
Keesokan harinya.
Pagi ini, Angga, Mama Yuli, dan Damia sudah siap untuk kembali ke rumah sakit untuk konsultasi ke spesialis psikolog seperti rujukan dari dokter penanggung-jawab yang menangani Angga selama sakit.
Lalu, mereka pun berangkat pergi. Setiba di rumah sakit, mereka langsung mengurus prosedur pendaftaran hingga akhirnya menunggu sampai antrean untuk masuk ke ruang pemeriksaan atas nama Angga dipanggil.
Saat namanya dipanggil, Angga langsung beranjak masuk ke dalam ruang konsultasi bersama sang mama dan suster cantik yang mendampinginya.
Di dalam ruang konsult, Angga dan Mama Yuli langsung duduk di hadapan dokter. Sedangkan, Damia tetap berdiri di sisi belakang Angga.
"Pasien atas nama Angga yang didampingi oleh Suster Damia dari rumah sakit kami. Apa masalah dan keluhan pasien, Suster Damia?" tanya Dokter
"Pasien didiagnosa mengalami gangguan yang bernama Localized Amnesia, Dok. Dari awal terjadinya kecelakaan hingga saat ini, pasien masih belum bisa mengingat apa pun dan itu sudah sekitar 2 minggu. Angga bilang, suka bermimpi sesuatu yang samar. Entah itu adalah bagian dari ingatannya yang hilang atau bukan, masih belum bisa dipastikan," jelas Damia
"Bagaimana cara agar anak saya bisa mengingat kembali memorinya yang hilang, Dok? Angga jadi suka merasa sakit di kepalanya karena hilang ingatan ini," ujar Mama Yuli
"Mimpi yang samar atau sekelebat bayangan abstrak yang muncul dalam benak pikiran mungkin merupakan bagian ingatan pasien yang hilang. Rasa sakit di kepala juga merupakan tanda bahwa masih ada respon dari pasien yang ingin mencari atau menggali kembali ingatan yang hilang agar dapat pulih kembali. Semua ini adalah bentuk respon positif meski kecil. Yang terpenting adalah jangan dibawa stress atau dipaksa untuk mengingat karena dampaknya akan buruk."
"Untuk mengatasi hal ini agar pasien bisa mendapatkan kembali ingatannya yang hilang, mungkin kita perlu mengambil langkah terapi. Tapi, ini pun harus dilakukan secara bertahap dan dengan sabar. Kondisi seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk pulih kembali dan terkadang malah sangat lama."
"Kami pun sudah pernah mencoba terapi mandiri di rumah, tapi masih belum membuahkan hasil," ucap Damia
"Terapi mandiri seperti apa itu?"
"Terapi seni kreatif dengan cara bermain musik dan melukis untuk membuka pola pikir tertentu agar pasien mendapatkan kembali ingatannya yang hilang, tapi masih tidak ada hasil," jawab Damia
"Kalau begitu, mungkin kita perlu menemukan kunci pada masalah ini. Bagaimana perasaan Angga saat merasakan saat mungkin mengingat sesuatu atau saat semua terasa biasa saja? Mungkin Angga pernah merasakan sesuatu?"
"Saya tidak tahu apa ini ada kaitannya dengan kondisi hilang ingatan atau tidak. Saya merasa sangat dekat dengan Damia hingga merasa kalau ingatan saya bisa kembali pulih. Ternyata, katanya saya dan Damia adalah teman lama, tapi saya tidak ingat tentang itu," ungkap Angga
"Berarti mungkin memang benar, Damia adalah kunci untuk memulihkan ingatan pasien. Angga lebih seringlah menghabiskan waktu dan bercerita dengan Damia karena mungkin mimpi yang samar itu pun muncul karena Damia yang selalu menemani Angga."
"Lalu, bagaimana dengan rencana terapinya, Dok?" tanya Mama Yuli
"Mengenai terapi, kita harus menjadwalkan ulang di lain hari. Tidak bisa langsung dilakukan begitu saja. Harus mulai dari terapi yang paling mudah dan jika tidak membuahkan hasil juga, mungkin kita harus melakukan hipnoterapi sebagai langkah terakhir."
"Apa tidak bisa kita mulai terapinya sekarang saja, Dok?" tanya Mama Yuli
"Maaf, tapi tidak bisa. Untuk sekarang mohon bersabar dulu dan harap pasien meneruskan obat yang telah diberikan. Saya akan jadwalkan terapinya di waktu konsultasi berikutnya. Lalu, apa pasien merasa ada ketidak cocokan dengan obat ysng sedang dikonsumsi? Misalnya seperti rasa sakit di kepala jadi berlebihan, pandangan jadi kabur atau kunang-kunang?"
"Tidak ada," jawab Angga
"Kalau begitu, resep obatnya bisa diteruskan dan mungkin dosisnya bisa dikurangi. Misalnya biasanya minum satu tablet sekarang minum saja setengah tablet, tapi kalau ternyata rasa sakitnya tidak berkurang saat dosis dikurangi, bisa pakai dosis sebelumnya untuk minum obatnya, tapi jangan malah sampai dilipat gandakan dosisnya. Kalau dirasa obatnya tidak ada efek untuk mengurangi rasa sakit, maka hentikan saja dulu dan beri tahu masalah ini di jadwal cek up berikutnya agar saya bisa mengganti jenis obatnya."
Dokter pun memberikan secarik kertas yang tertulis resep obat.
"Lalu, apa terapi seni kreatif yang saya bilang tadi boleh dilanjutkan secara mandiri di rumah, Dok?" tanya Damia
"Boleh saja. Jika ada perkembangan apa pun tolong beri tahu saat konsultasi berikutnya."
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Dok," ujar Mama Yuli
"Ya. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya dan tetap semangat."
Angga, Mama Yuli, dan Damia pun melangkah ke luar dari ruang pemeriksaan.
"Sabar, ya. Kalau konsultasi dengan Dokter dari poliklinik yang berbeda memang harus seperti mencari informasi dari awal karena cara kerja Dokter juga bisa berbeda-beda, jadi semua harus dijalani secara perlahan sesuai anjuran dokter," ucap Damia
"Makanya, harus jaga diri dan kesehatan dengan baik," pesan Mama Yuli
"Aku mengerti, Ma. Tidak ada orang yang ingin sakit atau celaka. Hanya saja ini sudah jadi nasib aku," kata Angga
"Lalu, setelah ini bagaimana? Apa Mama mau langsung pergi kerja lagi?" tanya Angga melanjutkan.
"Kita harus tebus obat dulu. Sepertinya Mama akan menunda pergi kerja dulu," jawab Mama Yuli
"Kenapa? Bukannya Mama sibuk, kerjaan Mama banyak, kan?" tanya Angga lagi
"Mama mau temani kamu dulu," jawab Mama Yuli
"Mama pergi kerja saja, aku tjdak apa-apa. Tenang saja, aku tidak akan berenang atau tenggelam lagi seperti sebelumnya," ujar Angga
"Sebagai gantinya, biar saya saja yang temani Angga. Saya tidak akan pergi seperti sebelumnya," kata Damia
"Seperti ini saja ... aku dan Mama akan pergi tebus obat dulu, sementara itu kamu boleh pergi temui teman kamu di sini, Damia, tapi mungkin sebentar saja. Setelah tebus obat, Mama pergi kerja saja, kalau Damia masih belum kembali, aku tidak akan pergi ke mana-mana dan hanya akan menunggu di taman rumah sakit ini. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi," ucap Angga
"Oke, sepakat. Mama setuju," kata Mama Yuli
"Damia, silakan kalau kamu mau pergi temui teman kamu di sini, tapi setelah itu saya titip Angga karena saya sudah harus pergi kerja. Dan, kamu, Angga ... jangan bandel," sambung Mama Yuli
"Baik, Tante. Kalau begitu, saya permisi dulu," ujar Damia
Mereka pun berpisah di sana. Angga dan Mama Yuli pergi ke arah apotek rumah sakit, sedangkan Damia beranjak menemui teman rekan kerjanya di rumah sakit tersebut.
..."Siapa juga yang bisa aku temui? Semua juga pasti sibuk sama seperti saat sebelumnya aku ke sini," batin Damia...
Pandangan mata Damia sangat lurus ke depan seperti langkah kakinya. Namum, kedua matanya menyipit dan lalu ia berbalik pergi dari sana.
..."Sebaiknya aku pergi saja. Semuanya sibuk seperti biasa," batin Damia...
Damia pun langsung pergi hendak mencari keberadaan Angga. Saat itu, suster cantik itu mengecek ponselnya lebih dulu. Rupanya ada pesan masuk yang isinya mengatakan bahwa Angga sudah menunggunya di taman rumah sakit. Gadis perawat itu pun langsung beranjak menuju ke taman rumah sakit.
.
Bersambung.