Bougenville of Love

Bougenville of Love
8 - Tidak Ingin Mengganggu.



Mama Yuli merasa bingung dan merasa tak tega sekaligus merasa bersalah. Saat sang putra butuh bimbingan dari dokter psikolog, namun dirinya harus segera pergi untuk bekerja. Wanita itu tidak bisa memilih dan merasa berat.


"Tidak usah sekarang, Ma. Tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja. Aku akan tenang dan tidak akan mengatur emosiku untuk tidak memaksa mengingat lagi. Ke dokternya lain kali saja. Suster Damia juga akan membantuku di rumah," ucap Angga


"Ya, saya akan membantu," kata Damia


"Harap hati-hati, Suster. Terapi untuk kondisi pasien semacam ini, butuh tenaga yang profesional. Salah-salah malah bisa merusak mental pasien," pesan Dokter


"Saya juga mengerti, Dok. Apa lagi saya hanya suster yang masih berstatus magang di rumah sakit ini, tapi saya pun sudah dipercayakan untuk membantu perawatan pasien Angga. Saya akan membantu dengan cara salah satu terapi yang aman. Bukankah masih ada cara terapi kreatif? Bukankah itu juga patut untuk dicoba?" tanya Damia


"Ya, kamu benar. Kalau begitu, silakan mencoba terapi tersebut di rumah," saran dokter


"Tapi-"


"Tidak apa-apa, Bu. Saya dengar Suster Damia adalah pelajar terbaik di sekolah terkemuka, makanya dia diterima meski masih dalam masa percobaan alias magang di rumah sakit ini. Anda bisa percaya pada Suster Damia," ucap Dokter


"Meski begitu, saya tetap menyarankan pasien Angga untuk menemui ahli psikolog. Ini saya beri formulir rujukannya dari saya Dokter umum penanggung jawab pasien Angga untuk ke poli psikolog di rumah sakit ini," sambung Dokter


Dokter pun memberikan dua lembar kertas pada Mama Yuli. Satu adalah kertas resep obat dan satu lagi adalah kertas formulir rujukan dari Dokter umum ke poli psikolog.


"Mari, biar saya periksa lukanya, pasien Angga," kata Dokter


Dokter pun memeriksa luka akibat kecelakaan pada tubuh Angga dan untunglah luka yang ads sudah membaik. Namun, Dokter tetap menambahkan resep obat penghilang rasa sakit dan obat pengering luka pasa daftar obat yang harus dibeli pada kertas resep yang telah diberikan pada Mama Yuli tadi.


Setelah itu konsultasi pun berakhir. Angga, Mama Yuli, dan Damia pun ke luar dari ruang kontrol dokter.


Saat ke luar dari ruangan ada rekan suster yang menahan lengan Damia untuk sedikit bicara pada sesama pekerja di rumah sakit.


"Mi, selagi di sini ... apa kamu tidak coba hampiri Dokter Raffa dulu? Kasihan pacar kamu yang selalu uring-uringan saat kamu tidak ada di rumah sakit," bisiknya.


"Suster Al, apa-apaan, sih? Dari pada khawatirkan aku dan Dokter Raffa, khawatirkan saja dirimu sendiri. Lihatlah, pasien yang datang mengantre semakin banyak. Yang fokus dan semangat kerjanya, ya," ujar Damia


"Ih, Damia ... bikin kesal saja. Niatnya mau meledek malah aku yang kena tampar keadaan," dumelnya


Damia terkekeh pelan.


Angga dapat mendengar percakapan Damia dengan sesama suster di sana dan langsung merasa perih di hatinya. Sepertinya lelaki ini sama seperti Suster Alina yang merasa tertampar dengan kenyataan.


..."Rupanya, Damia sudah punya pacar dan seorang dokter di rumah sakit ini," batin Angga yang merasa telah pupus harapan....


Setelah dari Dokter, Angga, Mama Yuli, dan Damia pun beralih ke apotek rumah sakit untuk menebus obat.


Usai dari apotek, ketiganya pun ke luar dari rumah sakit tersehut untuk kembali menuju ke rumah.


"Damia, selagi ada di sini, kamu temuilah teman-teman kamu. Santai saja dan kamu bisa kembali ke rumah setelah jam makan siang nanti," ucap Angga


"Kok seperti itu, Angga? Kan, Damia masih harus menemani kamu di rumah. Karena rencananya Mama mau langsung pisah di sini saja dan langsung ke tempat kerja," ujar Mama Yuli


"Biar saja, Ma. Kasihan Damia, tadi pagi baru habis kembali dari rumahnya sudah harus ikut kita pergi ke rumah sakit. Berilah dia istirahat dari waktu kerjanya sebentar. Hanya sesekali ini kok. Mama pergi ke kantor saja, aku bisa pulang sebdiri ke rumah. Kalau sendiri juga enak bisa naik ojek online saja biar murah," kata Angga


"Tidak. Kamu tetap harus naik mobil supaya lebih aman. Kalau naik ojek yang ada nanti driver-nya ngebut atau ugal-ugalan. Bahaya. Jangan sampai kamu masuk rumah sakit lagi habis ini," larang Mama Yuli


"Ya, aku mengerti, Ma. Aku tidak akan merepotkan Mama lagi dengan mengulang masuk rumah sakit. Aku akan pulang naik taksi. Mama bisa tenang pergi bekerja, tapi Damia juga bisa mampir bertemu teman-temannya di sini, kan?" tanya Angga


"Sebenarnya saya merasa tidak enak, tapi terima kasih. Saya akan segera kembali ke rumah setelah urusan saya di sini selesai," ucap Damia


"Ya sudah, kamu tunggu apa lagi? Kenapa masih di sini?" tanya Angga


"Saya akan tunggu sampai kamu dan Tante pergi naik taksi dulu," jawab Damia


"Tidak usah. Katanya, kamu akan segera kembali ke rumah setelah urusan kamu di sini selesai? Makanya, cepat temui teman-teman kamu agar kamu bisa cepat kembali ke rumah juga," ujar Angga


"Baiklah. Saya permisi dulu," kata Damia yang langsung kembali masuk ke dalam rumah sakit.


Padahal Angga sendiri yang berkata Damia bisa kembali ke rumah setelah jam makan siang, tapi lelaki itu sendiri yang berharap suster cantik itu cepat kembali ke rumah.


Itu karena setelah Angga mendengar secara tidak sengaja bahwa Damia punya pacar seorang dokter di rumah sakit tersebut. Lelaki itu ingin memberi kesempatan suster cantik itu untuk jumpa rindu dengan sang kekasih dengan dalih menyuruh suster itu menemui teman-temannya.


Meski merasa perih karena nyatanya Damia sudah mempunyai pacar, Angga tidak mau egois dan membiarkan suster cantik itu merana karena menahan rindu.


..."Aku tidak mau Damia merasa rindu yang besar di hatinya seperti yang kurasakan karena aku tahu rasanya sangat sakit. Tapi, sebenarnya siapa yang aku rindukan sampai aku jadi seperti ini? Apa aku juga punya pacar? Tapi, masa pacarku tidak coba mencari aku dan menjengukku saat aku sakit kemarin? Atau bukan pacar, tapi mantan atau orang yang aku cinta? Entahlah, aku tidak ingat," batin Angga...


Yang Angga ingat ia sudah putus dengan pacarnya sebelum lulus sekolah SMA dulu. Dan saat ini ia sedah cuti kuliah karena sakit.


Di lobi rumah sakit itu, Angga dan Mama Yuli berpisah dengan menaiki mobil taksi online yang berbeda. Angga hendak pulang menuju ke rumah, sedangkan Mama Yuli hendak pergi menuju ke kantor untuk bekerja.


Di dalam rumah sakit, Damia berusaha menemui teman-teman rekan kerjanya. Namun, nyatanya percuma saja. Teman-temanya tidak bisa ditemui karena sedang sibuk bekerja. Suster cantik itu pun beralih mencari sang pacar. Berharap pacarnya yang seorang Dokter sedang punya waktu senggang untuk sedikit berbincang.


Damia memang sudah merasa sedikit rindu dengan sang pacar.


"Suster, maaf ... apa Dokter Raffa-nya ada?" tanya Damia


"Eh, Suster Damia. Dokter Raffa ada kok, baru saja selesai dari operasi pasien tadi. Mungkin sekarang lagi ada di ruangannya."


"Oke, terima kasih untuk infonya. Semangat selalu, Suster," ucap Damia


Semua suster dan dokter yang mengenal Damia dan Raffa memang sudah mengetahui bahwa dua insan yang bekerja di rumah sakit yang sama itu telah berpacaran bahkan sudah berstatus sebagai tunangan satu sama lain.


Damia pun langsung beralih menuju ke ruang Dokter Raffa yang notabennya adalah seorang dokter bedah ortopedi.


Namun, dari celah saat baru sedikit membuka pintu, Damia melihat Dokter Raffa sedang bersama Suster Lisa di dalam ruangan.


..."Mereka berdua lagi bicara apa di dalam? Apa itu tentang pekerjaan atau mungkin tentang pasien? Sepertinya memang tidak tepat aku menemui mereka yang sedang sibuk bekerja. Lebih baik aku pergi saja dan jangan mengganggu," batin Damia...


Tanpa melanjutkan membuka pintu, Damia pun berbalik pergi dari sana karena tidak berniat ingin mengganggu.


Tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan dan dibicarakan oleh Dokter Raffa dan Suster Lisa berdua di dalam ruangan, Damia pun beralih pergi dan memilih untuk kembali menuju ke rumah Angga.


"Suster Damia, sudah bertemu Dokter Raffa? Kok cepat sekali?"


"Tidak jadi. Dokter Raffa sedang sibuk. Saya tidak ingin mengganggu," jawab Damia


.


Bersambung.