Bougenville of Love

Bougenville of Love
61 - Melepas dan Merelakan.



Setelah sampai di rumah, Damia langsung masuk ke dalam kamar untuk segera istirahat karena besok akan masuk kerja di pagi hari.


Usai membersihkan badan dan berganti pakaian sebelum tidur, Damia berinisiatif untuk mengetik dan mengirim pesan pada sang kekasih.


Namun, belum sempat mengetik pesan, pada riwayat obrolah pada pesan dengan aang kekasih sudah lebih dulu ada pesan masuk dari kekasihnya yang tampan.


From: Angga.


Malam ini terasa menyenangkan meski hanya sebentar. Akhirnya aku bisa debut di depan dua orangtua kamu sebagai tahap awal menjadi pasangan kamu yang berlangsung selamanya. Sekarang aku sudah sampai di rumah dan sedang memikirkan kamu.


Damia terkekeh pelan saat membaca pesan masuk dari sang kekasih. Suster cantik itu pun langsung mengetik pesan balasan dan mengirimkannya pada sang kekasih.


^^^To: Angga.^^^


^^^Sama, aku juga sedang memikirkan kamu sebelum tidur. Padahal aku sudah berniat mengirim pesan untuk kamu, tapi ternyata kamu sudah lebih dulu mengirim pesan ke sini. Kamu adalah idola di hati aku, tentu saja kamu harus debut. Tapi, kalau ingin berlangsung selamanya, kenapa tadi kamu tidak bicara seperti itu saat di depan ibu dan ayah?^^^


Padahal niat awalnya hanya ingin mengirim pesan singkat dan segera tidur. Namun, sepertinya kali ini Damia akan berlarut saat berkirim pesan dengan sang kekasih. Terbukti dengan suster cantik itu terus tersenyum saat membaca dan berbalas pesan pada sang kekasih saat itu.


From: Angga.


Kamu salah. Kamulah idola di hati aku dan karena kamu sudah sangat terkenal di dalam hati aku, makanya aku memberanikan diri untuk debut juga. Lalu, saat awal debut, aku harus melakukannya secara perlahan. Seperti harus mengumpulkan popularitas dan kesan baik dari ibu dan ayah kamu. Akan ada saatnya kami akan bertemu lagi dan aku akan menyampaikan keinginan terbesar aku pada ibu dan ayah kamu. Damia, apa kamu sudah mau tidur?


Tak dapat dipungkiri bahwa Damia selalu bisa dibuat tersenyum hanya dengan membaca dan saling berkirim pesan dengan sang kekasih.


^^^To: Angga.^^^


^^^Benar. Karena besok jadwal aku masuk kerja shift pagi, jadi aku sedang bersiap untuk tidur, tapi aku ingin memberi tahu soal ini sama kamu sebelum tidur. Angga, apa kamu sudah memakan makanan yang kamu pesan di restoran sebelumnya? Kamu harus ingat untuk menjaga waktu makan dan istirahat dengan baik karena kamu harus fokus untuk menyusun skripsi. Semangat dan kamu pasti bisa segera lulus. Meski harus fokus menyusun skripsi, kamu jangan sampai lupa atau tinggalkan waktu makan dan istirahat agar selalu sehat sampai waktu lulus nanti.^^^


From: Angga.


Aku akan ingat pesan kamu dan tidak akan membuat kamu merasa khawatir lagi, tenang saja. Aku sedang makan makanan restoran itu saat ini. Kalau begitu, segeralah tidur agar besok tidak mengantuk saat bekerja. Semoga ada aku dalam mimpi indah kamu malam ini.


^^^To: Angga.^^^


^^^Kamu juga segeralah tidur berselang 1 jam setelah makan. Jangan begadang mesku sudah harus mulai mengerjakan skripsi.^^^


From: Angga.


Aku mengerti. Selamat malam dan selamat tidur. I love you.


^^^To: Angga.^^^


^^^Me too. Selamat malam.^^^


Usai mengirim pesan dengan salam penutup, Damia pun meletakkan ponsel miliknya dan segera istirahat. Suster cantik itu mulai memejamkan kedua mata dan tidur.


---


..."Masih belum mau membalas kalimat cinta dari aku, ya? Tapi, ini sudah lebih baik dari pada tidak ditanggapi sama sekali. Seperti ini saja aku sudah merasa sangat senang," batin Angga saat membaca pesan terakhir dari sang kekasih....


Tak jarang lelaki itu tersedak karena sering kali tersenyum dan tertawa saat sedang makan. Namun, usai berkirim pesan dengan sang kekasih, Angga pun bisa fokus pada aktivitas makannya setelah meletakkan ponsel miliknya.


•••


Keesokan harinya.


Usai sarapan bersama, Damia dan sang ayah sama-sama bersiap karena akan pergi bekerja.


"Damia, apa kamu mau berangkat kerja bareng sama Ayah? Pergi bareng pakai motor masing-masing juga tidak apa-apa. Meski tidak bekerja di tempat yang sama, setidaknya Ayah bisa menjaga kamu saat di jalan meski sebentar," ujar Ayah Dodi menawarkan diri.


"Tidak, Ayah. Ayah berangkat kerja duluan saja. Aku akan pergi sebentar lagi," kata Damia


"Memangnya kenapa? Apa kamu akan berangkat kerja sama pacar kamu?" tanya Ayah Dodi


"Tidak, bukan seperti itu, Ayah. Aku cuma mau santai sebentar karena sedang sakit perut. Biasa ... masalah perempuan," jawab Damia sambil memegangi perutnya yang sedang terasa kram.


"Oh, Ayah mengerti. Kalau begitu, nanti kamu hati-hati berangkat kerjanya. Kalau memang tidak bisa bawa motor sendiri, pesan ojek atau taksi online saja. Atau kalau bisa, cuti saja dulu," ujar Ayah Dodi


"Aku mengerti, Ayah. Tidak perlu khawatir. Ini hanya akan yerasa sakit sebentar saja," kata Damia


"Ayah pergi kerja dulu," sahut Ayah Dodi


"Hati-hati di jalan, Ayah ... " pesan Damia dan Ibu Rita secara bersamaan.


Ayah Dodi hanya mengangguk, lalu beranjak ke luar untuk pergi bekerja.


..."Pantas saja belakangan ini mood aku jadi naik turun, lebih sensitif, dan merasa malas. Rupanya aku mau datang bulan," batin Damia...


Jam masuk kerja Damia dan Ayah Dodi memang hampir berdekatan. Namun, tetap lebih awal jam masuk kerja Ayah Dodi dari pada jam masuk kerja Damia. Saat masuk shift pagi, terkadang Damia berangkat kerja bersamaan dengan sang ayah. Namun, tidak untuk hari ini karena Damia ingin lebih bersantai sejenak karena rasa sakit di perutnya akibat masalah perempuan di setiap bulannya.


"Damia, apa perut kamu terasa sangat sakit?" tanya Ibu Rita yang mengerti masalah anak perempuan semata wayangnya.


"Tidak kok, Bu. Hanya sedikit terasa kram. Setelah minum teh hangat juga akan hilang rasa sakitnya. Ini aku mau buat teh hangat dulu," jawab Damia


"Kalau begitu, biar Ibu saja yang buatkan teh hangatnya untuk kamu. Kamu tunggu saja di sini sebentar," ujar Ibu Rita


Damia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Sangat mengerti dengan kondisi sang putri, Ibu Rita pun beralih menuju dapur untuk membuatkan teh hangat.


Tak lama kemudian, Ibu Rita pun kembali dari arah dapur sambil membawa secangkir teh hangat yang langsung diberikan pada Damia.


"Ini teh hangatnya dengan sedikit gula," kata Ibu Rita


"Terima kasih, Bu," ucap Damia


"Sama-sama. Ayo, diminum dulu tehnya ... pelan-pelan," kata Ibu Rita


Ibu Rita yang sangat mengetahui kebiasaan sang putri yang suka meminum yang hangat dan mengurangi rasa manis, sengaja membuatkan teh hangat dengan sedikit gula.


"Perut aku sudah lebih terasa hangat dan mungkin sebentar lagi rasa sakitnya akan berkurang dan terus hilang," kata Damia usai menyeruput teh hangat buatan sang ibu.


"Ya sudah. Kalau begitu, habiskan dulu teh hangatnya dan santai saja. Kalau memang masih terasa sangat sakit, kamu izin dulu saja kerjanya hari ini," ujar Ibu Rita


"Tidak bisa seperti itu, Bu. Kalau bukan karena hal yang sangat mendesak, tidak boleh izin secara tiba-tiba. Tidak apa-apa kok. Kalau tidak kerja justru sakitnya akan semakin terasa berlarut-larut. Aku masih bisa mengatasi ini kok," ucap Damia


"Lagi pula, kalau pun ada yang terjadi, kan aku bekerja di rumah sakit. Tidak masalah," sambung Damia


"Ya ... jangan sampai ada masalah yang terjadilah," kata Ibu Rita


Damia hanya tersenyum kecil. Setelah meminum teh hangat sampai habis, suster cantik itu pun mulai kembali bersiap hendak pergi bekerja.


Setelah pamit, kini Damia sudah siap berada di atas motornya dengan mesin yang telah menyala. Sang ibu pun mengantarnya hingga depan rumah dan melihatnya pergi.


"Damia, hati-hati di jalan," pesan Ibu Rita


"Iya, Bu. Aku berangkat dulu," kata Damia


Damia pun mulai melajukan motor miliknya ke jalanan kompleks menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja.


Meski merasa tidak karuan karena baru hari pertama kedatangan tamu bulanan dan karena sudah merupakan kewajibannya, Damia pun tetap masuk kerja.


Usai memarkirkan motor miliknya di tempat yang seharusnya, Damia pun beranjak masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Langkah kaki Damia tidak lambat, namun tidak juga cepat karena ia sibuk menahan rasa sakit pada perutnya yang hebat karena baru hari pertama datang bulan.


Saat itu Damia melihat ada sosok mantan kekasih yang tak jauh darinya. Namun, suster cantik itu berusaha bersikap abai dan berpura-pura tidak melihat lelaki itu dengan mempercepat langkahnya seolah sedang diburu waktu.


Namun, tetap saja sang mantan kekasih melihat dirinya dan menghentikan langkahnya.


"Damia, tunggu sebentar ... " panggil Dokter Raffa


"Selamat pagi, Dokter Raffa. Maaf, saya sedang buru-buru. Permisi." Damia langsung hendak pergi setelah menyapa dengan sopan.


"Aku tahu kamu sudah melihat aku dari tadi. Kalau kamu pergi, aku akan menganggap kamu menghindari aku," ujar Raffa


Karena Dokter Raffa berkata seperti itu, Damia pun benar-benar menghentikan langkahnya. Suster cantik itu tidak punya pilihan lain karena jika saat ini ia benar-benar menghindar, maka bisa dianggap mengabaikan atasan atau lari dari tugas.


Damia pun menghela nafas pelan dan berbalik badan.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Dokter Raffa?" tanya Damia sambil berusaha menampilkan senyum profesionalnya


"Apa kamu yakin mau terus bersikap seperti ini sama aku? Lalu, kenapa hari ini kamu datang lebih telat dari biasanya?" tanya balik Raffa


"Kamu sudah tahu aku datang telat dari biasanya, harusnya kamu tidak menahan aku hari ini. Jadi, langsung katakan to the point saja dan tidak perlu basa-basi," kata Damia sambil memutar bola matanya secara perlahan dan mengubah cara bicaranya yang awalnya formal menjadi lebih santai.


"Baiklah, tolong dengarkan aku yang mau bicara. Damia, apa kamu yakin mau kita mengakhiri semuanya seperti ini setelah sejauh ini?" tanya Raffa


"Kita tidak cocok dan sudah tidak ada lagi yang harus atau bisa dipertahankan. Jika memang mau terus bertahan pun tidak akan berakhir baik dan hanya akan ada yang terluka, jadi lebih baik relakan saja semuanya," jawab Damia


"Lalu, maaf jika aku harus mengatakan ini. Sebenarnya sejak awal sampai akhirnya kita putus, aku tidak pernah punya perasaan sama kamu. Aku menerima perjodohan antara kita hanya karena kamu adalah lelaki pilihan kedua orangtua aku. Aku pikir semua akan berjalan dengan baik karena kedua orangtua aku berpikir demi kebaikan aku dan aku pikir bisa membahagiakan kedua orangtua aku, tapi ternyata ini tidak berbuah hasil. Jadi, jangan berpikir untuk mempertahankan hubungan yang sudah rusak ini hanya karena takut orangtua kita merasa kecewa karena nyatanya kita pun tidak bisa bersama," sambung Damia


"Maaf karena selama ini aku sudah menahan kamu. Jika saja dari awal aku menolak perjodohan ini dan berkata tidak suka, pasti kamu sudah bahagia sama kak Lisa. Maaf karena sudah jadi penghalang kebahagiaan kamu sama kak Lisa. Namun, karena semua ini sudah terjadi dan tidak ada jika pada kenyataan ini, maka jadikan saja semua ini sebagai pelajaran untuk kita. Biarlah semua ini berlalu," lanjut Damia lagi dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan tangis.


"Kamu yang sudah memutuskan untuk jadi seperti ini, jadi jangan menangis ... " kata Raffa yang paling lemah dengan air mata wanita.


"Raff, apa kamu salah lihat? Aku sama sekali tidak menangis," ujar Damia sambil tersenyum simpul.


Sebenarnya, bukannya tidak melainkan belum. Damia berusaha keras agar air matanya terus terhahan dan tidak ada satu pun yang menetes. Raffa pun menghela nafas pelan dan ikut tersenyum.


"Baiklah, aku memang salah. Aku juga minta maaf karena terus menahan kamu meski sudah punya perempuan yang lain yang aku suka. Harusnya aku langsung melepas kamu saat aku mulai suka sama perempuan lain. Maaf karena aku sudah membuat kamu tersakiti," ucap Raffa


"Tidak apa-apa. Di sini kita sama-sama salah," kata Damia


"Sebenarnya aku hanya mau menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Setelah itu, aku mau mulai menjalin hubungan yang lebih serius sama Lisa dan mungkin aku akan mulai merencanakan pernikahan kami berdua," ujar Raffa


"Ya, aku mengerti. Kamu dan kak Lisa memang terlihat cocok dan serasi. Pilihan kamu kali ini sudah benar. Fokus saja sama hubungan kamu dan kak Lisa, lalu buatlah dia bahagia. Semoga kalian berdua bahagia," ucap Damia sambil tersenyum.


"Terima kasih, Damia. Aku juga doakan kamu bisa bahagia sama siapa pun pilihan kamu," ucap Raffa


"Terima kasih kembali. Aku tunggu kabar baik dan undangannya segera," balas Damia


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Dokter Raffa. Saya harus absen secepatnya sebelum benar-benar terlambat. Selamat bekerja," sambung Damia yang kembali ke mode profesionalitas pekerja.


Damia pun segera beranjak pergi dari sana agar bisa mengejar waktu untuk memenuhi absen pagi pekerja di rumah sakit tersebut.


..."Padahal lagi kurang fit karena baru datang bulan, tapi pagi-pagi sudah bertemu masalah yang kurang menyenangkan. Untunglah kali ini semua masalahnya bisa diselesaikan sampai tuntas. Aku jadi merasa lega," batin Damia...


Perlahan, air mata Damia yang sedari tadi berusaha ditahan akhirnya menetes juga. Namun, Damia langsung menghapus air matanya dengan cepat. Perasaan sesak dan kekecewaan di dalam hatinya langsung berganti menjadi rasa lega. Air mata pun telah berganti dengan senyuman.


Raffa juga langsung beralih ke arah lain.


"Padahal sampai saat ini pun aku masih sangat suka sama kamu, Damia. Tapi, sepertinya kali ini aku benar-benar harus melepas dan merelakan kamu. Pantas saja hubungan kita jadi berakhir seperti ini, rupanya dari awal kamu memang tidak pernah suka sama aku. Dan bukannya aku menyadari perasaan kamu itu, aku malah berusaha untuk terus menahan kamu di sisi aku saat aku sudah suka dan menjalin hubungan sama perempuan lain. Aku tidak pernah tahu kalau putus sama kamu akan membuat aku merasa jadi lega seperti ini. Semoga kali ini aku memang sudah memilih jalan yang terbaik," batin Raffa


Sudah tidak ada lagi keraguan atau perasaan yang mengganjal dalam hati di antara sepasang mantan kekasih ini. Keduanya pun melanjutkan aktivitas dan bekerja masing-masing.


.


Bersambung.