
Kedua tangan Angga saling menggenggam erat sambil sesekali bergesekan.
Rasanya Angga sudah tidak tahan lagi menyembunyikan perasaannya. Sering kali lelaki itu ingin mengungkap isi hatinya, namun dirinya juga merasa gugup.
"Damia ... " panggil Angga dengan nada suara yang lembut.
"Ya, ada apa?" sahut Damia saat Angga hanya memanggil namanya dan tidak lagi melanjutkan bicara.
"Sebenarnya ... soal yang aku ucapkan di wahana Histeria-" Angga menggantungkan kalimat ucapannya. Lelaki itu tampak ragu untuk bicara dan merasa gugup.
"Oh, ya ... saat naik wahana Histeria tadi kamu bicara apa memangnya?" tanya Damia
"Itu, sebenarnya aku-" Lagi-lagi Angga menggantungkan kalimat bicaranya.
Dengan raut wajahnya yang cantik dan tetap tenang, Damia menunggu hingga Angga menyelesaikan kalimat ucapannya.
Gerbong bialala terus berputar. Putaran kali ini terus naik ke atas. Hingga saat berada di puncak ketinggian teratas, entah apa yang sedang terjadi, wahana bianglala itu berhenti berputar.
"Aku suka sama kamu, Damia!" ungkap Angga pada akhirnya.
Gerbong bianglala masih terdiam di tempat setelah berhenti. Suasana saat itu sudah menjadi gelap karena telah memasuki waktu malam hari. Bintang tampak bersinar kerlap-kerlip bergemerlapan.
Setelah Angga mengungkap rasa dan isi hatinya, suasana menjadi hening dan canggung. Keduanya membisu.
Damia tampak mempertahankan senyumnya tanpa luntur meski tampak canggung. Angga pun tampak setia menunggu respon dari suster cantik yang ada dan duduk di hadapannya.
"Rupanya tadi itu aku tidak salah dengar," kata Damia
"Jadi, kamu sudah mendengarnya?" tanya Angga
Damia hanya mengangguk kecil.
"Lalu, kenapa kamu masih bertanya soal apa yang aku katakan?" tanya Angga
"Karena aku takut salah dengar karena kamu bicara saat orang lain pada berteriak. Aku tidak ingin salah paham," jawab Damia
Damia kembali terdiam dan suasana kembali hening dan canggung. Angga ikut terdiam karena dirinya menunggu respon jawaban dan tanggapan Damia akan ungkapan isi hatinya. Hingga lelaki itu tidak tahan lagi dengan kebisuan yang mencekam itu.
"Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa jawaban kamu atas rasa suka yang aku punya untuk kamu ini?" tanya Angga
"Aku-" Kali ini Damia-lah yang tidak bisa bicara untuk menjawab pertanyaan dari Angga.
..."Hal yang sama seperti dulu terjadi lagi. Angga mengungkap perasaannya sama aku, tapi saat ini dia sedang hilang ingatan. Dan berbeda seperti dulu, sekarang aku sudah putus dari Raffa. Tapi, apa aku harus menerima Angga saat aku baru saja putus dari Raffa? Lalu, yang paling penting adalah perasaan aku sendiri. Apa aku juga suka sama Angga? Aku tidak mungkin menerima perasaan Angga kalau aku tidak suka sama dia karena itu bisa menyakiti hati dan perasaannya. Lagi pula, aku juga punya banyak salah sama Angga. Aku tidak bisa memutuskan hal ini dengan mudah begitu saja," batin Damia...
"Kalau kamu merasa butuh waktu untuk berpikir, tidak apa-apa kalau menjawabnya lain kali. Tidak perlu dijawab saat ini juga," ujar Angga
Gerbong halilintar pun kembali berputar. Suasana kembali hening dan canggung. Hingga akhirnya wahana bianglala kembali berhenti, Damia dan Angga pun turun dari gerbong bianglala.
"Ayo, kita makan dulu sebelum pulang," ajak Angga
"Ya. Baiklah," sahut Damia
Angga langsung meraih tangan Damia untuk digenggam dengan erat seolah tak ingin melepasakannya. Damia pun tidak memberi atau melakukan penolakan dan hanya membiarkannya saja. Sepertinya Angga akan mulai terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya setelah mengungkap perasaannya pada Damia.
Sampai di tempat makan, keduanya mencari tempat duduk, memesan makanan, dan makan bersama. Suasana makan yang tenang ini menambah keheningan yang seakan abadi di antara keduanya.
"Omong-omong, kamu tahu dari mana aku sudah putus sama pacar aku?" tanya Damia membuka pembicaraan.
Angga masih terdiam, lelaki itu sedikit tersentak. Ia benar-benar melupakan fakta bahwa Damia sudah memiliki kekasih, meski kini sudah tidak lagi alias putus.
"Bukankah kamu sudah tahu kalau aku punya pacar belum lama ini? Kamu tidak lupa, kan?" tanya Damia lagi saat Angga tidak angkat bicara.
"Aku sempat lupa. Aku hanya manusia biasa," jawab Angga
"Bukankah tadi kamu bilang sudah putus?" tanya balik Angga
"Sepertinya kamu terlalu gegabah," ujar Damia
"Sepertinya aku bersedia jadi selingkuhan kalau kamu masih berpacaran sama lelaki lain," sahut Angga
"Jangan jadi bodoh," kata Damia
"Itu karena aku sangat menyukai kamu," ungkap Angga
"Jangan mau tersakiti oleh perasaan sendiri," sahut Damia
"Cukup aku saja yang sakit hati karena diselingkuhi. Kamu jangan mau jadi selingkuhan karena itu sama saja rasa sakitnya. Lagi pula aku juga sudah pernah menyakiti hati kamu dulu. Bagaimana bisa kamu menyukaiku lagi?" batin Damia
Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan aktivitas makan masing-masing.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa putus sama pacar kamu? Kapan itu terjadi?" tanya Angga
"Aku bahagia jadi single. Bagi aku mau sendiri atau punya pacar sama saja," ujar Damia
"Maaf, ya. Kamu pasti masih sedih setelah putus," kata Angga
"Aku baik-baik saja," sahut Damia
"Apa kamu merasa terbebani dengan pernyataan suka dari aku?" tanya Angga
"Aku tidak apa-apa kok," jawab Damia
"Aku bisa menunggu kamu sampai kapan pun, jadi kamu tidak perlu terburu-buru dan kamu boleh beri aku jawaban kapan pun kamu siap," ucap Angga
"Angga, apa kamu sudah bisa mengingat memori kamu yang hilang?" tanya Damia
"Apa hubungannya masalah saat ini dengan masalah ingatan aku yang hilang?" tanya balik Angga
"Kamu jawab saja dulu pertanyaan dari aku barusan," pinta Damia
"Aku baru ingat sedikit tentang Rena. Perempuan yang bertemu kita di taman tempo hari," ungkap Angga
"Apa yang kamu ingat?" tanya Damia
"Tidak banyak dan aku belum bisa mengingat tentang kamu. Maaf," jawab Angga
"Kamu tidak perlu bilang maaf karena itu bukan salah kamu, tapi mungkin harus menunggu sampai kamu ingat semuanya lagi," ucap Damia
"Kenapa harus menunggu sampai aku ingat semuanya lagi?" tanya Angga
"Setidaknya kamu harus ingat sifat dan sikap aku. Jangan sampai saat ingatan kamu yang dulu kembali, kamu malah kecewa sama aku dan merasa sia-sia karena suka sama aku," jawab Damia
"Tidak akan. Aku yakin perasaan aku ke kamu ini tidak akan pernah berubah. Baiklah, aku akan terus berusaha sampai aku bisa mengingat semuanya lagi," ucap Angga dengan yakin.
"Punya semangat dan tekad itu bagus. Meski begitu, tetap saja ... kamu jangan sampai memaksakan diri," kata Damia
"Pokoknya aku pasti bisa mengingat semuanya lagi dan perasaan aku ke kamu pasti tidak akan berubah," ujar Angga
Keduanya pun kembali fokus pada aktivitas makan masing-masing. Tampak keduanya sibuk pada pikirannya masing-masing.
.
Bersambung.