Bougenville of Love

Bougenville of Love
91 - Program Profesi.



Hari ini Damia dan Angga bertemu di rumah sakit. Namun, bukan karena Angga mengantar atau menjemput Damia yang bekerja atau Angga yang sedang sakit dan menjadi pasien di bangsal tempat Damia bekerja di rumah sakit. Keduanya memang bertemu di bangsal tempat Damia bekerja di rumah sakit.


Alasan keduanya bertemu adalah karena hari ini Angga mulai menjalani program profesi di rumah sakit dan mengunjungi bangsal rawat tempat Damia bekerja karena menjalani peran tugas koas menjadi dokter muda bersama dokter umum senior dan rombongan dokter muda lainnya.


Saat itu Angga tersenyum saat melihat Damia dan meski merasa terkejut saat melihat Angga, Damia berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan rasa keterkejutannya dengan tersenyum ala profesionalitas kerja seperti biasa.


"Selamat pagi, Dokter."


"Selamat pagi. Apa ada informasi penting dari pasien terkhusus hari ini atau semacamnya? Lalu, di mana kepala perawat penanggung-jawabnya?" tanya Dokter Umum senior penanggung-jawab.


"Hanya ada beberapa pasien yang hasil rontgen-nya baru ke luar hari ini dan tidak ada informasi khusus lainnya. Untuk kepala perawat, karena jam kerjanya sudah berlalu, jadi sudah lebih dulu pulang," jawab Damia


"Benar juga. Kepala perawat hanya bertugas hingga siang, para dokter muda yang ikut saya hari ini juga harusnya sudah pulang, tapi mereka ikut melakukan pemeriksaan sama saya sebagai tugas akhir hari ini. Lalu, kalau tidak ada kepala perawat, saya harus banyak bertanya tentang kondisi pasien sama siapa?" tanya Dokter Umum senior.


"Kalau kepala perawat tidak ada, biasanya yang membantu Dokter melakukan pemeriksaan dari pihak perawat adalah Suster Damia," jawab Alina


"Apa Suster Damia bukan kepala perawat di bangsal ini? Padahal yang saya tahu penilaian kinerjanya cukup bagus."


"Saya hanya perawat biasa yang bahkan baru lewat masa magangnya belum sampai satu tahun ini. Kalau begitu, biar saya yang menemani Dokter untuk melakukan pemeriksaan rutin hari ini. Mari, kita mulai dari kamar pasien pertama," ujar Damia


Biasanya saat melakukan pemeriksaan akan ada yang mendampingi dokter, yaitu Kepala Perawat. Namun, karena hari ini suster Lisa sudah lebih dulu pulang, yang ditunjuk untuk mendampingi dokter melakukan pemeriksaan rutin adalah Damia.


Usai memakai masker dan hand sanitizer, dokter dan para dokter muda itu pun mulai memasuki ruang rawat pasien satu per satu.


Teman satu rombongan dokter muda yang berasal dari Universitas yang sama dengan Angga terkejut saat mendengar bahwa di sana ada nama Damia yang disebut, kecuali Rena yang sudah mengingat jelas sosok Damia. Mereka tidak menyadari sosok dari pacar Angga itu. Entah karena memang baru bertemu sekali hingga masih belum mengingat wajah Damia dengan jelas atau karena penampilan Damia tampak berbeda saat memakai seragam perawat.


Teman Angga dalam rombongan dokter muda yang berasal dari Universitas yang sama adalah Rena, Joshua, Beno, dan Tio.


Angga dan para dokter muda lainnya menyimak dengan seksama saat dokter umum senior melakukan pemeriksaan dan saat suster menjelaskan seputar kondisi pasien. Tak jarang Angga melirik atau menatap ke arah Damia yang mendampingi mereka yang melakukan pemeriksaan rutin hari ini. Bahkan senyuman lelaki itu tak pernah luntur.


Saat masuk ke dalam ruang rawat Bougenville nomor 8, yang sejak tadi hanya Angga yang menatap Damia, kini Damia pun menoleh ke arah Angga sambil melontarkan senyumannya. Bagi keduanya, ruang rawat dengan nama bunga dan nomor itu memiliki kenangan yang bisa dibilang bersejarah yang cukup berharga. Meski bukan sesuatu yang menyenangkan, ruang rawat tersebut adalah tempat keduanya saling bertemu kembali setelah lama tak bertemu.


Sejak bertemundi ruang rawat bernama Bougenville dengan nomor 8 itu, Damia yang seorang perawat dan Angga yang saat itu adalah seorang pasien, menjadi kembali dekat hingga kini keduanya menjadi sepasang kekasih. Makanya, ruang rawat yang meski bukan tempat yang menyenangkan itu memiliki arti yang cukup penting bagi keduanya.


Usai melakukan pemeriksaan rutin hari ini, para suster mengantarkan rombongan dokter sampai ke pintu bangsal rawat. Sebelum meminggalkan bangsal rawat tersebut, Angga memberi isyarat pada Damia untuk mengecek ponsel setelah ini. Tak ada tanggapan dari Damia yang tetap dengan wajah datar dan senyuman profesionalitasnya. Namun, Angga tahu kalau Damia melihat dan mengerti dengan isyaratnya.


Setelah rombongan dokter pergi, Alina langsung mencekal kedua bahu Damia. Namun, tidak ada tenaga pada cekalan tangannya.


"Damia, kamu masih belum menjawab pertanyaan aku. Tadi itu pacar kamu, kan?" tanya Alina


"Pacar Damia? Yang mana? Apa mungkin tadi kamu hanya salah lihat, Alina?"


"Kalian diam dulu. Aku masih harus bertanya sama Damia baik-baik. Aku tidak mungkin salah lihat karena pacar Damia pernah dirawat di sini saat sakit," ucap Alina


"Bertanya boleh saja, tapi jangan heboh. Nanti pasien bisa terganggu," kata Damia


"Salah satu dokter muda tadi itu pacar kamu, Damia? Yang mana?"


"Ya, di antara mereka, pacar aku ada di sana. Namanya Angga," ungkap Damia


"Oh, aku ingat sekarang. Angga itu pernah jadi pasien di sini setelah kecelakaan dan hilang ingatan."


"Sayang sekali. Padahal dokter Angga adalah yang paling tampan di antara para dokter muda tadi, ternyata malah sudah ada yang punya. Tapi, dia sudah menjadi dokter muda, apa ingatannya sudah kembali pulih?"


"Tentu saja, dia sudah sembuh dan ingatannya sudah kembali pulih sejak lama. Kalau tidak, tidak mungkin dia menjadi dokter muda dan menjalani program profesi di sini," jawab Damia


..."Meski sebenarnya masih ada sebagian kecil ingatannya yang belum pulih, tapi para perawat di sini tidak perlu tahu dan bahkan tidak boleh ada yang tahu. Kalau tidak itu akan jadi alasan dan tuduhan untuk kurang terpenuhinya kriteria dan ketidak-cocokan Angga untuk menjadi seorang dokter. Padahal itu bukan sesuatu yang akan mengganggu, tapi suatu riwayat yang belum pulih sepenuhnya bisa saja jadi suatu penghalang," batin Damia...


"Tapi, kenapa kamu tidak pernah cerita kalau Angga itu akan jadi dokter muda dan menjalani program profesi di sini? Bukannya sebelumnya kamu bahkan datang ke acara wisuda kelulusannya?" tanya Alina


"Aku ingat, saat itu Damia buru-buru pulang saat pagi setelah tugas shift malam karena harus hadir di acara wisuda kelulusan pacarnya. Rupanya, itu dokter Angga."


"Damia, jangan bilang kalau kamu bahkan tidak tahu kalau pacar kamu itu kuliah di fakultas apa?" tanya Alina


Damia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi saat melihat sang kekasih berada di tengah rombongan dokter muda yang datang hari ini. Bahwa dirinya akan dilempari banyak pertanyaan seputar sang kekasih hingga alasannya yang rupanya tidak mengetahui kalau sang kekasih akan menjalani program profesi di rumah sakit tempatnya bekerja.


Ternyata, Alina bahkan bisa menebak bahwa Damia tidak mengetahui tentang Angga yang akan datang menjadi dokter muda karena menjalani program profesi di rumah sakit tersebut.


Damia pun menghela nafas pelan.


"Kan, kamu itu teman aku, Al. Kamu pasti tahu aku ini tipe orang yang seperti apa. Aku ini tidak suka mencampuri urusan orang lain," ucap Damia


"Aku mengerti, kalau bagi kamu setiap orang berhak memiliki rahasianya sendiri yang tidak diketahui orang lain dan kamu tidak ingin memaksa orang lain untuk membicarakan sesuatu yang tidak ingin mereka bahas, tapi prinsip kamu ini sepertinya sudah terlalu berlebihan. Masa kamu tidak tahu pacar sendiri ikut fakultas kuliah apa? Memangnya selama ini apa saja yang biasanya jadi pembicaraan kalian berdua? Sebenarnya seperti apa, sih, gaya pacaran kalian berdua?" tanya Alina


"Seperti apa gaya pacaran dan pembicaraan kami, memangnya aku harus memberi tahu orang lain tentang itu?" tanya balik Damia yang seolah tidak ingin mengumbar sesuatu yang harusnya menjadi privasi baginya.


"Oke, maaf. Tidak seharusnya aku mengusik sesuatu yang jadi privasi kamu. Ayo, kita ganti topik. Fakultas kuliah itu bukan suatu yang harus dirahasiakan dan merupakan hal yang umum dan wajar untuk dibicarakan. Kamu tidak pernah bertanya sama Angga, tapi masa Angga tidak pernah membahasnya lebih dulu?" tanya Alina


"Tidak pernah," jawab Damia dengan cepat dan mudah.


"Ya ampun ... kalian berdua benar-benar buat orang frustasi. Damia, lelaki itu biasanya tipe orang yang harus ditanyai dulu baru memberi tahu, tapi kamu juga tipe orang yang seperti itu. Akan jadi seperti apa hubungan kalian kalau terus seperti ini?" tanya Alina


Sebenarnya, Damia mulai tidak suka dengan cara temannya yang membahas dan seolah memojokkannya dengan pertanyaan berulang dan itu-itu saja. Apa lagi di sana tidak hanya dirinya dan Alina saja, melainkan juga ada para perawat lainnya yang ikut merasa penasaran dengan kisah percintaannya.


Namun, Damia tetap tersenyum, meski sempat menghela nafas pelan.


"Hubungan kami baik-baik saja kok. Mungkin karena Angga tahu aku tipe yang seperti apa, jadi dia mau beri aku kejutan dengan cara yang seperti ini," jawab Damia


 


"Kalian, para Dokter muda, boleh pulang setelah memberi laporan kalau sudah menyelesaikan tugas hari ini."


"Baik, Dok. Terima kasih banyak."


Rombongan dokter muda pun bersiap untuk pulang setelah memberi laporan. Rombongan dokter muda itu terdiri dari dua kelompok. Satu kelompok telah membubarkan diri dan satu kelompok lainnya tetap bersama.


"Pantas saja dari tadi lo senyum terus, Angga. Ternyata, lo tahu di sana ada pacar lo, ya?" tanya Tio


"Dari mana lo tahu kalau bangsal rawat itu tempat pacar lo kerja?" tanya Joshua


"Gue pernah cuti sakit setelah kecelakaan, saat itu gue di rawat di rumah sakit ini, lebih tepatnya di bangsal rawat tadi. Di sana gue ketemu sama Damia setelah lama tak bertemu," ungkap Angga


"Ya, sejak dulu Angga dan Damia itu berteman. Sekarang jadi pacar satu sama lain," kata Rena


"Jadi, ini penyebab kalian berdua putus, ya?" tanya Beno


"Lu, sih, Ben ... merusak suasana saja," tegur Joshua


"Sorry, deh ... " sesal Beno


"Gue baru sekali ini ini lihat pacar lo, Angga. Damia cantik, coba lo telepon dia dong," ujar Tio


"Jangan ganggu dia. Kan, lo juga tahu kalau dia lagi kerja. Beda dari kita yang sudah waktunya pulang, dia baru masuk kerja. Hari ini dia masuk shift siang," ucap Angga


"Ciie ... yang hafal jadwal shift kerja pacar," goda Beno


"Gak apa-apa kali kalau sebentar doang, Ngga. Kayaknya gak bakal jadi masalah karena kepala perawatnya gak ada," ujar Joshua


"Kita ke luar dari rumah sakit ini dulu dan tunggu sampai di tempat parkir nanti," kata Angga


Angga dan 3 teman lelaki serta 1 teman perempuannya pun beranjak ke luar dari rumah sakit. Mereka menunggu saat Angga akan menelepon sang kekasih saat berada di tempat parkir rumah sakit.


 


Baru selesai gosip dirinya di tengah-tengah pernikahan dokter Raffa dan suster Lisa, kini fakta tentang dirinya yang memiliki hubungan spesial dengan dokter muda yang baru masuk rumah sakit untuk program profesi koas.


Damia masih saja tak lepas dari pandangan mata orang lain dan beberapa orang yang penasaran untuk bertanya padanya. Bahkan saat ini dirinya masih dikelilingi para suster lain di pos jaga perawat.


Saat itu ada telepon yang masuk. Ponsel miliknya yang disembunyikan di dalam saku seragam perawatnya bergetar dalam tempo beraturan dan berulang kali. Damia mengabaikan ponsel miliknya yang terus bergetar di dalam saku seragam perawatnya.


"Damia, HP kamu bergetar terus. Mungkin ada yang menelepon. Kenapa tidak diangkat?" tanya Alina


"Biarkan saja. Saat sedang bekerja tidak boleh terinterupsi oleh apa pun," jawab Damia


"Angkat saja, Damia. Mungkin itu dari pacar kamu atau ada hal lainnya yang memang penting. Suster Lisa sedang tidak ada dan kita tidak akan mengadu."


"Ya sudah, aku angkat telepin dulu sebentar," kata Damia ysng langsung bangkit dan hendak beralih dari sana.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau ke ruang loker saja. Tidak baik kalau dilihat wali pasien saat mengangkat telepon yang sifatnya pribadi dalam bekerja," jawab Damia sambil berbisik.


Damia pun beralih dan masuk ke dalam ruang loker. Sebenarnya, Damia ingin mengabaikan adanya telepon masuk pada ponsel miliknya. Namun, hitung-hitung dirinya bisa melarikan diri sebentar dari kepungan para rekan kerjanya itu.


"Ya ampun, bahkan mereka bisa menebak siapa yang menelepon," gumam Damia


Damia pun mengangkat telepon masuk dari sang kekasih.


"Halo, Angga."


"Halo, Damia. Syukurlah, kamu benar-benar memeriksa HP kamu, aku kira kamu tidak akan angkat telepon dari aku."


"Tapi, aku hanya bisa menerima telepon sebentar."


"Ini bukan karena kamu marah sama aku karena aku tidak memberi tahu kamu soal hari ini, kan?"


"Dari pada marah, aku hanya ingin tahu alasan kamu, kenapa kamu tidak beri tahu aku? Apa hanya karena aku tidak pernah bertanya?"


"Sebenarnya, aku hanya ingin ini jadi kejutan untuk kamu."


"Ya, kalau begitu usaha kamu berhasil. Aku terkejut dan karena hal ini aku diserbu dengan pertanyaan dari suster lainnya karena salah satu dari mereka tahu soal kita."


"Dia pasti teman baik kamu. Sepertinya lain kali aku harus menraktir dia dan suster lainnya juga."


"Tidak usah repot-repot. Omong-omong, bukannya harusnya sudah waktunya kamu untuk pulang?"


"Ya, memang benar, tapi sebelum pulang aku ingin menelepon untuk mendengar suara kamu lagi."


"Kalau begitu, hati-hati saat di jalan pulang nanti."


"Oke. Lain kali kita bicara lagi, ya, dan mungkin karena aku mulai program profesi di sini, aku harap kita akan sering ketemu. Katanya, teman-teman aku mau dikenalkan sama kamu lagi."


"Sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat karena kamu sudah harus pulang saat aku masik shift siang pada minggu ini. Untuk hari ini hanya kenetulan saja kita bisa bertemu karena dokter senior tadi belum melakukan kunjungan pemeriksaan bangsal rawat. Lain kali mungkin kamu akan memeriksa bangsal rawat saat pagi hari dan mungkin lain kali pun yamg kamu kunjungi adalah bangsal rawat yang lain."


"Masih ada kesempatan lain kok. Saat waktu istirahat dan kamu sedang jadwal shift pagi."


"Kalau begitu, atur saja waktunya nanti. Hari ini senang bisa bertemu sama kamu dan teman-teman kamu tadi."


"Untuk apa membahas soal teman-teman aku?"


"Karena aku tahu kamu masih bersama mereka. Aku bisa mendengar suara mereka menahan tawa lewat telepon ini."


"Maaf, ya. Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kamu lagi. Jangan lupa makan, meski sedang sibuk. Aku tutup teleponnya, ya."


"Ya, aku mengerti."


Tut!


Sambungan telepon terputus.


Damia pun kembali menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku seragam perawatnya dan segera beranjak ke luar. Saat membuka pintu ruang loker, para suster lainnya tampak gugup karena tertangkap basah saat mmenguping di depan pintu.


"Damia, kok tidak ada bersuara saat kamu berjalan?"


"Tenang saja, aku seratus persen manusia dan bukannya hantu atau makhluk jadi-jadian," jawab Damia


"Lalu, hubungan kami baik-baik saja. Seperti yang aku duga, hari ini hanya cara untuk memberi aku kejutan. Jadi, tolong jangan menggiring opini negatif tentang suatu hubungan ke aku," sambung Damia yang menjelaskan tentang hubungannya dengan sang kekasih yang tetap baik dan sedikit menegur rekan kerjanya.


"Wah ... Damia marah, tuh."


"Ayo, kita kembali bekerja! Yang semangat!" seru Damia sambil tersenyum seolah memberi tahu bahwa dirinya tidak marah.


Damia dan suster lainnya pun kembali ke pos penjagaan perawat.


.


Bersambung.