Bougenville of Love

Bougenville of Love
25 - Mati Listrik.



Karena tidak bisa kembali memejamkan mata dan tidur, Angga pun memilih untuk mengambil ponsel dan menyalakan lagu untuk membuat dirinya merasa tenang. Meski sebenarnya usahanya itu pun tidak membuat banyak perubahan karena kepalanya masih terus saja terasa pusing.


..."Untung saja HP ini masih bisa nyala setelah retak karena jatuh. Aku harus segera memperbaiki HP ini nanti," batin Angga...


Memperdengarkan lebih dari 20 jumlah lagu dan terus beberapa kali mengulang dari putaran lagu pertama, akhirnya Angga memutuskan untuk bangkit dan beralih dari ranjang empuknya. Lalu, lelaki itu pun beranjak ke luar dari kamarnya setelah membersihkan diri karena merasa percuma saat tidak bisa tidur. Apa lagi saat ini waktu sudah menunjukkan sore hari mendekati malam, alias petang atau senja.


Saat beranjak ke luar dari kamarnya, Angga tidak sengaja berpapasan dengan Damja saat hendak menuju ke suatu ruangan di dalam rumahnya. Melihat senyum manis di wajah suster cantik itu membuat Angga melupakan tujuannya.


"Angga, kamu sudah bangun? Apa kamu bisa tidur dengan nyenyak tadi?" tanya Damia sambil tersenyum menyapa lelaki itu.


"Aku hanya tidur sebentar dan setelah itu tidak bisa tidur lagi," jawab Angga


"Kalau begitu, kamu pasti sudah merasa lapar. Ayo, kita makan dulu," ujar Damia


"Tapi-" Ucapan Angga terpotong karena belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Damia sudah menarik tangan lelaki itu.


"Sudah, ayo ... kebetulan sekali aku sudah selesai masak!" seru Damia yang terus menarik Angga untuk menuju ke meja makan.


Saat tiba di meja makan, Damia langsung menyuruh Angga untuk duduk di kursi. Lelaki itu pun hanya bisa patuh dengan suster cantik yang merawatnya itu.


"Memangnya tadi itu kamu mau ke mana, sih?" tanya Damia sambil menyendokkan makanan ke atas piring.


"Bagaimana aku mau pergi kalau kamu sudah langsung menarik aku ke sini untuk makan?" tanya balik Angga


"Tentu saja, harus. Karena siang tadi kamu hanya makan bakso, jadi kamu harus cepat makan nasi. Karena nasi itu adalah komponen utama untuk mengisi tenaga," jawab Damia


"Tapi, aku masih belum merasa lapar," kata Angga


"Lalu, apa kamu mau menunggu perut kamu mengeluarkan suara dulu baru kamu mau makan seperti yang pernah terjadi sebelumnya? Kata orang, yang baik itu adalah makan sebelum merasa lapar dan berhentilah sebelum merasa kenyang," ujar Damia yang lalu menyerahkan sepiring penuh berisi makanan pada Angga.


"Baiklah, aku mengerti, Suster!" seru Angga


Damia pun tersenyum karena lelaki yang ada di hadapannya itu masih mau mengerti dan mendengarkan ucapannya. Lalu, keduanya pun makan bersama.


"Apa yang membuat kamu tidak bisa tidur? Apa kamu habis bermimpi buruk?" tanya Damia


"Aku bermimpi sesuatu yang tidak jelas dan ada juga suara yang terngiang dengan tidak jelas, tapi ... ya, bisa dibilang seperti itu," jawab Angga


"Apa kamu masih tidak mau cerita sama aku?" tanya Damia


Angga hanya terdiam dan fokus menyendok makanan untuk masuk ke dalam mulutnya. Bahkan pandangannya fokus pada piring di atas meja makan dan tidak menatap ke arah Damia.


"Tidak apa-apa kalau kamu masih belum mau cerita sama aku atau merasa bisa menanganinya sendiri, tapi aku selalu ingatkan sama kamu ... jangan sampai kamu terlalu memaksakan diri," ucap Damia


Angga pun hanya mengangguk kecil.


"Aku beranjak lebih dulu, ya," kata Angga setelah menyelesaikan makannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Damia


"Aku akan ke ruang seni," jawab Angga


"Sepertinya kamu sudah merasa semangat untuk memulai dan melakukan hobi lagi. Baiklah, aku akan menyusul nanti," ujar Damia


Angga hanya tersenyum kecil dan langsung beralih dari sana. Sementara itu, Damia pun menaruh alat bekas makan yang kotor ke dapur dan membersihkan meja makan. Setelah itu barulah Damia beranjak menyusul Angga ke ruang seni.


Saat masuk ke ruang seni, Damia melihat raut wajah Angga yang sedang merasa bingung sambil memegangi kuas dan pensil.


"Melihat kamu yang terburu-buru masuk ke ruang seni, sepertinya kamu sudah memutuskan mau melukis apa. Apa aku boleh melihat dari awal proses pembuatan lukisan kali ini?" tanya Damia meski tahu jika Angga sedang merasa bingung.


"Aku rasa, sebaiknya jangan. Ini bahkan lebih jelek dari lukisan diri kamu yang aku buat sebelumnya," jawab Angga


"Menurut aku lukisan kamu yang sebelumnya itu bagus kok. Pasti yang kali ini pun bagus, tapi kalau kamu memang tidak mau diganggu ... silakan fokus melukis saja," kata Damia


Damia pun mengurungkan niatnya untuk mendekat dan melihat proses melukis yang Angga buat dan lakukan karena sebenarnya suster cantik itu pun hanya sekadar basa-basi.


"Kalau begitu, mari kita dengarkan lagu lagi seperti waktu itu," ujar Damia


Damia pun mengeluarkan ponsel miliknya dan memutar lagu pilihannya, lalu suster cantik itu meletakkan ponsel miliknya di atas meja.


Seperti sebelumnya, kali ini Damia juga menyempatkan diri untuk berkeliling untuk melihat-lihat hasil karya seni yang ada di ruangan tersebut. Karena merasa di kesempatan sebelumnya, suster cantik itu belum puas melihat hasil karya seni satu per satu. Hingga akhirnya gadis perawat itu menghentikan langkahnya saat melihat hasil lukisan dirinya sendiri yang dibuat Angga sebelumnya.


Tanpa sadar, Damia mengulurkan tangannya untuk menyentuh lukisan yang ada di hadapannya itu.


"Rupanya, lukisan ini dipajang dan disimpan di sini," gumam Damia


"Lukisan itu memang sengaja aku pajang di sana," celetuk Angga saat melihat Damia sedang memandangi lukisan hasil buatannya itu.


"Aku merasa sedang bercermin. Anehnya adalah aku merasa aku yang lebih cantik ada di dalam lukisan yang kamu buat. Kamu memang pandai melukis, Angga," ucap Damia


"Bohong. Kalau kamu merasa lukisan itu cantik, maka kamu akan memberi nilai 100 untuk lukisan itu. Bukan hanya 90," kata Angga


Damia terkekeh kecil saat mendengar perkataan Angga yang rupanya masih mengingat jelas saat dirinya memberikan nilai pada hasil lukisan tersebut.


"Angga, apa kamu butuh camilan dan minuman lagi untuk menemani waktu kamu melukis seperti waktu itu?" tanya Damia


"Tidak perlu, kamu temani aku saja di sini. Lagi pula, aku dan kamu baru saja habis makan," jawab Angga


..."Aku benar-benar butuh kamu untuk tetap menemani aku di sini. Bukan hanya karena tidak ingin kamu pergi dari pandangan ini, tapi entah kenapa aku merasa takut. Saat ini kepala aku masih saja terasa sakit. Jika kamu pergi, aku takut akan kehilangan kesadaran. Kehadiran kamu seolah menjadi penguat untuk aku. Lagi pula, apa-apaan ini? Masa iya, rasa sakit di kepala aku tidak kunjung hilang atau mereda sedikit pun?" batin Angga yang memaksakan diri untuk melukis meski merasa sakit kepala....


Sebenarnya sejak Angga ke luar dari kamar tidurnya, bayang-bayang akan masa lalu tentang Rena terus melintas di kepalanya. Bersamaan dengan itu, rasa sakit karena merasa bersalah pada gadis mantan pacarnya itu terus menusuk hatinya. Yang anehnya lagi lelaki itu masih merasakan rasa sakit yang lain, yaitu rasa sakit akibat merindukan seseorang. Namun, anehnya ... orang yang dirindukan olehnya bukan Rena, tapi justru Damia.


..."Sebenarnya ada apa ini? Kenapa perasaan aku sangat kacau seperti ini? Di satu sisi, aku merasa bersalah pada Rena, tapi aku malah merasakan rindu yang amat besar pada Damia. Padahal gadis itu sekarang ada di ruangan yang sama dengan aku. Teka-teki macam apa ini?" batin Angga...


Suasana menjadi hening. Jika saja tidak ada pemutaran lagu mungkin akan menjadi sunyi senyap.


Dan, tiba-tiba saja lampu menjadi padam!


"Ya ampun, bikin terkejut saja! Apa ada pemadaman listrik setempat?" gumam Damia


Tidak ada apa pun yang terlihat, semua gelap. Lalu, tiba-tiba saja terdengar suara benda yang jatuh.


"Angga, kamu dengar aku, kan? Apa kamu baik-baik saja? Aku akan coba berjalan mencari HP yang aku letakkan di meja dulu dan perlahan ke arah kamu. Apa kamu tidak bawa HP? Bisakah kamu menyalakan senter? Atau HP kamu jadi rusak setelah jatuh tadi?" tanya Damia yang terus nengoceh karena Angga hanya diam.


Damia pun fokus berjalan perlahan agar tidak menyandung sesuatu dengan kakinya yang malah akan membuatnya terjatuh. Suster cantik itu lebih dulu mencari keberadaan ponsel miliknya agar bisa menyalakan senter sebagai penerangan sementara di saat suasana gelap gulita karena hari yang sudah memasuki waktu malam hari itu.


Damia berjalan sambil meraba benda di sekitarnya hingga suster cantik itu berhasil sampai di meja tempat menaruh ponsel miliknya dan akhirnya gadis perawat itu menemukan ponsel miliknya di sana. Ia pun menyalakan ponselnya, lebih dulu mematikan pemutaran lagu, dan menyalakan lampu senter.


"Harusnya aku tidak menaruh HP sembarangan dan lebih baik selalu aku pegang HP ini tadi," gumam Damia


Saat Damia menyoroti lampu senter ponsel miliknya ke persekitaran, suster cantik itu langsung dikejutkan dengan penglihatannya yang menangkap sosok Angga yang terjatuh dari kursi tempat lelaki itu duduk. Tampaknya Angga sedang menahan rasa sakit.


Damia pun langsung berlarian ke arah Angga. Suster cantik itu berjongkok untuk melihat keadaan pasien lelakinya yang tampak mengkhawatirkan.


"Angga, kamu kenapa? Apa kamu nyctophobia atau fobia gelap?" tanya Damia yang merasa panik dan khawatir.


"Tidak, sepertinya Angga bukan fobia, tapi sakit kepalanya kambuh," gumam Damia


"Angga, apa kamu bisa dengar aku? Tenangkan diri kamu. Kamu simpan di mana obatnya?" tanya Damia


Lagi-lagi tidak ada respon jawaban dari Angga. Lelaki itu terus memegangi kepalanya yang terasa sakit bahkan juga meremas rambutnya karena rasa sakit yang tak tertahankan.


"Pasti obatnya ada di dalam kamar kamu, ya? Tunggulah di sini, aku akan ambilkan obat kamu dulu," ujar Damia


Saat Damia hendak berdiri, Angga langsung menahan tangannya dengan erat dan cepat.


"Ja ... ngan pergi. Tetaplah di- sini dan temani aku," pinta Angga dengan nafas yang tersenggal-senggal karena berusaha menahan serangan rasa sakit di kepalanya.


"Kalau begitu, kamu tenangkan diri dulu. Atur nafas kamu dengan baik," ujar Damia


Semakin diminta untuk mengatur nafas, semakin jadi sesak nafas. Namun, Damia sama sekali tidak bisa beranjak sedikit pun karena Angga mencekal tangan gadis perawat itu dengan sangat erat.


"Tidak bisa terus seperti ini. Kalau terus sesak nafas seperti ini-"


Damia pun tidak punya pilihan lain. Suster cantik itu langsung menangkup dan menarik wajah Angga untuk memberi lelaki itu nafas buatan.


Angga tercengang saat mendapati Damia tidak merasa ragu sedikit pun untuk memberi nafas buatan untuknya. Beberapa kali hembusan nafas dalam rongga mulut dibagikan oleh suster cantik itu pada Angga.


Saat merasa nafas lelaki itu sudah kembali teratur, Damia hendak menarik diri. Namun, Angga malah menahan tengkuk dan merangkul pinggang suster cantik itu untuk menciumnya.


Damia tertegun, namun hanya diam membiarkan. Sebenarnya suster cantik itu tidak bisa melepaskan diri dari Angga yang menahannya dengan amat erat.


Namun, saat tersadar dirinya telah lupa diri dan melewati batas, perlahan-lahan Angga melepaskan suster cantik itu dan menarik diri.


"Maafkan aku, Damia ... " sesal Angga sambil mengusap bibir suster cantik yang basah karena ulahnya yang sempat tidak bisa mengontrol diri dengan nafas yang sudah kembali normal.


"Sekarang bagaimana keadaan dan perasaan kamu, Angga? Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Damia tanpa memedulikan bahwa Angga sudah lancang dan mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mencuri ciuman darinya.


"Kepala aku masih terasa sakit," jawab Angga yang merasa senang saat diperhatikan dan dipedulilan oleh suster cantik yang tidak mempermasalahkan soal penguasaan dirinya yang buruk.


"Karena kamu tidak mau aku timggalkan, ayo kita pindah ke kamar kamu saja. Kamu harus istirahat, lagi pula sekarang sedang mati listrik. Kamu tidak bisa melanjutkan melukis lagi," ucap Damia


Damia pun langsung membantu Angga berdiri dan memapah lelaki itu untuk beralih tempat. Sambil satu tangannya meraih ponsel miliknya yang diletakkan begitu saja di atas lantai untuk digenggam sebagai media penerangan dengan lampu senternya.


Keduanya berjalan perlahan karena minimnya penerangan saat keadaan mati listrik.


Setelah masuk ke dalam kamar Angga, Damia membantu membaringkan lelaki itu di atas ranjang. Sebelum itu, Damia lebih dulu melempar ponsel miliknya ke atas ranjang dalam posisi telungkup agar lampu senternya tetap menerangi persekitaran. Suster cantik itu terpaksa melepaskan ponsel miliknya agar bisa fokus membantu Angga dengan lebih leluasa.


Merasa tidak seimbang karena terus menahan berat yang melebihi beban tubuhnya sendiri, Damia terhuyung saat sedang berusaha membaringkan tubuh Angga di atas ranjang dan berakhir ikut terjatuh di atas tubuh lelaki itu.


Tak dapat terelakkan lagi, keduanya pun saling menatap karena kedua mata mereka tak sengaja saling bertemu hingga akhirnya saling mengunci pandangan masing-masing pada satu sama lain.


Nafas keduanya berhembus mengenai wajah satu sama lain karena jarak yang begitu dekat. Atmosfer di antara mereka berdua menjadi aneh dan suasana jadi kental terasa canggung.


"Damia-"


Dan, tiba-tiba saja lampu kembali menyala dengan terang.


Sontak, Damia pun langsung bangkit dan menjauhkan diri dari Angga.


"Syukurlah, listriknya sudah kembali menyala. Sepertinya tadi hanya sempat ada sedikit masalah," ujar Damia memecah suasana canggung yang kental terasa di antara keduanya.


Damia hendak beralih, namun lagi-lagi Angga menahan tangannya.


"Jangan pergi. Aku mohon ... " pinta Angga


"Sebentar saja. Aku hanya akan mengambil air dan obat untuk kamu minum. Nanti aku akan kembali lagi dan tidak akan lama," kata Damia


Suster cantik itu menepuk pelan dan melepaskan tangan Angga yang menggenggam tangannya sambil tersenyum.


Damia bergegas mengambil segelas air putih mineral dan obat. Saat kembali, suster cantik itu langsung menyerahkan obat dan segelas air yang dibawa olehnya pada Angga.


"Minumlah obatnya dulu," kata Damia


Angga pun menuruti perkataan suster cantik itu untuk minum obat dengan patuh. Usai lelaki itu meminum obat, Damia langsung mengambil kembali tabung obat dan gelas air untuk diletakkan di atas meja di sana.


"Tetaplah di sini dan temani aku," pinta Angga


"Lalu, soal yang tadi-"


"Tidak masalah. Jangan pedulikan apa pun lagi dan kamu istirahat saja. Aku tidak akan pergi ke mana pun dan akan tetap di sini untuk menemani kamu," kata Damia


Angga kembali meraih satu tangan Damia untuk digenggam dan perlahan mulai memejamkan kedua matanya.


Damia terus menemani Angga di dalam kamarnya sambil duduk di tepi ranjang. Suster cantik itu tidak bisa beralih karena satu tangannya terus berada di dalam genggaman tangan Angga.


Setelah merasa lelaki itu benar-benar tertidur, Damia pun menarik dan membebaskan tangannya dari genggaman tangan Angga. Lalu, beranjak pergi dari kamar lelaki itu.


.


Bersambung.