Bougenville of Love

Bougenville of Love
50 - Demam.



Saat membuka kedua matanya, Angga langsung melihat sosok Bi Ina untuk pertama kali di pagi hari itu. Namun, lelaki itu merasa pandangannya seperti berputar dan kepalanya terasa berat.


"Sudah pagi, ya, Bi?" tanya Angga


"Iya, Den. Sudah pagi. Ayo, bangun ... cepat makan biar cepat minum obat juga. Den Angga lagi demam," jawab Bi Ina


"Den Angga, sih ... semalam sudah tidak makan, sekarang sarapan pun terlawat. Perutnya kosong, pantas saja jadi sakit," sambung Bi Ina


"Semalam aku makan kok, Bi," kata Angga


"Den Angga, makan apa semalam? Bibi lihat makan malam yang sisa semalam masih ada dan utuh di dalam kulkas. Bi Ina sengaja sisakan untuk Den Angga kalau tiba-tiba bangun malam, tapi Bibi lihat pagi ini makanannya masih belum disentuh sama sekali," ujar Bi Ina


"Semalam Angga merasa malas makan nasi, jadi cuma makan roti tawar sama minum susu," ucap Angga


"Asupan yang paling penting itu nasi, tapi Den Angga makan tidak makan nasi," kata Bi Ina


"Sekarang Den Angga mau apa? Biar Bi Ina siapkan," sambung Bi Ina bertanya.


"Badan aku panas, Bi. Mau mandi dulu saja biar jadi adem," jawab Angga


"Tapi, badan Den Angga sangat panas, takutnya kalau langsung mandi malah bahaya. Apa tidak mau makan dulu atau setidaknya ganjal perut sedikit saja?" tanya Bi Ina


Angga hanya menggeleng pelan. Saat itu kepalanya langsung terasa berputar tujuh keliling.


"Beberapa suap saja, Den. Atau mau minum teh manis hangat dulu? Biar Bi Ina buatkan," ujar Bi Ina yang memberi tawaran.


"Iya, boleh, deh, Bi ... buatkan teh manis hangat saja," pinta Angga


"Oke, Bi Ina buatkan dulu teh manis hangatnya. Tunggu, ya, Den ... " kata Bi Ina


Bi Ina pun beralih ke luar dari kamar tersebut menuju ke dapur untuk membuatkan secangkir teh manis hangat untuk sang tuan muda. Sedangkan, di dalam kamar Angga kembali memejamkan kedua matanya sejenak. Rasanya lelaki itu bahkan tak mampu beralih bangkit untuk duduk dari posisi tidurnya. Tubuhnya terasa lemas, padangannya seolah berputar, dan kepalanya terasa sakit.


Saat Bi Ina kembali pun masih harus membangunkannya lagi setelah meletakkan secangkir teh manis hangat buatannya di atas meja di samping ranjang.


"Den Angga, ayo bangun. Kok malah tidur lagi?"


"Iya, Bi ... " sahut Angga yang sebenarnya hanya memejamkan mata saja tanpa kembali tertidur.


"Bisa bangunnya tidak? Apa mau Bi Ina bantu, Den?" tanya Bi Ina


"Alu bisa sendiri kok, Bi," jawab Angga


Angga bergerak bangkit secara perlahan hingga membuat Bi Ina yang melihatnya jadi merasa tidak sabar sekaligus tidak tega. Pada akhirnya, Bi Ina pun membantu majikan mudanya itu.


Lalu, Bi Ina pun menyerahkan secangkir teh manis hangat buatannya yang sempat diletakkan di atas meja pada Angga.


"Ini, Den ... teh manis hangatnya," kata Bi Ina


"Terima kasih, Bi Ina," ucap Angga


"Sama-sama, Den. Ayo, diminum dulu tehnya," sahut Bi Ina


Angga pun mengangguk dan bergerak meneguk teh manis hangat pemberian dari Bi Ina.


"Kalau Den Angga mau mandi, biar Bi Ina siapkan air hangatnya dulu, ya. Kalau kata Bibi, Den Angga lebih baik lap badan saja dan jangan mandi. Tapi, nanti tetap Bi Ina siapkan air hangat yang banyak," ujar Bi Ina


"Iya, Bi. Tolong, ya, Bi ... aku mau minum teh manis hangatnya sampai habis dulu," kata Angga


Bi Ina pun mengangguk dan beralih untuk menyiapkan air hangat di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Angga.


"Air hangatnya sudah Bi Ina siapkan di kamar mandi, ya, Den. Den Angga, mau makan apa? Nanti biar Bi Ina buatkan untuk Den Angga makan. Apa Den Angga mau makan bubur?" tanya Bi Ina setelah ke luar dari kamar mandi usai menyiapkan air hangat.


"Tidak usah repot-repot, Bi. Siapkan saja yang sama seperti sarapan yang Bi Ina masak buat yang lain tadi. Atau hangatkan saja makan malam yang sisa semalam," jawab Angga


"Makanan yang sisa semalam sudah habis dimakan sama Bi Ina dan Pak Dani untuk sarapan tadi. Kalau begitu, biar Bi Ina buatkan yang sama seperti sarapan tadi saja," ujar Bi Ina


"Kalau begitu, Bi Ina permisi dulu, ya, Den ... " sambung Bi Ina yang lalu beranjak ke luar dari dalam kamar Angga.


Usai Bi Ina ke luar dari dalam kamar tersebut dan setelah menghabiskan teh manis hangat buatan Bi Ina, Angga pun bangkit beralih ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan air hangat.


Lelaki itu berjalan secara perlahan. Untunglah setelah menghabiskan teh manis hangat, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat yang bukan keringat dingin. Yang artinya, suhu tubuhnya yang tinggi sudah mulai menurun meski hanya sedikit. Rasa sakit di kepalanya pun sudah sedikit berkurang.


Usai membersihkan tubuh, Angga pun berpakaian dengan mengenakan pakaian yang agak tipis. Hal ini memang dianjurkan agar tubuh bisa terkena sirkulasi udara yang bagus dan suhu tubuh yang tinggi pun bisa cepat menurun dan suhu panas tubuh pun bisa cepat ke luar dari tubuh.


Setelah selesai berpakaian, Angga pun beranjak ke luar dari dalam kamar untuk mengisi perut dengan sarapan.


Saat melihat Angga yang ke luar dari dalam kamar, Bi Ina pun menghampiri sang tuan muda untuk membantunya berjalan menuju ke meja makan.


"Kalau lagi demam seperti ini, pasti kepala juga terasa pusing. Sini, biar Bi Ina bantu, ya, Den ... " ujar Bi Ina


Bi Ina pun membantu Angga hingga duduk di kursi meja makan.


"Sarapannya sudah Bi Ina buatkan. Dimakan dulu, Den, biar bisa cepat minum obat," kata Bi Ina


"Iya, Bi. Terima kasih," ucap Angga


Saat itu, Linda pun muncul setelah ke luar dari dalam kamarnya.


"Angga, kamu baru bangun? Bangun kesiangan lagi?" tanya Linda


"Iya, Kak. Untung gari ini hari Minggu dan tidak ada jadwal kuliah," jawab Angga


"Apanya yang untung? Den Angga malah jadi sakit seperti ini," ujar Bi Ina


"Angga, sakit? Sakit apa memangnya?" tanya Linda


"Den Angga sedang demam, Non," jawab Bi Ina


"Kok bisa demam, sih?" tanya Linda


"Aku cuma telat makan, Kak. Makanya, jadi demam," jawab Angga


"Tunggu sebentar ... " kata Linda


Kakak perempuan Angga itu terlihat kembali masuk ke dalam kamarnya dan tak butuh waktu lama, Linda pun menghampiri sang adik di meja makan.


Linda kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


Saat kembali menghampiri Angga, Linda langsung mengecek suhu tubuh sang adik menggunakan termometer yang dibawa olehnya.


"Ya ampun, suhunya 38,7 derajat celcius. Kamu memang demam. Kalau begitu, cepat makannya biar bisa cepat minum obat juga," ujar Linda


"Bi Ina, juga sudah bilang seperti itu, Kak, tapi aku tidak bisa makan dengan terburu-buru. Takutnya malah jadi tersedak atau muntah. Mulut dan lidah aku juga rasanya sangat pahit," ucap Angga


"Meski terasa pahit, harus tetap dipaksa makan. Kalau bisa, makan yang banyak," kata Linda


"Kalau tidak bisa makan banyak, berarti makan sedikit tapi sering. Hanya itu solusinya," sahut Linda


Lalu, Linda pun menempelkan plester kompres pada dahi sang adik.


"Ini supaya demam kamu bisa cepat turun. Lalu, kamu mau minum obat apa setelah makan? Biar Kakak ambilkan," ujar Linda yang bertanya.


"Seperti anak kecil saja," gumam Angga sambil memegangi dahinya yang ditempeli plester kompres oleh sang kakak.


"Tolong ambilkan obat paracetamol saja untuk aku minum," sambung Angga meminta.


"Oke, Kakak ambilkan dulu obatnya. Ingat, jangan dilepas plester kompresnya. Jangan merasa seperti anak kecil karena itu plester kompres yang khusus untuk orang dewasa," ucap Linda


Linda pun beralih untuk mengambil kotak obat dan mencari obat paracetamol di sana, lalu memberikannya pada sang adik.


"Ini, obatnya kamu minum setelah makannya habis," kata Linda


"Ya. Terima kasih, Kak," ucap Angga


"Sama-sama," balas Linda


Angga pun lebih dulu menghabiskan makanannya dengan sedikit susah payah karena mulut dan lidahnya yang terasa pahit saat makan. Lalu, tak lama setelah makan, Angga pun meminum obat paracetamol yang diberikan oleh sang kakak.


"Aku sudah selesai makan dan sudah minum obat juga," kata Angga


"Ya sudah. Kalau begitu, Den Angga istirahat saja dulu," ujar Bi Ina


Angga hanya mengangguk pelan. Lelaki itu pun bangkit beralih dari sana.


"Kamu mau ke mana, Angga?" tanya Linda saat melihat arah jalan sang adik bukan menuju ke kamar.


"Alu mau istirahat dulu, Kak," jawab Angga


"Lalu, kenapa bukan ke kamar, kamu malah ke ruang tengah?" tanya Linda


"Aku mau istirahat sambil nonton TV, Kak. Ayo, nonton bareng," jawab Angga sambil mengajak sang kakak untuk menonton televisi bersama.


Tak ada pilihan, Linda pun memilh untuk ikut sang adik menuju ke ruang tengah untuk menonton televisi bersama. Namun, sebenarnya Linda ingin menjaga sang adik yang sedang sakit.


Angga dan Linda pun duduk bersama sambil bersebelahan di atas sofa. Lalu, Angga meraih remot untuk menyalakan televisi.


"Kak Linda, mau nonton apa?" tanya Angga


"Terserah, kamu saja yang pilih acara dan channel-nya. Kakak jarang menonton TV, jadi tidak tahu acara apa yang bagus," jawab Linda


Angga pun menentukan siaran yang akan ditonton bersama sang kakak. Linda tidak memprotes dan tampak menikmati menonton bersama dengan sang adik. Sesekali keduanya saling mengobrol dan bertukar pendapat tentang apa yang sedang ditonton bersama atau hal lain di luar siaran televisi tersebut.


"Sebentar, Kakak mau ke toilet dulu," kata Linda


Linda pun bangkit beralih menuju ke toilet.


Saat sang kakak sedang beralih tempat, Angga pun berpikir ingin menghubungi sang kekasih. Alih-alih menelepon, lelaki itu memilih untuk mengirim pesan.


..."Sepertinya sudah 2 hari aku tidak berhubungan sama Damia karena sibuk. Sekarang coba aku kirim pesan ke dia," batin Angga...


^^^To: Damia.^^^


^^^Damia, maaf ... dua hari ini aku tidak menghubungi kamu karena sibuk dengan kuliah yang padat. Bagaimana kabar kamu? Kamu sudah pulang dari kerja, kan?^^^


Sambil menunggu sang kakak kembali dari toilet dan juga balasan pesan dari sang kekasih, Angga pun merebahkan diri di atas sofa panjang. Namun, karena sang kakak masih belum kembali dan pesan juga belum kunjung dapat balasan, Angga pun mulai memejamkan kedua matanya dan tertidur.


---


Damia sedang berada di rumah. Di dalam kamarnya, usai mandi setelah pulang kerja, suster cantik itu pun langsung memeriksa ponsel miliknya setelah sempat mendengar ponsel miliknya berbunyi.


Damia langsung tersenyum saat melihat notifikasi adanya pesan masuk dari sang kekasih. Jujur saja, suster cantik itu merasa rindu meski hanya bercengkrama melalui pesan teks seperti saat ini.


Damia pun membuka dan membaca pesan masuk dari sang kekasih. Lalu, mengetik dan mengirim pesan balasan.


^^^To: Angga.^^^


^^^Tidak apa-apa, Angga. Maaf juga karena aku tidak menghubungi kamu lebih dulu karena tidak ingin mengganggu kamu. Ya, aku sudah pulang kerja dan ada di rumah. Aku baik-baik saja. Lalu, bagaimana dengan kabar kamu?^^^


Sambil menunggu pesan balasan, Damia pun beralih ke luar dari kamar untuk makan karena suster cantik itu belum mengisi perut sejak bekerja semalaman hingga pagi hari saat pulang ke rumah.


---


Usai dari toilet, Linda kembali menghampiri sang adik di ruang tengah. Namun, rupanya sang adik sudah tertidur sambil berbaring di atas sofa.


"Loh, si Angga sudah tidur saja. Apa aku pergi terlalu lama? Kenapa juga dia tidak pindah untuk tidur di dalam kamar malah tidur di sini?" gumam Linda


Saat itu, Linda mendengar suara ponsel berbunyi. Namun, bukan dari ponsel miliknya melainkan ponsel milik sang adik yang tergeletak di atas meja sofa.


"Apa dia tertidur saat sedang menunggu pesan atau telepon?" gumam Linda


Merasa penasaran, Linda pun meraih ponsel milik sang adik untuk memeriksa isi notifikasi di dalamnya.


"Rupanya, ada pesan masuk dari Damia. Jadi, dia sedang sms-an sama Damia, toh ... " gumam Linda


Merasa kepalang tanggung, Linda pun membuka dan membaca pesan masuk dari suster yang pernah merawat sang adik. Untunglah, Linda mengetahui password kunci dari ponsel milik Angga.


"Rupanya, lagi saling menanyakan kabar. Apa Damia tahu kalau Angga sedang sakit? Sepertinya tidak, deh ... jadi penasaran, bagaimana respon Damia saat dapat telepon dari Angga, tapi ternyata yang bicara malah kakaknya," gumam Linda


Tak tanggung-tanggung, Linda pun langsung menelepon Damia dengan menggunakan ponsel milik sang adik. Untunglah saat ini Angga sedang tertidur dengan cukup lelap hingga tidak mengetahui tindakan jahilnya. Kalau saja sang adik mengetahui tindakan jahilnya, pasti saat ini sudah sedang mengomel sambil berusaha merebut ponsel dari tangannya.


Linda pun terkekeh membayangkan respon dua sejoli atas perbuatan iseng darinya sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


---


Damia sedang makan sarapan pagi.


Setelah menyuap beberapa sendok makanan ke dalam mulutnya sambil menunggu pesan balasan, rupanya sang kekasih malah meneleponnya.


Dilihat nama sang kekasih tertera pada layar ponselnya yang menyala sebagai tanda telepon masuk. Damia pun lebih dulu menelan makanan di dalam mulutnya, baru mengangkat telepon masuk dari sang kekasih.


"Halo."


Namun, suster cantik itu merasa terkejut karena rupanya suara dari seberang teleponnya bukan milik sang kekasih melainkan suara seorang perempuan.


.


Bersambung.