Bougenville of Love

Bougenville of Love
68 - Berjemur.



Angga hampir saja berteriak keras dan melompat kegirangan usai panggilan video dengan sang kekasih berakhir. Pasalnya lelaki itu sempat mendengar sang kekasih membalas pernyataan cinta darinya.


..."Tadi aku tidak salah dengar, kan? Damia bilang, love you too saat video call tadi! Keputusan yang tepat aku pilih video call, bukan telepon biasa atau sms. Aku jadi bisa dengar dan lihat langsung wajahnya saat bilang cinta untuk aku. Meski pun, itu hanya berlangsung sebentar karena Damia langsung tutup teleponnya dengan cepat. Dia pasti malu-malu setelah membalas ungkapan cinta aku tadi. Menggemaskan sekali. Aku merasa sangat senang sampai rasanya hati ini melayang terbang," batin Angga yang bersorak di dalam hati....


"Sayang sekali saat ini aku harus fokus sama tugas skripsi. Kalau tidak, aku pasti sudah melesat pergi ke rumahnya. Aku juga tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya saat ini. Aku jadi tidak sabar menunggu sampai waktunya kami bertemu nanti," gumam Angga


..."Tapi, sepertinya Damia sedang punya masalah di tempat kerjanya? Kira-kira ada masalah apa, ya? Apa mantan pacarnyamasih suka mencari dan memarahi dia? Tapi, katanya masalahnya sudah diselesaikan ... " batin Angga yang masih saja memikirkan tentang sang kekasih, lalu lelaki itu kembali beralih menatap tugasnya yang menumpuk....


"Kenapa, sih ... tugas skripsi harus sesulit ini?!" gumam Angga mendumel kesal.


Pada akhirnya, Angga pun kembali fokus pada tumpukan buku dan kertas di depan laptopnya. Mengerjakan skripsi dengan serius.


 


Damia menatap ke arah pantulan bayangan dirinya pada cermin di depannya. Suster cantik itu tersenyum simpul dengan indah.


..."Mungkin Angga tidak tahu atau malah dia seolah mengerti kalau aku sedang merindukan dia, waktunya pas sekali saat dia menghubungi aku dengan video call. Aku memang sedang sangat merindu padanya sampai aku terbawa mimpi yang membuat aku bertemu sama dia," batin Damia...


"Meski pun, sedikit dan sebentar, rasa rindu aku seolah terobati. Jadi, tidak sabar menunggu sampai hari libur kerja supaya bisa bertemu sama Angga lagi," gumam Damia


Damia pun bangkit dari duduknya dan beranjak ke luar dari dalam kamarnya.


"Aku harus kembali untuk mencuci piring," gumam Damia


Saat Damia kembali ke meja makan, suster cantik itu melihat meja makan sudah kosong, rapi, dan bersih. Lalu, Damia pun beralih menuju ke dapur. Suster cantik itu melihat sang ibu sedang bersiap hendak mencuci piring.


Damia pun menghampiri sang ibu.


"Ibu, biarkan saja piringnya. Aku saja yang cuci," kata Damia


"Damia, teleponnya sudah selesai?" tanya Ibu Rita


"Sudah kok, Bu," jawab Damia


Damia yang berdiri di samping sang ibu, bergeser sampai tepat berada di depan wastafel pencuci piring saat sang ibu beralih tempat.


"Siapa yang habis menelepon kamu tadi? Apa itu Angga?" tanya Ibu Rita


"Iya, tadi itu Angga. Kami hanya telepon sebentar," jawab Damia


"Apa saja yang kalian bicarakan saat telepon tadi?" tanya Ibu Rita


"Tidak banyak. Hanya saling bertanya kabar satu sama lain dan mengobrol ringan, hal yang sepele ... " jawab Damia


"Hanya itu saja? Apa kalian tidak ada rencana untuk bertemu dalam waktu dekat?" tanya Ibu Rita


"Tidak dalam waktu dekat, Bu. Angga tidak ingin mengganggu waktu istirahat aku setelah pulang kerja dan aku juga tidak ingin mengganggu waktu dia yang sedang mengerjakan tugas skripsi kuliahnya. Sebagai gantinya kami berdua berjanji akan bertemu saat aku libur kerja nanti," jelas Damia


"Kalian berdua tidak seperti pasangan pada umumnya. Biasanya jika orang lagi pacaran pasti ingin selalu bertemu dan bersama. Memangnya kalian tidak merasa rindu satu sama lain saat tidak bertemu seperti ini?" tanya Ibu Rita


"Itu juga ada dalam obrolan kami berdua tadi. Kami juga sama seperti pasangan lain yang saling rindu, tapi kami berpikir demi kebaikan satu sama lain dan memilih bertahan sementara," jawab Damia


"Kalau begitu, kalian berdua harus mempertahankan dan menjalin komunikasi yang baik. Jangan sampai ada kesalah-pahaman antara kalian berdua," ujar Ibu Rita


"Baik, Bu. Aku mengerti," kata Damia


Ibu Rita yang menemani Damia mengobrol di dapur sambil membuat dua cangkir teh hangat, kini telah selesai membuat dua cangkir teh hangat tersebut.


"Itu teh untuk Ibu dan ayah, ya?" tanya Damia


"Iya, tehnya sudah jadi. Ibu tinggal ke depan duluan, ya," kata Ibu Rita


"Iya, Bu, silakan ... aku akan menyusul setelah selesai cuci piring nanti," ujar Damia


Usai mencuci piring, Damia membuat secangkir air lemon madu untuk dirinya sendiri. Lalu, ia beralih meninggalkan dapur dan menuju ke ruang tengah untuk bergabung dengan kedua orangtuanya.


"Ibu, Ayah ... aku ikut gabung di sini, ya ... " kata Damia


"Ya. Ayo, sini duduk bareng," sahut Ibu Rita dan Ayah Dodi secara bersamaan.


"Teh Ibu dan Ayah sudah mau habis. Apa mau aku buatkan minuman baru selain teh dan kopi? Atau mungkin Ibu dan Ayah juga mau air madu lemon seperti yang aku buat?" tanya Damia


"Tidak perlu. Ayah dan Ibu juga sudah makan, kalau ditambah minum banyak nanti akan jadi kembung. Ini juga sudah cukup," jawab Ayah


"Sudah, kamu duduk saja ... " kata Ibu Rita


Damia pun mengangguk. Suster cantik itu pun duduk dan bergabung bersama ibu dan ayahnya. Ketiganya menonton televisi sambil mengobrol bersama.


"Tadi siapa yang telepon kamu? Pacar kamu?" tanya Ayah Dodi


"Iya, Ayah. Tadi itu Angga yang telepon," jawab Damia


"Ayah kira, kamu bakal langsung pergi setelah selesai telepon. Bertemu sama pacar kamu itu," ucap Ayah Dodi


"Tidak, Ayah, tapi kami janjian akan bertemu saat aku libur kerja nanti," ujar Damia


"Kali ini kalian berdua harus baik-baik. Pacaran sewajarnya saja," kata Ayah Dodi


"Oke, Ayah. Aku mengerti," sahut Damia


Damia pun melanjutkan mengobrol bersama Ibu Rita dan Ayah Dodi sambil menonton televisi serta minum dan makan camilan.


•••


Keesokan harinya.


Kini Damia sudah berada di bangsal rumah sakit untuk bekerja. Bertugas sejak pagi sudah membuatnya menjadi sibuk.


Mulai dari membagikan air hangat pada setiap pasien untuk membasuh tubuh, membagikan makanan untuk sarapan pagi pada para pasien, dan lain-lain.


Salah satu pasien rawat yang Damia temui adalah Pasien Dina.


"Permisi, selamat pagi ... " sapa Damia


"Selamat pagi, Suster Damia ... " balas Pasien Dina


"Mba Dina, sudah menghabiskan makanannya atau belum?" tanya Damia


"Sudah, Sus. Baru saja habis," jawab Pasien Dina


"Karena sarapannya sudah habis ... kalau begitu, Mba Dina berjemur matahari pagi dulu, ya. Kami akan bawa Mba Dina ke luar, ya," ujar Damia


Damia memang lebih dulu masuk ke dalam ruang rawat Pasien Dina, lalu ada Alina yang menyusul setelahnya.


"Pasien Dina, jadi mau berjemur di luar?" tanya Alina begitu masuk.


"Ya, saya mau ... " jawab Pasien Dina


"Mari, saya bantu ... " kata Alina


Damia dan Alina pun mendorong ranjang pembaringan pasien Dina ke liar dari ruang rawat setelah nembuka kunci roda ranjang pembaringan tersebut.


.


Bersambung.