Bougenville of Love

Bougenville of Love
13 - Suara Perut.



Damia yang bercerita dan yang mendengarkan malah tertidur. Suster cantik itu hanya bisa tersenyum tipis saat melihat Angga tertidur, lalu akhirnya terkekeh pelan.


"Kamu bilang tidak mau dianggap seperti anak-anak, tapi kamu malah tertidur saat mendengar aku bercerita seolah seperti anak kecil yang tertidur setelah mendengar dongeng," gumam pelan Damia


..."Mungkin Angga mengantuk setelah minum obat tadi dan saat mendengar aku bercerita seperti sedang mendengar dongeng sebelum dan yang membuatnya tidur," batin Damia...


Damia pun bergerak menyelimuti tubuh Angga yang tertidur menggunakan selimut dengan rapi.


..."Sehat-sehatlah selalu, Angga. Jangan sakit lagi. Nanti keluarga kamu akan merasa khawatir, termasuk juga aku," batin Damia...


Lalu, suster cantik itu pun beranjak pergi ke luar dari kamar Angga, membiarkan sang pemilik kamar terlelap dalam dunia mimpi indahnya.


...


Sore harinya.


Angga terbangun dari tidur dan dua matanya langsung mencari keberadaan sosok suster cantik yang dalam ingatannya masih ada di sisinya. Namun, ternyata sosok yang dicari olehnya tidak terlihat di sana.


"Aku tertidur, ya. Kenapa Damia sudah tidak ada di sini? Memangnya sudah berapa lama aku tertidur?" tanyanya bermonolog ria.


Angga pun melirik ke arah jam dinding yang ada di dalam kamarnya dan lelaki itu langsung terperanjat kaget hingga langsung bergerak bangkit untuk duduk dari posisi rebahnya.


..."Ya ampun, ini bukan tertidur lagi namanya, tapi aku benar-benar bablas. Pantas saja Damia sudah tidak ada di dalam kamar ini. Karena dia tidak mungkin menemani aku tidur di sini. Itu, sih, maunya aku saja," batin Angga...


Menyadari dirinya telah tertidur selama lebih dari 4 jam, Angga pun beranjak bangkit dan bergerak mencari keberadaan suster cantik di dalam rumahnya itu.


Tak jauh melangkah setelah ke luar dari kamar dan menuruni anak tangga, Angga melihat sosok Damia yang sedang duduk di sofa dari arah belakang. Saat lelaki itu berjalan memutari sofa untuk melihat dari arah depan, rupanya suster cantik yang dilihatnya dari arah belakang malah sedang tidur sambil duduk di sana.


Tak ingin mengganggu tidur Damia, Angga hanya memerhatikan wajah suster cantik itu tepat di depannya sambil berdiri. Damia yang tidur sambil bersandar di sandaran sofa membuat Angga mudah menatap wajah cantiknya dari depan meski sambil berdiri sekali pun.


Tanpa sadar bibir Angga membentuk sebuah lengkungan indah saat asik menatap wajah suster cantik yang sedang tertidur itu. Saat salah satu tangan lelaki itu terulur untuk membenahi rambut Damia yang terurai menutupi wajah cantiknya, suster itu pun terusik dan perlahan bangun dari tidurnya hingga membuat Angga menarik kembali tangannya.


Damia tersentak ringan, namun suster cantik itu tersenyum saat mendapati Angga berada tepat di hadapannya.


Angga terpesona melihat pemandangan indah di hadapannya itu.


..."Kamu yang lagi tidur saja sudah tampak cantik. Apa lagi kalau kamu tersenyum saat bangun tidur barusan. Aku beruntung sekali bisa menyaksikan pemandangan indah ini secara langsung. Aku berharap hanya aku yang bisa melihat pemandangan menakjubkan seperti saat ini sampai seterusnya nanti," batin Angga...


Angga langsung melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kamu sudah bangun, Damia?" tanya Angga


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu karena kamu yang lebih dulu tidur dari pada aku," ujar Damia


"Tapi, nyatanya aku memang sudah lebih dulu bangun dari pada kamu. Kenapa kamu malah tidur di sini, tidak di kamar kamu saja? Apa kasur di kamar kamu rusak?" tanya Angga lagi.


"Tidak, kasur di kamar yang diberikan untuk aku baik-baik saja. Aku sengaja tidur di sini karena jika kau memanggil, aku bisa langsung mendengarnya. Lalu, apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya balik Damia usai menjawab pertanyaan dari Angga.


"Tidak ada. Maaf karena sudah membuat kamu jadi repot dan merasa khawatir," jawab Angga


"Sudahlah, tidak apa kok. Kalau begitu, aku mau mandi dulu, lalu setelah itu aku akan masak. Kamu pasti sudah lapar karena siang tadi hanya makan bubur instan dan langsung tidur," ujar Damia


"Aku tidak lapar kok," bantah Angga


Saat Angga sibuk melontarkan bantahan, Damia tiba-tiba saja berdiri dari duduknya hingga saat berdiri posisinya sangat dekat dengan Angga yang memang sudah berdiri tepat di hadapannya yang tadi sedang duduk di sofa.


Angga yang terkejut dengan gerak tiba-tiba dari Damia yang mendadak berdiri dekat dan tepat berhadapan dengannya pun hampir saja terjengkang ke belakang. Kaki bagian belakang Angga terantuk meja dan Damia langsung menarik dan menahan kedua tangan lelaki itu agar tidak terjatuh ke belakang.


Suasana menjadi henjng. Tak ada suara yang terlontar ke luardari mulut Angga atau pun Damia.


..."Ya ampun ... ini terlalu dekat! Jarak antara aku dan Damia. Apa lagi ini ... jantung aku malah berdegup sangat kencang dan tidak karuan. Semoga saja Damia tidak mendengar suara detak jantung aku dari jarak kita yang sedekat ini," batin Angga...


Pada situasi antara untung dan tidak menguntungkan itu, tiba-tiba saja keheningan terinterupsi dengan suara yang sumbernya terdengar dari arah perut Angga.


Krucukk ... krucukk~


Pfft!


"Umm ... aku tidak dengar suara apa pun kok. Sungguh, deh ... " elak Damia sambil berusaha menahan tawa.


"Kalau kau sungguh ingin pura-pura tidak dengar, harusnya kau tidak perlu bilang apa-apa," kata Angga sambil menahan rasa malunya.


"Seperti itu, ya? Baiklah, lain kali tak akan aku ulangi lagi. Kali ini sungguhan," ujar Damia


"Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula, kamu kenapa malah tiba-tiba berdiri, sih?" tanya Angga yang langsung bergerak bergeser dari posisinya yang sangat dekat dengan Damia menjadi agak menjauhi suster cantik itu.


"Lho, harusnya aku yang bertanya sama kamu dong. Kamu kenapa malah berdiri di depan aku dari tadi?" tanya balik Damia


"Itu karena niat awalnya, aku mau bangunkan kamu," jawab Angga yang disertai gas lisannya.


"Oke, aku terima niat baik dari kamu. Sekarang aku mau mandi dulu, terus aku akan masak," ucap Damia beranjak melangkah pergi.


"Sudah aku bilang kalau aku tidak lapar," ujar Angga


Damia pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Angga.


"Oh, ya? Harusnya kamu tidak bahas soal ini lagi, tapi karena kamu dan aku sudah terlanjur membahasnya ... bukankah tadi perut kamu sendiri yang mengungkapkan perasaannya?" tanya Damia dengan niat meledek Angga.


"Damia, bisa-bisanya kamu malah meledek aku!" seru Angga yang merasa kesal sekaligus malu.


Damia pun terkekeh kecil.


"Iya-iya, kamu tidak merasa lapar, tapi jangan sampai kamu jadi masuk angin. Suara perut kamu tadi bisa saja berasal dari angin karena kamu baru makan sedikit tadi," ujar Damia


"Lalu, satu lagi ... selagi aku mandi, lebih baik kamu juga mandi. Aku tahu kamu juga baru bangun tidur," sambung Damia


"Emangnya kenapa? Aku bau, ya?" tanya Angga


"Tidak juga kok. Supaya kita sama-sama jadi fresh saja. Itu lebih baik," jawab Damia


"Ya sudah, aku mau mandi dulu. Hati-hati, ya, Angga. Jangan sampai kamu ingin terjatuh lagi," sambung Damia


Damia pun melenggang pergi dari sana.


Angga pun juga ikut pergi dari sana.


..."Tidak apa-apa, deh, meski harus merasa malu karena diledek. Yang penting aku sudah lihat Damia tersenyum dan tertawa tadi. Dan juga melihat pemandangan saat Damia tidur. Sungguh momen yang langka dan berharga. Damia cantik sekali dan aku sangat beruntung hari ini. Kalau diingat-ingat lagi, Damia juga menyelamatkan aku yang tenggelam saat berenang tadi. Apa itu artinya dia juga kasih aku nafas buatan? Yang berarti kalau aku dan dia ... ah! Aku senang sekali," batin Angga...


Angga pun melompat-lompat kecil karena kegirangan. Hanya jtu yang bisa dilakukan olehnya karena lelaki itu tidak bisa berteriak dengan leluasa. Sebab itu akan membuat Damia khawatir dan salah paham dengan suara teriakannya. Sudah cukup hari ini ia membuat Damia merasa panik dan hari ini pun sudah cukup menyenangkan untuk dirinya sendiri.


.


Bersambung.