Bougenville of Love

Bougenville of Love
92 - Kemungkinan Bisa Membenci.



Beberapa hari kemudian.


Akhirnya, hari Damia memiliki kesempatan untuk istirahat dan makan siang bersama Angga dan teman-teman dokter mudanya.


"Damia, ayo kita makan siang bareng," ajak Alina


"Maaf, hari ini aku ada janji mau makan sama Angga," tolak Damia secara halus.


"Ya sudah. Kalau begitu, aku makan siang sama suster lainnya saja, deh ... " ujar Alina


"Apa kamu mau ikut makan sama aku dan Angga saja? Kami tidak hanya berdua kok, ada teman Angga lainnya juga," tawar Damia


"Tidak, lain kali saja ... " tolak Alina


"Kalau begitu, jangan sampai ksmu bertengkar sama suster lain saat aku tidak ada. Jangan sampai kamu jadi bersitegang atau bertengkar atau perang dingin sama mereka," ujar Damia


"Ya, kamu tenang saja. Aku juga tidak mau jadi target permusuhan mereka, tapi kalau mereka bicara kelewatan, terpaksa aku ladeni," kata Alina


"Pokoknya kamu harus banyak bersabar," sahut Damia


"Oke, aku mengerti. Ya sudah, sana. Pacar kamu pasti sudah menunggu dan tidak sabar ingin bertemu," ujar Alina


Damia pun mengangguk. Dua suster cantik itu pun berpisah tepat setelah ke luar dari bangsal rawat saat waktu istirahat makan siang.


"Alina, tumben sekali kamu sendiri? Biasanya selalu sama Damia?"


"Damia ada janji makan siang sama pacarnya. Aku tidak mau mengganggu," jawab Alina


"Ya sudah, sini. Makan bareng kami saja di sini."


"Kalau begitu, aku gabung, ya ... " kata Alina yang akhirnya bergabung dengan para suster lainnya untuk makan siang bersama.


Begitu tiba di tempat janji temu, Damia tersenyum saat melihat sang kekasih yang melambaikan tangan ke arahnya. Damia pun menghampiri sang kekasih yang sudah menunggu bersama teman-temannya di sana.


Sebenarnya, Damia tidak terbiasa dan merasa kagum saat melihat sang kekasih yang memakai jas putih ala dokter sejak mengikuti program profesi di rumah sakit yang sama dengan tempatnya bekerja. Lelaki tampan yang berstatus sebagai kekasihnya itu tampak lebih memancarkan pesona akan karismanya dengan penampilan yang seperti itu.


"Ayo, duduk di sini ... " kata Angga yang mempersilakan sang kekasih untuk duduk tepat di samping kursi tempat duduknya.


"Maaf, lagi-lagi aku terlambat," ujar Damia yang langsung duduk di kursi yang disediakan oleh sang kekasih.


"Apa tugas di bangsal rawat selalu penuh dan bikin sibuk? Bahkan lebih sibuk dari tugas dokter muda?" tanya Rena


"Aku tidak terlalu tahu bagaimana rutinitas tugas dokter muda, tapi tugas mrrawat pasien di bangsal memang tidak mudah dan selalu padat juga sibuk. Ada saja pasien yang minta tolong ini dan itu atau ada saja tugas dadakan yang datangnya dari luar, seperti harus mengantar pasien melakukan pemeriksaan rontgen, CT-Scan, MRI, dan lain-lain. Kami harus terbiasa dengan kesibukan seperti itu yang sudah menjadi keseharian kami," ungkap Damia


"Sudah, berhenti bahas soal tugas dan pekerjaan. Sekarang adalah waktu kita untuk istirahat dari kesibukan itu dan nikmati saja waktu makan siang ini," ujar Tio


"Ayo, kita pesan makanannya dulu," kata Beno


"Damia, mau pesan apa?" tanya Angga


"Aku mau nasi dan ayam goreng saja. Minumannya air jeruk hangat," jawab Damia


Mereka pun mulai memesan makanan masing-masing dan makan bersama setelah pesanan makanan dihidangkan.


"Damia, apa kamu sudah ingat nama-nama kami semua?" tanya Rena


"Aku ingat. Yang paling cantik adalah Rena, lalu ada Beno, Joshua, dan tidak sempat bertemu saat acara wisuda adalah Tio," jawab Damia


"Berarti kami tidak perlu berkenalan lagi, ya, tapi, Damia ... Rena itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama kamu. Kamu lebih cantik," ujar Joshua


"Mulai, deh ... ke luar mode gombalnya! Ingat kalau sudah ada pacarnya di sini!" seru yang Angga memperingati teman lelaki tukang gombalnya itu.


Damia pun hanya tersenyum.


"Damia memang cantik dan kesannya beda dari waktu kita bertemu saat acara wisuda. Mungkin karena kalau di rumah sakit, kamu pakai seragam perawat ... " ucap Beno


"Sangat disayangkan saat itu kita tidak bertemu. Padahal aku juga mau lihat penampilan kamu yang berbeda dengan saat ada di rumah sakit seperti ini," ujar Tio


"Tidak beda jauh kok. Hanya pakaiannya saja yang beda," kata Damia


"Kamu tidak tahu seberapa ributnya mereka karena ingin bertemu kamu, Damia. Aku sampai lelah mendengarnya," ucap Angga


"Apa kamu pikir hanya kamu yang seperti itu? Aku juga sama, setiap hari ada saja pertanyaan dari suster lain untuk aku. Dari pertanyaan yang sama atau pertanyaan yang sangat berbeda, tapi aku biasa saja. Kalau aku bisa jawab, akan aku jawab sampai dia dapat jawaban yang buat dia merasa puas. Kalau aku tidak bisa atau tidak ingin jawab, aku diam saja dan cukup tersenyum. Itu adalah cara yang paling ampuh," ujar Damia


"Memangnya teman kamu sama teman aku itu sama? Lelaki itu berbeda sama perempuan, apa lagi kalau ada yang melihat senyum kamu. Orang lain yang melihatnya pasti langsung luluh dan diam, beda cerita kalau mereka semua ini lihat aku yang malah diam dan tersenyum saat ditanya atau diajak bicara. Yang ada aku malah dikira sudah gila karena tiba-tiba senyum-senyum sendiri," sahut Angga


Yang lain pun terkekeh pelan saat mendengar perkataan Angga. Mereka pun terus melanjutkan makan siang sambil mengobrol bersama.


"Kalian duluan saja. Masih ada waktu sampai jam istirahat makan siang berakhir, aku mau jalan-jalan sama Damia dulu sebentar," ucap Angga setelah makan siang usai.


"Kalian berdua mau ke mana? Tak ajak kami juga?" tanya Joshua


"Sudah, jangan ganggu Angga sama Damia ... " kata Rena


"Ayo, kita kembali saja ... " ajak Tio


"Jangan ganggu orang pacaran, Jo. Kalau lo tak mau jadi nyamuk atau kambing congek, mending ikut kita balik saja," bisik Beno


"Silakan nikmati waktu kalian berdua yang hanya sebentar ini," ucap Rena


Mereka pun berpisah di sana. Angga dan Damia, jalan berdua. Sedangkan, Rena, Beno, Joshua, dan Tio kembali bersiap untuk penugasan di rumah sakit.


Angga pun meminta Damia untuk mengajaknya berkeliling di sekitar area rumah sakit.


"Ke mana saja asal sama kamu. Biarkan saja mereka," jawab Angga


"Memangnya kamu rombongan dokter muda lainnya belum pernak diajak berkeliling saat baru hati pertama datang untuk tugas program profesi di sini?" tanya Damia


"Sudah pernah, sekali, tapi itu hanya ke tempat-tempat penting yang katanya akan sering kami kunjungi di sini. Aku masih belum tahu banyak tempat di sini," jelas Angga


"Kalau begitu, aku akan beri tahu kamu tempat untuk jalan pintas saat tempat tertentu sedang ramai pengunjung. Ini pasti akan membantu kamu untuk menghemat waktu saat diberi tugas bepergian di rumah sakit ini. Kamu sudah harus mulai mengingatnya dari tempat pertama kita berjalan dari tempat makan siang tadi," ujar Damia


"Ya, aku pasti bisa langsung ingat," kata Angga


..."Karena mulai sekarang tidak akan ada lagi momen yang aku lupakan saat aku sedang bersama kamu, Damia," batin Angga...


Damia pun mulai mengajak Angga untuk berkeliling di sekitaran rumah sakit. Keduanya berjalan melewati tempat yang terbilang sepi dan cocok untuk dijadikan tempat pemotong jalan.


"Damia, sejak awal aku datang untuk program profesi di rumah sakit ini, aku sudah mulai sering dengar tentang dokter mantan pacar kamu yang sudah tunangan sama pacar barunya itu. Kabarnya mereka juga akan segera menikah. Apa itu benar?" tanya Angga


"Ya, kabar itu memang benar," jawab Damia


"Bukannya pihak perempuannya adalah kepala perawat di bangsal rawat kamu? Setelah hari pertama, rombongan dokter muda kamu sesekali mengunjungi bangsal rawat itu lagi dan aku ingat seperti apa orangnya. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Angga


"Ya, namanya Lisa. Tentu, aku baik-baik saja. Memangnya aku harus seperti apa lagi? Apa kamu mengira dan berharap aku akan sedih karena kabar seperti itu?" tanya balik Damia usai menjawab.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku justru senang kalau kamu baik-baik saja, tapi semua terjadi dengan cukup cepat setelah kamu putus sama mantan pacar kamu itu, kan? Apa benar-benar tidak masalah?" tanya balik Angga lagi.


"Ya, tidak masalah kok. Aku sudah sering mendengar tentang banyak hal di sini. Tentang apa pun itu, aku sudah terbiasa. Dari pada aku yang dianggap sebagai bagian sari masa lalu dari topik itu, lebih kasihan dua peran utama topik tersebut saat masih banyak orang yang membicarakan kisah mereka sambil menyangkut-pautkannya sama aku. Padahal mereka sedang berbahagia, tapi masih saja mendengar pembicaraan yang kurang enak didengar," ungkap Damia sambil tersenyum.


"Wah ... pacar aku sangat bijaksana!" seru Angga


"Mulai berlebihan lagi, deh ... biasa saja kok," kata Damia


"Bagi aku, kamu itu luar biasa ... " puji Angga


Keduanya pun terkekeh kecil bersama.


..."Kenapa aku terus merasa ragu dan gugup seperti ini, ya? Kalau terus seperti ini, kapan aku bisa kasih cincin ini untuk melamar Damia? Padahal aku sudah menyiapkan cincin ini sejak hari pertama aku menjalani program profesi di rumah sakit ini. Sekarang juga kami hanya berdua, bukannya suasana ini sangat mendukung? Atau, apa masih kurang karena tidak ada suasana romantisnya?" batin Angga...


Awalnya keduanya tidak berjalan sambil bergenggaman tangan seperti biasa karena mengingat kini keduanya berada di rumah sakit tempat bekerja, rasanya kurang etis jkka keduanya malah sengaja bermesraan di sana. Namun, Angga merasa tak tahan lagi. Lelaki itu pun secara perlahan dan dengan diam-diam meraih satu tangan Damia untuk digenggam olehnya.


"Damia, masing-masing mantan pacar kita sudah bertunangan dan bahkan ada yang sudah merencanakan pernikahan. Lalu, bagaimana dengan kita?" tanya Angga


"Aku tidak terlalu memikirkan hal seperti itu karena bagi aku seperti saat ini pun cukup menyenangkan. Lagi pula, kamu belum lama ini baru mulai program profesi dan aku pun masih menikmati waktu mencari uang hasil kerja sendiri. Bukannya.seperti ini saja sudah cukup?" tanya balik Damia


"Begitu, rupanya. Kamu pernah bilang kalau aku baru boleh melamar kamu setelah ingatan aku tentang kita di masa lalu kembali pulih. Apa itu sungguhan?" tanya balik Angga lagi.


"Memangnya aku pernah bilang seperti itu?" tanya Damia yang merasa tak ingat pernah berkata hal demikian.


"Ya, pernah. Itu tepat sebelum kamu tertidur saat kita berkeliling di kampus saat acara wisuda kelulusan kuliah aku," jawab Angga


"Begitu, rupanya. Sepertinya aku bicara melantur karena mengantuk karena tidak sadar sudah bicara seperti itu. Aku ssperti sedang mabuk saja karena meski bicara tidak karuan, ucapan itu memang adalah hal yang aku inginkan," ujar Damia


"Kamu juga bilang, kalau aku tidak boleh memaksakan diri untuk mengingat kembali masa lalu itu meski kamu menginginkannya," ucap Angga


"Ya, itu memang benar. Aku selalu menegaskan hal itu sama kamu," kata Damia


"Bagaimana kalau ternyata aku sudah mengingat semua masa lalu kita?" tanya Angga


"Benarkah? Apa yang kamu ingat? Lalu, bagaimana menurut kamu?" tanya balik Damia.


Damia mulai memperlambat langkahnya, Angga merasa senang karena itu bisa membuat keduanya bersama lebih lama. Namun, saat Angga menatap ke arah sang kekasih, dilihatnya Damia yang menunjukkan tatapan dengan rasa bersalah di dalam pancaran matanya.


..."Kenapa lagi-lagi aku merasa seolah Damia merasa bersalah sama aku? Kalau memang benar, sebenarnya kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai harus terus merasa bersalah seperti ini?" batin Angga...


..."Apa kamu sudah mengingat semuanya, Angga? Lalu, apa keputusan kamu setelah mengingat semua masa lalu kita? Apa kamu jadi membenci aku karena aku pernah menolak perasaan kamu dulu?" batin Damia...


Saat itu Angga pun tersenyum.


"Menurut aku, apanya? Masa lalu kita adalah hal yang menyenangkan. Itu pasti," ujar Angga


"Kamu masih belum mengingatnya, kan?" tanya Damia


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi di masa lalu sampai aku harus mengingatnya dulu baru boleh melamar kamu?" tanya balik Angga yang mulai tidak sabar dengan rasa penasarannya.


"Semua hal terjadi di masa lalu itu adalah kisah kita. Tidak adil jika hanya aku yang msngingatnya. Semuanya termasuk dari yang menyenangkan hingga yang menyakitkan. Kamu juga harus mengingatnya hingga saat itu kamu baru bisa memutuskan mau terus menjalani hubungan kita ke tahap selanjutnya atau justru kamu mau membenci aku selamanya. Saat itu aku akan menerima apa pun keputusan kamu," ungkap Damia


"Apa yang sudah terjadi dan apa yang kamu lakukan sampai kemungkinannya adalah aku bisa saja membenci kamu? Apa kamu tidak bisa beri tahu aku sesuatu supaya aku bisa lebih cepat dan mudah mengingat semuanya kembali?" tanya Angga


"Atau kamu ceritakan saja semuanya sama aku, maka aku akan mengambil keputusan setelah itu," sambung Angga meminta.


"Tidak bisa. Harus kamu sendiri yang mengingatnya lebih dulu, baru kamu bisa mengambil keputusan. Tidak boleh karena cerita aku, baru kamu mengambil keputusan. Kalau tidak, keputusan yang kamu ambil nanti bukan hasil dari diri kamu sendiri melainkan karena pengaruh dari aku," jelas Damia


"Sudah aku bilang petunjuknya adalah kemungkinan kamu bisa membenci aku," sambung Damia


"Aku tidak peduli meski kamu mempengaruhi aku, tapi aku pasti tidak akan pernah bisa membenci kamu apa pun alasan yang terjadi. Kamu ceritakan saja semua yang terjadi di masa lalu sama aku," ujar Angga


"Sudahlah, kita bahas soal ini lain kali saja. Kita sudah harus kembali," kata Damia


Damia pun hendak membawa Angga untuk kembali menjalankan tugas masing-masing di rumah sakit tersebut. Namun, tiba-tiba saja Angga menghentikan langkahnya bersamaan dengan semakin erat genggaman tangannya pada tangan Damia.


.


Bersambung.