Bougenville of Love

Bougenville of Love
69 - Shift Kerja.



"Bapak, mari ikut kami juga. Ayo, kita berjemur bersama," ujar Damia pada wali pasien.


Damia mendorong ranjang pembaringan pasien bersama Alina dan diikuti oleh wali pasien ke luar menuju tanah lapang di samping rumah sakit.


Tanah lapang di samping rumah sakit memang terkadang digunakan para perawat untuk menjemur para pasien untuk mendapatkan sinar matahari pagi yang baik bagi kesehatan tubuh. Sama seperti saat ini, ada dua pasien lainnya yang ditemani beberapa perawat sedang berjemur di sana.


"Nah, kita berhenti dan berjemur di sini saja," kata Alina


"Kita ke tengah sedikit lagi, ya. Kalau berhentinya di tempat yang teduh berarti bukan berjemur namanya," ujar Damia


Akhirnya ranjang pembaringan berhenti didorong tepat di tempat yang terkena sinar matahari. Lalu, terlihat salah satu pasien lain yang berjemur di sana sudah beranjak pergi untuk kembali ke ruang rawatnya.


"Suster, kok pasien yang itu sudah pergi lagi? Kenapa berjemur mataharinya hanya sebentar?" tanya wali pasien


"Oh, itu ... mungkin, bisa jadi pasien yang tadi sudah lebih dulu berjemur matahari sejak sebelum makan sarapan. Terkadang seperti itu, Pak. Staf yang membagikan makanan ke setiap kamar rawat telat datang. Ada kalanya saat sedang kekurangan staf hingga tugas membagikan makanan jadi tidak tepat waktu. Saat waktu kosong itu, terkadang para perawat memanfaatkannya untuk hal lain seperti ini. Yaitu, membawa pasien untuk berjemur matahari," jelas Damia


"Itu artinya pasien berjemur saat belum sempat sarapan? Kasihan dong, perutnya masih kosong dan lapar ... " ujar Pasien Dina


"Itu hanya kelakuan perawat yang kurang memerhatikan pasien, tapi kami berdua tidak seperti itu. Tenang saja," kata Alina


"Kami memang ingin yang terbaik untuk setiap pasien, termasuk menyarankan berjemur matahari pagi, tapi kami tidak mau memaksa. Jika, pasien menolak maka kami akan membujuk, tapi tidak sampai memaksanya. Dan kalau pasien memang belum sempat sarapan, berjemur mataharinya bisa dilakukan di hari berikutnya," ucap Damia


"Kalau Bapak, bagaimana? Apa sudah makan sarapan atau belum? Kalau memang belum, silakan mencari sarapan dulu. Biar Mba Dina, kami yang temani di sini. Nanti Bapak bisa kembali lagi ke sini atau saat kembali ke sini kami sudah tidak ada berarti Mba Dina sudah kembali ke ruang rawat dan Bapak juga bisa langsung kembali ke ruang rawat Mba Dina," sambung Damia beralih bicara pada wali pasien.


"Saya memang belum sarapan pagi. Kalau begitu, saya titip Dina dulu, ya, Sus ... " ujar wali pasien


"Pas ke luar dari kamar rawat tadi, Bapak bawa HP punya aku, kan?" tanya Pasien Dina


"Iya, nih ... HP punya kamu," jawab wali pasien sambil memberikan sebuah ponsel pada Pasien Dina


"Terima kasih, Pak. Hati-hati dan jangan lama-lama perginya," ucap Pasien Dina


"Ya. Bapak pergi dulu sebentar," kata wali pasien


Wali pasien tersebut pun beranjak pergi untuk mencari makanan sarapan pagi.


"Sekarang Mba Dina duduk dulu, ya. Supaya bagian tubuh yang terkena sinar matahari pagi jadi lebih menyeluruh. Akan saya bantu," ucap Damia


"Ayo, saya bantu juga ... " kata Alina


Damia dan Alina pun saling membantu untuk membangunkan Pasien Dina dari kedua sisi supaya beralih ke posisi duduk dari posisi rebahnya.


"Terima kasih, Sus," ucap Pasien Dina saat posisinya telah berubah menjadi duduk.


"Untuk saat ini panasnya tidak menyengat seperti tengah hari kok. Jadi tahan sebentar, meski sedikit panas, ya, Mba Dina ... " ujar Damia


"Berada di luar seperti ini enak, deh ... jadi bisa santai sebentar dari tugas pagi," gumam Alina


"Jangan hanya bicara soal enaknya saja, tapi juga harus tahu baiknya. Ikut berjemur seperti ini, kita jadi bisa merasakan kebaikannya. Baik bagi pasien dan juga perawatnya. Lagi pula, santainya hanya sementara. Aku yakin saat kembali nanti, kita berdua akan disodorkan oleh lebih banyak tugas lainnya lagi. Jangan terlalu mudah merasa senang," ucap Damia


"Damia, kamu terlalu terang-terangan menjejali aku dengan kenyataan tak menyenangkan. Tega sekali," kata Alina


"Jangan jadi melow drama. Kamu harusnya malu karena sedang bersama Mba Dina," ujar Damia


"Tidak apa-apa. Toh, aku memang lebih muda dari kalian berdua, jadi maklumi saja tingkah kenak-kanakan diriku ini," sahut Alina


"Terserah kamu saja," kata Damia


Mendengar lontaran canda antar dua suster yang menemaninya membuat Pasien Dina terkekeh kecil.


"Suster Damia dan Suster Alina, masuk kerja shift pagi, ya? Katanya, semalam bapak tidak melihat ada Suster Damia dan Sister Alina di pos jaga. Biasanya Suster Damia dan Suster Alina pulang jam berapa?" tanya Pasien Dina


"Kalau shift pagi, biasanya kami pulang kerja setelah jam makan siang. Sekitar jam 2 siang," jawab Damia


"Itu pun kalau bisa pulang kerja tepat waktu. Kalau lagi sibuk, terkadang bisa-bisa pulang sore. Sampai jam 4 atau jam 5 sore," keluh Alina


"Memangnya ada berapa kali shift kerja?" tanya Pasien Dina


"Itu yang umum dan yang seharusnya terjadi, tapi kalau lagi sibuk ... shift siang bisa pulang jam 10 atau jam 11 malam, lalu shift malam bisa pulang jam 9 atau jam 10 pagi," ungkap Alina


"Berarti kalau sibuk, jam kerjanya jadi lebih panjang, ya. Padahal kata bapak suster yang bekerja sangat banyak, tapi masih juga sibuk sampai pulang telat," ujar Pasien Dina


"Itu mungkin adalah waktu peralihan shift kerja dan yang bapak-nya Mba Dina lihat adalah 2 golongan perawat dari shift yang berbeda saat sedang berkumpul untuk menyerahkan tugas. Meski kami ada banyak, kalau pasien pun ada banyak, tetap saja kami jadi sibuk, tapi kami sudah cukup terbiasa," ucap Damia


"Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin jadi terbiasa karena hal seperti ini. Lebih tepatnya, bukan terbiasa tapi terpaksa," kata Alina


"Jangan terlalu banyak mengeluh, Al. Tidak baik juga jadinya. Cukup jalani saja," sahut Damia memberi saran.


"Ya ... semua orang yang bekerja memang selalu ingin pulang cepat supaya bisa istirahat. Saya juga mengerti soal itu," ujar Pasien Dina


"Ya, itu memang tidak bisa dipungkiri ... " kata Damia


"Tepat sekali, tapi meski bisa pulang cepat pun terkadang saat di rumah, ada saja pekerjaan lain yang menunggu untuk dikerjakan," sahut Alina


Sambil terus berjemur di bawah sinar matahari pagi, ketiga perempuan itu saling berbincang ringan. Pasien lain yang juga berjemur di sana sudah tidak terlihat lagi, alias sudah kembali ke ruang rawatnya.


"Kita berjemur sebentar lagi, ya, Mba Dina. Lalu, maaf ... kami putar arah ranjangnya dulu. Bagian depan badan Mba Dina sudah cukup terkena sinar mataharinya, sekarang tinggal bagian belakangnya saja," ujar Damia


Damia dan Alina pun memutar arah ranjang pembaringan tersebut agar kali ini sinar matahari bisa tepat mengenai bagian belakang tubuh Pasien Dina.


Pasien Dina pun meraih ponsel miliknya yang tergeletak begitu saja di atas ranjang pembaringan.


"Selagi saya sedang pegang HP, apa Suster Damia dan Suster Alina mau lihat foto bayi saya yang baru lahir?" tanya Pasien Dina menawarkan.


"Ada fotonya dan kami berdua boleh lihat?" tanya balik Damia


"Tentu saja, boleh. Lagi pula, saya memang ingin memperlihatkannya," jawab Pasien Dina


Pasien Dina pun mengutak-atik ponsel miliknya seolah mencari sesuatu setelah membuka kuncinya. Lalu, Pasien Dina memperlihatkan sesuatu dari ponsel miliknya tersebut.


"Ini foto bayi saya, perempuan ... " ungkap Pasien Dina


"Wah ... mungil dan cantik. Rupanya, ini bidadari kecilnya Mba Dina," kata Damia memuji.


"Aku juga mau lihat!" seru Alina


"Mengemaskan sekali. Kalau bayinya juga ada di sini rasanya ingin aku cubit pipinya," sambung Alina saat melihat foto bayi dari ponsel milik Pasien Dina setelah Damia.


"Kalau dicubit sama kamu, bayinya pasti menangis," sahut Damia


"Kalau begitu, apa kami berdua juga boleh lihat foto pernikahan Mba Dina dan suami? Fotonya ada, kan?" tanya Alina


"Boleh, ada kok. Tunggu sebentar. Saya cari dulu fotonya," jawab Pasien Dina


Pasien Dina meraih kembali ponsel miliknya untuk mencarikan foto lain yang tersimpan di dalamnya. Lalu, Pasien Dina kembali memperlihatkan ponsel miliknya yang menunjukkan foto pernikahan dirinya dan suami pada Damia dan Alina.


"Mba Dina, cantik sekali!" seru Alina


"Benar. Dan sepertinya suami Mba Dina orangnya baik, terlihat dari wajahnya. Kalian berdua memang cocok," puji Damia


"Kalau Suster Damia dan Suster Alina, kapan mau menikah? Sepertinya sudah ada rencana?" tanya Pasien Dina


"Kalau saya, masih berencana mau tunangan dulu," jawab Alina


"Saya baru pacaran bahkan belum genap satu bulan. Sepertinya rencana untuk menikah masih terlalu jauh untuk dibahas dalam waktu dekat," ujar Damia


"Belum tentu juga. Siapa tahu, ternyata rencana baik itu dipercepat. Tidak ada yang tahu takdir," kata Pasien Dina


"Benar, tuh ... " sahut Alina


.


Bersambung.