
Damia pun membuka pintu kamar sang kekasih secara perlahan agar tidak mengganggu istirahat lelaki di dalam sana. Benar saja, saat pintu kamar terbuka, terlihat sang kekasih yang sedang tidur.
Melihat itu, Damia pun berjalan mendekat ke arah ranjang sambil terus memerhatikan sang kekasih.
"Angga terlihat tidak nyaman saat tidur. Mungkin karena panas tubuhnya," gumam Damia
Damia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi sang kekasih. Suster cantik itu memeriksa suhu tubuh sang kekasih dan karena dahi lelaki itu sudah ditempeli plester kompres, ia hanya bisa menyentuh bagian pipi.
"Masih panas," gumam pelan Damia
..."Padahal aku mau melihat Angga makan bubur yang sudah aku buat. Tapi, lebih baik tidak perlu mengganggu istirahatnya. Buburnya juga bisa dimakan kapan saja. Setelah dimasukkan ke dalam kulkas bisa dihangatkan lagi," batin Damia...
"Semoga cepat pulih, ya, Angga ... " gumam Damia
Sempat merasakan sentuhan yang nyaman di wajahnya dan mendengar suara yang indah, Angga pun terbangun dari tidurnya. Merasa terusik, lelaki itu pun membuka kedua matanya dan mengerjapkannya secara perlahan.
"Apa aku sedang berada di dalam mimpi atau aku sudah berada di surga? Atau aku sedang berhalusinasi dengan melihat bidadari?" tanya Angga bergumam lirih.
"Angga, kamu jangan bicara yang aneh-aneh dong," ucap Damia
"Damia, kamu datang ... jadi, ini sungguhan dan bukan mimpi?" tanya Angga
Damia hanya tersenyum saat melihat Angga kembali mengerjapkan kedua matanya dan sesekali menguceknya dengan punggung tangan untuk memperjelas penglihatannya.
Melihat sang kekasih ada di dekatnya, Angga pun berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya.
"Jangan banyak bergerak. Kamu istirahat saja dan tetaplah berbaring seperti itu," cegah Damia
"Kalau begitu, mendekatlah ke sini ... " ujar Angga meminta.
Angga meraih lengan sang kekasih dan menarik suster cantik itu agar berhenti berdiri menjadi duduk di tepi ranjang di dekat posisinya yang sedang berbaring.
"Apa kamu butuh sesuatu? Kalau sedang demam, harus banyak minum air putih agar menetralisir peningkatan suhu tubuh. Kalau begitu, aku ambilkan air putih dulu untuk kamu," ujar Damia
"Tidak perlu. Kamu di sini saja dan tetap temani aku," kata Angga yang langsung mencegah sang kekasih untuk pergi.
"Bagaimana kabar kamu? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Damia
"Aku merasa senang saat melihat kamu datang dan ada di sini. Sebenarnya aku baik-baik saja, hanya sedikit merasa panas. Ada kamu di sini, sudah cukup. Aku tidak butuh apa-apa," jawab Angga
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sedang sakit. Lagi pula, kenapa kamu tidak beri tahu aku kalau kamu sedang sakit?" tanya Damia
"Untuk apa kamu minta maaf? Itu tidak perlu. Aku memang baru mulai demam saat bangun tidur. Aku tidak memberi tahu kamu karena tidak ingin kamu merasa khawatir," jawab Angga
"Padahal kamu masih mengirim pesan untuk menanyakan kabar aku. Kenapa tidak sekalian saja bilang kalau kamu sedang sakit?" tanya Damia
"Aku merasa tidak perlu karena ini pasti akan cepat sembuh kalau aku istirahat," jawab Angga
"Jadi, kamu merasa aku tidak pantas untuk mengetahui keadaan kamu, ya?" tanya Damia
"Maksud aku bukan seperti itu, Damia. Lagi pula, kamu bisa tahu dari mana kalau aku sedang sakit? Padahal aku tidak dan belum beri tahu kamu?" tanya balik Angga
"Itu, kak Linda yang beri tahu aku lewat nomor HP kamu," jawab Damia
"Dasar, kak Linda ... " dumel Angga
"Jangan menyalahkan kakak kamu karene memberi tahu aku tentang ini," kata Damia
"Omong-omong, kamu bawa apa itu? Kenapa pakai repot-repot segala?" tanya Angga yang melihat ke arah bingkisan yang dibawa oleh sang kekasih.
"Tidak repot kok. Ini aku bawakan bubur dan buah untuk kamu makan," jawab Damia
"Apa buburnya kamu yang buat sendiri?" tanya Angga
"Benar, aku sengaja buatkan bubur ini untuk kamu. Apa kamu mau langsung coba memakannya?" tanya balik Damia sambil tersenyum.
"Akhirnya aku bisa makan mssakan buatan kamu lagi. Ya, aku mau langsung makan buburnya," jawab Angga dengan penuh semangat.
Angga pun langsung berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Lalu, Damia pun tidak tinggal diam dan membantu sang kekasih untuk duduk di atas ranjang.
"Pelan-pelan ... sini, biar aku bantu," kata Damia
"Tapi, tadi aku lupa bawa sendoknya. Jadi, aku ambil sendok dulu di dapur sekalian ambil air putih untuk minum kamu. Sebentar, ya," sambung Damia
Angga hanya mengangguk sambil tersenyum. Damia pun beralih dari dalam kamar sang kekasih menuju ke dapur untuk mengambil sendok dan segelas air putih. Suster cantik itu sudah tidak bingung lagi dengan tata letak ruangan seisi rumah tersebut karena pernah bekerja di sana sebelumnya.
"Maaf, Neng ini siapa dan mau cari apa?" tanya Bi Ina yang melihat sosok Damia yang baru ditemuinya sedang berada di dapur.
"Maaf, Bu ... saya temannya Angga yang datang menjenguk. Saya ke sini mau ambil sendok dan air minum untuk Angga," jelas Damia
"Saya ingat non Linda bilang mau ada pacarnya den Angga yang datang. Neng Mia, ya? Sudah tahu di mana sendok atau gelas dan air minumnya, Neng? Apa mau Bibi bantu ambilkan?" tanya Bi Ina
"Tidak usah, Bu. Saya sudah tahu tempatnya dan sudah diambil juga," jawab Damia sambil tersenyum dan tidak membantah saat Bi Ina mengatakan dirinya adalah pacar dari majikan mudanya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Mau temui Angga lagi," sambung Damia
"Iya, Neng. Silakan," kata Bi Ina
Usai mengambil sendok dan segelas air putih di dapur, Damia pun kembali beralih menuju ke kamar sang kekasih. Di sana Angga masih setia menunggunya.
"Kamu tidak menunggu lama, kan?" tanya Damia
"Tidak kok," jawab Angga sambil tersenyum.
..."Sebenarnya mulut dan lidah aku masih terasa pahit, tapi aku benar-benar tidak sabar mau makan masakan Damia lagi. Pasti rasa buburnya sangat enak," batin Angga...
Damia pun mengeluarkan kotak makan berisi bubur buatannya dan membuka penutupnya untuk Angga makan.
"Sebelum makan buburnya, kamu minum dulu. Supaya jadi tidak mudah merasa sulit menelan buburnya," ucap Damia sambil memberikan segelas air putih pada Angga untuk diminum.
Angga pun menuruti kata sang kekasih untuk minum sebelum makan. Setelah minum, Damia kembali mengambil alih gelas air dari tangan Angga untuk diletakkan di atas meja di samping ranjang sang kekasih di dekat tempat menaruh plastik buah yang dibawa olehnya.
"Biar aku suapi kamu makan. Kamu fokus saja menelan buburnya dengan baik," kata Damia
"Aku tidak sakit separah itu, lagi pula kalau hanya menelan bubur aku juga bisa. Meski begitu, aku senang kamu mau menyuapi aku untuk makan," ujar Angga
"Masakan yang kamu buat sudah pasti aku akan suka karena pasti rasanya enak," kata Angga
"Katakan tentang rasa buburnya setelah kamu mencobanya saja," sahut Damia
Damia pun mulai menyuapi satu sendok bubur ke dalam mulut Angga dan lelaki itu tampak menikmatinya.
"Bagaimana dengan rasanya? Apa buburnya masih terasa hangat?" tanya Damia
"Luar biasa. Rasanya sangat enak dan pas. Dari hangatnya, rasa gurih dari paduan ayam dan hati ayam, serta rasa manis dari jagungnya. Lezat sekali," jelas Angga
"Aku tidak menyangka rasa bubur ada yang seenak ini. Sudah aku duga, sih ... melihat penampilan saat kau baru membuka kotak makannya saja sudah menggugah selera. Aku sangat suka," sambung Angga
"Syukurlah kalau kamu memang suka dengan rasanya," kata Damia sambil tersenyum.
"Kenapa kamu seolah tidak tahu dengan rasa masakan yang kamu buat sendiri? Apa kamu tidak mencoba rasa buburnya saat sedang masak?" tanya Angga
"Sudah kok, tapi aku hanya mencicipi sedikit untuk memastikan rasanya saja. Lagi pula, saat itu aku sudah makan dan bubur ini memang aku buatkan untuk kamu," jawab Damia
"Terima kasih sudah membawa dan buatkan bubur ini untuk aku. Terlebih lagi kamu datang ke sini untuk menjenguk aku," ucap Angga
"Tidak masalah. Aku senang melakukannya," kata Damia
"Omong-omong, melihat dari waktu kamu datang ... bukannya belum lama dari waktu pulang kerja? Apa kamu langsung datang ke sini tanpa istirahat lebih dulu?" tanya Angga
"Sudah kok. Aku sudah makan dan itu sama saja dengan istirahat, lalu aku juga bisa melanjutkan istirahst setelah pulang dari menjenguk kamu di sini," jawab Damia
"Ya ampun, Damia ... kamu menjenguk aku yang sedang sakit, tapi bagaimana kalau kamu juga jadi sakit karena kurang istirahat?" tanya Angga
"Tidak ada bedanya dengan aku istirahat nanti kok. Kalau setelah pulang kerja, aku langsung istirahat juga akan cepat bangkit untuk membersihkan rumah. Yang penting aku istirahat dengan cukup," jawab Damia
"Bagaimana kalau kamu cukup istirahat, tapi karena telat istirahat, kamu juga akan jadi sakit? Aku tahu kamu merasa khawatir sama aku, tapi aku juga khawatir sama kamu," ujar Angga
"Aku tahu batasan diri sendiri, lagi pula hanya kali ini aku menunda waktu istirahat dan tidak akan ada lain kali. Kamu sedang sakit, jadi tidak perlu terlalu banyak merasa khawatir. Kamu hanya perlu fokus untuk pulih," kata Damia
"Kamu harus janji untuk langsung istirahat setelah pulang nanti," pinta Angga
Damia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan mengomel terus. Ayo, makan lagi buburnya dan habiskan. Apa kamu mau minum dulu?" tanya Damia
"Alu tidak merasa ingin minum atau haus. Aku ingin buburnya lagi," jawab Angga yang lalu mendapat suapan bubur lagi dari sang kekasih.
"Kalau bisa terus makan nasakan buatan kamu dan disuapi kamu seperti ini, aku rela sakit, deh ... " sambung Angga
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, tahu!" seru Damia memperingatkan sang kekasih.
"Aku hanya bercanda kok," sahut Angga
"Kamu sudah cukup menasehati aku, sekarang giliran aku. Lain kali, kamu jangan sampai telat makan lagi. Kata kak Linda, kamu jadi sakit karena sibuk dengan tugas kuliah yang menumpuk dan telat makan. Sibuk dengan aktivitas sehari-hari nemang boleh, tapi makan dan istirahat juga harus cukup," ucap Damia
"Setidaknya salah satu dari keduanya harus tercukupi. Mungkin kamu bisa utamakan makan lebih dulu karena seperti yang aku katakan, makan juga sama saja dengan istirahat. Karena biasanya saat sedang merasa sangat lelah dan memilih langsung istirahat dan tidur, kita akan jadi melewati waktu makan karena terlalu lama dan asik tidur. Selelah apa pun itu, usahakan untuk makan lebih dulu, sedikit pun tidak apa-apa. Setelah itu baru istitahat dan tidur," sambung Damia
"Baik. Aku mengerti, suster-ku yang cantik!" seru Angga
"Ini, makan lagi buburnya ... " kata Damia yang terus menyuapi sang kekasih.
..."Aku tidak salah, kan? Damia tidak lagi menolak saat aku bilang suster-ku dan mengklaim bahwa dirinya adalah milik aku. Hari ini dia juga langsung datang untuk menjenguk aku setelah kak Linda bilang kalau aku sedang sakit, padahal dia belum sempat istirahat setelah pulang dari kerja. Apa itu artinya perasaannya untuk aku sudah samakin bertambah besar? Aku harap memang seperti itu," batin Angga...
Damia terus menyuapi Angga hingga bubur buatannya habis tak bersisa.
"Buburnya sudah habis. Sekarang kamu minum dulu," kata Damia
Damia pun mengambil segelas air minum yang diberikan pada Angga untuk diminum.
"Terima kasih," ucap Angga usai meminum air putih.
"Sama-sama," balas Damia yang lalu kembali meletakkan gelas air di atas meja di samping ranjang.
"Sayang sekali buburnya sudah habis, padahal rasanya sangat enak," kata Angga
"Kalau kamu mau, lain kali aku bisa buatkan lagi untuk kamu. Mau makanan yang lain juga boleh, kamu tinggal bilang saja, tapi mungkin tidak bisa terlalu sering," ujar Damia
"Apa boleh seperti itu?" tanya Angga
"Aku yang bilang sendiri. Tentu saja, boleh ... " jawab Damia
..."Untuk saat ini mungkin memang tidak bisa terlalu sering masak untuk aku, tapi setelah kita menikah nanti pasti aku bisa setiap hari makan masakan buatan kamu. Membayangkannya saja sudah bisa membuat aku merasa sangat senang," batin Angga sambil tersenyum....
"Omong-omong, apa kamu sudah minum obat?" tanya Damia
"Sudah kok tadi. Sesudah sarapan dan sebelum tidur," jawab Angga
Damia pun memisahkan sendok dari kotak makan. Suster cantik itu pun kembali memasukkan kotak makan ke dalam paper bag untuk kembali dibawa pulang nanti. Lalu, dari dalam paper bag itu, Damia juga mengeluarkan sebuah botol yang seperti berisi air putih biasa.
"Oh, ya ... selain bawa bubur dan buah jeruk dan apel, alu juga bawa ini untuk kamu," ujar Damia
"Memangnya apa itu?" tanya Angga
"Ini air kelapa muda yang bagus untuk menurunkan demam. Apa kamu mau langsung minum air kelapanya?" tanya Damia lagi
"Tapi, aku sudah merasa kenyang," jawab Angga
"Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu bisa meminumnya nanti. Lagi pula, memang setelah minum obat jika ingin minum air kelapa harus berjarak sekitar 2 sampai tiga jam. Ini bisa dimasukkan ke dalam kulkas dulu, tapi harus tetap diminum, ya," ujar Damia
"Oke. Aku akan ingat untuk minum air kelapanya nanti," kata Angga
Saat itu, satu tangan Angga terulur untuk meraih dan menggenggam tangan Damia dengan lembut.
.
Bersambung.