
Keesokan harinya.
Seorang gadis cantik hari ini sedang terlepas dari profesinya sebagai perawat karena sedang jadwal libur bekerja. Ia sedang bersiap karena hari ini ada janji temu dengan seseorang.
Karena waktu janji sudah semakin dekat, setelah bersiap gadis perawat itu pun bergegas untuk pergi. Tak lupa ia juga berpamitan dengan orang di rumahnya.
"Ibu, aku izin dan pamit dulu mau pergi," katanya yang tak lain adalah Damia.
"Memangnya kamu mau ke mana, Damia? Bukannya kamu hari ini libur kerja?" tanya sang ibu, Bu Rita.
"Aku ada janji mau bertemu teman, Bu," jawab Damia
"Bertemu siapa? Bukannya Raffa hari ini tidak ada jadwal libur? Kamu bukan mau bertemu sama Raffa?" tanya Ibu Rita.
"Iya, Bu. Aku bukan mau ketemu sama Raffa," jawab Damia tanpa mengungkap dengan siapa dirinya memiliki janji temu.
"Ya sudah, hati-hati di jalan. Pulangnya jangan terlalu malam," pesan Ibu Rita yang tidak ingin bertanya lebih banyak.
"Iya, Bu ... " kata Damia
Saat itu juga, ponsel milik Damia berdering pertanda tekepon masuk. Suster cantik itu pun berjalan menjauh untuk menjawab telepon masuk.
Nama Angga tertera pada layar depan ponsel milik Damia saat telepon masuk. Tandanya memang lelaki itulah yang menghubungi sang pacar lewat jalur telepon.
"Halo."
"Halo, Damia. Kita jadi bertemu sebentar lagi, kan?"
"Jadi kok. Ini aku sudah selesai bersiap dan langsung ke luar rumah."
"Aku jemput ke rumah kamu, ya?"
"Tidak usah. Kita bertemu di tempat yang sudah kamu tentukan saja."
"Tapi, aku sudah lagi di jalan menuju ke rumah kamu."
"Kalau begitu, kenapa tadi kamu malah bertanya? Kalau kamu sudah sedang menuju ke sini, ya ... aku tidak bisa melarang kamu. Kamu berhenti saja di dekat gerbang kompleks, kita bertemu di sana saja."
"Sebentar lagi aku sampai."
"Ya sudah, hati-hati di jalan, apa lagi kalau kamu menyetir atau bawa kendaraan sendiri. Langsung aku tutup teleponnya, ya."
Tut!
Sambungan telepon terputus.
Saat Damia terus berjalan ke luar dari rumahnya hingga sampai di tepi jalan. Ada sebuah mobil yang melaju mendekat dan berhenti tepat di hadapannya.
Damia mengetahui pemilik mobil itu. Suster cantik itu pun mengetuk kaca mobil, berharap sang pemilik menurunkan kaca mobil agar ia bisa bicara sambil tatap mata. Namun, sang pemilik mobil malah ke luar menghampirinya.
Seorang lelaki ke luar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri Damia sambil melemparkan senyuman.
"Halo, Damia ... " sapanya sambil mendekatkan ibu jari di telinga dan jari kelingking di mulut seolah berpura-pura sedang bicara dalam telepon.
Damia ikut tersenyum membalas sambil melambaikan sebelah tangannya.
"Angga, kamu kok repot-repot masuk ke dalam? Kenapa tidak menunggu aku di luar gerbang kompleks saja?" tanya Damia
"Sebenarnya tadi aku sudah sangat dekat. Saat sampai di gerbang kompleks, penjaga yang pernah melihat aku sebelumnya menawarkan aku untuk masuk ke sini. Jadi, aku langsung masuk saja saat gerbangnya dibuka," jelas Angga
"Begitu, rupanya ... " kata Damia
"Aku ingin mengajak kamu pergi dan pamitan sama orangtua kamu sebelum pergi. Tapi, orangtua kamu masih sedang bekerja dan tidak ada di rumah, ya?" tanya Angga
Damia memilih untuk hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Angga.
"Ya sudah, apa boleh buat. Kalau begitu, ayo kita langsung pergi saja," ujar Angga
"Baiklah. Ayo," sahut Damia
Kali ini Angga pun membukakan pintu mobil di samping pengemudi untuk Damia. Keinginannya telah terwujud.
"Silakan masuk,"kata Angga
"Terima kasih," ucap Damia sambil tersenyum manis.
"Sama-sama," balas Angga
Angga pun sedikit berjalan berputar untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Kita berangkat sekarang, ya," kata Angga
"Jangan ngebut setir mobilnya," pesan Damia
"Aku mengerti," sahut Angga
Angga pun mulai melajukan mobilnya berputar arah untuk ke luar dari kompleks perumahan tersebut.
Saat itu secara diam-diam Ibu Rita mengintip dari balik jendela rumah dan memerhatikan saat Damia pergi.
"Damia pergi setelah dijemput dengan mobil oleh seorang lelaki. Dia bukan Raffa, siapa lelaki itu?" batin Ibu Rita
Ibu Rita hanya sekedar ingin melihat saat sang putri pergi tanpa berpikir negatif atau apa pun. Ibu Damia itu hanya berpikir bahwa lelaki yang pergi bersama sang putri adalah teman lelaki biasa.
Setelah ke luar dari kompleks perumahan, mobil yang dinaiki Damia dan Angga terus membelah jalan ibukota. Awalnya, keduanya tampak merasa canggung hingga akhirnya salah satu dari keduanya mulai membuka pembicaraan.
"Damia, sebelum pergi ... apa kamu sudah cukup istirahat di rumah? Kamu tidak memaksa untuk pergi sama aku padahal kamu sedang merasa lelah, kan?" tanya Angga
"Aku istirahat dengan sangat baik kok. Kamu tenang saja," jawab Damia
"Apa kamu sudah beri tahu orangtua kamu kalau kamu akan pergi hari ini?" tanya Angga
"Aku hanya beri tahu ibu dan ibu berpesan untuk hati-hati dan jangan pulang terlalu malam," ungkap Damia
"Kenapa kamu tidak beri tahu ayah kamu juga? Apa ayah kamu tipe orang yang galak dan suka melarang anaknya pergi? Atau ayah kamu malah melarang kamu pacaran?" tanya Angga
"Tidak kok. Aku hanya tidak ingin mengganggu ayah yang sedang bekerja. Belakangan ini ayah selalu sangat sibuk. Cukup hanya beri tahu ibu. Di rumah nanti saat bertemu ayah, ibu juga akan bilang kalau aku sedang pergi. Atau ayah yang akan bertanya dan ibu yang akan menjawab," jelas Damia
"Begitu, ya. Kalau kamu memang merasa lelah atau bosan, kamu boleh tidur dulu selama perjalanan," ujar Angga
Damia pun hanya mengangguk dan keduanya kembali terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
..."Ayah bukan galak atau melarang aku pacaran, masalahnya aku saja belum beri tahu ayah dan ibu kalau aku sudah putus dari Raffa dan punya pacar baru, yaitu kamu, Angga. Semua ini terlalu cepat terjadi dan aku akan memberi tahukannya secara perlahan nanti," batin Damia...
Damia dan Angga memang janji untuk bertemu dan pergi bersama saat sore hari. Dan sudah ada pesan agar Damia tidak pulang terlalu malam dari sang ibu.
Angga pun sudah berpikir jauh hingga saat nanti mengantar pulang sang pacar dengan selamat sampai ke rumah. Padahal rencana kencannya saja, lelaki itu baru hanya menentukan tempat dan belum memikirkan apa pun lagi karena sudah terlanjur merasa sangat senang karena akan bertemu dan pergi bersama sang pujaan hati.
Sesekali Damia memejamkan mata. Namun, suster cantik itu masih bisa diajak bicara dan mengobrol dengan Angga. Damia tidak benar-benar tertidur dan masih sadar untuk berbincang bersama Angga untuk menghilangkan rasa bosan selama berada di perjalanan di dalam mobil.
Damia tidak mungkin tidur karena tempat tujuan kali ini tidak jauh. Terbukti dengan sebentar lagi keduanya sudah hampir sampai di lokasi tujuan.
Saat sampai, Angga langsung menjalankan mobil miliknya menuju ke tempat parkir untuk memarkir mobil miliknya. Setelah itu lelaki itu dan Damia pun memulai kencan berdua.
"Damia, maaf, ya ... padahal bisa dibilang ini adalah kencan pertama kita setelah pacaran, tapi aku tidak bisa memilih tempat dan malah mengajak kamu ke Monumen Nasional seperti sekarang ini," ujar Angga
"Memangnya kapan terakhir kali kamu datang ke Monas?" tanya Angga
"Yang aku ingat adalah saat itu aku pergi ke Monas saat perjalanan wisata sekolah dasar, tapi aku sudah tidak ingat lagi dengan apa saja yang aku lakukan saat itu. Mungkin hari ini aku bisa kembali mengingatnya secara perlahan karena kamu mengajak aku untuk pergi ke sini," jelas Damia
"Terlepas dari fakta kalau aku sedang hilang ingatan, aku bahkan sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali pernah datang ke Monas dan apa saja yang aku lakukan saat itu. Aku benar-benar hanya ingat pernah datang ke sini. Sudah, itu saja ... " ucap Angga
..."Karena itulah hari ini aku datang ke sini sama kamu. Aku harap momen ini tidak akan pernah terlupakan baik bagi aku atau kamu dan hubungan kita bisa punya sejarah seperti tempat ini," batin Angga...
..."Angga menganggap kalau saat ini adalah kencan. Aku bahkan tidak berpikir sampai sana. Aku memang sadar kalau kita sudah pacaran, tapi karena sudah lama berteman aku hanya menganggap ini hanya jalan-jalan biasa. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau aku merasa sangat senang bisa bertemu dan jalan-jalan berdua sama Angga seperti saat ini," batin Damia...
Tidak langsung masuk ke dalam tugu Monumen Nasional, Damia dan Angga lebih dulu berfoto-foto serta melihat-lihat relief yang terukir di setiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen tersebut. Itu semua adalah relief yang menggambarkan sejarah Indonesia dan mengabadikan kejayaan Nusantara pada zaman dahulu, yaitu menampilkan sejarah Singasari dan Majapahit.
"Karena sudah sore, di sini tidak panas lagi dan terasa sejuk karena dikelilingi oleh taman. Aku kira Jakarta akan selalu terasa panas," ucap Damia
"Kita masuk ke dalam Monas, yuk!" ajak Angga
"Ya, ayo ... " sahut Damia
Dengan membeli tiket karcis, Damia dan Angga pun sudah bisa masuk ke dalam tugu Monumen Nasional.
Mulai dari yang paling dasar, keduanya melihat-lihat ke dalam Museum Sejarah Nasional. Di sana ada banyak sekali sejarah Indonesia yang ditampikan. Mulai dari masa pra-sejarah, masa kerajaan kuno yang salah satunya adalah kerajaan Sriwijaya, masa penjajahan Bangsa Eropa, juga perlawanan oara pahlawan nasional melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dari pemerintah Hindia Belanda.
Setelah itu, Damia dan Angga beralih menuju ke Ruang Kemerdekaan yang berbentuk amphitheater. Di sana menyimpan simbol kenegaraan dan Kemerdekaan Republik Indonesia, seperti naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang disimpan di dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, Lambang Negara Indonesia, Peta Kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlapis emas dan Bendera Merah Putih.
Lalu, Damia dan Angga bersnjak hingga sampailah keduanya di pelataran puncak tugu Monas. Berada di puncak bagian paling atas tugu Monas yang terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman tugu monumen tersebut.
Setelah sebelumnya menaiki lift dan mengantre, Damia dan Angga bisa melihat dan menikmati panorama dan pemandangan serta gedung-gedung pencakar langit di seluruh penjuru kota Jakarta melalui teropong yang tersedia di sana.
"Melihat pemandangan dari atas sini melalui teropong tampak indah dan terasa menyenangkan. Bisa melihat sampai ke kota Bogor juga," ucap Damia usai menggunakan teropong.
"Di sana itu gunung apa, ya?" tanya Angga yang masih menggunakan teropong.
"Di sana adalah wilayah Bogor dan itu adalah gunung Salak. Sayangnya itu tidak terlalu terlihat dengan jelas karena berkabut," jawab Damia
Damia dan Angga banyak mengambil foto di luar dan di dalam tugu Monas.
"Lain kali kita pergi ke Kota Tua berdua juga, ya, Angga. Sepertinya akan seru dan menyenangkan," ucap Damia
"Ayo saja. Asalkan bersama kamu, aku pasti mau. Aku akan merasa sangat senang," kata Angga
"Tapi, kapan kita bisa pergi bersama lagi? Kita berdua pasti akan sangat sibuk dengan kegiatan masing-masing," ujar Damia
"Meski tidak bisa secepatnya atau dalam waktu dekat, suatu saat kita pasti bisa punya kesempatan untuk pergi bersama lagi," sahut Angga
Damia dan Angga sama-sama saling tersenyum. Keduanya merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama.
Terutama Angga. Lelaki itu merasa sangat senang begitu mendengar Damia menginginkan untuk bisa pergi bersama dengannya lagi ke lain tempat di kesempatan lain. Itu artinya suster cantik itu merasa senang dan menikmati waktu kebersamaan mereka berdua serta ingin mengulang momen kebersamaan seperti saat ini.
Keduanya bahkan tampak seperti tidak merasa lelah sama sekali meski hanya berjalan kaki padahal di sana tersedia kereta wisata yang bisa ditumpangi jika tidak ingin membuang energi untuk berjalan kaki di wilayah sekitar Monas.
Selain tidak merasa lelah karena sangat menikmati waktu bersama, Damia dan Angga enggan mengantre hanya untuk bisa menaiki kereta wisata tersebut. Padahal untuk menaiki kereta wisata tersebut tidak dipungut biaya selain hanya harus memperlihatkan tiket karcis yang dibeli saat di loket bagian dasar Monumen Nasional.
"Damia, ayo kita istirahat dulu. Apa kamu sudah merasa lapar dan ingin makan sesuatu?" tanya Angga
"Aku belum merasa lapar, tapi ingin beli kerak telor karena belum pernah mencoba rasanya," jawab Damia
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita beli kerak telor," ujar Angga
Damia dan Angga pun beralih untuk menikmati wisata kuliner di pedagang makanan kaki lima setempat.
"Kamu mau yang pedas atau tidak?" tanya Angga
"Pedas sedikit saja," jawab Damia
"Oke. Pak, kerak telornya 2. Pedas sedikit saja," pesan Angga
Setelah pesanan 2 kerak telor selesai dibuat, Angga pun membayar pada penjual teesebut. Lalu, ia dan Damia pun mencari tempat untuk makan dengan santai bersama.
Damia dan Angga istirahat dan makan bersama di taman hutan kota yang indah.
"Bagaimana rasa kerak telornya?" tanya Angga
"Lumayan, enak. Rasa khas rakyat nusantara," jawab Damia
"Kamu benar. Aku juga baru pertama kali ini coba makan kerak telor," kata Angga
Setelah makan, Damia mengajak Angga untuk menghampiri kawanan rusa yang ada di taman tersebut. Dari yang telah diketahui, kawanan rusa di sana sengaja didatangkan dari Istana Bogor.
Banyak pengunjung lain yang bermain dengan kawanan rusa tersebut. Begitu juga Damia dan Angga. Tak lupa keduanya juga berfoto dengan kawanan rusa si sana.
"Angga, apa kamu bisa bermain bola basket?" tanya Damia seusai bermain dengan kawanan rusa.
"Seharusnya bisa. Kenapa? Apa kamu mau aku ajarkan cara mainnya?" tanya balik Angga usai menjawab.
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya," jawab Damia
"Kamu terus melihat ke arah lapangan basket. Ayo, kita main di sana juga," kata Angga
Angga pun langsung menarik tangan Damia untuk beralih menuju lapangan basket yang ada di sana.
Sampai di sana Angga lamgsung mengambil bola basket yang tergeletak begitu saja. Lelaki itu pun mulai aksinya dengan bermain bola basket.
"Hati-hati, jangan sampai bola basketnya mengenai kepala kamu sendiri," pesan Damia
Setelah bola basket berhasil masuk ke dalam ring, Angga kembali meraih bola tersebut setelah terjatuh dari lubang ring.
"Ayo, kamu coba main juga!" seru Angga
"Tidak perlu. Aku payah dalam berolahraga," tolak Damia
"Coba saja dulu. Aku akan mengajari kamu," kata Angga
Angga yang memegang bola basket langsung mendekat ke arah Damia untuk mengajari cara dasar bermain bola basket pada suster cantik itu.
"Sekarang coba lakukan dribble dulu," ujar Angga
"Bagi pemain baru, sering kali melakukan dribble dengan telapak tangan. Sebenarnya itu salah. Yang benar adalah menggunakan ujung jari tangan," sambung Angga
Damia pun mencoba mempraktekkan yang diajarkan oleh Angga hingga dirasa cukup mampu.
"Lalu, coba juga lakukan shooting ... " kata Angga
"Targetnya adalah ring basket. Kamu harus fokus dan luruskan pandangan ke arah target. Seimbangkan tubuh ke arah ring. Berdiri tegak dan posisi siap melangkah. Lebarkan kedua kaki seukuran bahu dan kedua lutut agar rendah. Saat memegang bola, jati-jari harus terbuka. Lenturkan jari-jari dan lontarkan tangan ke atas, lalu tembak ... " sambung Angga
Angga berjaga di belakang tubuh Damia sambil mengajari suster cantik itu melakukan penembakan bola basket ke arah keranjang.
Damia tersenyum senang saat berhasil memasukkan bola basket ke dalam keranjang.
.
Bersambung.