Bougenville of Love

Bougenville of Love
36 - Makna Tersembunyi.



Terus memerhatikan Damia, Angga semakin jatuh cinta dan menyukainya. Damia adalah tipe gadis yang semakin dilihat maka semakin cantik memesona. Entah, mungkin itu hanya di mata Angga yang memang sedang jatuh cinta dan berbunga-bunga.


Sedikit sulit menjelaskan tentang kepribadian Damia. Suster cantik itu adalah tipe orang yang agak cuek dan dingin, tapi juga suka tersenyum dan peduli. Juga perhatian dan pengertian. Satu hal yang pasti, standarnya adalah tidak berlebihan. Seolah telah mengatur dan menakar dengan cukup.


Bagi Angga, orang seperti Damia adah tipe yang sulit ditebak. Hingga lelaki itu sulit untuk menyesuaikan dengan tipe idel suster cantik yang kini merupakan pacarnya itu.


Satu hal yang pasti, hanya bisa membiarkan berjalan apa adanya. Angga berharap semua akan baik-baik saja dan hubungannya dengan Damia akan terjalin awet.


Angga terus memerhatikan Damia yang sedang memasak dari belakang dan sesekali bersitatap dengan suster cantik itu saat berbalik menghadap ke arahnya.


"Angga, kenapa kamu hanya diam saja di sini? Kenapa kamu tidak panggilkan kakak dan mama papa kamu untuk sarapan bersama di sini?" tanya Damia


"Biarkan saja. Kalau mereka ingin sarapan, pasti mereka akan datang sendiri mencari makanan," jawab Angga


"Dasar ... padahal kalau kamu belum bangun, mama kamu selalu bangunkan kamu untuk sarapan bersama," ujar Damia


"Iya, mama memang seperti itu karena sibuk. Jadi, mama ingin aku sarapan bersama karena terkadang kami tidak bertemu lagi selain di meja makan," ucap Angga


"Lalu, kenapa kamu tidak ajak mama kamu untuk makan sarapan bersama?" tanya Damia


"Nanti mama dan yang lain juga datang sendiri ke sini, Damia. Biarkan saja," jawab Angga


Damia terlihat sedang menghidangkan makanan. Angga pun menghampiri untuk membantunya.


"Ini mau ditaruh di atas meja makan, kan? Sini, biar aku bantu, ya," ujar Angga menawarkan diri.


"Ya, hati-hati saat membawanya. Terima kasih," ucap Damia


"Oke. Sama-sama," balas Angga


Angga pun membawakan menu sarapan pagi ini untuk diletakkan di atas meja makan. Sedangkan, Damia merapikan bekas peralatan masak.


Saat itu, Mama Yuli, Papa Nassar, dan Linda pun datang menghampiri menuju ke meja makan untuk sarapan bersama.


"Tuh, kan, mereka datang ... " kata Angga


"Angga, barusan Mama cari kamu di dalam kamar, kamu sudah tidak ada. Rupanya kamu sudah ada di sini," ujar Mama Yuli


"Benar, kan, Ma ... aku bilang juga si Angga pasti sudah ada di dapur," kata Linda


"Kamu sudah merasa lapar, ya?" tanya Mama Yuli


"Bukan lapar, Ma. Tapi, Angga, tuh ... maunya bareng sama Damia terus. Nempel terus kayak perangko," sahut Linda


"Apaan, sih, Kak? Berisik, tahu!" dumel Angga


"Sudahlah ... pagi-pagi jangan ribut. Lebih baik kita sarapan bersama. Damia, ayo ikut sarapan juga," ucap Papa Nassar


"Baik, Om," sahut Damia


Semua pun berkumpul duduk di kursi di hadapan meja makan.


"Pagi ini, saya hanya masak nasi goreng. Berharap bisa menambah energi di pagi hari sebelum beraktivitas," ucap Damia


"Ini nasi goreng spesial. Enak kok," kata Linda


Damia hanya tersenyum kecil.


"Angga, bagaimana dengan kamu? Apa sudah ada yang kamu ingat?" tanya Mama Yuli


"Ada, baru sedikit yang aku ingat," jawab Angga


"Beberapa hari yang lalu, kami bertemu dengan teman kuliah Angga, Tante. Awalnya Angga tidak mengingatnya, tapi sekarang Angga bisa mengingat tentang teman kuliahnya itu," jelas Damia


"Teman kuliah? Benarkah seperti itu, Angga?" tanya Papa Nassar


Angga hanya mengangguk kecil. Lelaki itu terus menyebdok nasi goreng masuk ke dalam mulutnya sambil sesekali melirik ke arah Damia.


"Bagus, kalau begitu. Kalau kamu sudah ingat tentang teman-teman kuliah dan masa-masa kuliah kamu, bagaimana kalau kamu mulai masuk kuliah lagi hari ini?" tanya Mama Yuli


Angga yang sedang fokus memandangi suster cantik yang sudah resmi menjadi pacarnya, kini tiba-tiba langsung mengalihkan pandangannya untuk menatap ke arah sang mama.


"Aku mulai kuliah lagi? Apa tidak terlalu cepat? Kan, aku juga belum ingat semuanya, Ma?" tanya balik Angga


"Ingatan kamu yang hilang adalah waktu tiga tahun terakhir saat awal kamu masuk kuliah. Nemang agak menyulitkan, tapi kamu juga bukan sampai lupa dengan identitas kamu sendiri. Lagi pula, kamu bilang juga sudah mulai ingat saat kamu kuliah meski sedikit. Kamu juga tidak bisa terus cuti dari kuliah, ingat sebentar lagi kamu harus praktek magang," jelas Mama Yuli


"Papa rasa, Mama benar. Bukannya kamu sendiri bilang ingin lulus tepat waktu? Kalau begitu, kamu harus mengejar ketertinggalan kamu. Lalu, kalau kamu mulai kuliah lagi, mungkin kamu akan lebih mudah mengingat kembali sesyatu yang kamu lupakan. Benar begitu, kan, Damia?" tanya Papa Nassar.


"Benar sekali, Om," jawab Damia


"Nah, Damia ... coba kamu dukung rencana Tante ini dong. Sekalian kasih support juga ke Angga," pinta Mama Yuli


Angga pun kembali menatap ke arah Damia. Tak hanya lelaki itu, yang lain pun menunggu saran yang akan disampaikan oleh suster cantik itu.


"Menurut aku, saran dan rencana dari Tante dan Om patut dicoba. Angga, kamu tidak perlu merasa khawatir akan kesulitan. Meski lupa, sebenarnya 3 tahun ini telah kamu lewati sebagian besar adalah kuliah. Dengan ini saja sudah terbukti kamu bisa melewatinya. Kamu bisa melakukannya secara perlahan, jika terasa sulit, kamu bisa istirahat sejenak. Hal-hal yang perlu kamu perhatikan adalah, sangat penting untuk berusaha menghindari bahaya, jangan memaksa diri sendiri, mulailah dari melakukan sesuatu yang menurut kamu aman dan nyaman," ucap Damia


"Jangan sampai ini terjadi, tapi sebagai langkah pencegahan ... jika kamu merasa sakit saat mengingat atau teringat akan sesuatu, kamu bisa minum obat yang sudah diresepkan oleh dokter dan juga mengatur pernafasan atau ada yang namanya teknik relaksasi. Aku akan memberi tahu caranya ke kamu nanti, lalu kamu juga bisa coba dengan bayangkan hal-hal yang buat kamu merasa bahagia, maka semua akan membaik dengan sendirinya. Yang perlu diingat adalah tidak perlu merasa cemas, takut, atau tegang. Semangat dan santai saja," sambung Damia


"Baiklah, sepertinya aku bisa. Tidak ... aku pasti bisa," kata Angga


"Giliran Damia yang kasih saran, langsung yakin bisa. Tadi malah ragu-ragu," ujar Linda


"Saran dari suster memang pasti berbeda," sahut Papa Nassar.


"Lagi pula, apa yang perlu ditakuti, sih? Atau jangan-jangan kamu takut tidak bisa menguasai mata kuliah karena sudah lupa yang kamu pelajari selama ini? Selama kamu sakit, apa kamu sama sekali tidak pernah pelajari ulang mata kuliah saat di rumah?" tanya Linda


"Enak saja. Aku belajar kok selama di rumah," jawab Angga


"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dicemaskan," ujar Linda


"Lagi pula, siapa yang merasa cemas, sih? Aku akan mulai kuliah lagi hari ini kok. Kebetulan hari ini jadwal kuliah aku dimulai agak siang, jadi masih ada waktu," sahut Angga


Setelah mendapat saran dan arahan dari Damia, Angga pun benar-benar bersemangat dan merasa bisa melalui semua dengan mudah. Ini karena sang pacar mendukungnya, lelaki itu menjadi lebih percaya diri.


"Bagus ... lalu, untuk Damia. Ini terakhir kalinya kamu masak di rumah ini. Siang ini asisten rumah tangga yang biasa bekerja di sini sudah akan datang untuk mulai bekerja lagi. Dan karena Angga sudah bersedia untuk mulai kuliah lagi, sepertinya kamu sudah tidak perlu merawatnya lagi di rumah ini. Bagaimana menurut kamu, Damia?" tanya Mama Yuli


"Itu bagus kalau memang Angga sudah ada perubahan dan kemajuan yang lebih baik. Keputusan seperti apa pun yang dibuat akan saya terima," jawab Damia


"Terima kasih karena selama ini kamu sudah merawat Angga dengan baik," ucap Mama Yuli


"Terima kasih juga karena saya sudah diterima dengan baik selama ada di sini," balas Damia


"Jadi, Damia sudah akan pergi dari sini?" tanya Angga


"Tidak apa-apa, Angga. Kita masih bisa bertemu kapan pun dan di mana pun nantinya," jawab Damia


Semangat Angga jadi menghilang saat mendengar bahwa Damia sudah akan pergi dari rumahnya. Itu artinya kedepannya lelaki itu akan sulit bertemu dengan suster cantik pujaan hatinya, sedih hati rasanya. Namun, saat Damia berkata mereka akan bisa bertemu kapan pun dan di mana pun itu sudah cukup membuat hatinya kembali merasa senang.


"Kapan kamu akan pergi dan ke mana?" tanya Angga


"Aku akan pergi agak siang nanti setelah membereskan barang-barang. Aku akan pulang ke rumah orangtua," jawab Damia


"Kalau begitu, biar aku yang mengantar kamu. Sekarang aku sudah bisa bawa mobil lagi, kan, Ma? Aku mau antar Damia pulang ke rumahnya. Boleh, ya, Ma?" Angga beralih bertanya pada sang mama.


"Ya, boleh deh. Tapi, kamu harus ingat, harus hati-hati setir mobilnya," jawab Mama Yuli


Usai sarapan, yang sibuk kembali pada kesibukan mereka masing-masing.


Mama Yuli berangkat kerja ke kantor dan Papa Nassar bersnjak untuk membaca koran di area kolam renang sambil duduk di kursi sandar yang terbuat dari kayu seraya berjemur matahari pagi.


"Aku mau beres-beres barang sebelum kuliah nanti," kata Angga


"Damia, aku mau bicara sebentar sama kamu. Ikut aku, yuk," ajak Linda


"Baik, Kak," sahut Damia


Usai merapikan meja makan, Damia pun mengikuti Linda beralih ke ruang seni. Kakak perempuan pacarnya itu ingin bicara empat mata dengannya.


"Apa yang mau Kakak bicarakan sama saya?" tanya Damia


"Seperti kata mama, aku juga berterima kasih karena kamu sudah mau membantu merawat Angga setelah dia mengalami kecelakaan. Kamu sudah mengenal Angga dan lebih tahu dengan jelas seperti apa kondisinya juga tentang masa lalu yang dilupakannya," ucap Linda


Damia masih setia menunggu sampai Linda selesai bicara atau saat dirinya dipersilakan untuk menanggapi. Suster cantik itu masih belum mengerti arah pembicaraan yang dimulai oleh kakak perempuan dari pacar barunya itu.


"Setelah kalian berdua pulang dari jalan-jalan semalam, aku melihat Angga masuk ke sini untuk menyelesaikan lukisannya yang masih setengah jadi. Lihatlah, itu lukisannya ... " kata Linda


Linda menunjuk ke arah lukisan baru yang diselesaikan oleh Angga semalam. Damia mengikuti arah tunjuk Linda.


Pada lukisan itu, terdapat seorang lelaki yang duduk di dekat api unggun dengan seorang gadis kecil yang tampak samar sedang menemaninya. Lukisan tersebut berwarna kelabu yang tampak kelam dan gelap.


"Meski bukan seorang yang ahli, aku yang juga mempelajari teknik melukis bisa tahu sebagian besar arti atau makna tersembunyi dari lukisan buatan Angga. Baik lukisan baru ini atau lukisan potret diri kamu yang dia buat sebelumnya. Dari pemilihan warnanya saja sudah terlihat jelas kalau dua lukisan tersebut menggambarkan kesedihan," ujar Linda


Damia mulai mengerti maksud pembicaraan Linda yang sedang membicarakan tentang kondisi dan perasaan Angga.


"Kamu pasti sudah tahu ... dari yang diceritakan mama, Angga mengalami amnesia sebagai bentuk pertahanan diri akibat stress atau depresi yang disertai benturan keras pada kepala saat kecelakaan. Penyebab stress yang dialami Angga mungkin saja berkaitan dengan perasaaannya. Dan mungkin perasaan itu tentang kamu, Damia ... " ucap Linda


"Aku akan coba bahas tentang lukisan potret diri kamu. Angga membuat lukisan ini dengan warna yang kontras antara latar yang gelap dan potret diri kamu yang terang, yang artinya kamu mungkin adalah seseorang yang membuatnya merasa bahagia sekaligus sedih di saat bersamaan," sambung Linda


"Saya mengerti dengan apa yang Kak Linda maksud," kata Damia


"Damia, kamu dan Angga itu saling suka, kan?" tanya Linda


Damia terdiam. Suster cantik itu mengerti pembicaraan ini adalah tentang kekhawatiran seorang kakak terhadap sang adik. Namun, apakah Linda bermaksud melarang hubungan antara Damia dan Angga?


"Bukan maksud aku mau melarang hubungan antara kamu dan Angga. Aku hanya berharap kamu berhati-hati dan bisa menjaga perasaaan Angga. Dia memang terlihat seperti lelaki yang kuat, tapi hatinya juga bisa rapuh terbukti dengan kondisinya saat ini. Terlepas dari seperti apa pun masa lalunya, tapi karena sekarang kamu adalah orang yang dekat sama Angga, aku harap kamu bisa menjadi media yang membuat ingatannya kembali pulih dan bukan sebaliknya," ucap Linda


"Saya juga mengharapkan hal yang sama, yaitu pulihnya ingatan Angga. Terlepas akan jadi seperti apa perasaannya sama saya nanti," kata Damia


Mungkin Linda bisa menebak seperti apa masa lalu antara Angga dan Damia serta penyebab lelaki itu mengalami amnesia seperti saat ini. Baginya yang lalu biarlah berlalu. Namun, ia berharap Damia bisa membuat ingatan Angga pulih dengan cara membahagiakannya bukan malah membuat kondisinya semakin terpuruk karena menyakiti hatinya seperti dulu.


Damia memerhatikan lukisan baru yang Angga selesaikan semalam dengan seksama.


Jika diperhatikan dengan teliti, lelaki yang duduk di dekat dan menatap ke arah api unggun itu tampak sedang bersedih. Dan gadis di sana bukan sedang menemaninya, bahkan itu bukanlah gadis kecil melainkan bayangan seorang gadis yang meninggalkannya. Makanya sosok gadis itu terlihat samar dan berukuran kecil karena itu bukanlah sosok gadis yang sebenarnya, melainkan hanya bayangan seorang gadis yang pergi menjauh.


Mungkin lelaki pada lukisan tersebut sedang meratapi kesedihannya dengan menatap ke arah api unggun setelah ditinggal pergi oleh seorang gadis yang sangat berarti baginya. Bahkan jika dilihat lagi, bentuk api unggun itu seperti bentuk hati yang terbalik yang mengartikan perasaan sakit atau patah hati. Itulah makna tersembunyi dari lukisan buatan Angga.


Damia mengerti semua itu sekarang. Mengerti rasa sakit hati yang dirasakan oleh Angga setelah dirinya menolak dan meninggalkan lelaki itu dahulu. Kini suster cantik itu bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu.


"Baguslah kalau kamu mengerti sama apa yang aku maksud. Maaf, kalau ucapan aku menyinggung perasaan kamu," ujar Linda


Damia hanya tersenyum kecil.


"Kalau begitu, aku ke luar dulu. Terserah kamu yang mungkin ingin berada di sini lebih lama untuk melihat lukisan di sini sebelum kamu pergi," sambung Linda


Linda pun beranjak ke luar dari ruang seni dan Damia juga memutuskan untuk ke luar dari sana bersama berjalan di belakang Linda.


Usai dari ruang seni, Damia beranjak masuk ke dalam kamarnya untuk beres-beres barang miliknya yang akan dibawa pergi dari rumah itu karena dirinya sudah akan kembali pulang ke rumah orangtuanya. Bagaimana pun suster cantik itu ada di sana untuk bekerja bukan untuk tinggal selamanya.


.


Bersambung.