Bougenville of Love

Bougenville of Love
56 - Denyut Jantung.



Usai sang ayah pergi bekerja, Damia kembali membantu sang ibu untuk membersihkan rumah. Lalu, suster cantik itu segera bersiap sebelum pergi.


Berganti pakaian dengan yang lebih sopan gaya formal kasual. Setelah itu, Damia pun kembali menuju ke dapur untuk mengemas makanan yang akan dibawa pergi untuk dimasukkan ke dalam kotak makan.


Pertama, Damia membuat teh madu sambil menghangatkan sup ayam buatannya sebentar. Setelah teh madu dikemas ke dalam botol kemasan, Damia pun mengemas bubur yang telah dihangatkan dan nasi beserta lauk pauk ke dalam dua kotak makan yang berbeda.


Saat itu sang ibu pun menghampirinya di dapur.


"Damia, makanannya sudah dikemas? Lalu, kamu mau langsung pergi sekarang? Apa tidak terlalu pagi?" tanya Ibu Rita


"Iya, tidak apa-apa, Bu. Supaya teman Damia itu bisa ingat untuk bangun pagi," jawab Damia


"Yakin hanya itu? Atau karena tidak sabar untuk ketemu sama teman kamu itu?" tanya Ibu Rita


"Ibu, ada-ada saja. Jangan meledek aku dong," jawab Damia yang hanya berdalih tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.


"Apa kamu tidak mau bercerita tentang teman kamu itu sama Ibu?" tanya Ibu Rita


"Nanti saja, ya, Bu ... sekalian saat ada ayah," jawab Damia


..."Itu pun kalau aku siap menceritakannya. Kalau tidak, paling aku hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan," batin Damia...


Usai mengemas makanan ke dalam kotak makan, Damia pun mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku untuk mengetik dan mengirim pesan singkat.


"Sebentar, ya, Bu ... aku mau kirim pesan ke teman aku dulu. Mau bilang kalau aku akan datang ke rumahnya," ujar Damia


^^^To: Angga.^^^


^^^Aku sedang bersiap untuk pergi ke rumah kamu, Angga.^^^


Tidak perlu panjang lebar, pesan pun telah berhasil terkirim.


Setelah itu ponsel miliknya kembali dimasukkan ke dalam saku pakaian dan Damia pun kembali mengemas kotak makanan yang sudah disiapkan ke dalam paper bag.


"Sudah siap semua. Kalau begitu, aku pamit mau langsung pergi, ya, Bu ... " ujar Damia


"Ya sudah. Kalau begitu, hati-hati di jalan dan juga bawa motornya," pesan Ibu Rita


Damia pun mengangguk sambil tersenyum. Suster cantik itu pun beralih dari dapur dan beranjak ke luar dari rumah.


Ibu Rita mengikutinya untuk melihat perginya sang putri.


Damia menaiki motor miliknya, menyalakan mesin, dan melajukan motornya tersebut ke luar dari wilayah rumah dan membelah jalan kompleks.


"Tadi aku sempat melihat pesan yang Damia kirim untuk temannya. Namanya Angga. Itu nama lelaki. Apa temannya itu adalah yang pernah menjemput Damia dengan mobil? Apa benar Damia dan Angga hanya berteman?" batin Ibu Rita


Seketika saja, Ibu Rita teringat dengan kata-kata sang suami setelah pulang dari mengantar Damia pergi bekerja ke rumah sakit semalam.


"Bu, di rumah sakit tadi Ayah melihat hal yang aneh," kata Ayah Dodi


"Ada hal aneh apa memangnya, Ayah?" tanya Ibu Rita


"Sikap Damia dan Raffa. Mereka berdua terlihat terlalu cuek terhadap satu sama lain," jawab sang suami


"Bagaimana maksudnya, Ayah?" tanyanya


"Tadi Ayah melihat Raffa pergi dari rumah sakit, kata Damia, sih ... sudah waktunya Raffa pulang kerja. Tapi, masa Raffa tidak melihat ada Ayah di sana, padahal posisinya tidak jauh? Lalu, anggap saja Raffa memamg tidak melihat Ayah di sana. Tapi, kok Damia hanya diam saat melihat Raffa pergi?" Sang suami bertanya-tanya.


"Ya, mau bagaimana lagi, Ayah? Meski bekerja di satu tempat yang sama, kan, tidak selalu mengharuskan mereka berdua untuk selalu bersama. Lagi pula, kalau memang sudah waktunya Raffa untuk pulang, Damia pasti mengerti untuk tidak ingin mengganggu Raffa agar Raffa bisa pulang dan istirahat. Dari dulu anak kita sifatnya memang seperti itu," ujarnya


"Tapi, rasanya tidak hanya ... bahkan lebih dari pada itu. Tadi Ayah melihat Raffa pergi bersama dengan perempuan lain. Mereka berdua bahkan berpegangan tangan. Saat Ayah tanya sama Damia, siapa perempuan yang bersama Raffa itu, Damia hanya bilang dia adalah kepala perawat yang juga bekerja di rumah sakit dan kebetulan waktu pulangnya sama dengan Raffa, jadi mereka ke luar dari rumah sakit bersamaan," ungkap Ayah Dodi


"Mungkin memang benar hanya sebatas itu," sahutnya


"Tapi, Ayah tidak melihatnya hanya sekadar itu. Raffa dan kepala perawat itu terlihat mesra, sedangkan Damia seolah tidak peduli dan enggan membicarakan mereka berdua. Sikap enggan Damia seolah sama sekali tidak punya urusan sama mereka berdua. Terlihat acuh tidak acuh. Apa benar hubungan Damia dan Raffa baik-baik saja? Ayah jadi khawatir Damia menyembunyikan sesuatu dari kita," ucap sang suami


"Kalau itu Ibu juga tidak tahu, Ayah. Tapi, memang terkadang Ibu merasa ada yang aneh sama Damia. Sikapnya terlihat berbeda dan tidak biasa. Kalau begitu, nanti kita tanyakan saja sama Damia secara langsung. Mungkin besok kita bisa langsung bertanya sama Damia karena besok waktunya Damia libur kerja," katanya


"Benar. Harus kita tanyakan kejelasan soal ini sama Damia. Besok Ayah akan meluangkan waktu setelah pulang kerja," ucap sang suami


Seperti itulah pembicaraan antara Ibu Rita dan Ayah Dodi semalam.


"Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi antara Damia dan Raffa yang Damia sembunyikan. Kenapa disembunyikan? Apa benar hubungan Damia dan Raffa baik-baik saja?" gumam Ibu Rita


Padahal baik Ibu Rita dan Ayah Dodi berharap dan berpikir, hubungan antara Damia dan Raffa akan selalu baik-baik saja karena keduanya bahkan sudah bertunganan. Namun, sepertinya tidak seperti itu.


 


Setelah menempuh perjalanan dengan mengendarai motor, Damia pun tiba di rumah sang kekasih.


Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini Damia tidak perlu ditanyai soal tujuannya datang ke rumah itu lagi.


"Neng Mia, ya? Silakan, langsung masuk saja," ujar Pak Dani


"Baik. Terima kasih, Pak," ucap Damia


"Sama-sama, Neng ... " balas Pak Dani


Damia pun berhenti dan memarkirkan motor miliknya di samping salah satu mobil yang ada di sana sama seperti sebelumnya.


Turun dari atas motor miliknya, Damia berjalan ke arah pintu masuk rumah. Berbeda dari yang sebelumnya, pintu tersebut masih tertutup. Namun, mau terbuka atau apa lagi saat tertutup, Damia akan tetap mengetuk pintu sebelum masuk.


Tok-tok-tok.


Tak lama setelah mengetuk pintu, ointu tersebut oun terbuka dari dalam. Damia memang menunggu hingga ada yang membukakan pintu. Bukan maksudnya ingin diperlakukan sebagai tamu yang terhormat, melainkan dirinya ingin bersikap sebagai tamu yang sopan dan mengerti aturan.


Saat itu, muncullah Bi Ina dari balik pintu.


"Selamat pagi, Bi Ina ... " sapa Damia sambil tersenyum.


"Neng Mia ... selamat pagi, Neng. Padahal Neng Mia bisa langsung masuk ke dalam saja. Silakan masuk, Neng," ujar Bi Ina


"Terima kasih, Bi Ina," ucap Damia


"Tidak masalah, tidak perlu merasa sungkan ... " sahut Bi Ina


Damia pun melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.


"Angga di mana, ya, Bi Ina?" tanya Damia


"Den Angga, masih ada di kamarnya. Sebentar, Bi Ina panggilkan Den Angga-nya dulu," jawab Bi Ina


"Kalau tante Yuli dan kak Linda sudah pergi kerja, ya, Bi? Lalu, Om Nassar?" tanya Damia


"Iya, si ibu sama non Linda sudah berangkat kerja. Kalau si bapak lagi pergi memancing, Neng," jawab Bi Ina


Damia hanya mengangguk pelan tanda mengerti.


..."Bukan menyebut dengan panggilan nyonya dan tuan, taoi hanya ibu dan bapak. Sepertinya tante Yuli dan om Nassar pun tidak merasa keberatan atau mungkin malah mereka berdua yang ingin dipanggil seperti itu," batin Damia...


Saat Bi Ina hendak memanggil majikan mudanya, Angga sudah lebih dulu ke luar dari kamarnya dan langsung menghampiri Damia. Saat itu, Damia pun tersenyum melihat raut wajah sang kekasih yang tampak lebih cerah yang menandakan dirinya telah berangsur membaik.


"Terima kasih, Bi Ina," ucap Damia dan Angga secara bersamaan.


"Damia, ayo ... sini. Silakan duduk dulu," kata Angga


Tidak hanya mempersilakan sang kekasih untuk duduk, Angga pun duduk bersama tepat di samping Damia. Keduanya pun duduk di sofa yang ada di ruang tengah.


"Apa aku datang terlalu cepat? Bagaimana kabar kamu?" tanya Damia


"Tidak apa-apa kok dan seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," jawab Angga


"Rumah kamu jadi sepi, ya ... karena yang lain sudah pada pergi. Padahal aku sudah berjanji akan mengobrol sama kak Linda saat aku datang lagi ke sini. Kalau nanti kak Linda sudah pulang, sampaikan maaf dari aku, ya ... " ujar Damia


..."Aku lupa kalau hari biasa saat aku libur kerja adalah hari yang umum saat orang lain bekerja," batin Damia...


"Oke, tapi memang kondisi rumah yang sepi seperti ini tidak jauh beda dari biasanya kok. Omong-omong, apa yang kamu bawa itu? Sepertinya jadi merepotkan kamu lagi?" tanya Angga


"Ini, aku bawakan nasi, sup ayam, dan teh madu untuk kamu," jawab Damia


"Sepertinya itu semua masih hangat. Sayang sekali aku masih merasa kenyang setelah sarapan pagi," ujar Angga


"Tidak apa-apa. Ini semua bisa dimasukkan ke dalam kulkas dulu dan dihangatkan saat kamu hendak memakannya," kata Damia


"Omong-omong, kenapa kamu memakai baju tebal seperti ini? Padahal harusnya kamu masih pakai baju yang tipis. Memangnya kamu mau pergi ke mana dengan pakaian rapi seperti ini?" tanya Damia melanjutkan saat melihat sang kekasih memakai setelan kemeja yang dilapisi sweater.


"Sebenarnya hari ini aku mau masuk kuliah karena kemarin sudah cuti sakit selama sehari," ungkap Angga


"Aku kira kamu mau kontrol cek ke rumah sakit. Apa tidak masalah kamu sudah langsung masuk kuliah lagi secepat ini?" tanya Damia


"Tidak masalah kok. Aku juga sudah tidak demam lagi. Coba saja kamu cek sendiri," jawab Angga sambil menarik satu tangan Damia yang diraih olehnya untuk ditempelkan pada dahinya sendiri.


"Benar, sudah tidak demam lagi ... " sahut Damia


"Ini karena aku mengikuti kata-kata kamu agar kamu tidak merasa cemas dan aku bisa cepat pulih," kata Angga


"Meski begitu, tidak boleh seperti ini. Kamu tetap tidak boleh memakai baju yang tebal, apa lagi dirangkap seperti ini. Lebih baik kamu lepas saja sweaternya," ujar Damia sambil menangkup wajah sang kekasih meski sebentar.


"Baiklah. Aku mengerti," kata Angga


Angga pun langsung melepas sweater yang dipakai olehnya begitu saja di sana dan Damia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sudah aku lepas sweaternya ... " kata Angga


"Kenapa kamu langsung melepas sweaternya di sini?" tanya Damia


"Memangnya kenapa? Bukannya tidak masalah karena aku juga memakai kemeja di dalamnya?" tanya balik Angga


"Tetap saja, aku rasa harusnya tindakan melepas baju itu dilakukan di tempat yang tertutup," jawab Damia


"Rupanya, pacar aku ini pikirannya lebih dewasa dari pada usianya, ya ... bahkan juga melebihi aku yang lebih tua satu tahun," ujar Angga


"Aku tidak seperti itu kok," bantah Damia dengan cepat.


"Oke, aku mengerti. Karena aku sudah melepas sweaternya, lalu, sekarang apa lagi?" tanya Angga


"Meski pun kamu sudah tidak demam lagi, kamu masih harus memakai pakaian yang tipis dan nyaman supaya bisa mendapat sirkulasi udara dengan baik. Setidaknya jangan merangkap pakaian. Lalu, sekarang aku akan memeriksa denyut jantung kamu," jelas Damia


"Sebelumnya aku hanya demam. Apa hubungannya sama denyut jantung? Kamu tidak bawa stetoskop, lalu bagaimana kamu mau memeriksa?" tanya Angga


"Aku hanya perlu periksa denyut nadi kamu. Sama saja kok. Saat sedang demam, denyut jantung akan meningkat lebih cepat untuk mengembalikan tubuh ke kondisi stabil dan menyingkirkan infeksi. Makanya, harus diperiksa dulu untuk memastikan kamu sudah benar-benar pulih," jelas Damia


"Kalau begitu, aku pinjam salah satu tangan kamu dulu. Pemeriksaan ini tidak akan lama," sambung Damia


"Benar juga. Silakan saja. Apa pun juga boleh karena aku ini milik kamu," sahut Angga yang langsung mengulurkan salah satu tangannya pada sang kekasih.


Damia hanya tersenyum tipis dan langsung memerika denyut nadi pada pergelangan tangan Angga dengan cara menempelkan dengan sedikit nenekan dua jari, telunjuk dan tengah untuk merasakan denyut nadi.


"Seorang perawat biasanya memang hanya melakukan yang seperti ini saat memeriksa denyut jantung, yaitu dari pergelangan tangan dengan cara mencari dan merasakan nadi pasien," kata Damia


Mendapat perhatian secara khusus oleh sang kekasih membuat Angga berdebar dan tentu saja hal itu dapat memengaruhi denyut jantung atau nadi miliknya. Hingga membuat Damia mengerutkan keningnya saat memeriksa denyut nadi Angga.


"Angga, denyut jantung kamu sangat tidak beraturan. Apa kamu punya riwayat sakit selain amnesia?" tanya Damia


"Kamu sangat tidak peka. Ini semua karena kamu," jawab Angga


"Kamu yang membuat denyut jantung aku menjadi tidak beraturan. Ini karena aku sangat menyukai kamu," sambung Angga mengungkap karena Damia tampak tidak mengerti dengan maksud dari jawababnya.


"Apa kamu yakin hanya karena itu?" tanya Damia yang ingin lebih memastikan.


"Tentu saja, itu sudah pasti. Cara ini tidak akan berhasil. Jadi, lebih baik dilewati saja," jawab Angga


Damia terdiam sejenak. Suster cantik itu sempat salah paham dengan jawaban yang dilontarkan oleh sang kekasih. Ia berpikir bahwa dirinyalah yang membuat Angga menjadi sakit.


"Kalau begitu, kamu juga harus mengganti celana yang kamu pakai. Lebih baik memakai celana bahan dari pada celana jeans, lalu jangan pakai ikat pinggang," ujar Damia


"Bagaimana kalau celananya jadi mudah turun karena aku tidak memakai ikat pinggang?" tanya Angga


"Kamu bisa cari ukuran celana yang pas di pinggang kamu atau lebih berjaga-jaga dan berhati-hati agar celana kamu tidak mudah turun," jawab Damia


"Baiklah. Lalu, apa aku lepas celananya di sini saja?" tanya Angga yang langsung bangkit berdiri dan menyentuh ikat pinggang yang dipakai olehnya seolah akan langsung melepasnya hanya dengan maksud bercanda.


"Jangan bercanda, Angga! Lepas dan ganti celana kamu di dalam kamar!" seru Damia yang langsung memalingkan wajah ke arah lain.


"Oke, aku tidak akan bercanda lagi. Kamu tunggu aku dan jangan pergi dulu," kata Angga


Saat Angga hendak beralih, tiba-tiba Damia mencekal tangan lelali itu untuk menahan langkahnya. Namun, Damia langsung memalingkan wajahnya lagi tanpa melepas cekalannya.


"Ada apa? Apa kamu mau ikut dan melihat aku mengganti celana?" tanya Angga


"Tidak, bukan itu maksud aku. Aku cuma mau bilang, jangan merangkap celana di bagian dalam dengan celana pendek lainnya. Pokoknya baik itu baju atau celana tidak boleh dirangkap," jelas Damia


"Kamu tahu dari mana kalau lelaki suka merangkap celana?" tanya Angga


"Tidak perlu bertanya soal itu. Lakukan saja yang seperti yang aku bilang," jawab Damia


"Kalau pakai celana d4l@m, boleh, kan?" tanya Angga sambil berbisik.


"Angga, kamu pasti mengerti apa yang aku maksud. Sudah aku bilang, jangan bercanda!" seru Damia


"Oke-oke. Kamu lepas tangan aku dulu. Atau kamu benar-benar mau ikut aku?" tanya Angga


"Maaf, aku lupa ... tidak sadar," jawab Damia yang langsung melepaskan cekalannya pada tangan Angga dengan cepat.


Mulai saat Damia mencekal tangan Angga, suster cantik itu bicara tanpa melihat sang kekasih karena merasa malu.


Angga hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah sang kekasih yang malu-malu, lalu lelaki itu pun segera beralih menuju ke dalam kamarnya untuk mengganti celana seperti yang disarankan oleh sang kekasih. Sedangkan, Damia tetap menunggu di ruang tengah.


.


Bersambung.