Bougenville of Love

Bougenville of Love
55 - Pacar.



Saat Damia terbangun dari istirahatnya, suster cantik itu langsung memeriksa ponsel miliknya. Saat melihat ada pesan masuk dari sang kekasih, ia langsung membuka dan membacanya sambil tersenyum. Namun, Damia hanya sekadar membaca pesan dari sang kekasih tanpa membalasnya. Suster itu pun langsung beralih melakukan aktivitas lain.


 


Angga beralih ke luar dari kamarnya untuk makan bersama anggota keluarga lainnya.


"Bi Ina, setelah makan nanti tolong ingatkan aku untuk minum air kelapa muda yang ada di kulkas, ya ... " ucap Angga


"Yang dari pacar Den Angga tadi itu, ya? Tapi, kata neng Mia ... air kelapa mudanya belum boleh diminum kalau masih dingin. Jadi, harus tunggu sampai sudah tidak dingin lagi baru boleh diminum. Nanti Bi Ina ke luarkan dulu dari kulkas," ujar Bi Ina


"Pacar Angga, maksudnya Damia? Angga, kamu pacaran sama Damia? Sejak kapan?" tanya Papa Nassar


"Iya, Pa. Belum lama. Aku baru satu minggu yang lalu mulai pacaran sama Damia," jawab Angga


"Omong-omong, Bi Ina ... tahu dari mana kalau aku pacaran sama Damia?" Angga melanjutkan beralih bertanya pada Bi Ina.


"Dari Non Linda. Katanya, siang tadi itu, bakal ada pacar Den Angga yang datang. Namanya Mia, rupanya namanya Damia, toh ... tidak beda jauh, sih. Mia, Damia. Lalu, neng Mia tadi siang juga tidak membantah pas saya tanya," jelas Bi Ina


Angga pun melirik tajam ke arah sang kakak dan Linda pun hanya terkekeh pelan sambil menjulurkan lidah untuk meledek saat sang adik melirik tanda protes ke arahnya.


"Satu minggu yang lalu itu pas sekali bertepatan sama berhentinya Damia merawat kamu di rumah ini, kan? Tidak masalah kalau kamu mau pacaran, apa lagi sama perempuan baik seperti Damia, tapi kamu juga jangan lupakan kewajiban kamu untuk terus kuliah. Kamu harus ingat kalau sebentar lagi kamu sudah harus susun skripsi. Jadi, jangan hanya bisa nge-bucin sama pacar " ujar Mama Yuli


"Neng Mia memang gadis yang baik. Den Angga, tidak salah pilih. Tadi saja karena merasa khawatir sama Den Angga yang sedang sakit, neng Mia banyak berpesan sama Bi Ina untuk merawat Den Angga," ucap Bi Ina


"Tadi Damia sempat bilang apa saja sama Bi Ina?" tanya Angga dengan raut wajah penuh senyum semangat ketika sedang membahas tentang sang kekasih.


"Pokoknya banyak, deh ... dari minta tolong ingatkan Den Angga untuk banyak makan dan minum, cek suhu, minum obat, makan buah, dan kalau Den Angga merasa kedinginan harus segera diselimuti. Kelihatan sekali kalau neng Mia itu peduli dan perhatian sama Den Angga. Neng Mia juga kelihatan kalau merasa khawatir karena Den Angga lagi sakit," ungkap Bi Ina


"Kalau lagi bahas pacar, wajahnya langsung berseri-seri seperti itu. Dasar, bucin ... " sindir Linda


"Apaan, sih, Kak? Kalau iri bilamg sama pacar sendiri sana. Kasihan, deh ... malah pacaran jarak jauh. Jakarta dan Yogyakarta ... makanya, iri sama aku sama Damia," sindir balik Angga


"Buat apa iri kalau kamu sama Damia saja tidak bisa ketemu setiap hari. Sama saja sama seperti pacaran jarak jauh, tuh ... " kata Linda


"Jelas beda dong! Buktinya saja tadi aku bisa ketemu sama Damia!" seru Angga


"Kamu bisa ketemu sama pacar kamu juga karena Kakak yang kasih tahu Damia kalau kamu lagi sakit. Kalau tidak, sudah lagi sakit, kamu pasti juga merasa merana. Sudah dikasih untung bukannya bilang terima kasih," ujar Linda


"Habisnya Kak Linda yang sindir aku duluan," kata Angga


Linda memang sudah lebih dulu memiliki kekasih bahkan sudah sampai merencanakan pertunangan. Linda bertemu sang kekasih saat perjalanan bisnis dan kini sang kekasih sedang berada di kampung halamannya di kota Yogyakarta.


"Sudah, jangan bertengkar saat sedang makan. Kalian ini sudah pada dewasa tingkahnya masih saja sama seperti anak kecil," tegur Papa Nassar


"Omong-omong, kapan Damia datang tadi? Kok Mama Papa tidak tahu?" tanya Mama Yuli


"Tadi Damia cuma mampir sebentar, Ma. Dia juga titip salam untuk Mama Papa dan minta maaf tidak bisa menemui Mama dan Papa karena takut mengganggu," jawab Linda


"Lalu, bagaimana kabar Andy, Linda? Kapan dia akan kembali ke Jakarta?" tanya Papa Nassar


"Andy baik-baik saja, Pa. Katanya, dia akan kembali ke Jakarta bulan depan," jawab Linda


Kekasih Linda adalah lelaki bernama Andy yang bekerja di bidang teknologi.


 


Saat malam hari tiba, Damia membantu sang ibu untuk menyiapkan makan malam dan usai makan bersama, suster cantik itu mulai bersiap untuk pergi bekerja ke rumah sakit.


Saat hendak ke luar dari kamar setelah bersiap, terdengar suara yang berasal dari ponselnya tanda pesan masuk. Damia pun lebih dulu membuka dan membaca pesan masuk tersebut. Saat membaca pesan yang rupanya dikirim oleh sang kekasih, suster cantik itu langsung tersenyum.


From: Angga.


Damia, hari ini aku sudah makan buah jeruk dan apelnya, meski begitu aku tidak bisa langsung menghabiskan semua buah yang kamu berikan sekaligus. Sedangkan air kelapa mudanya sudah aku habiskan.


Apa kamu sudah mau pergi bekerja? Hati-hati di jalan dan semangat kerjanya. Tidak perlu merasa khawatir soal aku. Aku baik-baik saja dan ini berkat kamu, cantik 🥰


Damia selalu merasa senang meski hanya sekadar membaca pesan dari Angga karena kekasihnya itu selaku bisa membuatnya tersenyum meski hanya dengan penyampaian pengetikan kata-kata yang selalu terdengar manis dan mendamaikan hatinya.


Usai membaca pesan tersebut, Damia pun megetik dan mengirim pesan balasan untuk sang kekasih.


^^^To: Angga.^^^


^^^Aku baru saja selesai bersiap sebelum pergi bekerja. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Namun, kamu masih tetap harus makan, minum, dan istirahat dengan baik agar bisa pulih sepenuhnya dengan cepat. Ini sudah malam, jadi jangan begadang. Aku akan pergi bekerja, jadi terima kasih atas ucapan semangatnya.^^^


Setelah pesan berhasil terkirim, Damia pun tidak lagi menunda waktu untuk segera pergi bekerja. Suster cantik itu pun beranjak ke luar dari dalam kamarnya setelah menyimpan ponsel miliknya untuk dibawa pergi bekerja.


"Damia, kamu sudah mau berangkat kerja?" tanya Ibu Rita


"Iya, Bu. Ini aku mau pamit," jawab Damia


"Kalau begitu, biar Ayah antar kamu sampai ke rumah sakit dan kamu tidak boleh menolak lagi karena Ayah juga sudah siap," ujar Ayah Dodi


"Wah ... terima kasih, Ayah. Kebetulan aku sedang merasa agak malas. Justru aku merasa sangat senang kalau Ayah mau mengantar aku pergi kerja. Nanti di atas motor aku mau peluk dan bersandar di punggung Ayah sama seperti saat Ayah sering mengantar aku untuk pergi sekolah dulu," ucap Damia


"Ya sudah, ayo ... kita langsung berangkat saja," kata Ayah Dodi


"Oke!" seru Damia


"Hati-hati di jalan, ya, Ayah. Damia, juga yang semangat kerjanya," pesan Ibu Rita


Ayah dan anak itu sama-sama mengangguk sambil tersenyum dan mengacungkan jempol. Lalu, keduanya pun beralih ke luar dari rumah.


Ibu Rita pun tidak hanya diam diri di dalam rumah. Wanita itu ikut ke luar untuk melihat perginya suami dan anaknya. Begitu, dua insan manusia yang menaiki motor pergi dan tidak terlihat olehnya lagi, Ibu Rita pun kembali masuk ke dalam rumah.


Benar saja, selama di perjalanan, Damia terus bersandar pada punggung sambil memeluk pinggang sang ayah. Tak hanya diam, ayah dan anak itu sesekali mengobrol untuk memecah keheningan di atas motor yang membelah jalan.


Begitu sampai di rumah sakit, Damia langsung menegakkan tubuhnya dan beranjak turun dari atas motor.


"Terima kasih, ya, Ayah ... " ucap Damia


"Sama-sama," balas Ayah Dodi


"Jangan malas dan semangat kerjanya," sambung Ayah Dodi berpesan.


"Kalau begitu, aku masuk ... kerja dulu," sambung Damia


"Damia ... " Awalnya Ayah Dodi ingin membiarkan Damia untuk masuk ke dalam rumah sakit untuk bekerja. Namun, saat dua matanya melihat sosok yang dikenal, Ayah Dodi pun ingin memastikan dengan bertanya pada Damia.


"Ya ... ada apa, Ayah?" tanya Damia


"Bukannya itu Raffa? Kira-kira dia mau pergi ke mana, ya? Dan siapa perempuan yang bersama dia itu?" tanya Ayah Dodi sambil terus memandang dan menunjuk ke arah sosok yang dimaksud olehnya.


"Iya, itu memang Raffa. Dia masuk dari pagi, jadi sudah waktunya untuk pulang. Lalu, perempuan itu adalah kepala perawat yang bekerja di rumah sakit ini juga. Mungkin lebetulan ke luar bareng dari rumah sakit dan mau pulang," jawab Damia


"Kenapa Raffa tidak melihat kamu di sini, ya? Apa dia tidak tahu kalau kamu masuk kerja shift malam?" tanya Ayah Dodi


"Mungkin dia ada urusan lain setelah pulang kerja. Dia juga pasti merasa lelah setelah bekerja seharian. Biarkan saja dia," jawab Damia


"Ya sudah, aku mau langsung masuk, ya, Ayah. Sebelum terlambat dan kehabisan waktunya absen tanda hadir," sambung Damia


"Ya. Ayah juga mau langsung pulang," kata Ayah Dodi


Ayah dan anak itu pun berpisah di sana. Damia berjalan masuk menuju ke gedung rumah sakit, sedangkan Ayah Dodi melajukan motornya untuk kembali pulang ke rumah.


..."Punya keahlian senyum formalitas saat bekerja memang bagus dan terbukti ampuh untuk banyak hal, tapi aku tidak terbiasa menutupi sesuatu dari seseorang atau siapa pun dan lebih tidak ingin merasa terbiasa. Rasanya sangat tidak menyenangkan," batin Damia...


Damia memang berhasil menutupi kenyataan berakhirnya hubungan dengan Raffa dengan baik dan apik. Namun, sepertinya Ayah Dodi tidak mudah untuk ditipu kali ini setelah banyak alasan dari sang putri yang seolah menghindar dari topik pembicaraan yang sama berulang kali. Mungkin Ayah Dodi sudah bisa menebak-nebak dan memiliki kemungkinannya tersendiri.


•••


Keesokan harinya.


Pada jam pergantian shift, Damia pun pulang dengan menaiki ojek online. Tidak memesan mobil, melainkan motor karena suster cantik itu sedang ingin berhemat.


Dengan rasa lelah, Damia pun pulang dan sampai di rumah. Usai turun dari atas motor dan membayar ongkos ojek, Damia pun berjalan masuk ke dalam rumah.


Di rumah hanya ada sang ibu yang hendak berangkat bekerja. Sedangkan sang ayah sudah lebih dulu berangkat kerja.


"Damia, karena kamu sudah pulang, Ibu berangkat kerja dulu, ya. Kamu jangan lupa makan. Makanannya sudah Ibu siapkan di atas meja makan," ucap Ibu Rita


"Iya, Bu. Terima kasih dan hati-hati di jalan," ucap Damia


Setelah sang ibu berangkat kerja, Damia pun menutup pintu rumahnya rapat-rapat dan tidak lupa juga menguncinya. Lalu, suster cantik itu lebih dulu beranjak membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.


Setelah mandi dan berganti pakaian dengan yang lebih santai, Damia pun beranjak untuk makan. Usai makan, suster cantik itu menghela nafas panjang.


"Rasanya hari ini lelah sekali. Tidak biasanya seperti ini," gumam Damia


Teringat akan janjinya, Damia pun meraih ponselnya untuk mengetik dan mengirim pesan pada sang kekasih.


^^^To: Angga.^^^


^^^Angga, aku akan datang ke rumah kamu besok. Maaf karena aku tidak bisa datang hari ini. Teruskan istirahatnya. Jangan memaksakan diri untuk beraktivitas berat kalau kamu memang merasa masih tidak sanggup melakukannya.^^^


Tak sangka, pesan balasan masuk dengan cepat pada ponsel miliknya.


From: Angga.


Tidak apa-apa, Damia. Kamu juga istirahat saja yang banyak karena aku tahu kalau kamu pasti merasa lelah setelah pulang kerja. Tidak perlu merasa khawatir soal aku. Aku baik-baik saja dan akan selalu ingat kata-kata kamu.


Setelah makan dan berkirim pesan dengan sang kekasih, Damia pun beralih untuk segera beristirahat.


..."Lelah dan lemas ... rasanya aku ingin tidur saja seharian ini," batin Damia...


Damia pun melangkah dengan gontai mendekat ke arah ranjang yang berada di dalam kamarnya.


•••


Keesokan harinya.


Karena hari ini libur bekerja, Damia bangun pagi untuk membantu sang ibu membersihkan rumah dan memasak.


Usai sarapan bersama, Damia memberikan sesuatu untuk sang ayah yang hendak pergi bekerja.


"Ayah, ini untuk Ayah ... dibawa, ya," kata Damia


"Apa ini, Damia?" tanya Ayah Dodi


"Ini bekal makan siang untuk Ayah. Jangan lupa dimakan," jawab Damia


"Apa isinya, nih?" tanya Ayah Dodi


"Ada nasi, lauk, sup ayam, dan teh madu. Sudah lengkap semua, sampai ada air putih juga yang aku masukkan di dalam. Jadi, Ayah tidak perlu ke luar uang lagi untuk makan dan minum. Lumayan bisa berhemat. Hati-hati membawanya karena takut tumpah," jelas Damia


"Paket lengkap, nih ... nanti bisa Ayah hangatkan saat istirahat di kantor. Terima kasih, ya," ucap Ayah Dodi


"Pantas saja kamu masak banyak sebelum sarapan tadi, Damia. Tapi, sisanya juga masih banyak. Mau buat siapa?" tanya Ibu Rita


"Mau aku bawa ke rumah teman yang kemarin sakit itu, Bu. Hari ini aku mau pergi menjenguk dia lagi," jawab Damia


"Oh, ya ... malam ini, bagaimana kalau kita bertiga makan malam di luar?" tanya Ayah Dodi


"Boleh saja, kalau Ayah tidak lelah setelah pulang kerja nanti. Makan di rumah atau di luar juga sama saja kok," jawab Damia


"Kalau begitu, lihat saja nanti malam. Ayah pergi kerja dulu, ya," ujar Ayah Dodi


"Ya. Hati-hati, Ayah ... " pesan Damia dan Ibu Rita secara bersamaan.


Ayah Dodi pun berangkat bekerja dengan mengendarai motor. Tinggallah dua orang perempuan, ibu dan anak yang ada di rumah.


.


Bersambung.