
Usai memberikan sidik jarinya pada mesin absensi khusus, Damia pun pergi ke bangsal rawat tempatnya bekerja. Suster cantik itu melangkah dengan sedikit lesu, namun tetap tersenyum cerah.
"Selamat pagi, Suster Lisa!" seru Damia menyapa kepala perawat pada bangsal rawat tempatnya bekerja.
"Selamat pagi juga, Suster Damia ... " balas Lisa
"Suster Lisa, maaf kalau saya datang di waktu yang mepet seperti ini," kata Damia
"Ya, tidak apa-apa ... " sahut Lisa
"Suster Lisa, apa hari ini sudah ada yang melakukan tugas pagi? Kalau boleh, saya mau izin dari tugas pagi dan istirahat sebentar. Soalnya saya lagi merasa kurang enak badan hari ini," ujar Damia sambil tersenyum dengan lembut.
"Ya sudah, kamu duduk saja di pos perawat," kata Lisa
"Baik. Terima kasih, Suster Lisa," ucap Damia
"Sama-sama," sahut Lisa
Damia pun masuk ke dalam ruang loker untuk menyimpan barang yang dibawa olehnya. Lalu, suster cantik itu beralih ke luar dari sana dan menuju ke pos penjaga perawat untuk duduk di kursi yang ada di sana.
Saat itu, Suster Alina pun menghampiri Damia.
"Damia, ada apa ini pagi-pagi? Masuk kerja kok tersenyum cerah, tapi terlihat lelah? Apa ada hal baik dan sebaliknya sekaligus?" tanya Alina, rekan kerja Damia.
"Sepertinya begitu. Aku merasa lega karena telah menyelesaikan suatu masalah, tapi aku juga sedang merasa kurang fit karena ini hari pertama datang bulan. Makanya, aku terlihat seperti merasa lelah," jelas Damia sbil mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu, ceritakanlah hal baik yang terjadi sama aku," pinta Alina
"Baiklah. Bukannya kamu sedang melakukan tugas pagi? Maaf, ya, kali ini aku tidak bisa ikut bantu kamu," ujar Damia
"Ya, tidak apa-apa. Masih ada suster shift malam yang menyempatkan diri untuk ikut membantu," kata Alina
"Ya sudah. Kalau begitu, lanjutkanlah kerjakan tugas paginya. Nanti kamu malah dikira sedang malas-malasan kalau terus di sini," ucap Damia
"Jadi, kamu mengusir aku? Parahnya, kamu mengatai aku malas-malasan padahal kamu sendiri yang sedang malas-malasan dengan duduk di sini," ujar Alina
"Maaf ... " kata Damia sambil tersenyum tipis.
"Aku sungguh tidak bisa marah sama kamu karena senyum itu. Pantas saja Suster Lisa langsung memberi izin istirahat untuk kamu saat melihat senyum itu. Senyuman kamu adalah racun keprofesionalan kamu saat bekerja," ucap Alina
"Aku akan menunggu sampai tugas yang kamu lakukan selesai. Semangat kerjanya!" seru Damia
Alina pun segera beralih untuk melakukan tugas pagi. Yaitu, membagikan air hangat untuk pasien membersihkan diri, lalu mengganti sprei ranjang pembaringan pasien, dan melakukan perawatan uap oksigen bagi pasien yang membutuhkan, dan yang lain sebagainya.
Namun, nyatanya Damia tidak bisa tinggal diam saja karena banyak pasien yang membutuhkan bantuan. Ada pasien yang butuh menimbang berat badan, Damia pun membawakan timbangan ke dalam ruang rawat pasien, atau saat ada pasien yang tiba-tiba demam, Damia pun membawakan termometer untuk mengecek suhu tubuh pasien serta memberi pasien obat penurun panas.
Pekerjaan para perawat di pagi hari memang cukup sibuk dan itu terjadi hingga siang hari.
Usai memberi bantuan pada setiap pasien yang membutuhkan, Damia pun kembali menuju pos jaga perawat untuk duduk di sana.
Di sana sudah ada Alina yang sudah lebih dulu menyelesaikan tugas paginya. Dan bergantian Alina yang menunggu Damia di sana.
"Apa sudah selesai periksa pasiennya?" tanya Alina
"Sudah. Tadi sekalian kasih obat dan ganti cairan infus dulu," jawab Damia
"Ayo, katanya mau cerita ... " kata Alina
"Cerita apa, ya?" tanya Damia
"Jangan malah pura-pura lupa. Ituloh ... hal baik yang terjadi hari ini," jawab Alina
"Apa ceritanya tidak bisa nanti saja?" tanya Damia
"Melakukan sesuatu dengan segera itu lebih baik, jadi jangan buat aku merasa penasaran lebih lama lagi," jawab Alina
"Tapi, aku sedang malas untuk bercerita. Mood aku sedang tidak baik," kata Damia
"Kan, kamu sudah setuju mau cerita sama aku. Jangan jadi pemberi harapan palsu dong!" seru Alina
"Sebenarnya ceritanya juga biasa saja. Tidak ada yang menarik," ucap Damia
"Untuk memutuskan menarik atau tidak, biar aku saja yang memutuskan. Kamu hanya perlu bercerita," sahut Alina
"Sebenarnya tadi sebelum ke bangsal ini, aku bertemu Dokter Raffa saat baru masuk ke rumah sakit. Tanpa ada yang emosi, tanpa marah-marah, aku dan Raffa menyelesaikan masalah kami berdua. Kami berdua mengakhiri dan menuntaskan hubungan kami secara baik-baik," ungkap Damia
"Jadi, semuanya berakhir begitu saja?" tanya Alina
"Ya, seperti itulah. Lagi pula, masing-masing dari kami juga sudah punya pacar baru, jadi biarkan kami berdua jalan masing-masing saja," jawab Damia
"Apa kamu tidak ingin menuntut sesuatu setelah diselingkuhi seperti itu? Lalu, apa lagi yang terjadi?" tanya Alina
"Tidak. Lagi pula, aku tidak perlu menuntut ganti rugi atau harta gono-gini karena kami berdua bukan bercerai setelah menikah, tapi kami berdua hanya putus setelah pacaran. Hanya itu, tidak ada apa pun yang terjadi lagi," jawab Damia
"Bagaimana cerita lengkapnya? Apa kamu tidak berniat menceritakannya dengan lengkap sama aku?" tanya Alina
"Ya ... kamu pasti bisa mengira-ngira atau menebak-nebak apa yang terjadi dan seperti apa cerita lengkapnya," jawab Damia tanpa berniat untuk bercerita lebih lanjut.
"Kalau seperti ini, kamu hanya akan membuat aku merasa semakin penasaran. Kamu menggantungkan ceritanya," ujar Alina
"Ceritanya tidak menggantung. Aku sudah menceritakan kesimpulan seluruh kejadiannya dengan singkat, padat, dan jelas," kata Damia
Alina langsung memberengut karena hasrat dan rasa penasarannya tidak bisa terpenuhi dan tidak terpuaskan. Damia pun terkekeh kecil saat melihat wajah masam sahabatnya itu.
Untung saja, saat bercerita tentang Raffa sedang tidak ada Suster Lisa di sana. Kalau tidak, mungkin Damia pun merasa tak enak hati membicarakannya.
"Oh, ya ... ada satu cerita lagi yang baru terjadi kemarin. Apa kamu mau dengar aku bercerita atau tidak?" tanya Damia yang merasa tidak enak saat sahabatnya tidak merasa puas dengan cerita darinya.
"Kalau memang ada cerita baru yang lain, langsung cerita saja. Jangan hanya membuat aku merasa semakin penasaran berkali-kali lipat lebih banyak karena kamu hanya bicara seperti itu," jawab Alina yang merajuk.
"Dari respon kamu sepertinya kamu enggan mendengar cerita aku," kata Damia yang menjahili Alina dengan menarik-ulur niatnya untuk bercerita.
Alina pun sudah kembali bersemangat dan bersiap untuk mendengar cerita dari Damia lagi. Damia pun tersenyum kecil.
"Seperti ini ceritanya ... kemarin, lebih tepatnya lagi semalam aku pergi makan di luar sama ibu dan ayah. Saat itu aku yang terus menyembunyikan soal Raffa dan Angga akhirnya bercerita sama ibu dan ayah," ujar Damia
"Lalu, bagaimana respon ibu dan ayah kamu?" tanya Alina
"Responnya cukup melegakan. Meski pun ibu dan ayah tidak membela atau memihak siapa pun, setidaknya ibu dan ayah tidak marah atau merasa kecewa. Padahal sebelumnya aku terus merasa ragu untuk cerita karena takut ibu dan ayah marah dan kecewa," jawab Damia
"Apa saja yang kamu ceritakan sama ibu dan ayah kamu?" tanya Alina
"Pertama, aku bercerita soal Raffa. Aku menjelaskan bahwa aku dan Raffa sudah putus karena Raffa selingkuh," ungkap Damia
"Apa yang ibu dan ayah kamu katakan saat tahu kalau kamu putus sama Raffa karena dia selingkuh?" tanya Alina
"Ibu dan ayah tidak banyak bicara, tapi sepertinya mereka berdua merasa kecewa dan lebih tidak menyangka kalau hubungan asmara aku akan jadi rumit seperti ini. Bahkan perjodohan yang mereka aturkan untuk aku sudah gagal. Ibu dan ayah juga bertanya tentang kejelasan Raffa yang selingkuh dan aku menjelaskan semua seperti yang aku ceritakan sama kamu," jelas Damia
Alina pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Lalu, bagaimana respon ibu dan ayah kamu saat mendengar kamu cerita soal Angga?" tanya Alina
"Ibu dan ayah tidak menyalahkan aku yang putus sama Raffa karena aku tidak salah dan memang Raffa-lah yang lebih dulu selingkuh. Tapi, setelah itu aku bilang kalau aku tidak beda jauh dari Raffa karena nyatanya aku langsung punya pacar baru saat belum lama putus dari Raffa. Saat itu ibu dan ayah juga tidak menyalahkan aku, tapi hanya merasa tindakan aku yang seperti itu tidaklah tepat. Namun, ibu dan ayah juga tidak melarang saat tahu aku memang suka sama Angga. Ibu dan ayah menyerahkan keputusan sama aku karena aku yang menjalani semuanya serta berharap kalau setelah ini aku tidak menemukan masalah apa pun lagi dan percaya kalau aku bisa melewati semuanya," ungkap Damia
"Sepertinya aku mengerti apa yang dipikirkan sama ibu dan ayah kamu. Mereka berdua tahu kamu tidak bersalah, tapi mereka tidak ingin terlalu memihak setelah adanya masalah kali ini karena mereka tidak mau kamu membenarkan tindakan kamu yang kurang tepat menurut mereka berdua," ucap Alina
"Kamu benar. Aku juga berpikir hal yang sama," kata Damia
"Tapi, kalau kata aku, sih ... kamu sama sekali tidak salah dan kamu juga tidak terlalu cepat punya pacar baru kok. Kan, kamu dan Raffa sudah putus sejak 3 bulan yang lalu. Itu adalah waktu yang standar untuk punya pacar baru," ujar Alina
Mendengar kata sahabatnya itu, Damia hanya tersenyum tipis.
..."Aku lupa kalau yang Alina tahu adalah aku sudah putus dari Raffa sejak 3 bulan yang lalu, tapi dia tidak tahu kalau sebenarnya aku dan Raffa putus bahkan belum sampai 2 minggu," batin Damia...
"Jangan khawatir, Damia. Aku akan mendukung kamu sepenuhnya. Kamu pantas bahagia bersama lelaki yang kamu suka," kata Alina
"Terima kasih, Al," ucap Damia sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama. Kan, kita ini teman ... " sahut Alina
"Lalu, apa ada cerita menarik yang lain?" tanya Alina
"Cerita lain ... " Damia bungkam sejenak untuk berusaha nengingat kembali apa yang pernah dan telah terjadi dan saat itu sahabat Alina itu tersenyum.
"Sepertinya ada hal baik lainnya yang terjadi. Ayo, cerita lagi sama aku!" seru Alina
"Semalam saat hendak pulang setelah makan malam, aku bertemu sama Angga di restoran ssat dia sedang memesan makanan untuk dibawa pulang," ucap Damia
"Lalu, apa yang terjadi? Apa itu artinya dia juga bertemu sama ibu dan ayah kamu?" tanya Alina
"Awalnya tidak karena saat itu aku habis dari toilet dan dua orangtua aku sudah menunggu di luar restoran untuk segera pulang. Saat itu dia yang pertama kali melihat dan menghampiri aku, lalu kita pun mengobrol. Tak lama saat kami berdua mengobrol, ada pelayan resto yang memanggilnya untuk ikut ke meja kasir untuk membayar pesanan. Adanya kesempatan itu, aku gunakan untuk segera pergi karena aku pikir aku masih belum siap mengenalkan dia sama ibu dan ayah jika dia mengikuti aku," jelas Damia
"Aku pun pergi menemui ibu dan ayah agar bisa cepat pulang, tapi ternyata dia benar-benar mengikuti aku sampai akhirnya bertemu sama ibu dan ayah. Dia pun memperkenalkan diri sebagai pacar aku dan aku pun tidak punya pilihan lain selain mengakui dia memang pacar aku karena tidak mungkin aku menyakiti perasaannya dengan tidak mengakuinya, lagi pula rupanya ibu mengenali wajahnya yang pernah dilihat saat dia datang menjemput aku untuk pergi bersama. Lalu, akhirnya dia mengantar aku, ibu, dan ayah pulang sampai ke rumah dengan mobil karena saat itu kami bertiga pergi dengan taksi online dan kebetulan belum memesan taksi online untuk pulang," sambung Damia
"Apa hanya itu? Lalu, bagaimana dengan respon ibu dan ayah kamu setelah bertemu Angga?" tanya Alina
"Aku merasa lega karena ibu dan ayah menganggap kalau dia adalah lelaki baik bahkan ibu dan ayah berharap hubungan aku dan dia tidak ada masalah," jawab Damia sambil tersenyum.
"Aku ikut senang mendengarnya. Sepertinya ibu dan ayah kamu setuju dengan hubungan kamu sama Angga," kata Alina
"Lalu, apa lagi yang terjadi? Pasti masih ada cerita lainnya lagi, kan?" tanya Alina melanjutkan.
"Setelah aku, ibu, dan ayah sampai rumah, dia pun pergi untuk pulang ke rumahnya sendiri," jawab Damia
"Pasti masih ada cerita selanjutnya! Ayo, teruskan ceritanya!" seru Alina
Alina mengetahui kalau Damia masih menyimpan hal baik lainnya, terbukti dari wajah Damia yang tampak berseri-seri dan tak lepas dari senyum cerah.
"Aku harusnya tidak menceritakan ini sama kamu karena ini agak privasi, tapi aku akan bercerita sedikit dan untuk sekali ini saja," kata Damia
"Baiklah, aku mengerti. Jadi, apa yang terjadi?" tanya Alina
"Setelah dari semua itu, semalam Angga nengirim pesan untuk aku. Isinya sedikit tidak terduga dan menurut aku itu lucu. Katanya, dia senang karena sudah debut di depan ibu dan ayah sebagai pacar aku. Kata debut ini sungguh terdengar khusus. Lalu, aku balas dengan berkata ... tentu saja harus debut karena dia adalah seorang idola," ungkap Damia
"Ini sungguh berbeda dari yang biasa. Sebenarnya aku tidak merasa heran lagi jika lelaki mengatakan hal khusus untuk membuat senang dan menggombali pacarnya, tapi justru kamu yang membuat aku tidak menyangka. Karena kamu malah balik gombal sama Angga. Ini adalah hal yang langka," ucap Alina
"Ya ... menyenangkan hati pacar memang bagus. Ini adalah suatu perubahan yang lebih baik dari kamu," sambung Alina
Damia hanya tersenyum dan terkekeh kecil.
Saat itu ada seorang dokter bersama para asistennya atau yang lebih sering disebut dengan dokter muda yang datang ke bangsal tersebut untuk melakukan pemeriksaan rutin hari ini. Bersamaan dengan mereka ada Suster Lisa yang mendampingi.
Para suster yang ada pun langsung berdiri dan menegakkan badan sebagai sikap hormat dan sopan santun pada para dokter yang datang itu.
"Suster Lisa balik cari perhatian sama para dokter lagi, deh. Biasanya jam segini dia sering hilang dan memberi tanggung jawab mendampingi dokter yang melakukan pemeriksaan rutin sama kamu atau suster lain. Pasti setiap hilang dia pergi cari-cari kesempatan untuk ketemu sama dokter Raffa. Sekarang kamu dan Raffa sudah lama putus, jadi dia pasti merasa sudah tidak ada yang mengancam posisinya lagi dan balik cari muka di depan para dokter ini," bisik Alina
"Sst ... jangan bicara seperti itu. Tidak baik kalau ada yang dengar nanti, apa lagi jika Suster Lisa yang mendengar secara langsung," kata Damia berbisik.
"Apa sikap semua kepala perawat seperti Suster Lisa, ya? Seperti ... sok berkuasa," ujar Alina sambil berbisik.
"Sudah cukup, Al ... " sahut Damia berbisik.
"Untung saja saat kita mengobrol tadi, Suster Lisa sedang tidak ada di sini. Kalau tidak bisa gawat jadinya," kata Alina berbisik
Damia pun tidak menanggapi perkataan Alina lagi dan memilih untuk hanya diam.
Setelah memakai masker dan membersihkan kedua tangan dengan cairan hand sanitizer, para dokter bersama suster pendamping pun masuk ke dalam satu per satu ruang rawat untuk memeriksa kondisi pasien satu per satu.
.
Bersambung.