag pemberian dari Damia.


"Aku tidak pernah kuliah, jadi tidak tahu rasanya dan bahkan baru pertama kali melihat gedung universitas dari dekat seperti ini. Meski tidak masuk juga," ucap Damia


"Kamu memang tidak kuliah, tapi kamu langsung bekerja di rumah sakit yang bagus dengan pekerjaan yang baik. Kamu itu hebat," ujar Angga


"Lalu, apa kamu mau melihat-lihat ke dalam sebentar?" tanya Angga melanjutkan.


"Memangnya boleh?" tanya balik Damia


"Boleh saja kok. Kalau kamu mau, ayo masuk sama aku," jawab Angga


"Tidak usah, deh ... rasanya aneh, padahal aku tidak bisa melakukan apa apa juga di dalam," ujar Damia menolak.


"Sayang sekali. Padahal kalau kamu mau masuk, aku bisa pamer kalau aku punya pacar yang cantik sama teman-teman kuliah aku yang masih jomblo," kata Angga


Damia pun terkekeh kecil saat mendengar perkataan sang kekasih. Angga pun ikut tersenyum.


.


Bersambung.