Bougenville of Love

Bougenville of Love
85 - Gaun Brokat Milo.



•••


Pada suatu hari, setelah pulang kerja dari rumah sakit pada jadwal shift pagi. Siang hari menjelang sore itu, usai membersihkan tubuh dan makan siang di rumah, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak di depan pagar rumahnya.


"Permisi, paket!" teriak seseorang dari luar rumah.


Damia yang sedang bersih-bersih di rumah seorang diri karena kedua orangtuanya sudah pergi bekerja pun meletakkan sapu yang sedang digunakannya dan segera beranjak ke luar dari rumah untuk menemui kurir pengantar paket yang datang.


"Perasaan aku tidak sedang memesan sesuatu, kenapa bisa ada paket kiriman yang datang? Apa itu pesanan ibu atau ayah? Tapi, kenapa ibu atau ayah tidak ada yang bilang kalau akan ada kiriman paket yang datang? Apa mungkin ibu atau ayah lupa bilang sama aku?" gumam Damia bertanya-tanya.


"Ya, tunggu sebentar!" seru Damia begitu ke luar dari rumahnya.


Memerlukan waktu untuk menuju pagar rumahnya, meski tidak lama. Namun, Damia tidak membuka pagar rumahnya karena ukuran pagar tersebut hanya sebatas dada. Rupanya yang datang bukan kurir biasa, melainkan driver ojol yang sedang bertugas mengantar barang.


"Paket untuk Damia Lutfiah. Apa benar ini rumahnya?"


"Benar," jawab singkat Damia


"Pembayarannya sudah lunas." Driver ojek online tersebut pun memberikan paket berupa paper bag yang berisi kotak persegi pada Damia.


"Tunggu sebentar, Pak. Ini ada sedikit tips," kata Damia yang memberikan uang sejumlah Rp.10.000,- pada driver ojek online setelah merogoh saku celananya.


"Terima kasih banyak."


"Terima kasih kembali," balas Damia


Setelah mengantar dan memberi paket, driver ojek online tersebut pun beranjak pergi dari sana.


"Tidak ada nama pengirimnya, harusnya tadi aku tanya sama bapak ojolnya ... siapa yang mengirim ini," gumam Damia saat kembali melangkah masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak mungkin mengganggu kerja ibu dan ayah hanya karena ingin bertanya apa mereka memesan sesuatu melalui online. Tapi, ini paket untuk aku ... apa sebaiknya aku buka saja paketnya?" Damia lanjut bermonolog ria.


Setelah melewati pertimbangan, akhirnya Damia memutuskan untuk membuka paket tersebut untuk mengetahui isinya.


Saat mengeluarkan kotak dari dalam paper bag, rupanya isinya seperti kotak hadiah istimewa. Damia pun langsung membuka kotak hadiah tersebut.


"Kain ... baju, gaun! Gaun ini, kan-"


Rupanya isi kotak hadiah tersebut adalah sebuah gaun seukuran di bawah lutut berwarna Milo. Damia masih ingat rupa gaun yang pernah dilihat olehnya di suatu tempat yang sama persis seperti yang ada di hadapannya kini. Seketika saja, suster cantik itu teringat dan menebak seseorang yang mungkin bahkan pasti mengirim gaun tersebut melalui paket yang diantar dengan ojek online. Seseorang yang sangat dekat dengannya dan mengetahui alamat rumahnya.


Rupanya, di dalam kotak berisi gaun tersebut juga ada kertas surat yang menemani. Damia pun membuka lipatan kertas tersebut dan membaca isinya.


"Aku harap gaun ini masih sangat cocok untuk kamu. Semoga kamu suka.


^^^Dari, seseorang yang menganggap kamu istimewa."^^^


Damia langsung tersenyum setelah membaca sepenggal surat tersebut.


Saat Damia sedang memikirkan seseorang, ponsel miliknya malah berbunyi. Itu adalah suara tanda telepon masuk yang rupanya dari seseorang yang kini sedang berada di dalam pikirannya. Yaitu, sang kekasih. Angga.


Damia pun langsung menerima panggilan masuk tersebut dan menempelkan ponsel miliknya pada telinganya.


"Halo, Damia."


"Halo, Angga. Aku baru saja sedang memikirkan kamu dan berencana ingin menelepon kamu, tapi ternyata kamu sudah lebih dulu menelepon aku."


"Benar, begitu? Aku senang sekali mendengarnya. Dari yang kamu bilang, apa paket kirimannya sudah sampai? Kamu sudah menerimanya, apa sudah kamu buka?"


"Aku baru saja membukanya. Terima kasih, Angga. Tapi, kenapa kamu memberi gaun ini untuk aku? Untuk dan dalam rangka apa? Padahal ini bukan hari ulang tahun aku."


"Karena aku ingin buat pacar aku senang. Aku ingat kamu pernah melihat gaun itu saat di mall dan aku pikir kamu akan cocok jika memakainya. Tidak hanya itu, aku juga ingin kamu memakainya minggu depan untuk menghadiri acara wisuda kelulusan aku. Damia, aku berhasil lulus kuliah dengan cepat!"


"Wah, selamat! Tapi, kenapa kamu baru beri tahu aku sekarang?"


"Maaf, karena aku pikir kabar ini juga bisa jadi kejutan untuk kamu, jadi aku pikir aku akan beri tahu kamu saat aku beri gaun itu untuk kamu agar kamu bisa memakainya saat menghadiri acara wisuda aku."


"Tentu saja, sebuah kabar baik merupakan kejutan. Ternyata kamu masih ingat soal gaun itu. Memangnya kapan kamu membeli gaun itu?"


"Sebenarnya sudah cukup lama aku membeli gaun itu untuk kamu."


"Jangan bilang kalau kamu langsung beli di hari saat kita pergi ke mall saat itu?"


"Haha ... kamu menebaknya dengan baik. Kalau saat itu aku langsung memberi gaun itu untuk kamu, kamu pasti atau mungkin menolaknya, makanya aku menyimpannya lebih dulu dan berpikir kapan waktu yang tepat untuk memberinya untuk kamu. Lalu, aku pikir acara wisuda aku adalah waktu yang tepat untuk kamu pakai gaun itu, makanya aku mengirim dalam bentuk kotak paket ke rumah kamu. Semoga cocok dan kamu menyukainya."


"Aku suka gaunnya. Terima kasih, Angga. Aku akan memakai gaunnya untuk hadiri acara wisuda kamu."


"Aku sangat bahagia hanya dengan menanti hari saat aku melihat kamu memakai gaun itu di acara wisuda aku nanti."


"Harusnya kamu bahagia karena akan menggelar acara wisuda kelulusan kamu, bukan karena ingin melihat aku memakai gaun itu."


"Aku menantikan kedua-duanya."


"Sekali lagi, terima kasih ubtuk kiriman gaun yang kamu berikan untuk aku, Angga."


"Sama-sama. Ya sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat. Kamu pasti merasa lelah setelah pulang kerja, kan?"


"Ya, aku akan langsung istirahat setelah ini."


"Kalau begitu, aku tutup teleponnya, ya. Selamat istirahat. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa."


Tut!


Panggilan telepon pun berakhir.


•••


Beberapa hari kemudian.


Damia merasa sangat kelelahan setelah pulang kerja. Hingga begitu sampai rumah, setelah membersihkan tubuh dan makan, suster cantik itu langsung istirahat dan terlelap dalam tidur dengan nyenyaknya.


Akhir-akhir ini Damia sering kali merasa sangat lelah setelah pulang bekerja. Hingga bahkan dirinya tak bisa dan tak punya waktu untuk bertemu dengan sang kekasih meski hanya sebentar.


Masuk shift malam dan pulang saat pagi hari, Damia tertidur hingga siang hari. Hingga akhirnya suster cantik itu terbangun saat ponsel miliknya berbunyi tanda telepon masuk. Susah beberapa kali telepon masuk dan Damia baru terbangun saat telepon masuk yang kelima kalinya.


Damia terusik dengan suara telepon masuk pada ponsel miliknya. Suster cantik itu meraih ponsel miliknya dan langsung menggeser tombol hijau saat menyadari adanya telepon masuk. Lalu, mendekatkan ponsel miliknya itu pada telinganya.


"Halo, Damia. Maaf kalau alu mengganggu. Kamu sedang apa?"


"Maaf, Angga. Aku langsung ketiduran setelah pulang kerja tadi. Sepertinya aku kelelahan karena sedang banyak pasien yang dirawat di bangsal rumah sakit. Kamu sudah berulang kali menelepon aku, ya? Maaf kalau aku buat kamu jadi khawatir karena terlalu lama mengangkat telepon."


"Tidak apa-apa. Justru aku yang minta maaf karena sudah mengganggu tidur kamu."


"Tidak apa-apa kok. Karena aku memang sudah harus bangun dan bersih-bersih rumah. Terima kasih karena sudah membangunkan aku dari tidur."


"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kamu lagi setelah ini. Aku hanya ingin mengingatkan kamu kalau besok adalah acara wisuda aku. Aku harap kamu bisa datang. Tapi, bukannya besok bukan waktunya kamu libur kerja?"


"Memang, iya. Mungkin aku akan bertukar shift kerja dengan teman aku yang besok libur kerja. Tenang saja, aku pasti akan datang di acara wisuda kamu besok."


"Besok aku akan mengunggu kamu datang."


"Ya, aku pasti datang."


"Omong-omong, kamu langsung tertidur setelah pulang kerja, lalu apa kamu sudah makan atau belum? Ini sudah waktunya untuk makan lagi, lho."


"Sudah kok. Aku tidur setelah istirahat usai makan. Setelah ini aku juga akan makan siang, tapi aku akan bersih-bersih rumah dulu sebentar. Kamu juga jangan lupa makan. Jangan sampai kamu malah sakit padahal besok adalah hari yang penting untuk kamu."


"Ya, aku mengerti. Aku sudah mengatur waktu makan dan tidak pernah lupa makan lagi kok. Meski terkadang suka telat, sih."


"Setidaknya itu sudah lebih baik. Kamu harus bisa mengatur waktu dengan baik agar bisa terlihat fit dan tidak ada kendala apa pun saat acara wisuda kamu besok."


"Aku mengerti kok. Ya sudah, kamu lanjut saja istirahatnya dan jangan lupa makan. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi. Aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa besok."


"Ya, sampai jumpa."


Tut!


Sambungan telepon pun terputus.


Setelah itu, Damia bangkit dan lebih dulu menyempatkan memeriksa notifikasi serta melihat waktu pada layar ponsel miliknya.


"Rupanya, aku tertidur cukup lama dan Angga sudah berulang kali menelepon. Aku sempat mendengar nada suaranya yang cemas, pasti karena aku terlalu lama mengangkat teleonnya," gumam Damia


Damia pun meletakkan kembali ponsel miliknya dan beralih untuk bersih-bersih rumahnya. Lalu, suster cantik itu akan memasak untuk makan siangnya.


•••


Keesokan harinya.


Di pagi hari setelah pulang bekerja dari rumah sakit, Damia lamgsung terburu-buru bersiap karena harus menghadiri acara wisuda sang kekasih.


Rencananya untuk bertukar shift dengan rekan kerjanya yang libur kerja pada hari tidak bisa direalisasikan. Semua rekan kerjanya tidak bersedia karena juga sudah acara masing-masing yang juga penting. Karena itulah Damia tetap masuk bekerja shift malam sejak semalam dan baru pulang pagi hari.


Karena itu jugalah, Damia harus bergerak cepat saat bersiap saat hendak pergi untuk menghadiri acara wisuda sang kekasih. Karena bagaimana pun hari ini adalah hari yang penting bagi sang kekasih dan Damia pun harus menepati janjinya untuk hadir pada acara tersebut.


"Aku pasti telat. Angga pasti sudah menunggu aku di sana. Dia pasti kecewa karena aku tak kunjung datang," gumam Damia


Damia pun bergerak secepat kilat. Mulai dari mandi, memakai gaun yang sudah disiapkan, menata rambut, sedikit merias wajah, memakai sepatu. Menyiapkan dan menyimpannya ke dalam tas.


Suster cantik itu sempat memandangi bayangan dirinya di dalam cermin. Ia tersenyum tipis saat melihat penampilannya yang cukup memuaskan. Gaun dengan model brokat dari sebatas dada hingga bawah perut dan dengan ukuran sebatas bawah lutut dengan warna milo, riasan wajah yang terlihat alami, dan tatanan rambut yang setengah digerai.


"Sepertinya sudah cukup dan rapi. Aku harus segera pergi," gumam Damia yang bergegas ke luar dari dalam kamar dan terus ke luar rumah melewati pagar rumahnya.


Saat itu ada saja kendala lain.


"Aku harus pergi dengan apa? Tidak mungkin sudah rapi pakai gaun seperti ini, tapi aku malah naik motor. Lagi pula, motor aku lagi mogok karena telat dan lupa diservis. Semalam saja aku berangkat kerja sama ayah yang mengantar aku sampai ke rumah sakit. Ah, tidak ada yang berjalan lancar hari ini ... " gumam Damia


Karena tidak ingin berdiam diri dalam kebingungan terlalu lama, Damia pun segera berjalan cepat ke luar dari gerbang kompleks perumahannya. Entah suster cantik itu akan memesan taksi atau ojek online atau mungkin memberhentikan taksi di jalan besar nanti, setidaknya ia harus cepat ke luar dari dalam kompleks perumahannya lebih dulu.


Damia tampak panik saat ke luar dari gerbang kompleks sambil sesekali mengecek ponsel untuk sekadar melihat waktu atau memeriksa jika mungkin Angga menghubunginya.


"Neng Damia, cantik sekali. Mau ke mana kok sepertinya terburu-buru? Bukannya Neng Damia baru pulang kerja, tapi sudah mau pergi lagi?" tanya Pak Amin, penjaga gerbang kompleks.


"Terima kasih, Pak. Sebenarnya saya ada acara dan harus pergi secepatnya. Sekarang saya mau cari kendaraan," jawab Damia


"Acaranya sangat penting, ya? Kalau begitu, biar saya bantu cari kendaraan, ya, Neng. Mau pergi naik ojek atau taksi? Saya lihat saat pulang kerja tadi, Neng Damia tidak pakai motor sendiri dan malah naik ojek. Memangnya motor Neng Damia ke mana?" tanya Pak Amin.


"Apa saja yang ada, Pak. Motor saya lagi mogok di rumah dan belum sempat diservis, jadi harus cari kendaraan lain," jawab Damia


Saat itu terlihat ada taksi yang langsung berhenti di sana, tepat di depan gerbang kompleks. Rupanya taksi tersebut sedang menurunkan penumpang yang juga merupakan penghuni rumah di kompleks perumahan tersebut.


"Kebetulan ada taksi yang berhenti, nih, Neng ... " kata Pak Amin


"Syukurlah," gumam pelan Damia.


Pak Amin pun membantu membukakan pintu taksi saat ada penumpang yang turun di sana.


"Silakan turun, Bu Ani," ucap Pak Amin


"Terima kasih, Pak Amin. Mba Damia, mau pergi, ya? Kalau begitu, naik taksi ini saja, Mba," ujar Bu Ani yang baru saja turun dari taksi.


"Ya, Neng Damia. Silakan masuk," kata Pak Amin


"Ya, kalau begitu, saya masuk ... saya pergi dulu, Pak Amin, Bu Ani. Terima kasih banyak," ucap Damia yang lalu beranjak masuk ke dalam mobil taksi tersebut.


"Sama-sama, Mba," balas Bu Ani


"Sama-sama, Neng. Pak, tolong antarkan si Eneng sampai tujuan dengan aman," ujar Pak Amin yang bicara pada Damia dan supir taksi secara bergantian saat kaca jendela mobil pengemudi terbuka.


"Baik, Pak. Permisi ...."


"Kita langsung berangkat, ya, Mba. Tujuannya mau ke mana?"


"Ya, Pak. Tolong cepat, ya. Kita ke Universitas A," jawab Damia


"Siap, Mba."


Taksi pun kembali melaju dan langsung menuju Universitas tempat Angga melangsungkan acara wisudanya.


.


Bersambung.