
Damia tersenyum menatap sang kekasih, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Di sini sangat ramai, ya, banyak juga yang lulus hari ini. Banyak juga kerabat dan keluarga yang ikut hadir," ujar Damia
"Benar. Oh, ya ... keluarga aku juga datang. Mereka juga ikut menunggu kamu karena aku bilang kamu akan datang dan mereka ingin bertemu, katanya karena rindu," ucap Angga
"Aku jadi merasa tidak enak karena datang terlambat," kata Damia
"Tidak apa-apa kok. Mereka juga pasti mengerti. Ayo, kita hampiri mereka ... " ajak Angga
Angga pun mengajak Damia beranjak bersama untuk menemui keluarganya yang juga menghadiri acara wisuda kelulusan kuliahnya.
"Jadi, apa buket bunga yang kamu pegang itu dari keluarga kamu?" tanya Damia
"Ya, tadi kak Linda memberi buket bunga ini untuk aku. Kamu tenang saja karena aku tidak akan menerima bunga dari perempuan lain selain dari kamu, mama, atau kak Linda. Jadi, kamu tidak perlu berpikir berlebihan tentang aku yang menerima bunga ini, ya," jelas Angga
"Aku tidak akan seperti itu kok," kata Damia sambil tersenyum kecil.
Setelah berjalan mengikuti Angga dari belakang, Damia pun bertemu dengan keluarga sang kekasih yang juga menghadiri acara wisuda tersebut.
"Angga, kamu dari mana saja, sih? Kok keluarganya malah ditinggal pergi saat datang di acara wisuda kamu seperti ini?" tanya Linda yang langsung terdiam mengerti saat melihat Damia yang berjalan di belakang sang adik.
"Pantas saja tadi Angga tiba-tiba pergi. Rupanya, dia mendapat semacam firasat kalau pacarnya sudah datang," ujar Papa Nassar
"Papa, apaan, deh? Kenapa malah jadi ikut-ikutan Kak Linda ... pakai sindir dan ledek aku segala?" tanya Angga yang merasa sebal.
"Halo, Tante, Om, Kak Linda ... apa kabar, semuanya?" tanya Damia seraya menyapa.
"Kami semua baik. Kalau kamu, apa kabar, Damia? Kita sudah lama tidak bertemu, ya?" tanya balik Mama Yuli usai menjawab pertanyaan Damia yang juga mewakili suami dan putrinya.
"Saya juga baik-baik saja kok, Tante. Sebelumnya, saya minta maaf karena sudah datang terlambat," jawab Damia
"Tidak masalah kok, Damia. Memang ada saja waktunya jalanan macet," kata Papa Nassar
"Damia, bagaimana rasanya pacaran sama orang seperti Angga? Dia tidak pernah berbuat jahat atau macam-macam sama kamu, kan? Apa dia sering merepotkan kamu?" tanya Linda
"Angga itu orangnya baik kok, Kak. Malah aku yang sering merepotkan dia," jawab Damia
"Dalam suatu hubungan, mana ada yang namanya merepotkan? Yang ada semuanya hanya kebahagiaan saat pacaran. Asalkan tidak ada yang sampai melewati batas," ujar Papa Nassar.
"Benar kata Papa. Lalu, Kak Linda anggap aku ini seperti apa, sih? Sampai bisa bertanya seperti itu sama Damia?" tanya Angga
"Kamu itu adik lelaki yang menyebalkan," jawab Linda dengan cepat.
"Sudah, jangan malah ribut. Bagaimana kalau kita berfoto lagi? Kan, kita belum sempat berfoto sama Damia ... " ujar Mama Yuli
"Oke, ayo. Ini, kameranya masih ada sama aku ... " kata Linda
"Sini, kameranya ... biar aku minta tolong sama teman aku lagi buat ambil foto kita," ujar Angga
"Nih ... " sahut Linda yang memberikan sang adik sebuah kamera saku miliknya.
Angga pun kembali memanggil salah seorang temannya di sana. Kali ini Angga meminta bantuan pada Beno untuk mengambil fotonya bersama keluarga dan sang pacar.
"Beno, gue minta tolong buat ambil foto sebentar dong. Ini kameranya," ucap Angga
"Oke, deh ... ayo aja gua, mah ... " kata Beno
Beno pun mengambil alih kamera dari tangan Angga untuk mengambil foto. Setelah dirasa cukup mengambil beberapa foto, Beno pun menyerahkan kembali kamera saku milik temannya itu.
"Angga, omong-omong ... gue baru lihat lo bawa cewek itu. Gue tahu, itu Kakak lo yang kadang-kadang antar lo kuliah ke kampus, terus mereka pasti bokap nyokap lo. Yang satu laginya siapa? Pacar lo, ya?" tanya Beno sambil berbisik pelan.
"Ya, dia pacar gue. Emangnya kenapa?" tanya balik Angga
"Siapa namanya? Kok lo gak pernah bilang kalau punya pacar cantik, gak pernah kenalin ke teman-teman juga? Takut banget pacar lo direbut orang, ya?" tanya balik Beno lagi.
"Namanya, Damia. Pacar gue sibuk kerja, jadi lo gak usah ngarep berlebihan ... " jawab Angga
"Buset, sorry, deh ... tapi, lo juga jangan terlalu protektif, deh? Hati-hati nanti pacar lo malah merasa terkekang dan kabur," ujar Beno sambil berbisik.
"Lo apaan, deh, Ben ... lo kira gue sama pacar gue orang yang seperti apa, sih?" tanya Angga yang agak sewot.
"Ya, gua mana tahu soal itu. Gua cuma kasih saran aja kok," jawab Beno
"Ya, gue paham. Thanks, deh ... " ucap Angga
"U're wellcome, Bro ... " balas Beno
Setelah itu, Beno pun beranjak pergi dari sana.
Angga nemang tampak baik-baik saja setelah mendengar perkataan Beno. Namun, sebenarnya lelaki itu sangat kepikiran tentang perkataan teman lelakinya itu.
..."Damia tidak akan seperti itu dan aku juga tidak pernah mengekang dia," batin Angga yang memikirkan soal perkataan Beno tadi....
Angga terdiam sejenak hingga pertanyaan dari sang kakak membuyarkan lamunannya.
"Bagaimana hasil fotonya? Bagus, tidak?" tanya Linda
"Lumayanlah, Kak. Bagus kok," jawab Angga
"Apa kamu tidak mau foto berdua sama Damia?" tanya Linda memberi saran.
"Ayo, foto sama Damia. Biar Kakak yang ambil fotonya," sambung Linda
"Ya, boleh, deh, Kak. Ambil fotonya pakai HP aku saja," kata Angga
"Ya sudah, sini. Mana HP kamu-nya?" tanya Linda
"Nih, HP-nya. Jangan sampai jatuh, ya ... " jawab Angga sambil memberikan ponsel miliknya pada sang kakak.
"Tenang sajalah. Damia, kamu foto berdua dulu sama Angga, ya," kata Linda
"Ayo, kita foto berdua, Damia. Kak Linda yang akan ambil fotonya," ajak Angga yang langsung mendekat ke arah sang kekasih.
"Oh, oke ... " sahut Damia
Linda pun mulai mengambil foto sang adik bersama kekasih cantiknya. Awalnya, Damia dan Angga tampak kaku saat berfoto. Namun, karena arahan dari Linda, hasil foto keduanya cukup memuaskan.
"Jangan kaku seperti itu dong. Kalian berdua ini seperti ABG yang baru pacaran, bahkan ABG sekarang lelih leluasa dari pada kalian berdua," ucap Linda
"Ini adalah acara formal. Memangnya harus berfoto seperti apa?" tanya Damia dengan sikap kikuknya.
"Acara formalnya sudah lewat kok. Kalian berdua hanya perlu santai sedikit dan jangan terlalu tegang," jawab Linda
"Kita ikuti saja kata Kak Linda," kata Angga
Bergenggaman tangan, saling merangkul pinggang, tertawa mesra.
"Bagus!" seru Linda
"Sebentar, Kak ... " pinta Angga
Angga meraih dan memetik satu bunga cantik dari buket bunga yang diberikan oleh sang kakak dan menyematkannya pada sela telinga sang kekasih.
"Kenapa dipetik? Sayang bunganya, kan? Lalu, bukannya ini dari buket bunga yang diberikan Kak Linda untuk kamu?" tanya Damia
"Tidak apa-apa, hanya satu bunga saja kok. Sesuatu yang cantik juga harus berdampingan dengan orang yang cantik. Sayang bunganya kalau dipetik dari buket yang kamu berikan, jadi petik saja yang dari Kak Linda. Kak Linda juga tidak masalah kok," jelas Angga
"Kamu ini ada-ada saja," kata Damia sambil tersipu malu.
"Bunganya jangan sampai dilepas, ya ... " pinta Angga
"Ayo, Kak. Tolong foto kita lagi," sambung Angga yang beralih bicara pada sang kakak.
"Oke, mulai lagi, ya ... " sahut Linda
Linda pun kembali mengambil foto sang adik bersama pujaan hatinya. Mereka berfoto hingga yang difoto dan mengambil foto sama-sama merasa puas.
"Aku rasa sudah cukup berfotonya," kata Damia yang sudah kehabisan gaya.
"Kak, coba sini ... aku mau lihat hasil fotonya," pinta Angga
"Nih, HP kamu ... " Linda pun mengembalikan ponsel milik sang adik.
"Hasil fotonya bagus," gumam Angga
"Ya, dong. Kan, bukan orang lain yang ambil fotonya," ujar Linda merasa bangga dan menuji dirinya sendiri.
"Aku akan mengirim hasil fotonya ke HP kamu nanti," kata Angga
Damia hanya mengangguk.
"Damia, bagaimana dengan pekerjaan kamu di rumah sakit? Apa lancar? Pasti sibuk setiap hari, ya?" tanya Mama Yuli
"Lancar kok, Tante. Saya juga sudah menjadi suster yang bekerja tetap di sana dan tidak hanya magang lagi, tapi memang setiap harinya selalu sibuk. Sebelum datang ke sini saja-" Damia menghentikan ucapannya saat sang kekasih terus memerhatikannya.
Yang jadi masalah bukan karena Angga terus memerhatikannya, melainkan karena dirinya yang kelepasan bicara.
..."Aduh, aku keceplosan. Kan, Angga tidak tahu kalau semalam aku masuk kerja shift malam dan baru pulang pagi ini. Yang Angga tahu aku bertukar shift dan sedang libur kerja," batin Damia...
"Memangnya kenapa sebelum kamu datang ke sini?" tanya Mama Yuli
"Itu, sebelum datang ke sini-" Lagi-lagi Damia memotong ucapannya saat Angga sudah lebih dulu bicara.
"Jangan bilang sebelum kamu datang ke sini itu kamu baru pulang dari kerja? Kamu sedang ada jadwal shift malam, kan? Tapi, bukannya kamu mau bertukar shift kerja sama teman kamu dan hari ini libur kerja, makanya kamu bisa datang ke acara wisuda hari ini?" tanya Angga
"Hmm ... niat awalnya memang ingin seperti itu, tapi tidak ada teman aku yang bisa bertukar shift kerja, jadi aku tetap masuk shift malam. Makanya, aku datang terlambat ke sini karena baru pulang kerja. Maaf, ya ... " jelas Damia
"Ya ampun, Damia ... kenapa tidak bilang? Aku kira kamu sungguhan libur kerja hari ini. Harusnya kamu tidak perlu memaksakan diri. Kamu pasti masih lelah karena baru pulang kerja," ujar Angga
"Sudahlah, Angga. Kamu harusnya senang dan menghargai Damia yang berusaha untuk datang padahal baru pulang kerja. Bukan malah marah-marah," kata Linda
"Ini adalah hari penting bagi kamu dan aku harus datang. Mana mungkin aku bisa tidak datang," sahut Damia
"Bukan itu masalahnya," kata Angga
"Tidak apa-apa kok, Angga. Kerjaan di rumah sakit juga tidak terlalu banyak, jadi aku tidak terlalu sibuk, makanya aku usahakan untuk bisa datang meski terlambat. Tenang saja, sebelum datang ke sini, aku masih sempat pulang dan mandi di rumah kok," ucap Damia
"Bohong. Pas Mama bertanya, pasti tadi kamu mau bilang kalau sebelum datang ke sini kamu sangat sibuk bekerja karena masuk shift malam dan baru pulang pagi ini, makanya kamu datang terlamat, tapi kamu mau menyembunyikan itu dari aku. Tebakan aku benar, kan?" tanya Angga
Damia pun hanya bisa tersenyum canggung karena merasa tertangkap basah saat berbohong dan berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Jangan bilang kalau kamu juga belum sempat makan karena terburu-buru datang ke sini?" tanya Angga lagi.
Lagi-lagi, Damia hanya bisa terdiam karena tebakan Angga sepenuhnya benar.
"Sudah-sudah ... kalau begitu, lebih baik sekarang kita makan dulu saja. Kita makan bersama hitung-hitung merayakan kelulusan Angga dan Damia yang sudah menjadi perawat yang bekerja tetap di rumah sakit," ujar Mama Yuli
"Itu ide bagus. Jangan marah-marah lagi, Angga. Kamu tidak boleh marah sama perempuan yang sudah berusaha demi kamu," kata Papa Nassar
"Aku mengerti. Maaf, ya, Damia ... " sesal Angga sambil menghela nafas pelan untuk meredakan emosinya.
"Tidak masalah. Aku mengerti kalau kamu merasa khawatir sama keadaan aku," sahut Damia
"Kalau begitu, sekarang ... ayo, kita makan dulu. Kantin kampus tetap buka saat acara wisuda hari ini kok," ujar Angga
Mereka pun beralih bersama menuju ke kantin kampus.
Saat di kantin, mereka memilih tempat dan Damia duduk bersama sang kekasih serta keluarga lengkapnya. Rasanya sedikit canggung dan agak tegang.
Damia memang sudah sering makan bersama Angga, juga pernah sekali makan bersama Angga dan sang mama yang saat itu papa dan kakaknya sedang berada di luar kota. Namun, ini pertama kalinya Damia makan bersama keluarga lengkap sang kekasih.
"Kamu mau makan apa, Damia?" tanya Angga
"Aku mau pesan soto mie dan nasinya sedikit saja. Lalu, minumnya teh lemon hangat," jawab Damia usai melihat daftar menu yang tersedia.
Yang lain pun, ikut memesan makanan. Setelah menunggu, ada yang datang mengantarkan makanan yang telah dipesan.
"Selamat untuk kelulusannya dan silakan dinikmati."
"Terima kasih," ucap Angga
"Sama-sama." Orang yang mengantarkan pesanan makanan pun beralih pergi dari sana.
Mereka pun mulai makan bersama. Meski ini adalah pertama kalinya Damia makan bersama keluarga sang kekasih, tapi itu bukan sesuatu yang buruk. Damia justru merasa nyaman karena keliarga sang kekasih sangat baik terhadapnya.
"Padahal kamu sering mengingatkan aku untuk mengatur, tidak lupa, dan tidak meninggalkan waktu makan, tapi sekarang malah kamu yang belum makan. Lain kali jangan ulangi lagi, ya," ujar Angga
"Iya, aku mengerti. Aku juga baru kali ini telat makan, biasanya aku selalu tepat waktu saat makan dan aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Damia
"Sudah ... Kenapa masih bahas ini lagi? Biarkan saja Angga kalau dia terus mengomel, Damia. Ayo, mulai makannya saja. Kamu tidak perlu sungkan meski ada kami juga di sini," ujar Papa Nassar
"Baik, Om ... " sahut Damia sambil tersenyum.
Mereka pun makan bersama sambil sesekali mengobrol ringan. Damia pun mampu mengakrabkan diri dengan keluarga kekasih dengan baik.
.
Bersambung.