Bougenville of Love

Bougenville of Love
71 - Kartu Identitas.



Setelah Lisa berlalu pergi, Damia pun hendak segera beralih menuju ke ruang atasan yang dimaksud.


"Al, kamu duluan saja pulangnya. Aku mau pergi menemui atasan di ruangannya," ucap Damia


"Tidak. Aku akan ikut dan temani kamu menemui atasan," kata Alina


"Ini hanya formalitas dan mungkin hanya sebentar. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Damia


"Khawatir itu tanda aku peduli sama kamu. Apa kamu tidak tahu kalau atasan itu kebanyakan orang yang mesum? Aku ingin memastikan kamu tetap aman," ujar Alina


"Rumah sakit adalah tempat umum yang ramai. Memangnya ada yang bisa berbuat apa?" tanya Damia


"Bahaya itu tidak kenal tempat dan bisa di mana saja. Bahkan bisa saja kamu dapat ancaman. Apa kamu tidak pernah pemberitaan di media sosial? Ada atasan yang menyuruh karyawannya untuk staycation jika ingin melanjutkan kontrak kerja," ujar Alina


"Kamu terlalu berpikir berlebihan, Al," kata Damia


"Pokoknya aku akan ikut untuk memastikan kamu baik-baik saja. Meski pun tidak bisa ikut kamu masuk ke dalam ruangan, aku akan menunggu di luar sambil berjaga-jaga," ucap Alina


"Baiklah. Terserah kamu saja," sahut Damia


Akhirnya Damia pergi bersama Alina untuk menemui atasan. Saat Damia masuk ke dalam ruangan, Alina tetap berada di luar untuk menunggu dan berjaga-jaga.


Damia masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam ruangan saat diperbolehkan untuk masuk ke dalam. Sementara itu, Alina berdiri di dekat pintu masuk agar bisa mencuri dengar meski samar-samar.


Saat masuk ke dalam ruangan, Damia melihat seorang pria yang memakai setelan kemeja yang rapi lengkap dengan dasi.


"Permisi. Saya diberi tahu kalau saya diminta untuk menemui Anda, Pak," ucap Damia


"Benar, saya ingat. Kamu perawat yang baru diresmikan dan lolos dari posisi magang, kan? Kamu ditempatkan di bangsal yang sama dengan suster Lisa dan nama kamu-"


"Nama saya, Damia, Pak ... " ungkap suster cantik itu.


"Oke. Kamu itu yang punya hubungan dekat sama dokter Raffa dari spesialis bedah, kan?"


"Hubungan kami hanya sebatas antar rekan kerja di rumah sakit yang sama dan tidak lebih dari itu," jawab Damia seolah merasa tidak sopan jika tidak memberi penjelasan.


"Baik, saya tidak akan ikut campur dengan masalah antara kalian berdua. Justru saya bisa merasa lega tidak perlu memberi peringatan pada dua orang yang pacaran di tempat kerja yang sama." Atasan itu seolah tidak ingin ikut campur, namun bisa mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi.


"Saya hanya ingin memberikan kamu ini ... " Ia menyodorkan kartu akses dan Damia pun menerimanya.


"Kamu mendapat banyak apresiasi dan pujian dari penilaian pasien yang mengatakan kamu sangat baik dalam bekerja. Saya sangat menantikan kinerja kamu yang bisa semakin baik lagi ke depannya dan saya menaruh harapan besar itu sama kamu. Jadi, saya harap kamu tidak mengecewakan harapan itu."


"Baik, saya mengerti. Terima kasih, Pak," ucap Damia


"Sebenarnya sudah cukup lama pihak kami ingin meloloskam kamu dari status magang, tapi dari dari pihak bangsal tempat kamu bertugas terus menunda memberikan data diri kamu yang sudah lama diminta untuk pengesahannya. Saya harap kamu bisa memakluminya."


"Mungkin itu karena kesibukan yang sering terjadi. Tidak masalah," ujar Damia


"Kalau tidak ada hal lain lagi, saya permisi ... " sambung Damia


"Ya, silakan. Saya mengerti kamu ingin segera istirahat setelah pulang bekerja."


"Sekali lagi, terima kasih ... " Setelah itu, Damia pun ke luar dari ruangan tersebut.


"Kamu masih di sini, Al ... " kata Damia


"Tentu saja. Bagaimana saat di dalam tadi?" tanya Alina


"Tidak ada hal lain selain hanya aku diberikan kartu ID pekerja yang baru," jawab Damia sambil menunjukkan kartu pada Alina identitas miliknya yang baru saja diberikan barusan.


Damia pun menyimpan kartu identitas baru miliknya ke dalam tas yang dibawa olehnya.


"Aku tahu bagi kamu tidak ada yang penting, tapi aku sempat mendengar pujian dan harapan besar yang disampaikan untuk kamu dan aku juga dengar kalau pihak bangsal terus menunda memberikan data diri kamu untuk peresmian kamu yang bebas dan lolos dari status magang. Itu pasti ulah suster Lisa, dia pasti iri dan tidak suka kalau kamu bukan lagi jadi suster magang. Mungkin setelah ini kamu bisa menandingi bahkan mengalahkan prestasi dan kinerja suster Lisa. Aku ikut memiliki harapan besar dan akan merasa senang untuk kamu," batin Alina


"Ya sudah, yuk ... kita pulang," ajak Damia


"Ya, ayo ... " sahut Alina


Kedua suster cantik itu pun beranjak bersama ke luar dari rumah sakit menuju tempat parkir motor.


"Karena tinggal kita berdua, bagaimana kalau kita makan dulu? Sekalian aku traktir kamu sekarang, tapi pas terima gaji nanti, aku tidak akan traktir kamu lagi. Jadi, mau kapan traktirannya? Sekarang atau nanti?" tanya Damia


"Nanti saja. Tidak enak kalau aku ditraktir hari ini, sedangkan yang lain tidak. Nanti aku dikira munafik karena saat yang lain minta traktiran, aku yang sewot sendirian," jawab Alina


"Lagi pula, tadi kamu kenapa harus sewot, sih? Kan, jadi tidak enak sendiri ... " ujar Damia


"Kesal rasanya kalau lihat orang yang hanya mau mendekat saat kamu senang, tapi giliran kamu sedang ada masalah ... mereka malah bersikap cuek dan tidak sedikit yang malah bergosip," kata Alina


"Sepertinya zaman sekarang semua orang memang seperti itu. Kalau kamu tanggapi semuanya memang mudah merasa kesal dan lelah sendiri, lebih baik jangan dihiraukan. Balas cuek lagi saja, asalkan jangan ikut bergosip. Karena terkadang bersikap cuek itu memang perlu," ucap Damia


"Ya, kamu memang benar, tapi kebanyakan orang tidak mudah berubah sifat dan sikap mereka. Seoertinya aku juga termasuk tipe yang seperti itu," ujar Alina


"Kamu harus lebih berlatih mengendalikan diri dan emosi kamu lagi," kata Damia


Alina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Jadi, kamu tidak mau ditraktir nakan sekarang? Apa kamu yakin?" tanya Damia


"Ya, aku yakin. Nanti saja saat terima gaji. Saat ini lebih baik kamu gunakan uamg milik kamu itu untuk traktir orangtua kamu makan malam seperti sebelumnya dan kali ini mungkin kamu juga bisa mengajak pacar kamu untuk ikut makan bersama," jawab Alina


"Haha ... itu bukan ide yang buruk," kata Damia sambil terlekeh pelan.


"Sekarang lebih baik kita pulang ke rumah masing-masing saja supaya bisa segera istirahat," ujar Alina


"Ya, pulang dan istirahat memang yang terbaik ... " sahut Damia


"That's right! Is the best!" seru Alina


Akhirnya Damia dan Alina pun mengeluarkan motor milik masing-masing dan berpisah untuk pulang ke arah yang berbeda.


.


Bersambung.