Bougenville of Love

Bougenville of Love
40 - Mencurigakan.



Saat malam tiba, Damia pun beranjak untuk istirahat dan makan sejenak.


Damia beralih menuju kantin rumah sakit bersama Alina. Kedua suster cantik itu makan sambil mengobrol bersama untuk mengisi waktu istirahat mereka berdua.


"Damia, selama sekitar 2 minggu ini, bagaimana kabar kamu? Apa saja yang kamu lakukan saat merawat pasien di rumahnya?" tanya Alina


"Ya, seperti itulah, tapi tidak banyak juga yang aku lakukan. Lalu, terkadang aku pulang ke rumah karena memang diperbolehkan dan waktu merawat pasien diberi kesenggangan saat hari sabtu dan minggu. Sebenarnya, peran aku di sana hanya seperti menjaga pasien saat mama-nya bekerja. Anggota keluarganya yang lain juga sedang ada perlu di luar kota, jadi mama-nya ingin aku menjaga pasien karena kgawatir jika sesuatu terjadi pasa pasien saat sedang seorang diri di rumah," ungkap Damia


"Lebih seperti baby sitter, dong?" tanya Alina


"Pasien akan marah jika mendengar hal yang kamu tanyakan. Mama-nya juga sering berpesan sama aku untuk menjaga pasien, lalu pasien akan marah dan berkata bahwa dirinya bukan anak kecil yang harus dijaga dan aku bukanlah baby sitter-nya," jelas Damia sambil tersenyum kecil.


"Siapa nama pasien yang kamu rawat itu?" tanya Alina


"Namanya, Angga ... " jawab Damia


"Angga itu juga teman kamu, kan? Bukankah dia hilang ingatan? Apa dia ingat sama kamu?" tanya Alina


"Aku termasuk yang dia lupakan. Dia masih belum ingat sama aku meski ingatannya sudah mulai kembali pulih, tapi hubungan kami tetap baik dan jauh lebih dekat setidaknya sejak kami pernah lost kontak," jawab Damia


"Aku masih merasa hrran, deh. Kenapa Suster Lisa malah pilih kamu untuk mendampingi perawatan pasien di rumah? Padahal masih banyak suster lain, kenapa malah pilih suster yang masih magang?" tanya Alina dengan rasa heran.


"Aku juga tidak tahu. Mungkin Suster Lisa merasa aku yang paling cocok untuk dipilih karena aku masih magang dan dari tugas itu aku jadi bisa belajar banyak," jawab Damia


"Tapi, aku masih merasa aneh sama keputusan Suster Lisa waktu itu. Suster Lisa seperti sengaja melakukannya dan seolah memaksa kamu yang tidak punya pilihan untuk menolak," ujar Alina


"Masa, sih? Apa itu benar? Kalau memang benar, lalu apa alasan Suster Lisa melakukan hal seperti itu?" tanya Damia


"Aku memang tidak terlalu yakin, tapi masa kamu tidak merasakannya?" tanya balik Alina


"Tidak, tuh ... aku tidak pandai menduga-duga. Memangnya kenapa? Apa yang kamu rasakan?" tanya balik Damia lagi usai menjawab.


"Suster Lisa belakangan ini semakin aneh dan mencurigakan," jawab Alina


"Apa yang buat kamu berpikir seperti itu?" tanya Damia


"Suster Lisa itu, kan, suster kepala meski masih muda. Dia jadi sering meninggalkan bangsal dan menitipkan tugasnya ke suster lain," jawab Alina


"Mungkin karena dia sibuk dan punya keperluan selain di bangsal," kata Damia


"Aku rasa, aku harus mengatakan ini sama kamu. Aku sering melihat Suster Lisa sedang bersama Dokter Raffa. Terlalu sering sampai jadi aneh dan mencurigakan," ucap Alina


Damia terdiam dan hanya fokus pada makanannya yang sudah hampir habis.


"Kebersamaan Suster Lisa dan Dokter Raffa terlalu intens untuk sekadar dibilang punya keperluan kerja. Damia, hubungan kamu sama Dokter Raffa masih tetap baik-baik saja, kan?" tanya Alina


Damia hanya mengangguk pelan saat dirinya menyuap makanan dari sendok ke dalam mulutnya.


"Coba kamu bicara jujur deh, Damia. Tidak ada yang sedang kamu tutupi, kan? Dokter Raffa tidak selingkuh dari kamu dan berpaling Suster Lisa, kan?" tanya Alina


"Cerita saja, kan, kita teman ... " sambung Alina


"Hubungan aku dan Dokter Raffa memang baik-baik saja, tapi sebenarnya kami sudah putus," ungkap Damia


"Sudah cukup lama dan kami putus secara baik-baik," sambung Damia dengan bumbu dusta.


"Sejak kapan kalian berdua putus?" tanya Alina


"Mungkin sekitar 3 bulan yang lalu. Kami memang tidak mengumbar-umbar hal ini dan membiarkannya begitu saja," jawab Damia dengan dustanya.


"Aku tidak menyangka. Pantas saja sejak kamu merawat pasien di rumahnya, Suster Lisa dan Dokter Raffa terlihat jadi semakin dekat. Entah mereka sudah berpacaran atau masih tahap pendekatan," ujar Alina


Damia hanya diam.


..."Aku juga tidak tahu dan tidak menyangka. Aku dan Raffa memang sudah putus dan dia memang berselingkuh. Aku mengetahui semua itu dan ingin membiarkannya saja tanpa mempermasalahkannya. Yang sudah berlalu biarlah berlalu," batin Damia...


"Omong-omong, kamu baik-baik saja setelah putus sama Dokter Raffa, kan, Damia?" tanya Alina


"Ya. Aku selalu baik-baik saja kok, hanya sempat sedih sebentar," jawab Damia


"Apa mungkin kamu sudah punya pacar baru lagi, Damia?" tanya Alina


Merasa canggung dengan pertanyaan Alina dan bingung harus menjawab apa, situasi pun berpihak pada Damia. Ponsel milik suster cantik itu bergetar panjang tanda ada telepon masuk.


"Maaf, Al. Ada telepon masuk. Aku harus mengangkatnya," kata Damia


"Oke, silakan. Kalau begitu, aku duluan, ya. Aku sudah selesai makan," ujar Alina


Damia hanya mengangguk kecil. Alina pun bangkit beralih dari kantin rumah sakit sambil merapikan dan membawa pergi bekas alat makannya untuk dikembalikan pada pihak kantin sekalian berjalan kembali menuju ke bangsal.


Setelah Alina meninggalkannya seorang diri, Damia pun menjawab telepon masuk agar tidak mati lebih dulu.


Damia tersenyum saat mengangkat telepon dan menempelkan ponsel pada telinganya. Rupanya itu adalah telepon dari Angga.


"Halo."


"Halo. Damia, aku sengaja langsung menelepon dan kamu mengangkat teleponnya berarti aku tidak mengganggu kamu, kan?"


"Tidak kok. Maaf, lama mengangkat teleponnya. Aku sedang istirahat, meski sebentar lagi sudah harus kembali bekerja."


"Kalau begitu, apa aku matikan saja teleponnya dan telepon saat kamu sudah pulang kerja nanti?"


"Aku pulang kerja malam. Kalau hanya sebentar, tidak apa-apa kok. Bicara saja."


"Apa kamu sangat sibuk setelah kembali bekerja ke rumah sakit? Kamu sedang istirahat berarti kamu sudah makan, kan?"


"Hari ini aku cukup sibuk dan baru saja selesai makan."


"Kamu mengingatkan aku untuk banyak istirahat, tapi kenapa kamu sendiri malah langsung bekerja setelah baru pulang dari rumah aku?"


"Aku tidak terbiasa seorang diri dan tidak melakukan apa-apa, jadi aku ke rumah sakit yang ramai untuk bekerja. Hari ini aku bekerja, tapi besok jadwal aku untuk libur. Jadi, aku bisa istirahat besok."


"Kamu sendiri, bagaimana kuliahnya hari ini? Apa ada yang membuat kamu kesulitan?"


"Kuliahnya lancar. Aku memang sedikit kesulitan. Saat mata kuliah sedang berlangsung, ingatan tentang pembahasan pembelajaran yang lalu suka tiba-tiba teringat dan muncul begitu saja. Aku jadi kurang fokus, tapi semua aman. Aku baik-baik saja."


"Lalu, apa kamu sudah makan atau belum? Apa kamu sempat atau akan minum obat? Obatnya selalu kamu bawa, kan?"


"Makanan yang aku pesan belum diantar, tapi sebelum ini aku juga sudah sempat makan sedikit. Obatnya selalu aku bawa kok, tapi masih belum aku minum untuk hari ini. Kalau aku minum obat, aku takut malah tidak bisa beraktivitas karena aku akan tertidur setelah meminumnya. Jadi, aku hanya bertahan saat masih sanggup."


"Berjuang dan bertahan itu memang bagus, tapi kalau memang tidak sanggup, kamu bisa langsung minum obatnya saja. Tidak perlu takut tidak bisa beraktivitas untuk sementara waktu. Kalau kamu minum obatnya dan jadi tertidur, tidak apa-apa. Itu artinya kamu masih butuh waktu untuk istirahat lebih lama lagi dan menyambung cuti kuliah. Jangan malah memaksakan diri. Semuanya bisa kamu lakukan saat kamu sudah kembali pulih nanti, jangan merasa diburu oleh waktu karena yang paling penting adalah kesehatan diri kamu sendiri."


"Ya, aku mengerti. Aku menelpon kamu karena mau tahu tentang kamu, tapi malah kamu yang lebih banyak bertanya. Rasanya jadi terbalik."


"Tidak kok, jumlah pertanyaan kita sama."


"Apa kamu menghitungnya?"


"Aku tidak berhitung, tapi mengingatnya. Dengan tambahan pertanyaan barusan, kamu jadi lebih banyak bertanya satu kali dari pada aku."


"Tetap saja. Kamu lebih banyak memberi masukan dan mengingatkan aku dari pada sebaliknya. Sepertinya aku malah mengatakan saran yang tidak baik tadi."


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa seperti ini karena pekerjaan aku dan setiap orang memang berbeda-beda."


"Aku senang bisa mendengar suara kamu, meski tidak bisa melihat wajah kamu. Aku tidak melakukan video call karena awalnya hanya mencoba-coba dan takutnya kamu masih sibuk bekerja. Karena kamu besok libur, bagaimana kalau kita bertemu? Atau kamu mau istirahat saja di rumah?"


"Memangnya besok kamu tidak kuliah?"


"Besok aku hanya ada satu jadwal mata kuliah. Masih bisa jika ingin bertemu."


"Kalau begitu, ayo bertemu. Asalkan jangan terlalu pagi atau terlalu malam. Kamu tentukan saja ingin bertemu di mana?"


"Nanti aku akan kirim chat setelah menentukannya."


"Baiklah. Sekarang jumlah pertanyaan kita sama."


"Kamu tidak perlu beri tahu aku lagi, aku tidak akan perhitungan lagi soal pertanyaan."


"Baiklah. Kalau kamu sudah selesai bicara, tutup saja teleponnya. Aku sudah harus kembali bekerja."


"Oke. Sampai jumpa besok."


"Ya, sampai jumpa lagi."


Tut!


Sambungan telepon pun terputus.


Damia tersenyum saat menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku seragam perawatnya. Saat itu juga suster cantik itu melihat sosok Dokter Raffa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.


Dokter Raffa melihat Damia sejak masih berteleponan dan melihat mantan kekasihnya itu tersenyum usai menelepon.


"Siapa yang berteponan sama Damia sampai dia tersenyum sangat senang seperti itu? Apa dia pernah tersenyum saat berteleponan sama aku? Sepertinya tidak," batin Raffa


Damia pun merapikan bekas alat makannya dan bangkit berdiri sambil membawa bekas alat makannya untuk dikembalikan ke pihak kantin. Suster cantik itu terus berjalan pergi tanpa menghiraukan Dokter Raffa yang terus menatapnya.


Setelah Damia mengembalikan bekas alat makannya pada pihak kantin, terlihat Dokter Raffa mengejarnya. Dokter tampan itu meraih tangan suster cantik itu dan menghentikan langkahnya.


"Damia, tunggu!" seru Dokter Raffa


"Ya. Ada perlu apa, Dokter Raffa? Apa bisa tolong lepaskan tangan saya?" tanya Damia masih menjaga sikap sopannya.


Dokter Raffa pun melepaskan tangan Damia.


"Aku ingin bicara. Tolong dengar dulu," pinta Raffa


"Ya. Silakan saja," kata Damia


"Damia, apa kamu serius mau kita putus?" tanya Raffa


"Tentu saja. Memangnya kamu pikir aku main-main? Aku tidak seperti kamu yang bisa berbohong soal perasaan dan hubungan. Selama ini aku memang hanya diam dan bertahan, tapi sekarang aku sudah tidak sanggup lagi. Jadi, sekarang lebih baik kita pilih jalan sendiri-sendiri saja," jawab Damia


"Apa kamu tidak merasa sayang dengan hubungan kita yang sudah terjalin lama?" tanya Raffa


"Raffa, tolong kamu jangan cari-cari alasan untuk menahan aku sementara kamu masih tetap menjalin hubungan sama perempuan lain. Jangan hanya berpikir tentang memenuhi dan mementingkan rasa ego kamu," ucap Damia


"Kalau kamu mau, aku bisa putus sama Lisa," ujar Raffa


"Tidak. Yang aku mau adalah aku dan kamu yang putus, bukan kamu dan kak Lisa," kata Damia


"Semua sudah terlambat, Raff. Saat masih bersama aku, kamu tidak memikirkan perasaan aku dan memilih untuk mendua dengan kak Lisa. Sekarang aku sudah mengalah, jangan kamu malah berbalik tidak memikirkan perasaan kak Lisa dan minta balikan sama aku. Cukup aku saja yang tersakiti, jangan kamu ulangi lagi kesalahan yang sama pada kak Lisa," sambung Damia


"Tapi, aku masih cinta sama kamu, Damia ... " sesal Raffa


"Dan kamu juga mencintai kak Lisa. Kalau tidak, kamu tidak mungkin pacaran sama dia saat masih bersama aku. Kamu hanya merasa kurang cinta sama kak Lisa karena kamu sudah lebih dulu menjalin hubungan sama aku dalam waktu yang lama. Setelah lama pacaran sama kak Lisa, kamu juga akan terbiasa dan lupa sama aku," ucap Damia


"Kamu fokus saja sama kak Lisa dan bahagiakan dia. Jangan pedulikan, jangan ingat-ingat, dan jangan berharap sama aku lagi. Kamu bisa tenang pacaran sama kak Lisa karena aku sudah bilang kalau kita putus sejak 3 bulan yang lalu dan anggap saja memang seperti itu," sambung Damia


"Kamu cerita sama siapa saja kalau kita sudah putus?" tanya Raffa


"Tidak penting sama siapa. Anda fokus saja sama pekerjaan Anda dan saya pun harus kembali bekerja. Maaf, Dok ... permisi," ujar Damia yang langsung berlalu pergi meninggalkan Raffa seorang diri.


Untung saja Dokter Raffa menghentikan Damia di lorong rumah sakit yang sepi hingga tak ada yang mendengar percakapan keduanya. Kecuali seseorang yang diam-diam menyembunyikan diri dan mencuri dengar.


"Sudah aku duga kalau Raffa akan mencari dan memohon-mohon sama Damia untuk balikan lagi. Harusnya tadi aku tidak perlu bilang ke Raffa kalau Damia sudah kembali bekerja di rumah sakit ini lagi. Aku pikir dia tidak akan mengejar Damia lagi karena mereka sudah putus, ternyata aku salah. Tapi, aku tidak akan menyerah dan mengalah seperti yang dilakukan oleh Damia. Dokter Raffa hanya bisa jadi milik aku!" batinnya


Suster Lisa berbalik usai menguping pembicaraan antara Damia dan Raffa. Suster kepala berusia muda itu bertekad untuk tidak pernah melepaskan dan akan mdmperjuangkan cintanya pada dokter tampan yang telah kini menjadi kekasihnya itu.


.


Bersambung.