Bougenville of Love

Bougenville of Love
7 - Localized Amnesia.



Setelah seminggu terus berada di rumah, hari ini adalah waktunya Angga untuk cek kontrol ke dokter di rumah sakit.


Ini adalah hari Senin pagi. Di mana Damia menyempatkan untuk pulang ke rumah orangtuanya saat hari Sabtu dan Minggu untuk mengunjungi dan memberi kabar update pada kedua orangtua serta mengambil lebih banyak pakaian untuk dibawa kembali ke rumah Angga. Barulah pagi hari di hari Senin Damia kembali ke rumah Angga dan sudah harus menemani Angga dan sang mama untuk melakukan kontrol cek up ke dokter di rumah sakit.


"Maaf, ya, Damia. Kamu baru saja kembali ke sini, tapi sudah harus menemani pergi lagi ke rumah sakit," ujar Mama Yuli


"Tidak apa-apa, Tante. Ini juga sudah jadi tugas saya untuk mendampingi Angga saat kontrol cek up ke dokter di rumah sakit," kata Damia


"Sudah. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang. Kan, habis dari rumah sakit, Mama sudah harus kembali bekerja. Padahal tidak usah ke rumah sakit juga tidak masalah kok. Aku juga sudah baik-baik saja," ucap Angga


"Tidak bisa seperti itu dong. Kalau sudah dijadwalkan ke dokter harus tetap pergi, kalau tidak pengobatan kamu akan terhenti. Kalau begitu, ingatan kamu akan semakin lama pulihnya. Konsultasi dan kontrol ke dokter adalah solusi terbaik untuk kamu saat ini," ujar Damia yang menegur untuk menasehati.


"Kamu dengar, tuh ... kalau Suster yang merawat kamu sudah bicara seperti itu, maka kamu harus patuh," kata Mama Yuli


"Iya, Ma. Aku ini anak baik yang akan menjadi patuh dengan perkataan Mama dan Suster," sahut Angga


Damia terkekeh pelan melihat tingkah Angga yang menurutnya tampak lucu.


"Ya sudah, ayo. Taksi online yang Mama pesan juga sudah hampir sampai. Kita tunggu di luar saja," ujar Mama Yuli


Damia bersama Angga dan sang mama pun ke luar dari rumah untuk menunggu taksi online yang telah dipesan. Saat mobil taksi datang, ketiganya pun menaiki mobil untuk menuju ke rumah sakit.


Bukannya di rumah Angga tidak ada mobil. Namun, karena sebagian keluarga sedang berada di luar kota, supir yang bekerja pun diliburkan. Biasanya Angga-lah yang akan menggunakan dan mengendarai mobil yang ada di rumah. Namun, karena baru tidak lama sembuh dari sakit setelah mengalami kecelakaan, untuk sementara waktu sang mama melarang Angga untuk mengemudi mobil.


Saat tiba di rumah sakit, ketiganya langsung turun dari mobil taksi setelah membayar tarif perjalanan dan segera masuk ke dalam rumah sakit untuk mengantre sebelum memasuki ruang kontrol untuk konsultasi dengan dokter.


Untunglah ketiganya pergi ke rumah sakit di pagi hari saat kegiatan rumah sakit di bagian kontrol dokter masih agak legang. Yang mengantre pun masih belum terlalu banyak dan panggilan untuk masuk ruang kontrol pun bisa cepat karena nomor antrean pun masih berada di angka 10 besar.


"Sebentar lagi waktunya Angga masuk untuk kontrol dokter. Antrean Angga ada di nomor 8," ujar Damia


"Waktu aku di rawat juga di dalam kamar nomor 8 dan nama bangsalnya itu Bougenville. Belum lama ini kita juga habis bahas tentang bunga kertas alias Bougenville ini," ucap Angga


"Benar. Suatu kebetulan yang tidak terduga," kata Damia


"Apa benar hanya suatu kebetulan atau suatu yang menjadi takdir?" tanya Angga


"Aku memang percaya ada suatu kebetulan yang bisa menjadi takdir, tapi memangnya takdir apa yang berasal dari bunga dan suatu angka? Bukankah terdengarnya sangat tidak masuk akal?" tanya balik Damia


"Ya, mungkin itu hanya pemikiran aku saja," jawab Angga


Angga pun termenung untuk berusaha mengingat sesuatu, tapi usahanya masih saja tidak membuahkan hasil. Sepertinya ingatannya yang saat ini hilang masih belum bisa pulih dalam waktu dekat.


Saat itu, perawat yang menyebutkan nomor antrean memanggil nama lelaki tersebut.


"Nomor antre 8 dengan nama Angga Purnomo Saputra!"


"Angga, waktunya kita masuk," kata Mama Yuli yang langsung membuyarkan lamunan sang putra.


"Iya, Ma," sahut Angga yang kembali tersadar dari lamunannya.


Saat Angga dan Mama Yuli masuk ke dalam ruang kontrol, Damia pun mengikuti di belakang anak dan ibu tersebut.


Saat Angga dan Mama Yuli duduk berhadapan dengan dokter, Damia berdiri di samping Angga untuk ikut mendampingi saat konsultasi.


"Pasien Angga, bagaimana kabarnya?" tanya sang dokter sambil membawa laporan riwayat dan daftar keluhan pasien saat dirawat di rumah sakit tersebut.


"Baik, Dok. Saya malah merasa sangat sehat," jawab Angga


Angga hanya bisa menggeleng sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari sang dokter.


"Bagaimana ini, Dok? Sebenarnya apa alasan anak saya bisa hilang ingatan saat yang terlihat adalah keadaannya yang baik dan biasa-biasa saja? Kapan ingatan anak saya bisa pulih lagi?" tanya Mama Yuli


"Menurut periode pada ingatan pasien Angga saat ini, memang benar jika pasien menderita hilang ingatan yang bersifat sementara dan sebagian. Jika ditelusuri, kemungkinan besar Kondisi seperti pada pasien Angga bisa dikategorikan sebagai Localized amnesia. Pada jenis amnesia ini, penderita tidak dapat mengingat apapun yang terjadi dalam periode tertentu atau apa pun tentang seseorang atau beberapa orang. Biasanya, ingatan yang hilang tersebut berhubungan dengan trauma tertentu," ungkap Dokter


"Pada kategori ini juga termasuk pada apa yang sering disebut sebagai amnesia psikogenik atau amnesia disosiatif. Pada kondisi ini, saat pasien sedang dalam stress dan depresi yang cukup berat, ditambah dengan trauma pasca kecelakaan akibat benturan keras di kepala, ingatan yang berkaitan dengan penyebabnya dapat diblokir sebagai bentuk pertahanan diri," jelas Dokter


"Amnesia ini terjadi ketika fungsi memori tidak berjalan semestinya tanpa adanya kerusakan otak struktural atau penyebab neurobiologis. Yang terjadi pada penderita adalah ingatan masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran seseorang dan tidak dapat diingat. Namun, memori tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar orang tersebut. amnesia ini terjadi dalam waktu singkat dan ingatan tersebut bisa kembali tiba-tiba. Pemulihan memori juga dapat terjadi dengan sendirinya, setelah dipicu oleh sesuatu di lingkungannya atau melalui terapi," sambung Dokter


"Amnesia karena stress, rasanya tidak mungkin. Apa itu memang benar?" tanya Angga bergumam sambil terus berusaha keras untuk mengingat kembali.


"Jangan terlalu dipaksakan untuk mengingat kembali. Kalau tisak pasien akan semakin merasa stress dan ingatan yang hilang malah semakin sulit untuk kembali. Atau bahkan akan memperparah keadaan dengan bertambahnya bagian dari memori yang akan hilang," ucap Dokter


Namun, rasanya seperti mustahil jika dirinya mengalami amnesia hanya karena stress. Memangnya selama ini ia punya masalah apa hingga mau tidak mau dan secara tidak sadar malah mengubur dalam-dalam suatu memori sebagai bentuk pertahanan diri? Angga yang terus berusaha keras untuk mengingat kembali sampai mengabaikan peringatan dari dokter dan malah membuatnya sakit kepala.


Angga memegangi kepalanya yang terasa sakit. Rasa nyeri yang terasa saat dirinya mengalami kecelakaan mulai kembali tanpa bisa mengingat kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi.


..."Apa yang sebenarnya telah terjadi sebelum kecelakaan saat itu? Apa yang sebenarnya telah aku lupakan? Apa dan siapa?" batin Angga bertanya-tanya....


Semua yang ada di dalam ruang kontrol dokter terus menyebut nama Angga, tapi lelaki itu tetap bergeming meski terduduk dalam kedua mata terbuka sambil memegangi kepala. Sang mama sampai merasa panik.


Hingga akhirnya Angga tersadar saat mendengar hentakkan suara Damia yang menggema di telinganya.


"Angga!" hentak Damia


"Ya, ada apa? Maaf, bisa pelan sedikit? Kepalaku sedang terasa sakit," ujar Angga


"Maaf, aku tidak bermaksud membentak kamu, tapi kamu membuat orang lain khawatir. Sudah berulang kali kubilang, jangan paksa mengingat kembali. Tante Yuli sampai panik," ucap Damia


"Maaf. Aku hanya sempat teralihkan sebentar," sahut Angga


"Tenangkan dirimu, Angga," kata Damia


Angga mengangguk kecil. Ia baru sadar bahwa sedari tadi satu tangan lainnya terus menggenggam tangan suster cantik itu. Lelaki itu langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Damia. Suster cantik itu pun langsung terulur untuk menepuk-nepuk punggung Angga sambil sesekali bergerak mengusap untuk menenangkan.


"Lalu, bagaimana ini, Dok?" tanya Mama Yuli


"Karena pasien sudah tampak baik-baik saja, saya hanya akan resepkan obat penenang. Obat ini hanya untuk diminum saat pasien mengalami masalah atau terjadi reaksi berlebih saat sedang berusaha mengingat kembali seperti tadi. Lalu, saya akan memeriksa luka yang ada sebelumnya, jika maaih belum sembuh total saya akan resepkan obat lagi," jawab Dokter


"Lalu, bagaimana dengan amnesia putra saya, Dok?" tanya Mama Yuli


"Untuk itu, sepertinya Angga butuh terapi. Namun, saya tidak bisa menangani karena bukan bagian saya. Kalau mau, saya bisa aturkan jadwal Angga untuk konsultasi pada psikolog untuk terapinya," jelas Dokter


"Apa harus sekarang, Dok?" tanya Mama Yuli


"Apa pasien tidak bisa? Kalau begitu, bisa diatur saat pasien punya waktu saja. Untuk saat ini pasien cukup menenangkan diri saja, melakukan terapi pun memerlukan proses yang tidak bisa hanya sekali langsung daoat hasil sempurna," ujar Dokter


.



Bersambung.