
Saat Damia beranjak ke toilet untuk membasuh wajah, Ibu Rita dan Ayah Dodi pun menunggu di luar usai membayar hidangan restoran yang telah disantap bersama.
Masih berada di dalam toilet, Damia mendapat pesan maauk pada ponsel miliknya. Suster cantik itu pun membuka dan membaca pesan masuk tersebut setelah mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas wanitanya.
From: Ibu.
Damia, Ibu dan Ayah tunggu di luar, ya.
Pesan tersebut hanya berisi informasi singkat yang dikirim oleh sang ibu.
Setelah ke luar dari toilet, Damia langsung hendak berjalan ke luar dari restoran tersebut. Namun, terdengar suara seseorang yang berseru memanggil namanya.
"Damia!" serunya
Karena namanya disebut, Damia pun menoleh untuk mencari seseorang yang memanggilnya. Suster cantik itu bahkan mengenali suara familiar orang tersebut.
"Angga ... " gumam Damia
Damia pun tersenyum saat seseorang yang memanggilnya tak lain adalah kekasihnya datang menghampirinya.
"Angga, kamu di sini juga?" tanya Damia
"Iya, tadinya aku mau makan di sini, tapi karena tidak ada yang menemani, rencananya aku mau pesan makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang saja. Karena kamu ada di sini, bagaimana kalau kamu menemani aku makan sebentar?" tanya balik Angga usai menjelaskan.
"Maaf, Angga, tapi aku tidak bisa. Aku sudah selesai makan dan mau pulang," jawab Damia menolak.
"Benar juga. Maaf, aku asal main ingin menahan kamu. Kamu ke sini dengan apa dan sama siapa?" tanya Angga lagi untuk menutupi perasaannya yang agak kecewa karena sang kekasih menolak untuk menemaninya.
"Tadi aku naik taksi online soalnya aku datang sama ibu dan ayah. Ibu dan ayah sudah menunggu aku di luar karena tadi aku baru habis ke luar dari toilet," jelas Damia
"Kalau kamu sendiri, apa sudah pesan makanannya?" tanya Damia melanjutkan.
"Makanannya masih sedang dipesan," jawab Angga
"Jadi, kamu ke sini sama ibu dan ayah kamu? Kamu kenapa? Wajah kamu terlihat ... mata kamu sembab. Apa kamu habis menangis?" tanya Angga melanjutkan.
"Ini karena sudah lama tidak pergi makan di luar sambil bercerita sama ibu dan ayah. Suasananya jadi sedikit mengharu-biru. Jadi, tadi aku sempat mewek," jawab Damia sambil tersenyum tipis.
Saat itu ada seorang pelayan restoran yang mendekat ke arah Angga.
"Permisi. Mas, tadi yang pesan makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang, ya?" tanyanya
"Benar, itu saya ... " jawab Angga
"Mari, Mas. Makanannya sudah selesai dibuat dan sudah dibungkus juga. Silakan Mas ikut saya ke meja kasir untuk melakukan pembayaran."
"Oke. Maaf kalau tadi langsung saya tinggal," kata Angga
"Tidak masalah, Mas."
"Kalau begitu, aku pulang duluan, ya, Angga. Ibu dan ayah sudah menunggu lama di luar. Permisi," ujar Damia
Damia pun melangkah pergi menjauh untuk me luar dari restoran sambil melambai pelan. Angga tidak bisa langsung mengejar sang kekasih karena masih harus melakukan pembayaran atas makanan yang telah dipesan olehnya. Kalau menunda lagi, bisa-bisa lelaki itu dikira tidak ingin atau bahkan tidak bisa membayar.
Angga pun bergegas menghampiri meja kasir bahkan meninggalkan pelayan restoran yang barusan menghampirinya.
"Maaf tadi saya tinggal sebentar. Jadi, berapa yang harus dibayar?" tanya Angga pada staf kasir.
"Tidak apa-apa, Mas. Totalnya jadi Rp.xx.000,-"
"Kembaliannya ambil saja. Maaf saya sedang buru-buru. Permisi dan terima kasih," kata Angga
"Terima kasih kembali. Lain kali silakan datang lagi."
Usai memberi uang yang melebihi total pembayaran, Angga pun langsung menyambar bingkisan makanan pesanannya dan bergegas berlari ke arah luar restoran. Saat menangkap sosok yang familiar baginya sedang bersama kedua orangtua, lelaki itu pun langsung menghampirinya.
"Sudah dari toiletnya? Kenapa lama sekali?" tanya Ibu Rita pada sang putri.
"Iya, Bu. Maaf tadi setelah dari toilet aku tidak sengaja bertemu sama teman di dalam restoran. Jadi, tadi kami mengobrol dulu sebentar," jelas Damia
"Siapa nama teman kamu itu?" tanya Ayah Dodi
Saat itu Angga yang sudah ke luar dari restoran dan berada tak jauh dari sana pun bergegas menghampiri sang kekasih dan kedua orangtuanya.
"Permisi, Damia, Om, Tante ... " sapa Angga dengan suara rendah dan sopan santun.
..."Sudah aku duga Angga pasti akan langsung menghampiri aku di sini. Sepertinya aku memang tidak bisa selalu menghindar soal ini dan sudah saatnya untuk aku mengenalkan Angga pada Ibu dan Ayah," batin Damia...
"Siapa ini, Damia?" tanya Ayah Dodi sambil memberi isyarat pada sang putri agar memperkenalkan lelaki yang baru saja datang padanya dan sang istri.
"Bukannya ini Angga?" tanya Ibu Rita saat melihat Angga. Pernah suatu ketika saat Angga menjemput Damia, Ibu Rita mengintip dari jendela dalam rumah dan melihat sosok lelaki.
"Benar. Maaf kalau saya menyela. Perkenalkan, saya Angga. Pacar Damia," ungkap Angga
"Damia, kenapa kamu tidak bilang kalau yang bertemu sama kamu itu bukan teman kamu, tapi pacar kamu?" tanya Ayah Dodi
Damia hanya diam. Suster cantik itu menunduk sesaat untuk mengontrol ekspresi wajahnya yang merasa malu-malu. Lalu, ia kembali mengangkat kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Dari mana Ibu tahu kalau ini adalah Angga? Bukannya sebelum ini Ibu belum bertemu langsung sama Angga?" Damia mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya balik pada sang ibu.
"Ini memang pertama kalinya Ibu bertemu secara langsung sama Angga, tapi sebelumnya saat Angga pernah datang ke rumah untuk menjemput kamu, Ibu pernah melihat sosok Angga dari dalam rumah. Meski pun, waktu itu Ibu juga belum tahu kalau lelaki itu adalah Angga, Ibu jadi yakin setelah kamu cerita soal Angga tadi. Ternyata wajah Angga lebih tampan saat bertemu secara langsung berhadap-hadapan seperti ini," ungkap Ibu Rita
"Iya, Bu, Ayah ... ini pacar aku. Dan, Angga ... seperti yang kamu tahu, ini adalah Ibu dan Ayah aku," kata Damia
"Sudah tahu kok. Kan, tadi Angga juga sudah memperkenalkan diri," ujar Ayah Dodi
"Angga yang bicara dengan aku yang bicara, tentu saja berbeda ... " sahut Damia
Yang Damia maksud adalah jika Angga yang bicara itu adalah sebuah pengakuan. Namun, ketika dirinya yang bicara itu adalah tindakan mengakui. Intinya memang sama. Namun, saat kedua-duanya bicara itu akan menjadi pengakuan atau pemberitahuan yang diakui dan bukan hanya sekadar pengakuan sebelah pihak. Atau bisa diartikan sebagai kedua insan tersebut mengaku tengah berpacaran, bukan hanya pernyataan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Pantas saja kamu lama setelah dari toilet, rupanya yang kamu temui adalah pacar kamu," kata Ayah Dodi
"Di dalam restoran tadi sayalah yang menemui Damia bukan sebaliknya. Tadi saya langsung bicara banyak tanpa tahu kalau Damia bersama Om dan Tante. Maaf kalau saya sudah menahan Damia hingga membuat Om dan Tante menunggu lama," ucap Angga
"Jadi, kamu tadi tinggalin Angga setelah mengobrol di dalam restoran, Damia?" tanya Ibu Rita
"Kan, kita sudah harus pulang. Aku juga sudah bilang seperti itu sama Angga," jawab Damia
"Itu benar. Damia, Om, dan Tante, sudah mau pulang, ya? Tadi Damia bilang sama saya kalau datang ke sini naik taksi online. Bagaimana kalau pulangnya biar sama saya saja?" tanya Angga menawarkan diri.
"Memangnya kamu ke sini dengan apa? Angga, jangan bilang kamu sudah menyetir mobil sendiri lagi padahal kamu baru pulih?" tanya Damia
"Tidak kok. Tenang saja, kali ini aku naik mobil mama dan ada pak Dani yang menyetir. Kamu sama Om dan Tante ikut saja. Biar aku bilang pak Dani untuk mengantar sampai rumah kamu dulu," jelas Angga
"Apa tidak merepotkan?" tanya Ibu Rita
"Tidak kok, Tante. Saya juga tidak lagi buru-buru," jawab Angga
"Kalau begitu, kami tidak menolak kebaikan Angga," ujar Ayah Dodi
"Mari, mobilnya ada di sebelah sana," kata Angga
Angga menunjuk ke arah mobil sang mama. Mereka pun berjalan beriringan. Dengan Ibu Rita dan Ayah Dodi yang berjalan lebih dulu, lalu Damia dan Angga berjalan berdampingan di belakang.
"Terima kasih, ya, Angga ... " ucap Damia
"Bilang terima kasihnya nanti saja kalau kamu sudah sampai di rumah," sahut Angga
Sudah berada di dekat mobil milik sang mama, Angga lebih dulu mengetuk kaca jendela pengemudi dan memberi isyarat agar kaca mobil tersebut diturunkan karena Pak Dani menunggu di dalam mobil.
Kaca mobil pun diturunkan oleh Pak Dani.
"Ada apa, Den Angga?" tanya Pak Dani
"Pak Dani, kok senang sekali menunggu di dalam mobil?" tanya balik Angga
"Soalnya di sini adem, Den," jawab Pak Dani
"Terserah, deh ... kalau begitu, kita antar Damia sama Ibu dan Ayah-nya pulang ke rumah dulu, ya. Tadi saya tidak sengaja ketemu sama Damia sama Ibu dan Ayah-nya di restoran. Tolong pintu belakang mobil dibuka juga, ya, Pak," ujar Angga
"Oke, Den Angga. Pintu belakang sudah dibuka dua-duanya," kata Pak Danu
Angga pun mengangguk dan langsung membukakan pintu belakang mobil untuk sang kekasih dan kedua orangtuanya.
"Silakan masuk, Damia, Om, Tante ... " kata Angga
"Terima kasih, Angga," ucap Damia, Ibu Rita, dan Ayah Dodi secara bersamaan.
"Sama-sama," balas Angga
Ibu Rita masuk lebih dulu, lalu Damia, dan Ayah Dodi setelahnya. Hingga posisi Damia berada di tengah dan tepat terlihat di kaca spion bagian tengah di dalam mobil.
Setelah itu, Angga pun kembali menutup pintu belakang mobil san beralih masuk ke dalam mobil dari pintu depan di samping pengemudi.
"Selamat malam, Pak Dani ... " sapa Damia
"Malam, Neng Mia, Ibu, Bapak ... " balas sapa Pak Dani
"Malam, Pak Dani. Salam kenal," sahut Ibu Rita dan Ayah Dodi secara bersamaan.
"Damia, Om, Tante, apa duduknya sudah nyaman?" tanya Angga
"Sudah kok," jawab Damia sambil mewakili kedua orangtuanya.
"Jadi, kita ke arah mana dulu, Den Angga?" tanya Pak Dani
"Pak Dani, ikuti arahan saya saja," jawab Angga
Mobil pun mulai melaju menuju rumah Damia lebih dulu dengan Angga yang memberi arahan pada Pak Dani.
Selama perjalanan di dalam mobil, tak jarang mereka saling mengobrol. Meski tidak saling berhadapan satu sama lain, Angga merasa senang saat dapat melihat sosok Damia dari kaca spion di bagian tengah di dalam mobil. Baginya itu pun sudah cukup membuatnya merasa puas.
Sampai di gerbang masuk kompleks, mobil pun berhenti karena penjaga selalu menutup gerbang agar tetap aman.
"Den Angga, gerbangnya ditutup," kata Pak Dani
"Memang selalu seperti ini, Pak. Buka saja kaca jendela mobilnya. Setelah melihat orang di dalam mobil, gerbang akan langsung dibuka," ujar Angga
"Kami turun di sini saja, Angga. Buka saja pintu mobilnya," pinta Ayah Dodi
"Tidak apa-apa, Om. Biar diantar sampai depan rumah," kata Angga
Kaca jendela mobil pun dibuka saat penjaga gerbang kompleks mendekat ke arah mobil.
"Permisi. Apa ada yang bisa dibantu?"
"Pak, saya Angga mau antar Damia sama Om dan Tante sampai ke rumah. Bisa tolong dibukakan gerbangnya?" tanya balik Angga
"Rupanya, Mas Angga. Saya kira siapa? Soalnya mobilnya lain dari yang biasanya," ujarnya
"Iya, Pak. Kali ini saya pakai mobil mama," kata Angga
"Oke, silakan masuk."
Gerbang kompleks pun dibuka dan mobil pun kembali melaju hingga berhenti di depan rumah Damia.
"Pak Dani, tunggu di sini sebentar, ya," kata Angga
"Oke, Den Angga ... " sahut Pak Dani
Angga pun ikut beranjak ke luar dari dalam mobil setelah Damia dan kedua orangtuanya turun dari mobil
"Angga, terima kasih sudah mengantar kami sampai rumah. Sampaikan juga terima kasih dari aku untuk pak Dani yang ada di dalam mobil," ucap Damia
"Oke. Sama-sama," balas Angga
"Rupanya, pak Amin, penjaga gerbang tadi sudah lebih dulu kenal sama Angga, ya?" tanya Ayah Dodi
"Iya, Om. Soalnya saya juga suka datang untuk menjemput dan mengantar Damia ke sini. Maaf karena sebelumnya saya belum sempat mampir. Karena seringnya saat saya datang, Damia hanya sendiri di rumah atau waktu malam hari. Saya tidak mau mengganggu," jelas Angga
"Soalnya waktu libur Om dan Damia berbeda. Kalau begitu, lain kali Damia libur kerja, main saja ke sini," ujar Ayah Dodi
"Tidak bisa dalam waktu dekat, Ayah. Angga sedang mempersiapkan skripsi untuk kelulusannya. Angga harus fokus pada tugas kuliahnya dulu," ucap Damia
"Angga, sedang mempersiapkan skripsi?" tanya Ibu Rita
"Iya, Tante. Mohon doanya, Tante, Om, supaya saya bisa langsung lulus tahun ini dan tepat waktu," jawab Angga
"Tentu saja. Semoga selalu lancar sampai lulus nanti," kata Ibu Rita
"Semoga sukses," kata Ayah Dodi
"Terima kasih atas doanya, Om, Tante," ucap Angga
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu," sambung Angga
"Terima kasih kembali," ucap Ayah Dodi
"Terima kasih juga sudah antar kami pulang sampai rumah. Salam untuk mama papa-nya, ya," ucap Ibu Rita
"Akan saya sampaikan salam dari Tante nanti. Saya pamit. Permisi," kata Angga
"Hati-hati di jalan," pesan Damia
Angga hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Lalu, lelaki itu pun masuk ke dalam mobil.
"Pak Dani, ayo kita pulang," kata Angga
"Oke, Den Angga ... " sahut Pak Dani
Mobil pun kembali melaju berbarik arah. Setelah itu, Damia, Ibu Rita, dan Ayah Dodi pun beranjak masuk ke dalam rumah.
"Sepertinya Angga adalah lelaki yang baik," kata Ayah Dodi
"Benar, Ayah. Semoga Damia tidak salah pilih seperti kita," sahut Ibu Rita
Damia hanya tersenyum.
Sama seperti Angga yang tak henti-hentinya tersenyum di dalam mobil.
..."Senangnya bisa kenalan sama ibu dan ayah mertua. Katanya, Damia juga bercerita soal aku sama dua orangtuanya, tapi kenapa tadi matanya sembab, ya? Damia menangis karena apa? Lain kali aku akan bertanya. Semoga kali ini bisa memberi kesan baik sama calon mertua," batin Angga...
Pak Dani pun ikut merasa senang saat melihat Angga terus tersenyum selama perjalanan pulang.
.
Bersambung.