Bougenville of Love

Bougenville of Love
18 - Melukis.



Angga tertegun dan takut Damia marah padanya karena tidak menyahut saat suster cantik itu memanggilnya. Dan benar saja, kini suster cantik itu seolah enggan diajak duduk bersama.


"Ada apa, Damia? Kamu kenapa? Apa kamu tidak mau menemani aku duduk di sini? Apa kamu marah karena aku tidak menyahut saat kamu panggil tadi?" tanya Angga


"Aku tidak sedangkal itu, Angga. Aku emang mau menemani kamu makan camilan, tapi tidak di sini. Ayo, kita pindah ke ruangan lain," jawab Damia


"Ruangan lain ... ke mana?" tanya Angga yang menatap suster cantik itu dengan tatapan yang penuh arti.


"Jangan berpikir yang macam-macam. Maksud aku, kamu pasti punya ruangan untuk menyalurkan hobi kamu di rumah ini. Ayo, kita ke sana," ujar Damia sambil menyuapi sepotong kue kering ke dalam mulut Angga.


"Oh, yang kamu maksud mungkin adalah ruang seni di rumah ini. Dari mana kamu tahu kalau aku suka ke ruang seni untuk menyalurkan hobi? Terlebih lagi dari mana kamu tahu kalau di rumah ini ada ruang seni? Apa kamu menemukan ruangan itu saat berkeliling juga?" tanya Angga


"Ruang seni itu emang tempat untuk menyalurkan hobi berupa kesenian. Aku tidak menyebut itu adalah ruang seni, tapi kamu sendiri yang bilang seperti itu. Aku tahu soal ruang seni di rumah ini karena dulu kamu pernah cerita kalau kamu suka menghabiskan sebagian waktu kamu di sebuah ruangan karena minat kamu terhadap seni," jelas Damia


..."Begitu, rupanya. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak saat Damia mengajak aku pindah ke ruangan lain. Aku sudah sempat mengira kalau Damia mungkin ingin coba menggoda aku, tapi Damia tidak mungkin seperti itu. Akulah yang sudah berpikir telalu jauh," batin Angga...


"Bagus kalau kamu punya minat terhadap seni dan di rumah ini ada ruang seni. Ini adalah hal yang bagus untuk terapi kamu," ujar Damia


"Jadi, lagi-lagi ini soal terapi? Padahal kita baru saja habis olahraga bersepeda, lho. Apa sudah harus melakukan terapi lagi?" tanya Angga


"Kamu yang semangat dong dan harus banyak melakukan usaha juga seperti terapi seni ini. Ayo, kita beralih. Sekarang kita harus ke mana kalau mau ke ruang seni?" tanya balik Damia sambil menarik salah satu tangan Angga.


Angga melirik ke arah tangannya yang digenggam oleh Damia. Lelaki itu pun tersenyum sumringah.


..."Damia pegang tangan aku? Tadi dia juga sempat menyuapi aku camilan sekali, kan? Apa ini suatu kemajuan?" batin Angga...


"Kamu ini sok-sokan mau ajak aku beralih ke ruang seni, padahal kamu sendiri tidak tahu letak ruangannya. Sini, biar aku yang tunjukkan sama kamu letak ruang seni di rumah ini," ujar Angga


Kini giliran Angga yang menggenggam dan menarik tangan Damia untuk mengajak suster cantik itu beralih menuju ke ruang seni di rumah tersebut.


Begitu masuk ke dalam ruang seni, Damia langsung terpukau melihat isi ruangan tersebut yang penuh dengan barang hasil kesenian. Di sana ada alat musik keyboard dan gitar, lalu ada juga beberapa karya fotografi, lukisan, patung pahatan, dan gerabah.


Kaki Damia seolah terpanggil untuk melihat-lihat isi ruangan dari dekat hingga suster cantik itu langsung berkeliling di dalam ruangan penuh kesenian itu.


"Apa benar-benar harus melakukan terapi lagi? Aku rasa percuma saja karena nyatanya tidak ada hal yang aku ingat," ujar Angga


"Jangan pesimis seperti itu dong, Angga. Kita baru saja mau memulai dan ini baru kedua kalinya kamu melakukan terapi yang aku anjurkan. Seperti yang aku bilang tadi, kaku harus semangat berusaha," ucap Damia yang langsung berhenti berkeliling saat mendengar perkataan pesimistis dari Angga.


Melihat Damia berhenti saat asik berkeliling di dalam ruangan tersebut, Angga langsung membiarkan suster cantik itu melanjutkan sesi kelilingnya lagi. Damia benar-benar fokus melihat-lihat seisi ruangan tersebut hingga akhirnya berhenti karena merasa penasaran.


"Ruangan ini benar-benar suatu realisasi dari seni. Sampai ada alat musik juga. Gitar itu berbeda dari yang pernah kamu bawa saat terapi seni pertama, kan?" tanya Damia


"Gitar yang kemarin aku bawa dan pakai itu punya aku, sedangkan yang ada di sini adalah milik bersama. Yang suka main gitar di keluarga ini adalah aku dan kakak aku. Kalau yang suka main keyboard adalah aku dan papa," jelas Angga


"Tentu saja. Tidak semua karya seni di sini aku yang buat dan tidak semua juga buatan keluarga aku. Patung dan gerabah di sini adalah hasil pembelian dari beberapa pameran. Lukisan di sini juga ada yang hasil pembelian atau buatan aku, kakak, atau papa. Karya fotografi di sini juga ada yang hasil beli atau jepretan aku atau papa dan ada sedikit hasil jepretan mama. Yamg menurunkan minat kesenian di keluarga ini adalah papa karena papa adalah seorang seniman mesli tidak terkenal, sedangkan mama adalah seorang pembisnis. Meski begitu, mama juga sempat belajar tentang fotografi sama papa," ungkap Angga


"Begitu, rupanya. Rupanya minat seni kamu adalah bakat turunan dari papa kamu," ujar Damia


"Jadi, apa yang harus aku lakukan pada terapi seni kali ini?" tanya Angga


"Kalau boleh, aku mau lihat kamu melukis," jawab Damia


"Boleh kok, tapi saat ini aku sedang tidak ada niat untuk melukis. Jadi, apa yang harus aku lukis? Apa kamu punya ide atau saran?" tanya Angga


"Karena ini untuk terapi, coba lukis apa saja yang ada di benak kamu. Mungkin ada seauatu yang kamu ingat meski hanya samar, apa pun itu meski hanya bayangan gelap sekali pun. Atau kamu bisa coba lukis suatu hal yang buat kamu merasa bahagia. Perasaan senang itu baik selama proses terapi dan tuangkanlah perasaan kamu itu ke dalam lukisan yang kamu buat. Mungkin kamu bisa coba melukis suatu pemandangan indah yang kamu suka," jelas Damia


"Baiklah," kata Angga meski lelaki itu masih belum memutuskan apa yang akan dilukis olehnya.


"Sementara itu, apa kamu punya bahan dan alat untuk melukisnya saat ini juga?" tanya Damia


"Ada kok. Harusnya di ruangan ini ada perlengkapan untuk melukis yang komplit. Sebentar, aku cari dulu," jawab Angga


Angga pun mencari peralatan melukis di ruang seni tersebut. Sedangkan, Damia mengeluarkan ponsel miliknya untuk mengatur sesuatu.


"Aku akan menemani kamu melukis di sini. Sambil kamu melukis, kita juga bisa makan camilan dan mendengarkan lagu. Aku sudah atur HP aku untuk memutar lagu yang sama persis dengan yang aku pilihkan di HP kamu. Jadi, kamu bisa melukis dengan tenang," ucap Damia


"Ya, kamu benar. Rasanya jadi tenang dan sangat menyenangkan," kata Angga


Angga pun akhirnya menemukan peralatan melukis di ruangan tersebut dan langsung mengatur tataannya agar lelali itu bisa langsung melukis.


"Kalau begitu, aku mulai melukis, ya," ujar Angga


"Ya, silakan saja ambil waktu dan tempat yang nyaman untuk kamu melakukan hal menyenangkan yang kamu suka," kata Damia


Dari saat Angga menyiapkan perapatan melukis, ia masih belum bisa menentukan ide untuk lukisannya. Namun, saat lelaki itu memegang pensil untuk lebih dulu membuat sketsa, tangannya langsung bisa bergerak menggambar sketsa lukisan dengan lancar.


Senyuman terus mengembang pada bibir di wajah tampan Angga. Lelaki itu tampak sangat senang melukis saat ini.


Damia pun tampak dengan tenang menunggu lelaki itu menyelesaikan lukisannya sebagai bentuk terapi.


.


Bersambung.