
Saat berada di dalam rumah, Damia duduk di atas sofa untuk istirahat sejenak. Suster cantik itu melemaskan otot tubuhnya yang kaku dengan bersantai sejenak. Serta menenangkan pikirannya yang sembraut setelah bekerja.
Usai merasa tenang dan santai, barulah Damia kembali bangkit untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat setelah pulang bekerja. Setelah rapi dengan pakaian rumahannya yang santai, suster cantik itu pun beranjak untuk makan dan mengisi perut yang kosong. Lalu, beralih membersihkan rumah setelah perut terisi dengan makanan sambil menunggu sang ibu yang sebentar lagi akan pulang sekitar 1 jam mendatang.
Merasa cukup membersihkan rumah, karena sang ibu belum kunjung pulang, Damia kembali duduk di sofa untuk istirahat sambil menunggu sampai sang ibu pulang.
"Mungkin ibu akan pulang sebentar lagi. Aku tunggu saja di sini dulu, deh ... " gumam Damia
Damia pun terus menunggu sambil menonton televisi. Suster cantik itu meraih remot televisi dan menekan tombol power untuk menyalakan alat elektronik berbentuk balok pipih yang ada tak jauh di hadapannya.
Saat itu, Damia mendengar ponsel miliknya berbunyi tanda pesan masuk. Suster cantik itu pun meraih ponselnya yang diletakkan di samping remot televisi di atas meja sofa. Rupanya, itu adalah pesan masuk dari sang ibu.
From: Ibu.
Damia, Ibu tahu kamu sudah pulang dan ada di rumah. Tidak usah menunggu sampai Ibu pulang dan istirahat saja. Ibu akan terlambat pulang karena sedang banyak kerjaan di butik karena banyak pesanan. Kunci saja pintu rumah karena Ibu juga selalu membawa kunci cadangan.
Damia pun segera mengetik pesan balasan untuk sang ibu.
^^^To: Ibu.^^^
^^^Ya, bu. Jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Ibu bukan satu-satunya penjahit yang bekerja di butik.^^^
Usai mengirim pesan balasan, Damia meraih kembali remot televisi untuk mematikan alat elektronik tersebut. Namun, alih-alih beranjak ke dalam kamar untuk istirahat, suster cantik itu tetap menunggu di sana sampai sang ibu pulang. Meski pun, itu artinya ia harus sampai tidur di atas sofa sambil duduk sekali pun. Rumahnya pun sudah dipastikan akan aman karena pintu rumah memang sudah lebih dulu dikunci olehnya.
Lalu, Damia benar-benar tertidur dalam keadaan duduk sambil bersandar di sofa.
Hingga akhirnya sang ibu pulang dan menemukan putrinya tertidur sambil duduk bersandar di sofa. Ibu Rita pun mendekat ke arah sofa dan membangunkan sang putri yang tertidur di sana.
"Damia, ayo bangun ... sudah Ibu bilang tidak usah menunggu dan istirahat saja. Kenapa malah tidur sambil duduk di sini?"
Damia pun membuka kedua matanya secara perlahan sambil tersenyum.
"Ya, aku menunggu Ibu sampai tertidur di sini."
"Apa kamu tidak merasa tubuh kamu sakit saat tidur sambil duduk seperti ini?" tanya Ibu Rita
"Tidak kok, Bu. Terkadang aku memang suka tidur seperti ini," jawab Damia
"Kenapa bilang suka? Lebih baik kamu pindah ke dalam kamar dan istirahat di sana," ujar Ibu Rita
"Benar juga. Harusnya aku masak untuk Ibu, bukannya tidur seperti ini," kata Damia
"Tidak perlu merasa khawatir soal itu. Ibu bisa makan apa pun seadanya yang bisa cepat dimasak," ucap Ibu Rita
"Maaf, ya, Bu ... " sesal Damia
"Tidak apa-apa. Sudah, sana istirahat di kamar," kata Ibu Rita
"Ya sudah. Kalau begitu, aku masuk ke dalam kamar dulu," ujar Damia
Ibu Rita hanya mengangguk kecil. Damia pun bangkit beralih menuju ke kamarnya.
Setelah masuk dan menutup pintu kamarnya, Damia berjalan mendekat ke arah ranjangnya dan duduk di tepi.
"Tadi aku tidur saat menunggu ibu pulang. Saat tidur tadi aku bermimpi terbangun di tempat lain dan di sana ada Angga tepat di hadapan aku. Itu adalah tepat saat aku masih bekerja merawat Angga di rumahnya. Aku bahkan sempat mengira yang datang tadi adalah Angga bukan ibu karena mimpi itu. Apa ini karena aku rindu sama Angga? Rasanya aku ingin melihat wajahnya," gumam Damia
"Apa aku telepon Angga saja sekarang? Setidaknya aku bisa mendengar suaranya." Damia bergumam sambil melihat ponsel yang ada di tangannya.
"Tapi, bagaimana kalau aku malah jadi mengganggu Angga? Bagaimana kalau saat ini dia sedang mengerjakan tugas skripsi kuliahnya. Sudahlah, aku tunggu saja sampai dia yang menghubungi aku lebih dulu," gumam Damia
Damia pin meletakkan ponsel miliknya di atas meja di samping ranjang. Lalu, suster cantik itu merebahkan dirinya di atas ranjang yang nyaman.
..."Semoga Angga bisa mengerjakan tugas skripsinya dengan mudah dan lancar hingga dia bisa lulus kuliah," batin Damia...
Damia pun memejamkan kedua matanya dan melanjutkan istirahatnya.
Saat malam hari, Damia makan malam bersama ibu dan ayahnya setelah sang ayah pulang bekerja.
Baru saja menyelesaikan makan malam bersama, Damia merasakan ponsel miliknya berdering di dalam saku pakaiannya.
Selain sedang bekerja, Damia juga mengaktifkan mode getar pada ponsel miliknya saat sedang makan. Itu suda menjadi kebiasaan shster cantil itu agar tidak mengganggu aktivitas makan dan kebersamaan di atas meja makan.
"Ibu, Ayah ... aku sudah selesai makan. Aku mau terima telepon dulu. Peralatan makannya tolong rapikan, tapi biarkan saja di atas meja makan ini. Biar nanti aku yang bawa ke dapur untuk dicuci," ucap Damia
Damia pun bangkit dan beraloh menuju ke dalam kamarnya.
"Kalau ada telepon masuk, kenapa tidak langsung diterima saja? Kenapa Damia harus pergi menjauh segala? Memangnya kira-kira siapa yang menelepon?" tanya Ayah Dodi
"Mungkin itu dari pacarnya dan Damia merasa malu kalau harus menerima di dekat kita, Ayah. Biarkan saja dia," jawab Ibu Rita
"Memang, dasar anak muda ... " gumam Ayah Dodi
Begitu masuk ke dalam kamar, Damia duduk di kursi kecil di depan meja riasnya. Lalu, suster cantik itu menerima telepon masuk dari sang kekasih tanpa mendekatkan ponsel miliknya ke dekat telinganya karena itu adalah panggilan video.
Damia terus memegangi ponsel miliknya di atas meja sambil tersenyum karena panggilan video dengan sang kekasih sudah mulai terhubung.
"Halo, Damia."
"Halo, Angga."
"Apa kamu sudah makan malam?"
"Aku baru saja selesai makan malam. Sekarang aku sedang berada di dalam kamar."
"Kalau begitu, apa aku mengganggu kamu?"
"Tidak kok. Kalau kamu sendiri, sudah makan malam atau belum?"
"Aku juga sudah makan malam. Makanya, aku menelepon kamu karena aku rindu."
"Sama, aku juga rindu sama kamu. Bagaimana kabar kamu? Apa sakit kepala kamu masih suka kambuh?"
"Tidak. Aku dalam kondisi yang sangat fit."
"Lalu, bagaimana dengan tugas skripsinya? Apa kamu mengalami kesulitan saat mengerjakannya?"
"Memang sedikit sulit, tapi aku haris melewatinya. Satu-satunya yang membuat aku merasa sulit adalah menahan rasa rindu ini untuk kamu. Jangan hanya bertanya soal aku. Bagaimana kabar kamu? Apa kamu masih lebih sering merasa lelah?"
"Aku baik. Kalau memang tidak bisa menahan rindu, bagaimana kalau kita bertemu? Tidak usah kamu yang menemui aku, tapi alu yang akan datang menemui kamu. Saat bertemu mungkin kita bisa saling bercerita kesulitan masing-masing."
"Apa kamu sedang ada masalah di tempat kerja?"
"Ada sedikit masalah dan sudah aku selesaikan, tapi aku ingin bercerita sama kamu."
"Aku ingin mendengarnya, tapi sepertinya tidak bisa sekarang. Dalam waktu bekerja, lebih baik kamu lebjh banyak istirahat di rumah. Aku tidak mau kamu merasa lebih lelah dari pada sekarang. Bagaimana kalau kita bertemu saat kamu libur kerja saja?"
"Baiklah, itu ide bagus. Aku juga tidak mau mengganggu kamu yang sedang fokus mengerjakan skripsi."
"Kalau begitu, sudah disepakati."
"Ya, aku setuju."
"Aku senang bisa melihat wajah kamu meski hanya dari video call seperti ini."
"Aku juga merasa senang. Kalau begitu, lanjutkan saja kerjakan skripsinya. Aku juga masih harus membantu ibu di dapur."
"Ya, ini sudah cukup. Matikan saja teleponnya."
"Maaf, ya, Angga. Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa nanti. I love you, Damia."
"Love you too, Angga."
Setelah mengatakan pernyataan cintanya, Damia pun segera menutup panggilan video yang terhubung dengan sang kekasih.
.
Bersambung.