Bougenville of Love

Bougenville of Love
93 - Tidak Pandai Memilih Waktu.



Angga tiba-tiba berhenti melangkah bersamaan dengan genggaman tangannya yang semakin erat pada tangan sang kekasih hingga kini Damia seolah sedang berjalan lebih dulu di depan sambil menarik tangan lelaki itu.


Damia pun ikut menghentikan langkahnya, lalu menoleh untuk melihat sang kekasih yang berada di belakangnya. Saat itu dilihatnya, raut wajah Angga yang terlihat tak biasa. Lelaki itu bahkan menundukkan kepalanya dan telapak tangannya yang bergenggaman dengan tangan Damia terasa basah seolah tubuhnya sedang bereaksi akan sesuatu.


"Ada apa, Angga? Kenapa berhenti?" tanya Damia yang langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang salah terjadi pada sang kekasih.


"Tidak tahu. Sepertinya pencernaan aku sedang tidak baik meski kita sudah jalan-jalan setelah makan siang. Kan, ini tidak mungkin karena aku merasa gugup saat jalan berdua sama kamu karena kita sudah pacaran cukup lama dan sering melakukan hal seperti ini," jawab Angga sambil menatap ke arah sang kekasih saat kalimatnya berakhir.


Kini terlihat peluh keringat bermunculan pada wajah Angga. Lelaki itu sedang merasakan dan menahan seauatu. Damia tahu itu dengan sangat jelas.


"Aku rasa bukan karena dua hal itu. Katakan yang jujur sama aku. Jangan ditahan atau disembunyikan supaya aku bisa membantu kamu," ujar Damia yang masih berusaha untuk tetap terlihat tenang meski sebenarnya suster cantik itu mulai merasa cemas.


Genggaman tangan Angga pada tangan Damia semakin kuat bahkan wajah lelaki itu mulai memucat meski berusaha untuk terus tersenyum.


"Damia, kepala aku sakit ... " ucap Angga dengan suara yang terdengar lirih.


Damia menangkup wajah Angga untuk berusaha menenangkannya sambil menyeka peluh keringat yang semakin bermunculan. Lelaki itu terlihat jelas sedang menahan rasa sakit.


"Sudah aku bilang, jangan bahas soal masa lalu lagi dan kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat seperti ini," ujar Damia


"Aku senang mendengar kamu marah karena itu artinya kamu sayang dan masih sangat peduli sama aku," kata Angga


"Kamu malah merasa senang saat sedang kesakitan seperti ini? Aku jadi merasa bingung harus melakukan apa dan bagaimana?" tanya Damia


Tubuh Angga bahkan sampai ambruk setelah menubruk tubuh Damia. Kini posisi keduanya bersimpuh di tanah dengan Damia yang memeluk tubuh Angga. Entah akan seperti apa jadinya jika saja Damia tidak kuat menahan beban tubuh Angga.


"Maaf, Damia ... " kata Angga yang terus terdengar semakin lirih.


"Tidak perlu bilang maaf. Sepertinya aku harus minta bantuan," gumam Damia


Damia berusaha merogoh saku seragam perawatnya untuk mengeluarkan ponsel miliknya dari sana. Namun, Angga berusaha menahan sang kekasih meski tenaganya telah terkuras karena menahan rasa sakit.


"Jangan menelepon siapa pun untuk meminta bantuan. Aku mohon," pinta Angga


"Kamu jangan bercanda, Angga. Harus ada orang yang membantu kita, terutama kamu," kata Damia


Saat Damia berhasil mengeluarkan ponsel miliknya, justru ada telepon masuk.


"Aku mohon, jangan ... aku pasti akan segera membaik. Sebentar lagi saja," lirih Angga


"Kalau begitu, tenangkan diri kamu. Aku hanya akan mengangkat telepon dari suster Alina sebentar. Dia pasti mencari aku karena sudah waktunya untuk kembali bekerja," ujar Damia


Angga mengangguk pelan. Damia pun menerima telepon masuk dari Alina sambil menepuk-nepuk punggung Angga untuk menenangkannya.


"Ya, halo."


"Halo, Damia. Kamu ada di mana? Kok belum balik juga?"


"Aku masih ada di rumah sakit kok, tapi aku sedang ada urusan sebentar. Tolong beri tahu suster Lisa, ya."


"Suster Lisa juga belum kembali setelah istirahat, tidak ... tadi dia pergi lagi sama suster Lusi setelah kembali. Ya, nanti akan aku beri tahu suster Lisa kalau dia kembali."


"Terima kasih. Aku akan kembali nanti. Sudah, ya ... aku tutup dulu teleponnya."


Tut!


Damia pun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Alina, lalu membiarkan saja ponselnya tergeletak di atas tanah.


Damia langsung beralih memeluk tubuh Angga untuk menenangkannya sambil bergerak menepuk-nepuk dan sesekali mengusap punggung lelaki itu dengan kedua tangannya.


"Maaf, kamu jadi tertahan di sini karena aku," lirih Angga


"Tidak apa-apa, itu tidak masalah. Ayo, tenangkan diri dulu," kata Damia


Nafas Angga yang berhembus dengan berat karena menahan sakit kini bahkan semakin tersenggal-senggal menjadi sesak nafas. Kepala lelaki itu terasa semakin sakit saat semakin banyak sekelebat ingatan yang muncul dan kembali secara abstrak dalam benaknya.


Ingatan yang muncul sangat acak dan tidak beraturan. Semua bermunculan, mulai dari ingatannya yang telah kembali sampai ingatan yang baru saja kembali tentang masa lalunya dengan Damia. Hingga Angga mulai merasa takut dan cemas saat ingatannya yang kembali itu memperlihatkan tentang dirinya yang menyatakan perasaannya pada Damia di masa lalu.


Sesuatu yang terjadi di masa lalu, pasti amat berbeda dengan yang terjadi kini. Hingga Angga merasa takut, cemas, dan sedih saat menyadari dirinya sudah mampu mengingat hingga pertemuan terakhir dirinya dengan Damia di masa lalu.


Saat mengingat masa lalu kala itu, Angga menyadari dirinya merasa cemas dan takut Damia akan menolaknya saat dirinya menyatakan perasaan pada gadis yang terpaut usia satu tahun lebih muda darinya itu. Hingga dirinya merasa sedih saat merasakan kepedihan kala gadis itu benar-benar menolak perasaannya hanya karena dirinya datang lebih lambat dari lelaki lain. Sungguh ironis dan tidak beruntung dirinya itu. Bahkan Damia meminta dirinya untuk melupakan semua yang telah mereka lalui bersama di masa lalu kala itu. Rasanya amat menyesakkan dada.


"Angga, kamu kenapa? Tenangkan diri kamu ... kamu masih ingat sama teknik relaksasi yang pernah aku beri tahu itu, kan? Ayo, lakukan teknik relaksasi itu," ujar Damia saat sang kekasih tampak sesak nafas.


..."Kenapa sakit kepala Angga harus kambuh di saat seperti ini padahal sudah lama sakit kepalanya tidak pernah kambuh lagi? Apa sekarang dia sedang memaksa mengingat masa lalu? Itu pasti karena aku dia jadi memaksakan diri seperti ini. Bisa gawat kalau ada orang yang lihat, kondisi Angga yang seperti ini pasti akan mengurangi nilai kepantasan Angga untuk bisa lolos menjadi dokter. Tidak, bukan itu yang penting sekarang. Angga harus pulih bagaimana pun caranya. Kalau tidak, aku tidak tahu akan bagaimana ... mungkin aku akan menyalahkan diri aku sendiri. Pokoknya aku harus buat Angga pulih dan tenang lebih dulu," batin Damia...


Terlihat wajah Angga dengan keningnya yang berkerut dan kedua tangannya yang terkepal kuat karena menahan rasa sakit kepalanya yang timbul. Damia pun berusaha mengurai kepalan tangan Angga agar tidak menyebabkan luka dan membiarkan kedua tangan lelaki itu menggenggam tangannya dengan erat.


Lalu, Damia pun memberikan nafas buatan untuk membantu agar sang kekasih bisa kembali bernafas dengan normal dan lebih tenang.


Untungnya lokasi keberadaan keduanya kali ini adalah di belakang gedung rumah sakit yang sepi hingga tidak ada orang yang lewat atau melihat keduanya di sana. Damia memang sedang memberi tahu jalan pintas melalui bagian belakang rumah sakit pada sang kekasih dan kejadian tak diinginkan itu terjadi.


Namun, tanpa disadari ada dua pasang mata yang melihat sepasang kekasih yang seolah sedang melakukan adegan dewasa yang terlarang itu.


"Ya ampun, mereka berdua lagi apa, sih? Masa mau buat mesum di rumah sakit seperti ini? Lalu, bukannya itu suster Damia sama dokter Angga? Masa mereka berdua mau berbuat mesum tidak lihat waktu dan tempat? Masa iya mau seperti itu di siang bolong dan di ruang terbuka bagian belakang rumah sakit seperti ini?"


"Kamu benar, Lusi. Ayo, kita pergi dan biarkan saja mereka berdua."


"Tapi, Suster Lisa, kita tidak boleh biarkan mereka berdua berbuat yang tidak benar. Ini melanggar hukum," katanya yang ternyata adalah Suster Lusi yang sedang bicara dengan Suster Lisa.


"Biarkan saja, mereka berdua bukan lagi mesum. Apa kamu tidak lihat? Suster Damia sedang menyelamatkan pacarnya. Dokter Angga sedang sesak nafas," ujarnya, Suster Lisa


"Jadi, bukan lagi mesum, tapi melakukan pertolongan pertama? Itu hanya pemberian nafas buatan?" tanya Suster Lusi


"Ya, makanya biarkan saja. Lebih baik kita kembali karena sudah waktunya untuk kembali bekerja," jawab Suster Lisa yang lebih dulu berjalan memutar untuk kembali ke bangsal rawat melalu jalan lain.


"Aku ikut Suster Lisa saja, deh ... " kata Suster Lusi ysng mengikuti Suster Lisa beralih pergi dari sana.


"Apa benar tidak masalah kalau kita pergi begitu saja? Bukannya harusnya kita ikut membantu suster Damia menolong dokter Angga?" batin Suster Lusi


Setelah beberapa kali memberi nafas buatan, akhirnya Angga bisa lebih tenang dan bernafas normal. Damia pun bisa bernafas lega dan menatap wajah sang kekasih baik-baik.


"Apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Damia


"Hh ... aku sudah baik-baik saja. Terima kasih, Damia," jawab Angga


"Kamu membuat aku khawatir. Sekarang apa yang kamu rasakan? Apa masih ada yang terasa sakit?" tanya Damia


"Sudah tidak apa-apa. Maaf karena aku sudah membuat kamu khawatir," jawab Angga


"Syukurlah, kalau begitu. Makanya, sudah aku bilang untuk tidak membahas soal masa lalu dan jangan memaksakan diri untuk mengingat kembali kalau itu adalah hal yang sulit," ujar Damia


"Sekarang aku sudah mengingatnya, aku ingat semuanya ... " kata Angga


"Benarkah? Kamu tidak sedang bercanda lagi, kan?" tanya Damia


"Setelah mengingatnya aku jadi merasa malu dan bodoh. Dari awal sampai akhir sepertinya aku hanya percaya pada opini aku sendiri. Awalnya aku percaya begitu saja kalau kamu tidak bisa bicara dan seolah tidak membiarkan kamu untuk memberi tahu aku kalau kamu bisa bicara normal dan akhirnya pun aku percaya kalau kamu akan menerima perasaan aku tanpa tahu atau bertanya kalau kamu sudah punya pacar atau belum. Sepertinya aku hanya lebih sering membebani kamu di masa lalu," ungkap Angga setelah mengingat semua masa lalu tentang dirinya dan Damia.


"Rupanya, kamu benar-benar sudah mengingat semuanya, tapi jangan bilang kalau kamu bodoh. Aku yang salah karena harusnya aku bisa bicara baik-baik sama kamu dulu," ujar Damia


"Kamu tidak salah kok. Dulu harusnya aku tidak berharap lebih selain dari hubungan pertemanan sama kamu, tapi terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu, syukurlah akhirnya kita bisa bersama seperti sekarang," ucap Angga


"Setelah mengingat semua masa lalu itu, apa kamu tidak marah sama aku? Apa kamu tidak merasa benci sama aku?" tanya Damia


"Bahkan aku sudah mengingat semuanya sekarang, tapi aku masih saja tidak mengerti. Sebenarnya kenapa kamu merasa aku akan marah dan benci sama kamu? Kenapa aku harus seperti itu?" tanya balik Angga


"Karena dulu aku sudah pernah menolak kamu dan aku bahkan pernah meminta kamu untuk melupakan kalau kita pernah bertemu. Bahkan dulu aku seolah sudah memutus hubungan pertemanan kita dan dengan rasa sakit yang kamu rasakan karena aku, itu semua menjadi tekanan bagi kamu hingga akhirnya kamu mengalami hilang ingatan setelah kecelakaan," jelas Damia


"Kalau saja kamu tidak punya tekanan dari rasa sakit hati karena aku, kamu pasti tidak akan hilang ingatan meski mengalami kecelakaan bahkan mungkin kecelakaan itu tidak terjadi," sambung Damia


"Semua itu hanya pilihan kamu dan bukan salah kamu. Hanya saja aku yang lemah hanya karena mendengar penolakan. Aku memang sempat merasa terpuruk dan itu sungguh memalukan, tapi itu sudah berlalu. Sekarang kita sudah bersama dan tidak ada lagi halangan untuk itu," ucap Angga


"Aku merasa sangat bersyukur karena kamu tidak pergi meninggalkan aku setelah kita bertemu lagi bahkan kamu terus bersama dan merawat aku yang sakit hingga aku sembuh sampai akhirnya sekarang aku bisa ada di sini. Aku merasa senang karena kita selalu bersama dan aku tidak mau ini berakhir atau kita berpisah lagi," sambung Angga


"Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, meski tidak bisa berjanji karena hidup tidak selalu ada kepastian, tapi aku akan berusaha mewujudkan untuk bisa selalu sama kamu dan maaf karena semua yang sudah aku lakukan di masa lalu," ujar Damia


"Kamu tidak perlu bilang maaf karena semua itu bukan salah kamu. Apa pun yang sudah terjadi di masa lalu, aku merasa sangat senang saat ini," kata Angga


"Aku juga merasa senang dan terima kasih," sahut Damia


Damia tidak menyangka kalau sekarang Angga sudah mengingat semua masa lalu tentang mereka berdua, rasanya sangat cepat sekaligus lambat karena Angga baru bisa mengingatnya setelah berlalu cukup lama, namun prosesnya begitu cepat.


Angga pun menarik Damia ke dalam pelukannya. Keduanya tersenyum. Angga diam-diam merogoh saku jas dokternya untuk meraih kotak kecil berisi cincin di dalamnya.


"Untuk apa kamu bilang terima kasih? Setidaknya masih terlalu cepat untuk mengatakan itu," ujar Angga sambil melepas pelukan dengan sang kekasih.


"Apa maksud kamu?" tanya Damia usai pelukannya dengan sang kekasih terlepas.


Angga pun mengeluarkan kotak kecil tersebut dan mengambil sebuah cincin di dalamnya.


"Yang aku maksud adalah ini. Damia, karena aku sudah mengingat semua masa laku kita, sekarang aku sudah bisa melamar kamu, kan?" tanya Angga


"Kamu sudah menyiapkannya? Aku tidak menyangka. Jadi, kamu sampai memaksakan diri mengingat hal yang sulit hanya karena mau melamar aku? Dasar, bodoh ... masih banyak lain waktu untuk melakukannya," ujar Damia yang sudah hampir menangis karena sudah sedari tadi menahan air matanya karena merasa cemas, takut, senang, dan terharu secara berkala dalam waktu singkat.


"Aku memang tidak pandai memilih waktu bahkan rasanya kurang tepat melamar kamu sekarang saat tidak ada sedikit pun suasana romantis di sini. Apa aku melakukannya nanti saja?" tanya Angga


"Maaf karena sudah mengatai kamu bodoh. Itu hanya karena aku merasa kesal," kata Damia


"Maaf karena sudah membuat kamu kesal. Jadi, apa kamu mau menerima lamaran aku? Aoa kamu bersedia untuk selalu bersama aku apa pun yang terjadi ke depannya nanti?" tanya Angga sekali lagi.


Damia hanya bisa mengangguk kecil. Keduanya tersenyum. Angga pun memakaikan cincin pada jari manis sang kekasih. Lalu, keduanya pun kembali berpelukan saat posisi keduanya masih duduk bersimpuh di atas tanah.


.


Bersambung.