Bougenville of Love

Bougenville of Love
48 - Menghindar.



Usai merapikan barang dan menyerahkan buku tugas miliknya pada Rena, Angga pun berlalu pergi meninggalkan Rena dan beranjak ke luar dari perpustakaan.


Ditinggal oleh Angga, Rena pun membereskan barang miliknya dan bergegas mengejar dan menyamakan langkah kaki mantan kekasihnya itu.


"Angga, apa kamu mau langsung pulang? Bagaimana kalau kita makan bersama dulu?" tanya Rena


"Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku akan langsung pulang dan makan di rumah saja," jawab Angga


Angga pun mempercepat langkahnya.


"Kalau kamu saja bersikap seperti ini, bagaimana aku bisa tidak berpikir kalau kamu sedang menghindari aku? Sepertinya sejak awal kamu memang tidak pernah peduli sama aku sedikit pun. Satu-satunya perempuan yang beruntung bisa dapat rasa peduli dari kamu hanya Damia," batin Rena


Namun, Rena tidak mau kalah dan tidak ingin tinggal diam. Mantan pacar Angga itu pun mengejar lelaki yang telah meninggalkan diri dan hatinya.


"Lalu, bagaimana kabar kamu, Angga? Apa ingatan kamu sudah kembali pulih?" tanya Rena


"Aku baik-baik saja dan ingatan aku juga sudah mulai kembali secara perlahan dan sedikit demi sedikit," jawab Angga


"Bagaimana hubungan kamu dengan Damia? Bagaimana kabar suster kamu itu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Rena


"Damia juga sama baiknya seperti aku dan hubungan kami juga baik-baik saja, tapi Damia sudah tidak bekerja untuk merawat aku lagi. Dia sudah kembali bekerja di rumah sakit," jawab Angga


..."Rasanya agak aneh mendengar nama Damia disebut dan ke luar dari mulut Rena," batin Angga...


Saat Angga terus berjalan bersama Rena, dari arah berlawanan tampak seorang lelaki yang berjalan mendekat.


Saat itu Angga dan Rena sama-sama saling menghentikan langkah secara serempak.


Sejak mendengar Rena menyebut nama sang kekasih, Angga sudah merasa aneh seolah de javu. Hingga kini muncul seorang lelaki membuat Angga merasa kepalanya mulai terasa sakit. Namun, Angga berusaha untuk tetap tenang.


"Rena ... " panggilnya


"Rena, dia memanggil kamu. Dia itu pacar kamu, ya? Kalau begitu, kamu harus segera pulang sama pacar kamu. Aku pergi duluan, ya," ujar Angga yang lalu beranjak pergi meninggalkan dua sejoli tersebut.


Setelah cukup lama terdiam, Rena pun akhirnya mengucap kata-kata pesan agar Angga berhati-hati.


Usai kepergian Angga, lelaki yang baru muncul itu pun menghampiri Rena.


"Kamu baru pulang atau sudah dari tadi?" tanyanya


"Baru saja pulang. Aku ke luar dari perpustakaan bersama Angga. Tadi kami mengerjakan tugas bersama," jawab Rena


"Apa kamu masih dekat sama dia?" tanyanya


"Aku dan dia sekarang hanya sebatas teman dan tidak lebih. Kamu harus percaya itu," ungkap Rena


"Ya. Aku percaya sama kamu kok," katanya


Mendengar perkataan itu, Rena langsung menoleh pada lelaki yang ada dan berdiri tepat di sampingnya itu.


"Arya, apa kamu tidak marah sama aku karena masih dekat sama mantan pacar aku seperti tadi?" tanya Rena


"Tidak kok. Buat apa aku marah sama kamu? Toh, dia sudah jadi masa lalu kamu," jawabnya, pacar Rena yang bernama Arya.


"Lagi pula, kamu hanya berjalan bersama dia saja dan tidak melakukan hal buruk apa pun. Jadi, aku pasti selalu percaya sama kamu," sambung Arya


"Kamu benar. Terima kasih karena sudah mau percaya sama aku, Arya," ucap Rena sambil tersenyum.


"Tidak masalah karena kamu pacar aku," sahut Arya


Inilah alasan yang membuat Rena luluh dengan kehadiran Arya dan menyerah atas cinta sepihaknya dengan Angga. Selain merasa lelah karena rasa cintanya terhadap Angga tak kunjung terbalas, sikap Arya yang menurutnya baik hati membuat rasa cinta di hati Rena mudah terganti. Hingga akhirnya Rena memilih untuk putus dan melupakan Angga dan membuka hati untuk Arya. Meski awalnya terasa sulit, hingga kini Rena masih berusaha untuk terus melangkah maju ke depan.


"Kalau begitu, sekarang ... ayo kita pulang," ujar Arya


"Baiklah. Ayo," kata Rena


Kedua sejoli itu pun saling bergenggaman tangan satu sama lain dan beranjak pergi untuk pulang bersama.


Usai meninggalkan Rena dan seorang lelaki yang mungkin adalah pacar perempuan tersebut, Angga pun beralih mencari mobil miliknya.


Begitu masuk ke dalam mobil miliknya, Angga langsung menunduk dan menumpu kepalanya pada setir mobil.


..."Inilah alasan aku tidak mau menjadi dekat dan memutuskan untuk menghindari Rena. Sejak hilang ingatan dan bertemu lagi dengan dia, kepala aku jadi sering terasa sakit," batin Angga...


Angga pun mengangkat kepalanya menjadibersandar pada jok mobil. Lelaki itu berusaha mengatur nafasnya untuk meringankan rasa salit di kepalanya bahkan ia berharap rasa sakit pada kepalanya itu dapat lenyap.


Akhirnya, Angga pun menyalakan mesin mobil miliknya dan memilih untuk pulang menuju ke rumah. Agar ia bisa segera istirahat, lelaki itu punmulai melajikan mobil miliknya dengan sangat berhati-hati sambil tetap menjaga kesadarannya agar tetap terjaga.


Sesampainya di rumah, Angga langsung berjalan masuk menuju ke kamarnya. Saat itu, ia bertemu Bi Ina yang sedang membersihkan rumah.


"Den Angga, sudah pulang ... apa mau langsung makan, Den?" tanya Bi Ina


"Tidak, Bi. Rasanya sangat lelah, saya mau langsung istirahat di dalam kamar saja," jawab Angga


"Nanti Bibi tolong bawakan roti dan segelas susu ke dalam kamar aku saja. Kalau nanti aku tidur, taruh saja di atas meja. Terima kasih," sambung Angga meminta.


"Baik, Den ... " sahut Bi Ina


Angga pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya dan merebahlan tubuhnya di atas ranjang untuk melepas lelah dan menghilangkan sakit kepalanya.


Bi Ina pun beralih ke dapur untuk menyiapkam pesanan Angga tadi. Saat membawakan roti dan segelas susu ke dalam kamar milik Angga, rupanya majikan mudanya sudah tergeletak di atas ranjang dan terlihat sangat kelelahan.


Karena tidak ingin mengganggu, Bi Ina pun kembali beranjak ke luar dari kamar tersebut setelah meletakkan tampan berisi roti dan segelas susu di atas meja yang ada di samping ranjang.


"Angga di mana, Bi? Dia sudah pulang kuliah, kan? Kenapa tidak ikut makan malam?" tanya Mama Yuli


"Den Angga sudah langsung tidur setelah pulang kuliah, Bu. Kelihatannya sangat lelah, tapi tadi sudah saya antarkan roti dan susu yang di pesankan Den Angga ke dalam kamarnya," ungkap Bi Ina


"Biar saja Angga istirahat, Ma," kata Papa Nassar


Begitu tengah malam tiba, Angga terbangun. Saat melihat ada roti dan susu di atas meja, lelaki itu langsung menyantapnya sampai habis. Setelah itu langsung kembali tidur.


Setelah meminum obatnya, Angga pun kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya hingga akhirnya dapat tertidur dengan lelap.


•••


Keesokan harinya.


Damia merasa sangat lelah karena baru saja pulang bekerja dan sampai di rumah.


Saat sedang berada di rumah seorang diri, di dalam kamarnya, Damia memeriksa ponsel miliknya. Berharap ada pesan masuk dari sang kekasih yang mampu membuat semangatnya kembali. Namun, nyatanya ponsel miliknya bersih dari notifikasi apa pun.


Jika seperti ini, Damia bisa apa? Meski nyatanya suster cantik itu merindukan sang kekasih, ia tak bisa berbuat apa-apa, apa lagi mengganggu dengan mengirimkan pesan atau melakukan panggilan.


Sejak dulu, Damia merasa jika bukan keperluan mendesak yang sangat penting, tindakannya yang mengirim pesan atau melakukan panggilan lebih dulu pada seseorang akan mengganggu seseorang tersebut. Makanya, hingga sekarang suster cantik itu tidak akan menghubungi orang lain lebih dulu jika bukan keperluan mendesak yang teramat penting.


Damia menghela nafas pelan, lalu meletakkan ponsel miliknya. Pada akhirnya, suster cantik itu hanya bisa menahan perasaan rindunya di dalam hati. Karena tidak ada hal apa pun yang bisa dilakukan olehnya, Damia pun memilih untuk istirahat.


...


Di rumahnya, Angga bangun kesiangan setelah tidur dan minum obat semalam. Namun, rupanya meski rasa sakit di kepalanya sudah mereda, rasa sakit itu tidak sepenuhnya hilang.


..."Sekarang aku ingat masa lalu 3 tahun belakangan ini. Bahkan aku ingat siapa lelaki semalam. Itu adalah pacar baru Rena yang bernama Arya. Rena dijodohkan oleh dua orangtuanya dengan Arya dan karena dia tahu kalau aku tidak pernah cinta sama dia, dia pun memilih untuk putus sama aku dan mulai pacaran sama pacar barunya," batin Angga...


"Rena tahu kalau aku tidak cinta sama dia dan di hati aku ada perempuan lain bahkan berharap aku untuk berusaha mengejar cinta perempuan itu. Aku tahu maksud Rena pasti adalah Damia. Tapi, kenapa ... bahkan dari semua ingatan yang kembali aku masih belum bisa mengingat apa pun tentang Damia? Sebenarnya apa alasannya?" gumam Angga


"Sebenarnya masa lalu seperti apa yang aku lupakan tentang Damia? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?" sambung Angga bergumam ria.


Semakin dipikirkan penyebabnya, semakin lelaki itu merasa sakit pada kepalanya bertambah. Pada akhirnya, Angga memilih untuk tidak memusingkannya untuk sementara waktu agar aktivitasnya hari ini bisa terus berlanjut.


Saat Angga beranjak ke luar dari kamarnya untuk mencari makan untuk mengisi perut, rupanya rumah sudah sepi.


"Angga, kamu bangun tidur kesiangan, ya?" tanya Linda


"Iya, nih, Kak. Untungnya hari ini aku tidak ada jadwal kuliah pagi. Kak Linda sendiri kok masih ada di rumah? Kakak tidak pergi kerja?" tanya balik Angga usai menjawab.


"Iya. Kerjaan yang ada kemarin sudah selesai semua, jadi Kakak mau istirahat di rumah dulu sampai besok. Baru hari Senin mulai kerja ke kantor lagi. Hari ini mungkin hanya kerja dari rumah," jelas Linda


Angga hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu, lelaki itu hendak beranjak. Saat itulah Linda menghentikannya saat merasa ada yang tidak beres dengan sang adik.


"Tunggu, Angga ... kamu kenapa? Kok wajah kamu terlihat tidak fit dan seperti sedang menahan sakit seperti itu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Linda


"Aku tidak apa-apa kok, Kak. Hanya sedang sedikit merasa pusing, mungkin karena belum lama baru bangun tidur dan kemarin habis mengerjakan tugas yang sulit," jawab Angga


"Apa kamu yakin?" tanya Linda untuk memastikan.


"Iya, Kak ... yakin. Ini aku mau makan. Mungkin kalau sudah makan nanti rasa pusingnya bisa langsung hilang. Kak Linda tahu sendiri, aku kalau lagi merasa lapar terkadang juga suka merambat sampai kepala merasa pusing," jawab Angga


"Ya sudah, makan dulu sana ... " kata Linda sambil terkekeh pelan.


Angga pun mengangguk dan beranjak pergi. Bohong sebenarnya saat lelaki itu berkata baik-baik saja karena faktanya kepalanya terasa sakit seperti sedang dipukuli dengan palu keputusan hakim agung.


Tawa kecil Linda pun sebenarnya hanya sebuah pengalihan. Perempuan karir itu tidak mau sang adik menyadari rasa khawatirnya. Linda pun memutuskan untuk mengikuti sang adik.


"Kak Linda, sedang apa? Kenapa malah mengikuti aku?" tanya Angga


"Jangan ge'er. Aku mau minum susu untuk penambah energi," jawab Linda sekalian beralasan.


Akhirnya, kakak beradik itu pun beralih bersama menuju ke dapur. Angga menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, sedangkan Linda menyeduh susu untuk dirinya sendiri. Lalu, keduanya duduk bersama di kursi meja makan untuk menyantap menu hidangan masing-masing yang berbeda.


"Minum susu saja lama. Cepat habiskan susunya dan langsung istirahat lagi sana," kata Angga


Linda hanya berdeham singkat. Perempuan karir itu meminum susu sedikit demi sedikit sambil bermain ponsel. Sebenarnya bermain ponsel hanya sebagai dalih, ponsel pun hanya diutak-atik tidak jelas. Linda hanya ingin terus mengawasi Angga saat sedang sarapan karena merasa khawatir dengan sang adik.


"Kak, Pak Dani sudah balik lagi belum habis mengantar mama pergi ke kantor?" tanya Angga


"Tidak tahu, Kakak belum lihat Pak Dani lagi. Memangnya kenapa?" tanya balik Linda usai menjawab.


"Aku mau minta diantar berangkat ke kampus. Lagi malas setir mobil sendiri," jawab Angga


"Memangnya kamu kapan berangkat kuliahnya? Apa mau Kakak saja yang mengantar kamu?" tanya Linda


"Tidak lama setelah sarapan, aku mau langsung berangkat ke kampus. Katanya, Kakak mau istirahat di rumah ... kenapa malah jadi mau antar aku berangkat kuliah?" tanya balik Angga usai menjawab.


"Kan, cuma mau antar kamu kuliah. Setelah itu langsung pulang dan istirahat di rumah. Sebentar saja kok," jawab Linda


"Kalau Kakak memang tidak keberatan, ya ... terserah," ujar Angga


"Kamu tinggal bilang saja kalau mau berangkat. Nanti biar Kakak panasin mobil dulu," kata Linda


Angga hanya mengangguk dan melanjutkan aktivitas makannya dengan ditemani oleh sang kakak yang sedang minum susu yang sedari tadi tidak kunjung habis.


Setelah Angga mengatakan ingin pergi kuliah, Linda pun mulai bersiap memanaskan mobil sebelum mengantar sang adik. Usai cukup memanaskan mobil, Linda pun mengantarkan sang adik untuk berangkah kuliah.


Setelah sampai, Angga pun beranjak turun dari dalam mobil.


"Kak Linda, hati-hati jalan pulangnya," ucap Angga


"Ya, tenang saja. Kamu juga kalau ada apa-apa langsung kabari orang rumah atau bisa langsung telepon Kakak," pesan Linda


"Siap, Kak!" seru Angga


Linda pun kembali melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah.


..."Aku tahu kak Linda merasa khawatir sama aku, tapi jangan terlalu khawatir, kak. Karena aku baik-baik saja," batin Angga...


Setelah memastikan mobil sang kakak telah melaju pergi, Angga pun berjalan masuk ke area kampus.


.


Bersambung.