
Saat berjalan masuk ke dalam area kampus, Angga melihat sang mantan pacar yang sedang bersama pacar barunya. Sepertinya sang mantan pacar diantar oleh pacar barunya sampai ke kampua, sama seperti dirinya yang diantar oleh sang kakak.
Melihat pemandangan orang yang sedang berpacaran, Angga pun memilih mengabaikannya dan hanya pura-pura tidak melihat sambil terus berjalan.
..."Duh ... yang benar saja. Masa hanya dengan melihat Rena sama pacarnya saja, kepala aku langsung terasa bertambah sakit lagi? Sepertinya aku benar-benar harus menghindar dari mereka. Tapi, bagaimana bisa? Aku masih punya tugas kelompok yang belum diselesaikan bersama Rena," batin Angga...
Rena dan pacarnya, Arya, sebenarnya melihat saat Angga melintas di dekat mereka. Namun, keduanya oun bersikap abai dan hanya sibuk melanjutkan percakapan berdua.
"Apa kamu tidak mau ikut masuk?" tanya Arya, pacar Rena.
"Nanti saja. Biarkan saja dia," jawab Rena
"Tapi, apa memang belum waktunya masuk jam mata kuliah?" tanya Arya
"Benar juga. Sebentar lagi aku masuk jam mata kuliah pertama," jawab Rena
"Kalau begitu, aku masuk dulu. Kamu hati-hati balik ke kantornya. Ingat untuk jangan bolos ngantor lagi," sambung Rena berpesan.
"Aku cuma pergi dari kantor sebentar doang buan antar kamu kuliah kok, bukan bolos seharian," kata Arya
"Tetap saja itu tidak boleh. Kalau ketahuan sama atasan kamu bisa jadi masalah, tahu. Pokoknya ini yang pertama dan terakhir kalinya," sahut Rena
"Kalau jemput kamu saat pulang kuliah nanti boleh, kan?" tanya Arya
"Kalau waktu aku pulang kuliah kamu juga sudah pulang kerja, baru boleh. Atau setidaknya kalau kamu sedang istirahat di kantor, tidak apa-apa," jawab Rena
"Oke, aku mengerti, Tuan Putri!" seru Arya
"Jangan berlebihan, deh ... " kata Rena
"Kalau begitu, aku balik ke kantor dulu, ya," ujar Arya
Rena hanya mengangguk dan melambaikan tangannya saat melihat Arya melajukan motornya dan terus menjauh.
Setelah memastikan sang pacar telah menghilang dari pandangan, Rena pun beralih untuk masuk ke area kampus dan masuk ke dalam kelas. Gadis itu pun segera mencari kursi kosong dari sekian banyak kursi yang telah terisi karena sebentar lagi jam mata kuliah akan dimulai.
Saat itu Rena melihat Angga yang sudah duduk di salah satu kursi di dalam kelas.
Tak lama kemudian, dosen pun masuk ke dalam kelas dan mata kuliah pertama pun dimulai.
Sejak jam mata kuliah dimulai, sering kali Rena melirik ke arah Angga yang duduk di kursi bagian depan.
"Apa Angga baik-baik saja? Dia terlihat sedikit pucat, tapi dia tampak sangat fokus dengan pelajaran. Harusnya tidak apa-apa, kan? Semoga saja, deh ... nanti akan aku tanya saat jam mata kuliah berakhir. Lagi pula, kami masih ada tugas bersama dalam kelompok," batin Rena yang diam-diam memerhatikan Angga dari kursi belakang.
Saat jam mata kuliah saat itu hampir berakhir, Rena pun mengetik pesan menggunakan ponsel miliknya. Peberima pesan yang diketik olehnya adalah Angga.
^^^To: Angga.^^^
^^^Angga, nanti kita kerjakan tugas kelompoknya bersama lagi, ya. Supaya cepat selesai.^^^
Saat merasakan adanya getaran yang berasal dari ponsel miliknya, Angga pun langsung memeriksanya.
Angga memang sengaja mengaktifkan mode getar pada ponsel miliknya saat sedang kuliah. Saat memeriksa notifikasi pada ponsel miliknya, rupanya itu adalah pesan dari Rena.
..."Aku bahkan tidak sadar kalau punya nomor HP dia, tapi wajar saja karena kami berdua pernah berpacaran dan merupakan teman satu fakultas yang sama," batin Angga...
Angga pun membuka pesan dari sang mantan kekasih itu secara diam-diam dan langsung membalas pesan tersebut.
^^^To: Rena.^^^
^^^Baiklah. Kamu ajak juga anggota kelompok lainnya untuk mengerjakan tugas bersama.^^^
Rena tersenyum saat Angga membalas pesannya. Gadis itu pun langsung mengetik pesan balasan untuk sang nantan kekasih.
^^^To: Angga.^^^
^^^Kamu saja yang ajak mereka. Kalau aku yang mengajak mereka, takutnya akan seperti kemarin. Mungkin karena yang mengajak adalah perempuan, mereka menganggap mudah saja untuk menolak dengan berbagai macam alasan.^^^
From: Angga.
Baiklah. Aku akan coba bicara langsung pada mereka nanti.
Rena merasa senang bisa mengobrol dengan Angga meski hanya sebatas membicarakan rencana mengerjakan tugas kelompok bersama.
"Angga ingin kami mengerjakan tugas kelompok dengan anggota yang utuh. Apa itu artinya dia tidak ingin jika hanya berdua sama aku seperti kemarin? Apa jika hanya ada kami berdua, dia akan merasa sangat risih?" batin Rena
Jadwal mata kuliah yang sama berlangsung hingga sore hari. Ketika jam mata kuliah berakhir, Angga langsung mendekati salah satu temsn kelasnya yang menjadi anggota kelompok yang sama dengannya dalam tugas kelompok.
"Lo mau pergi ke mana?" tanya Angga
"Ya, mau langsung pulanglah ...."
Saat melihat gelagat temannya yang ingin melarikan diri, Angga langsung mencekal tangan temannya tersebut untuk menahan kepergiannya.
"Jangan harap lo bisa langsung pulang begitu saja. Lo ingat kita masih ada tugas kelompok, kan? Ayo, kerjakan tugas bersama," ujar Angga
"Apaan, sih, Angga?! Lepaskan tangan gue, ah! Sakit, tahu!"
"Jangan sok belaga lemah. Lo tahu, kan, kalau tengat waktu tugas kita tidak sampai seminggu. Kalau lo mau mamgkir terus, kapan tugasnya bisa selesai. Lagi pula, fakultas kita tidak akan sering ada pengambilan nilai tugas kelompok, jadi untuk kali ini tolong kerja samanya," ucap Angga
"Dan ini juga berlaku untuk kalian berdua, Joshua dan Tio. Jangan harap kalian berdua bisa melangkah lebih dari pada itu atau setelah ini gue akan langsung telepon dosen penanggung-jawab supaya mengeluarkan nama kalian dari tugas kelompok," sambung Angga yang memperingati dua teman lainnya yang hendak melarikan diri ke luar dari kelas dengan tatapan mata yang tajam.
"Ah, lo, mah, Angga ... mainnya pakai ancaman. Dasar, tidak seru," ujarnya, Joshua.
"Ancamannya seram, ih. Iya, deh, gua bakal kerjain tugasnya," katanya, Tio.
"Tuh, yang lain ikut berarti gua juga ikut. Lepasin tangan gua dong, Angga," pinta Beno yang satu tangannya masih dicekal dengan erat oleh Angga.
"Bagus! Karena Angga udah mengumpulkan para anggota kelompok, ayo kita kerjakan tugas bersama!" seru Rena
"Tapi,Angga ... apa kamu yakin bisa mengerjakan tugas? Wajah kamu terlihat agak pucat," sambung Rena yang merasa khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja. Aku masih bisa mengerjakan tugasnya," kata Angga
"Ya, harus dong. Angga yang sudah mengumpulkan kita untuk mengerjakan tugas. Dia ketuanya. Masa ketua tidak hadir dalam pengerjaan tugas?" celetuk Joshua
"Gila, Angga. Wajahnya lagi pucat saja masih bisa mencengkram tangan gua dengan kuat. Sampai terasa sakit," gumam Beno
"Ya sudah, ayo kita cari tempat untuk mengerjakan tugas bersama," ujar Tio
Mereka berlima pun mencari tempat yang tepat dan nyaman untuk mengerjakan tugas bersama. Dalam kelompok tugas tersebut, hanya Rena-lah satu-satunya anggota perempuan yang ada.
"Karena kita sudah pulang kuliah, bagaimana kalau kita mengerjakan tugas di salah satu rumah kita saja?" tanya Beno memberi saran.
"Angga pasti melarang kita mengerjakan tugas di rumah karena peduli sama aku yang hanya satu-satunya anggota perempuan. Dia khawatir yang lain macam-macam sama aku sementara dia tidak bisa menjaga aku seorang diri. Sejak dulu dia tipe lelaki yang samgat pengertian. Itulah yang membuat aku suka sama dia dulu. Sayangnya meski sudah pacaran, hati dia tidak pernah untuk aku," batin Rena
Mereka berlima pun lebih dulu mencari bahan tugas baru.
"Harusnya kalian bertiga merasa beruntung bisa satu kelompok tugas sama Angga yang palinh rajin, pintar, dan kesayangan dosen. Harusnya kalian bisa mencontoh Angga dan semangat mengerjakan tugas dengan baik. Bukan malah malas dan seolah menyerahkan tanggung jawab hanya sama Angga," ucap Rena
"Kan, ini kita sudah sedang mengerjakan tugas, Rena," kata Tio
"Jangan buat kita semakin malas mengerjakan tugas ini dong," sahut Joshua
Mereka berlima pun fokus mengerjakan tugas hingga akhirnya hampir menyelesaikannya setidaknya untuk hari ini.
Saat itu ada sesuatu yang menetes dari wajah Angga di atas selembar kertas.
"Angga, lo kenapa?" tanya Tio
"Ya ampun ... gue kira lo mimisan dan yang netes itu darah. Ternyata cuma air mata," ujar Beno
"Wajah lo pucat pasi, Angga. Apa lo yakin baik-baik saja?" tanya Joshua
"Ya, dari tadi gua cuma berusaha menahan sakit kepala," jawab Angga
"Angga, kamu sampai berkeringat dingin seperti itu. Lebih baik kamu cepat pulang dan istirahat. Tugasnya hari ini juga sudah selesai kok. Hanya tinggal merapikan penulisannya. Nanti biar aku yang mengerjakan akhirnya. Kita bubar saja," ucap Rena
"Katanya lo sempat sakit pas cuti kemarin? Lo yakin sudah sehat?" tanya Joshua
"Gue dengar lo sampai amnesia, kan?" tanya Beno
"Ya, gue baik-baik saja. Ingatan gue juga sudah pulih lagi. Mungkin ini cuma sisa kambuhannya saja," jawab Angga
"Lebih baik salah satu dari kalian antar Angga pulang karena tadi aku lihat Angga tidak bawa kendaraan ke kampus. Harus antar sampai rumah," ujar Rena
"Ya sudah, biar gua antar sampai ke rumah lo, tapi gua cuma bawa motor. Tidak apa-apa, kan, Angga?" tanya Tio
"Ya, tidak masalah," jawab Angga
"Lebih baik kamu langsung antar Angga pulang ke rumahnya. Tugas yang masih berantakan di sini biar kami bertiga yang bereskan," kata Rena
"Setelah beres, kalian bertiga juga langsung pulang, ya," pesan Angga
"Ya, tenang saja," sahut Rena
"Ayo, Angga ... gue antar lo pulang," ajak Tio
Angga pun mengangguk. Ia dan Tio pun beralih mencari motor di tempat parkir. Lalu, Tio pun mengantar Angga pulang sampai ke rumahnya dengan motor.
..."Selama mengerjakan tugas, ingatan tentang 3 tahun belakangan ini terus berputar di otak. Padahal semua ingatan itu adalah ingatan yang sudah aku ingat, tapi tidak ada satu pun ingatan tentang Damia yang kembali. Padahal rasanya sudah sangat sakit seperti ini sampai air mata aku menetes. Sebenarnya kenapa sangat sulit untuk aku mengingat tentang Damia?" batin Angga...
Setelah Angga dan Tio pergi, Rena pun merapikan bahan tugas bersama Beno dan Joshua.
"Ren, yang gue dengar lo sama Angga sudah putus, ya? Tapi, yang terlihat sepertinya lo sama Angga baik-baik saja, ya?" tanya Beno
"Memangnya kalau putus harus bermusuhan? Kami berdua tidak seperti itu," jawab Rena
"Lo juga sudah punya pacar baru, kan, Ren?" tanya Joshua
"Ya, seperti itulah ... " jawab Rena
"Kalian berdua lelaki, tapi seperti perempuan saja. Sukanya malah bergosip," sambung Rena
Setelah tiba di depan rumahnya, Angga pun beranjak turun dari motor milik Tio. Saat itu hari sudah malam dan langit pun sudah berubah menjadi gelap.
"Tio, terima kasih sudah antar gue sampai rumah," ucap Angga
"Sama-sama. Tidak masalah kok," balas Tio
"Kalau begitu, gua mau langsung pulang, ya, Ngga ... " sambung Tio berpamitan.
"Oke. Hati-hati lo di jalan," pesan Angga
Tio hanya mengangguk dan memutar balik arah motor miliknya yang mesinnya masih tetap menyala. Lalu, teman lelaki Angga itu pun kembali melajukan motor miliknya untuk pergi menjauh di sana.
Setelah kepergian teman yang mengantarnya pulang, Angga pun beranjak masuk ke dalam rumah.
"Angga, kamu sudah pulang? Kenapa tidak telepon ke rumah dan minta dijemput?" tanya Linda yang melihat sang adik berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ya, Kak. Tadi diantar sama teman sampai depan rumah," jawab Angga
"Kamu kenapa? Kok terlihat lemas seperti itu?" tanya Linda
"Aku cuma merasa pusing, Kak. Tadi banyak tugas di kampus," jawab Angga
"Aku mau istirahat di dalam kamar. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, bangunkan saja aku," sambung Angga
Angga pun segera beralih menuju ke kamar tidur dan masuk ke dalamnya untuk segera beristirahat.
Begitu masuk ke dalam kamar, Angga langsung tertidur setelah merebahkan diri di atas ranjang. Pada akhirnya, Angga melewatkan waktu makan malam karena sulit dibangunkan dan baru bangun untuk makan saat tengah malam.
Rumah sudah sepi dan gelap karena di malam hari semua lampu dimatikan. Saat itu karena malas makan, Angga hanya makan dua lembar roti tawar dan minum segelas susu sebagai syarat pengisi perut saja. Setelah itu, Angga kembali masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur malamnya.
Akibatnya, Angga pun terbaring sakit di esok hari.
Saat Bi Ina masuk ke dalam kamar Angga untuk bersih-bersih, dilihatnya sang tuan muda masih tertidur dengan lelap di atas ranjang. Bi Ina pun berinisiatif untuk membangunkan majikan mudanya itu.
"Den Angga, bangun ... sudah pagi. Biasanya kalau hari Minggu seperti ini Den Angga suka pergi olahraga."
"Den Angga, sudah pakai AC di dalam kamar seperti ini masih saja keringatan seperti itu," sambung Bi Ina
Saat Bi Ina menyentuh tubuh Angga untuk digoyangkan agar terbangun dari tidurnya, Bi Ina merasakan bahwa suhu tubuh sang tuan muda sangat tinggi.
"Ya ampun, Den Angga, sakit. Badannya panas sekali, tapi malah berkeringat. Pasti Panas dingin," gumam Bi Ina
Bi Ina pun semakin menggoyangkan tubuh Angga untuk membangunkannya dari tidur.
"Den Angga, bangun, Den ... buar bisa cepat makan dan minum obat. Den Angga lagi sakit, nih."
Angga pun tampak membuka kedua matanya secara perlahan dan sesekali mengerjap dengan pelan. Lelaki itu tampak lemas dan tak bertenaga.
.
Bersambung.