Bougenville of Love

Bougenville of Love
44 - Pertengkaran.



Pada malam hari, Dokter Raffa dan Suster Lisa hendak pulang kerja dari rumah sakit.


Karena seorang kepala perawat setiap hari masuk dari jam 8 pagi dan akan pulang jam 8 pada malam hari. Sementara, jika seorang dokter tidak memiliki tugas menjadi dokter jaga pada malam hari dan sudah bekerja sejak pagi hari, maka akan pulang jam 8 malam hari.


Dokter Raffa dan Suster Lisa pun hendak pulang bersama. Saat berjalan ke luar dari rumah sakit, Dokter Raffa tiba-tiba menghentikan langkahnya dan itu membuat Suster Lisa menghentikan langkahnya pula.


Melihat nafas Dokter Raffa memburu karena kesal, Suster Lisa pun melihat ke arah pandangan kekasihnya itu.


"Itu, Damia ... sama siapa, ya? Apa jangan-jangan lelaki itu pacar barunya Damia? Kalau memang benar, pantas saja Damia dengan mudahnya bilang putus sama kamu. Mungkin karena Damia suka sama lelaki itu," ujar Lisa


"Tunggu, deh ... bukannya itu Angga?" Lisa menggumamkan tanya saat melihat sosok lelaki yang bersama Damia dengan jelas.


"Kamu juga tahu dan kenal siapa lelaki itu, Lis?" tanya Raffa


"Aku hanya sekadar tahu saja, sih ... lelaki itu adalah pasien rumah sakit ini. Itu loh, pasien rawat yang Damja ditugaskan untuk merawat di rumahnya," jawab Lisa


"Jadi, nama lelaki itu adalah Angga!" seru Raffa


Merasa geram saat melihat kedekatan Damia dengan Angga, tangan Raffa sudah terkepal dengan sangat kuat. Hingga saat dokter tampan itu tidak bisa menahan diri lagi, ia pun melangkah maju dengan kepalan tangan itu untuk mendekati mantan pacarnya yang sedang bersama yang diduga adalah pacar barunya.


"Damia!" seru Raffa memanggil nama sang mantan pacar.


Sang empunya nama langsung menoleh saat merasa ada yang memanggilnya dan gadis itu tampak terkejut.


Raffa berjalan menghampiri Damia dengan langkah yang terburu-buru.


"Damia, siapa dia? Apa dokter itu teman kamu?" tanya Angga


"Dia itu-" Belum sempat Damia menjawab pertanyaan sang kekasih, mantan kekasihnya sudah lebih dulu menarik tangannya dengan kasar.


Damia mengaduh sakit saat tangannya ditarik dengan sangat kuat dan digenggam dengan amat erat oleh Raffa.


"Ada apa ini?! Tolong lepaskan tangan Damia!" seru Angga


"Kamu tidak usah ikut campur!" seru Raffa


"Apa Anda tidak lihat kalau Damia kesakitan?! Lepaskan dia!" seru Angga


"Tolong lepaskan tangan saya, Dokter Raffa. Anda membuat saya kesakitan," pinta Damia


Mendengar perkataan Damia, Raffa pun tersadar dan melepaskan cekalan tangannya dengan sedikit kasar.


"Anda ... kamu bilang, Damia? Kenapa kamu jadi sok formal sama aku? Apa ini karena dia? Apa karena dia kamu jadi minta putus dari aku? Apa kamu sudah selingkuh dari aku karena suka sama dia?" tanya Raffa


"Apa maksud Anda, Dok? Lebih baik Anda tenangkan diri Anda," ujar Damia


"Angga, lebih baik kamu pulang. Maaf karena sudah buat kamu melihat kejadian seperti ini. Tidak perlu kamu hiraukan," sambung Damia


"Tapi, Damia-"


"Tidak ada yang boleh pergi dari sini sebelum kamu kasih jawaban yang jelas atas pertanyaan aku tadi!" seru Raffa


Damia pun menghela nafas panjang. Raut wajahnya berubah dari yang tampak berusaha tenang menjadi terlihat jengah.


"Aku tidak mengerti apa maksud kamu, Raffa. Kita sudah putus sejak tiga bulan yang lalu, terus kenapa kamu malah marah saat aku dekat sama lelaki lain? Ya, aku suka sama dia karena dia adalah pacar aku sekarang. Namanya adalah Angga," tutur Damia


Angga yang menyaksikan pertengkaran antara Damia dan seorang dokter yang merupakan mantan kekasih sang pacar hanya diam memdengarkan. Angga tidak ingin mengganggu dan memperkeruh suasana.


..."Jadi, dokter ini adalah mantan pacar Damia. Namanya adalah Raffa," batin Angga...


Tak sama dengan Angga, Lisa yang juga menyaksikan pertengkaran antara Damia dan Raffa merasa tidak bisa diam saja.


"Tadi Damia bilang kalau dia dan Raffa sudah putus sejak tiga bulan yang lalu. Rupanya dia tidak ingin dianggap berselingkuh dari Raffa karena sudah pacaran sama Angga, tapi ini juga bagus. Kalau seperti ini, aku dan Raffa pun tidak akan dianggap selingkuh oleh orang lain. Aku tidak boleh membiarkan Raffa mengacaukan hal baik ini," batin Lisa


Lisa pun beranjak menghampiri Raffa dan Damja melihatnya.


"Sudahlah, Raff. Kamu jangan marah-marah. Kamu tidak boleh seperti ini di tempat umum, apa lagi ini adalah tempat kerja. Lebih baik kamu pulang saja sama Lisa. Pacar kamu sudah menunggu kamu dari tadi," ujar Damia


"Benar kata Damia, Raff. Ayo, kita pulang saja. Kamu sudah janji sama aku, kan? Kamu tidak akan ingkar janji, kan?" tanya Lisa yang sudah merangkul mesra tangan Raffa.


"Lain kali aku akan bicara lagi sama kamu," kata Raffa usai menghela nafas berat.


"Ayo, kita pulang ... " sambung Raffa yang langsung berlalu pergi bersama Lisa.


Damia mengusap dadanya dengan pelan.


"Damia, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Angga


"Ya. Aku tidak apa-apa kok," jawab Damia sambil tersenyum.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi, Damia? Kenapa dokter tadi, mantan pacar kamu itu bisa sampai marah-marah seperti tadi?" tanya Angga


"Aku merasa bingung bagaimana cara menceritakannya sama kamu," jawab Damia


"Tidak apa-apa, Damia. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu percaya dan berada di pihak kamu," kata Angga


"Aku tahu. Aku akan menjelaskan semuanya sama kamu, tapi maaf ... tidak bisa sekarang. Aku ingin menyelesaikan masalah ini sekarang juga, tapi kalau aku menceritakannya sekarang akan butuh waktu lama sementara aku harus segera bekerja," ujar Damia


"Kamu tidak perlu khawatir aku akan salah paham. Jadi, tenang saja," sahut Angga


Damia hanya mengangguk pelan.


"Aku harap kamu tidak perlu memikirkan masalah aku tadi. Jangan sampai hanya karena memikirkan itu, kamu malah jadi tidak fokus saat menyetir mobil. Ini masalah aku dan semua juga sudah baik-baik saja. Jadi, kamu jangan khawatir," ucap Damia


"Kamu jangan hanya minta aku untuk tidak perlu memikirkannya. Kamu juga jangan sampai pusing memikirkan hal ini. Kamu hanya perlu semangat bekerja," ujar Angga


"Ya, aku mengerti. Kamu juga hati-hati di jalan dan langsung istirahat setelah pulang, sampai di rumah. Tidur yang nyenyak," kata Damia


"Ya sudah. Kalau begitu, aku pulang dulu, ya," pamit Angga


"Jangan lupa kabari aku kalau kamu sudah sampai di rumah," pesan Damia


"Baiklah," kata Angga sambil mengangguk.


Saat Angga melambaikan tangannya, Damia pun membalas melambaikan satu tangannya sambil tersenyum.


Setelah masuk ke dalam mobil miliknya, Angga pun langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya untuk kembali pulang menuju ke rumah.


Setelah memastikan mobil milik Angga menghilang dari pandangan, Damia pun beranjak masuk ke dalam rumah sakit.


Terdengar bisik-bisik dari orang yang berlalu lalang sambil memerhatikannya. Entah itu sesama pekerja di rumah sakit atau pengunjung rumah sakit yang mungkin sempat menyaksikan pertengkaran antara Damia dan Raffa. Namun, suster cantik itu memilih untuk tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan langkahnya menuju bangsal rawat tempatnya bertugas.


Saat tiba di bangsal, langsung ada yang menarik tangan Damia untuk masuk ke dalam loker khusus perawat. Itu adalah Suster Alina.


Setelah pintu ruang loker tertutup, Alina langsung melepaskan tangan Damia saat melihat rekan kerjanya seperti meringis menahan sakit.


"Ada apa, Al? Kok tiba-tiba kamu tarik tangan aku?" tanya Damia


"Damia, pokoknya kamu hutang penjelasan sama aku," ucap Alina


"Penjelasan apa yang kamu maksud? Aku tidak mengerti?" tanya Damia


"Tidak usah sok tidak tahu. Aku yakin kamu pasti tahu apa yang ingin aku dengar dari mulut kamu langsung," jawab Alina


..."Ini pasti soal pertengkaran aku sama Raffa tadi. Apa Alina sempat melihatnya atau gosipnya sudah menyebar lebih cepat?" batin Damia...


"Aku tidak bisa dengar cerita kamu sekarang karena kita harus kerja. Jadi, kamu harus cerita sama aku nanti. Hari ini juga aku menunggu kamu. Entah itu saat istirahat nanti atau bahkan setelah jam pulang. Pokoknya aku akan tunggu kamu sampai kamu cerita dengan jujur," ujar Alina


"Kalau begitu, aku duluan. Permisi," sambung Alina yang langsung berlalu dari sana untuk mulai bekerja.


Damia pun menaruh barang-barang miliknya di loker penyimpanan. Lalu, suster cantik itu memeriksa ponsel miliknya.


Baru saja Damia membuka kunci layar ponsel miliknya, sudah langsung ada pesan masuk.


From: Angga.


Damia, aku sudah sampai di rumah dan langsung masuk ke dalam kamar. Aku akan tidur dengan nyenyak sambil bermimpi indah tentang kamu. Kamu tenang saja.


Damia tersenyum saat membaca pesan masuk dari sang kekasih dan mengetik pesan balasan.


^^^To: Angga.^^^


^^^Jangan jadi sering mandi malam karena itu tidak baik bagi kesehatan. Kamu hanya perlu basuh wajah, tangan, dan kaki. Lalu, sikat gigi. Sebelum itu kamu juga bisa minum segelas susu hangat agar saat bangun pagi nanti tidak terlalu merasa lapar setelah tidur semalaman. Aku akan langsung bekerja setelah ini. Jadi, selamat malam dan selamat tidur.^^^


Rupanya, Angga pun masih sempat membalas pesan darinya tersebut.


From: Angga.


Terima kasih karena kamu selalu tidak lupa untuk mengingatkan aku hal baik. Semangat bekerja dan jangan lupa makan. Aku cinta kamu ❤


Angga bahkan tidak lupa mengetik pernyataan cinta dan menambahkan emotikon hati. Perlakuan manis itu lagi-lagi mampu membuat Damia tersenyum.


..."Aku bahkan belum menjelaskan apa pun sama Angga, tapi Alina sudah lebih dulu meminta penjelasan dari aku. Angga memang tidak mempermasalahkan pertengkaran aku sama Raffa karena dia percaya sama aku, tapi kalau Angga kembali ingat dengan rasa sakit yang dulu sempat aku torehkan di hatinya ... apa dia masih akan ada di pihak aku dan tetap cinta sama aku atau sebaliknya?" batin Damia...


Damia tidak lagi mengetik dan mengirim pesan balasan untuk Angga. Suster cantik itu langsung mengaktifkan mode getar pada ponsel miliknya dan menyimpan ponsel miliknya di dalam saku seragam perawatnya. Lalu, gadis perawat itu beralih dari sana untuk memulai tugas.


Pada tengah malam, setelah memastikan para pasien telah istirahat dengan nyaman dan tidak lagi memerlukan bantuan, lagi-lagi Alina menarik tangan Damia untuk duduk di pos jaga para perawat.


"Ada apa lagi, Alina? Kamu mau ada perlu di tempat lain? Apa mau aku temani kamu pergi karena ini sudah tengah malam?" tanya Damia


"Kalau aku ada oerlu dan mau pergi ke tempat lain, aku tidak mungkin mengajak kamu duduk di sini. Berikan tangan kamu. Aku mau lihat," jawab Alina


Tanpa berkata apa pun, Damia langsung memberikan satu tangannya pada Alina.


"Bukan yang itu, tapi yang satu lagi ... " kata Alina yang langsung merarik tangan Damia yang lainnya.


Alina pun mengambil kotak P3K yang ada di meja jaga dan mengambil obat dari dalamnya untuk mengobati luka memar pada pergelangan tangan Damia.


"Tangan kamu sudah terluka sampai seperti ini. Apa kamu sama sekali tidak sadar?" tanya Alina sambil mengobati luka pada pergelangan tangan Damia.


"Tidak. Aku baru sadar sekarang saat kamu mengobatinya," jawab Damia


"Sebenarnya apa yang dilakukan Dokter Raffa saat bertengkar sama kamu sampai pergelangan tangan kamu terluka seperti ini? Apa dia tidak punya perasaan? Bagaimana bisa dia melukai gadis yang pernah dia cintai meski sekarang kalian sudah putus?" tanya Alina


"Apa kamu bertanya karena ingin tahu cerita lengkapnya sekarang? Katanya kamu mau dengar ceritanya nanti saja?" tanya balik Damia


"Ya, aku memang mau tahu, tapi tidak sekarang. Nanti saja. Pertanyaan aku tadi hanya sebagai wujud pelampiasan emksi saja, tapi tetap ... kamu harus menceritakan semuanya nanti," jawab Alina


"Terima kasih sudah perhatian dan mau mengobati luka aku," ucap Damia usai Alina mengobati dan membalut luka di pergelangan tangannya dengan perban.


"Aku tidak menyangka. Aku kira Dokter Raffa orang yang baik kalau dilihat dari wajahnya, ternyata kelakuannya malah seperti ini. Bisa-bisanya dia melukai kamu. Kita benar-behar tidak boleh menilai orang dari penampilan luarnya saja," ujar Alina


Damia hanya tersenyum saat mendengar perkataan Alina.


Meski telah larut malam, para perawat yang ada tidak pernah bisa istirahat dengan tenang karena ada saja pasien yang butuh bantuan secara tiba-tiba. Kondisi seperti itu berlangsung hingga pagi hari usai fajar terbit. Bahkan sampai jam pulamg kerja.


"Damia, apa kamu tidak istirahat?" tanya Alina


"Nanti saja. Aku tidak bisa istirahat saat harus mulai memeriksa apa yang dibutuhkan oleh pasien satu per satu," jawab Damia


Pertanyaan hanya tinggal pertanyaan belaka. Nyatanya para perawat yang ada sama-sama menyibukkan diri tanpa mengambil waktu istirahat lebih dulu agar bisa lebih cepat pulang setelah semua tugas diselesaikan.


Ada perawat yang membagikan air hangat untuk basuh tubuh para pasien pada setiap kamar rawat, ada yamg bertugas mengganti sprei kasur pembaringan, memberikan perawatan uap oksigen bagi pasien yang membutuhkan, dan lain-lain.


Semua dilakukan dengan cepat sekaligus hati-hati.


Hingga akhirnya tiba waktunya untuk pulang dan pergantian shift dengan beberapa perawat lainnya.


"Damia, ayo kita makan bersama sebelum pulang. Kamu masih harus bercerita sama aku," ucap Alina


"Baiklah, ayo. Kebetulan aku sudah merasa lapar," kata Damia


Keduanya pun beranjak bersama. Alina mengajak Damia untuk makan bersama sebelum pulang sambil berbincang ria.


.


Bersambung.