Bougenville of Love

Bougenville of Love
38 - Mengantar Pulang.



Meski bukan bermesraan, setidaknya dengan mengobrol bersama, Damia dan Angga bisa menjadi lebih dekat lagi.


"Orang bilang, aku ini orangnya kaku, sulit bergaul, dan cuek. Aku rasa itu benar. Aku tidak terlalu suka banyak bicara kecuali memang dibutuhkan dan aku juga tidak terlalu suka ikut campur masalah orang lain. Aku yang seperti ini terkadang merasa tidak cocok untuk menjalin hubungan seperti berpacaran karena akan dibilang tidak perhatian," ucap Damia


"Mereka yang menganggap kamu seperti itu berarti tidak mengenal kamu dengan dekat, tapi aku tidak merasa seperti itu," kata Angga


"Memangnya kamu tahu? Atau mungkin, apa kamu sudah mengingat sesuatu? Padahal kamu masih lupa dengan masa-masa kedekatan kita dulu dan kita baru dekat lagi setelah bahkan belum sampai satu bulan?" tanya Damia


"Aku memang masih belum ingat, tapi alu tahu dan bisa merasakannya selama kita jadi dekat lagi kalau kamu orang yang baik hati dan perhatian," jawab Angga


"Apa kamu tidak menyadari hal itu pada diri kamu sendiri? Atau, apa kamu hanya seperti ini karena aku termasuk pasien yang kamu rawat?" tanya Angga melanjutkan.


"Hmm ... entahlah. Orang bilang, terkadang yang bisa menilai kita seperti apa adalah orang lain dan bukan diri kita sendiri. Mungkin aku adalah tipe orang yang seperti itu," jawab Damia


"Atau, apa sebenarnya kamu menyesal sudah menerima dan pacaran sama aku?" tanya Angga


"Tidak seperti itu kok. Aku hanya ingin kamu tahu supaya kamu tidak menyesal karena sudah berpacaran sama aku," jawab Damia


"Aku tidak akan seperti itu. Aku ini tidak seperti kamu yang tidak bisa menilai diri sendiri dengan baik. Aku yakin kalau aku tidak salah memiliih kamu untuk jadi pacar aku," kata Angga


Damia pun hanya tersenyum.


Masih berada dalam perjalanan di dalam mobil, Angga tampak fokus menyetir dan melihat ke arah jalan. Sesekali lelaki itu juga melirik ke arah suster cantik yang berada dan duduk di sampingnya.


"Lalu, untuk hal ini ... aku tidak tahu aku suka dengan lelaki seperti apa, alias aku tidak bisa menentukan tipe ideal terhadap seorang lelaki. Tapi, aku adalah tipe orang yang tidak terlalu suka melakukan kontak fisik terlebih pada lelaki dan lainnya sudah aku sebutkan sebelumnya, lalu aku juga selalu merasa canggung jika berada dalam suasana romantis. Aku rasa aku tidak cocok dengan hal yang seperti itu dan bagi aku hal ini lebih seperti prinsip," ucap Damia


"Aku hanya ingin kamu tahu karena mungkin saja kamu merasa penasaran," sambung Damia


..."Ya, aku memang sempat merasa penasaran dan kali ini aku sudah menemukan jawabannya karena kamu yang lebih dulu berinisiatif untuk memberi tahu aku," batin Angga...


Terus melaju di jalan, akhirnya dari dalam mobil terlihat gerbang masuk sebuah kompleks perumahan minimalis.


"Sudah sampai di gerbang, kita berhenti saja," pinta Damia


"Kenapa kita tidak masuk saja dan berhenti di depan rumah kamu?" tanya Angga


"Meski ini adalah kompleks perumahan minimalis sederhana yang biasa, tapi keamanannya dijaga ketat. Bagi kendaraan asing tidak boleh masuk ke dalam," jawab Damia


Tepat di depan gerbang masuk, Angga pun memberhentikan laju mobil yang dikendarai olehnya.


"Aku turun di sini saja. Tolong buka pintu mobilnya," pinta Damia


Namun, Angga tetap bergeming diam. Pintu mobil pun masih terkunci hingga Damia tidak bisa beranjak ke luar dari dalam mobil.


Melihat mobil yang berhenti di sana, terlihat seorang penjaga gerbang kompleks pun berjalan menghampiri mobil tersebut. Lalu, Angga pun menurunkan kaca mobil.


"Permisi. Apa ada yang bisa dibantu?" tanyanya


"Oh, Neng Damia, toh ... saya kira siapa? Sama pacar barunya, ya, Neng?" Penjaga gerbang itu lanjut bertanya saat melihat sosok Damia yang juga berada di dalam mobil tersebut.


"Pak, bisa tolong bukakan gerbangnya? Sebentar lagi saya ada jadwal kuliah, tapi saya mau antar pacar saya dulu sampai ke tujuan, yaitu rumahnya ... dengan aman dan selamat. Saya janji hanya sebentar kok," pinta Angga


"Boleh kok, tapi sebagai syarat, Mas-nya harus kasih tahu namanya dulu supaya saya mudah panggil dan tidak salah sebut nama pacarnya Neng Damia," ujarnya


"Nama saya Angga, Pak. Pacarnya Damia," ucap Angga


"Oke, Mas Angga. Saya sudah ingat. Silakan masuk," katanya


"Terima kasih, Pak," ucap Angga dan Damia secara serempak.


Penjaga tersebut pun membukakan gerbang dan mempersilakan Angga untuk melajukan mobilnya masuk ke dalam area kompleks perumahan minimalis tersebut.


..."Apanya yang supaya mudah panggil dan tidak salah sebut nama? Pak Amin pasti melapor ke ibu dan ayah soal aku yang sudah punya pacar baru. Padahal aku belum sempat kasih tahu ibu dan ayah kalau aku sudah putus sama Raffa. Apa ini akan jadi masalah nantinya? Aku harap tidak," batin Damia...


Damia yang melamun karena memikirkan tentang kedua orangtuanya jadi kembali tersadar saat mobil yang dikemudikan oleh Angga sudah hampir sampai di depan rumahnya.


"Angga, berhenti di sini," pinta Damia


"Memangnya benar, ini rumah kamu?" tanya Angga yang meski bertanya demikian, namun susah lebih dulu menghentikan laju mobil yang dikemudikan olehnya.


"Rumah aku ada tepat di samping rumah tempat kita berhenti. Hanya berjarak satu rumah kok. Tidak apa-apa, aku turun di sini saja," jawab Damia


"Kenapa kamu tidak biarkan aku berhenti tepat di depan rumah kamu saja? Apa kamu sebegitu tidak ingin aku melihat rumah kamu? Kamu tidak bohong kalau itu rumah kamu, kan? Atau kamu tidak mau aku sampai bertemu ibu dan ayah kamu?" tanya Angga


"Bukan seperti itu kok. Aku pikir supaya tidak terlewat, tapi ternyata malah kurang sedikit. Tidak ada apa-apa yang bisa kamu lihat juga di rumah aku karena ibu dan ayah masih kerja, jadi rumah aku sedang kosong dan tidak ada siapa-siapa," ungkap Damia


"Kalau begitu, bagaimana cara kamu bisa masuk? Kalau tidak ada orang di rumah, pasti pintu rumahnya terkunci, kan?" tanya Angga


"Aku masih bisa membukanya karena aku selalu simpan kunci cadangan. Dari pada itu, kenapa kamu malah masuk ke sini padahal aku sudah lebih dulu minta kamu supaya berhenti di depan gerbang masuk saja?" tanya balik Damia usai menjawab.


"Karena aku mau tahu letak pastinya rumah kamu. Memangnya kenapa, kok kamu sepertinya sangat tidak mau aku tahu?" tanya balik Angga lagi usai menjawab.


"Karena kamu sudah mau masuk kuliah lagi hari ini. Aku tidak mau kamu terlambat di hari pertama masuk kembali setelah cuti sakit," jawab Damia


"Masih ada waktu sebelum jadwal kuliah aku hari ini. Tenang saja," kata Angga


"Ya sudah, aku mau turun. Tolong bukakan pintu mobilnya," pinta Damia


Angga pun membuka kunci otomatis pintu mobilnya, lalu Damia langsung membuka pintu mobil tepat di sampingnya itu. Padahal Angga mengira, suster cantik itu minta dibukakan pintu mobil dari luar olehnya.


"Aku kira kamu minta aku buka pintu mobil untuk kamu dari luar," ujar Angga


"Aku bisa sendiri kok. Aku hanya minta kamu bukakan kunci otomatis pintu mobilnya," kata Damia sambil tersenyum kecil.


Damia pun turun dari mobil milik sang kekasih dan Angga langsung mengikuti suater cantik itu ke luar dari dalam mobil.


Saat Damia membuka pintu mobil belakang untuk mengambil tas miliknya, Angga sudah lebih dulu membuka pintu mobil belakang yang bersebrangan untuk mengambilkan tas milik sang kekasih.


"Ini, tas kamu biar aku yang ambilkan," kata Angga


Angga pun memutari mobil miliknya untuk menghampiri Damia dan menyerahkan tas yang diambil olehnya pada sang pemilik dan sekaligus pujaan hatinya.


"Terima kasih," ucap Damia sambil tersenyum.


"Sama-sama," balas Angga tersenyum pula.


Keduanya saling menatap dalam diam. Tampaknya keduanya merasa canggung karena enggan untuk berpisah.


"Kamu juga sama. Kerja jangan sampai kelelahan," kata Angga


"Hati-hati menyetir mobil ssat kembali pulang atau kuliah nanti. Pokoknya harus hati-hati saat bepergian," pesan Damia


"Aku mengerti, Mia," sahut Angga


"Dulu aku selalu tidak suka saat orang lain memanggil aku Mia, bukan Damia, tapi sekarang rasanya tidak masalah jika Angga yang memanggil aku seperti itu," batin Damia


"Ya sudah ... sana, kamu masuk ke dalam rumah," ujar Angga


"Rumah aku sudah sangat dekat. Aku bisa masuk ke dalam rumah nanti setelah melihat kamu pergi," ucap Damia


"Kamu pulang saja dulu. Terima kasih sudah mengangar aku pulang sampai ke rumah," sambung Damia


"Aku yang harusnya mengatakan terima kasih karena sebelumnya kamu selalu merawat aku dengan baik dan sabar," kata Angga


"Kalau ada masalah apa pun, jangan sungkan untuk bercerita sama aku. Kamu bisa menghubungi nomor HP aku atau sekalian meminta untuk bertemu. Aku akan meluangkan waktu," ujar Damia


"Ya sudah. Aku pulang dulu, ya ... " pamit Angga


"Ya. Hati-hati di jalan," pesan Damia


Angga pun kembali berjalan dan masuk ke dalam mobil miliknya. Saat kaca jendela diturunkan dan lelaki di dalamnya melambaikan tangan, Damia pun ikut melambaikan tangannya untuk membalas.


Mobil milik Angga kembali melaju berbalik arah ke luar dari kompleks perumahan minimalis tempat Damia tinggal. Setelah memastikan mobil milik kekasih barunya telah menghilang dari pandangan, suster cantik itu pun beralih menuju ke rumahnya dan masuk ke dalam sana setelah membuka kunci pintu.


 


Saat tiba kembali di rumahnya, rupanya asisten rumah tangga di sana sudah kembali untuk bekerja. Wanita paruh baya yang sering disebut Bi Ina itu datang menghampiri Angga yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Den Angga, Bibi kira sudah berangkat kuliah," katanya Bi Ina


"Eh, Bi Ina sudah datang. Saya tadi pergi sebentar ada perlu lain, Bi, sebelum berangkat kuliah," ujar Angga


"Den Angga, bagaimana kabarnya? Katanya sempat sakit setelah kecelakaan sampai lupa ingatan? Apa itu namanya ... anemia atau insomnia? Tapi, Den Angga tidak lupa sama Bi Ina, kan?" tanya Bi Ina


"Yang benar itu Amnesia, Bi. Tenang saja, aku cuma lupa sama kejadian 3 tahun terakhir ini, jadi kalau sama Bi Ina, aku masih ingat," jelas Angga


"Bagaimana dong? Bukannya itu waktu Den Angga baru-baru masuk kuliah?" tanya Bi Ina


"Sudah mendingan, Bi. Aku sudah mulai ingat sedikit-sedikit waktu kuliah dulu, jadi aku sudah mau mulai masuk kuliah lagi setelah cuti sakit," jawab Angga


"Baguslah, kalau begitu. Semoga cepat pulih, ya, Den ... supaya bisa ingat semuanya lagi tanpa ada yang lupa lagi," ujar Bi Ina mendoakan.


"Semoga, Bi. Aamiin. Terima kasih doanya, Bi," ucap Angga


"Sama-sama, Den. Pokoknya sehat terus, ya, Den ... " sahut Bi Ina


"Iya, Bi. Kalau begitu, aku mau siap-siap dulu sebelum berangkat kuliah," ujar Angga


"Iya, Den. Silakan," kata Bi Ina


Angga pun beralih untuk bersiap sebelum hendak pergi kuliah.


Setelah bersiap dan sudah waktunya untuk berangkat kuliah, Angga pun berpamitan dengan sang papa dan Bi Ina yang berada di dalam rumah.


Saat beranjak ke luar dari rumahnya, Angga berpapasan dengan supir yang biasa bekerja di rumahnya yang baru datang dan kembali bekerja setelah cuti.


"Pak Adi!" seru Angga sambil menyebut nama supir pekerja rumahnya.


"Den Angga, sudah rapi saja. Mau pergi ke mana? Apa perlu saya antar?" tanyanya, Pak Adi.


"Tidak usah, Pak. Aku setir mobil sendiri saja," jawab Angga


"Pak Adi, lebih baik istirahat dulu, kan, baru sampai ... " sambung Angga


"Loh, memangnya Den Angga sudah bisa dan boleh setir mobil sendiri? Katanya sempat sakit setelah kecelakaan? Bagaimana kabarnya, Den?" tanya Pak Adi.


"Sudah lebih baik, Pak. Makanya, aku mau berangkat kuliah, nih. Takut terlalu jauh tertinggal mata kuliah kalau terlalu lama cuti," jelas Angga


"Ya sudah. Hati-hati di jalan, Den ... " pesan Pak Adi


"Siap, Pak. Aku pergi dulu. Permisi," pamit Angga


Angga pun masuk ke dalam mobil miliknya dan menjalankan mesin mobil itu untuk ke luar dari rumahnya menuju ke kampus.


..."Semuanya tampak khaeatir dan menanyakan keadaan aku, padahal aku baik-baik saja. Apa lagi hari ini aku juga sudah resmi jadi pacar Damia. Meski kami jadi lebih sulit bertemu untuk saat ini, tapi aku merasa sangat senang," batin Angga...


Setelah sampai di universitas tempatnya berkuliah, Angga langsung bertemu Rena setelah memarkirkan mobil miliknya.


"Tidak salah lagi, itu Angga! Aku kira dia masih cuti," batin Rena


..."Aduh, kenapa harus langsung ketemu sama dia, sih?" batin Angga...


Dilihatnya, perempuan yang merupakan mantan pacarnya itu berjalan menghampirinya.


"Angga, kamu sudah mulai kuliah lagi? Bagaimana kabar kamu?" tanya Rena


"Aku baik-baik saja. Ingatan aku juga sudah mulai pulih sedikit demi sedikit, jadi aku mulai kuliah lagi karena tidak mau tertinggal mata kuliah terlalu lama," jawab Angga


"Sudah dulu, ya, Rena. Aku sedang buru-buru ada urusan," sambung Angga yang langsung berlalu pergi dari sana.


"Dia sudah mulai ingat lagi. Apa dia sudah ingat semuanya? Karena terburu-buru pergi, aku jadi tidak bisa bertanya lagi," gumam Rena


Sebenarnya Angga pergi bukan karena ada urusan, itu hanya alasannya saja. Lelaki itu hanya belum ingin berurusan lagi dengan mantan pacarnya secepat ini.


 


Setelah lewat tengah hari, Damia pun bersiap ke rumah sakit untuk kembali bekerja di sana.


Merasa tidak bisa jika tidak melakukan apa-apa, Damia memutuskan untuk kembali bekerja. Karena jadwal kerjanya hari ini adalah shift sore yang dimulai sejak jam 2 siang, Damia pun mulai bersiap sejak jam 1 siang.


.


Bersambung.