
Satu setengah tahun kemudian.
Kini Damia dan Angga lebih sering berangkat kerja bersama. Saat ada shift kerja yang sama, Angga akan lebih dulu datang menjemput sang kekasih di rumahnya dan keduanya akan berangkat kerja bersama. Saat jadwal shift kerja tidak sama pun sering kali, Angga mengantar sang kekasih untuk pergi bekerja, meski Damia sudah menolak atau melarangnya.
Ya, setelah menjalani magang atau yang disebut dengan internship selama 1 tahun di rumah sakit tempat Damia bekerja, kini Angga pun sudah resmi bekerja sebagai dokter umum baru di rumah sakit tersebut dan sudah resmi bekerja sejak setengah tahun yang lalu.
Kini, keduanya pun lebih mudah bertemu saat bekerja. Sama seperti saat ini, Damia dan Angga berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit setelah baru saja sampai beberapa menit yang lalu.
Keduanya tampak saling bergenggaman tangan dan harus saling melepaskan saat harus menuju lokasi kerja yang berbeda dalam rumah sakit tersebut.
"Aku jalan sendiri mulai dari sini," kata Damia
"Nanti istirahat dan pulang bareng, ya," sahut Angga
Damia hanya mengangguk. Keduanya pun berjalan terpisah dari sana.
Damia pun menuju ke bangsal rawat tempatnya bekerja.
"Damia, hari ini berangkat kerja bareng pacar lagi, ya?" tanya Alina
"Iya, tadi Angga jemput ke rumah, padahal sudah aku bilang tidak usah," jawab Damia
"Tidak apa-apa. Pacar kamu itu perhatian, harusnya kamu merasa beruntung. Kebetulan juga kerja di tempat yang sama," kata Alina
"Ya, aku memang beruntung. Lalu, satu lagi ... ini untuk kamu. Aku mau kasih ke suster lainnya juga," ujar Damia yang langsung berlalu setelah memberi sesuatu pada Alina.
"Apa ini? Ya ampun ... " Alina terkejut saat melihat apa yang diberikan padanya.
Alina langsung mengejar Damia yang sedang menghampiri para suster satu per satu.
"Ini kabar baik. Akhirnya kamu sebar undangan juga ... kenapa tidak pernah bilang apa-apa sama aku?" tanya Alina
"Aku menunggu sampai undangannya selesai dicetak. Memangnya aku harus bilang apa?" tanya balik Damia
"Ya, harusnya kamu cerita kalau kamu akan menikah," jawab Alina
"Toh, kamu juga akan tahu ... " kata Damia
"Damia mau menikah ... selamat, ya!"
"Terima kasih. Kalian semua jangan lupa datang, ya," ucap Damia
"Kalau aku, pasti datang ... " ujar Alina
"Aku tahu. Ajak pacar kamu juga, ya," kata Damia
"Damia, mau menikah ... jangan lupa ajukan cuti," ucap Suster Lisa yang kini terlihat berperut buncit karena sedang berbadan dua dengan usia kandungan menginjak 4 bulan.
"Iya, Sus. Untung suster Lisa mengingatkan, aku hampir saja lupa. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Suster Lisa
"Sama-sama. Semoga lancar sampai hari H," sahut Suster Lisa
"Terima kasih sekali lagi, Suster Lisa ... " ucap Damia
Suster Lisa hanya mengangguk dan kembali beranjak dari sana.
"Harus selalu jaga kesehatan, ya, Damia ... " pesan Alina
"Terima kasih," ucap Damia
"Sama-sama," balas Alina
Hari ini adalah hari cuti pertama setelah pengajuan cuti diterima. Baru hari pertama cuti, Damia langsung dipingit di rumah dan hal itu membuat Angga merasa galau dan tampak uring-uringan. Apa lagi Damia menerima hak cuti sedikit lebih lama dari pada lelaki itu. Calon suami Damia itu merasa gelisah saat tidak bisa mengobati rasa rindu dan lelahnya dengan sang kekasih karena masa pingitan.
Beberapa hari tidak bisa melihat sang calon istri karena dipingit, hari ini Angga nekat menghampiri rumah sang calon istri secara diam-diam. Meski tidak bisa melihat wajah calon istri, setidaknya ia bisa melihat rumah calon istrinya itu bisa sedikit menghilangkan rasa rindunya karena meski hanya berada di luar, lelaki itu merasa dekat dengan gadis pujaan hatinya.
Saat itu, ada seorang pengantar makanan yang berhenti di depan rumah Damia. Angga pun menghampirinya.
"Mas, itu untuk rumah ini?" tanya Angga
"Ya, ini pesanan atas nama Damia."
"Kasih sama saya saja, Mas. Kebetulan saya pacarnya yang mau ketemu sama Damia," kata Angga
"Ya sudah, tapi bayarnya bagaimana?"
Angga pun mengambil pesanan makanan dari si pengantar setelah membayar dan melunasi biaya pembeliannya.
Dari dalam rumah, Damia baru saja ke luar dari dalam kamarnya. Saat hendak membuka pintu rumah, suster cantik itu mendengar suara obrolan hingga membuatnya mengintip dari jendela sebelum membuka pintu.
"Itu ... Angga," gumam Damia
Terdengarlah suara ketukan pada pagar rumahnya. Saat itu Ibu Rita menghampiri sang putri.
"Damia, ada yang datang. Kenapa tidak kamu buka pintunya dan lihat siapa yang datang?" tanya Ibu Rita
"Alu sudah lihat siapa yang datang dari jendela, Bu. Itu, Angga ... " jawab Damia
"Untuk apa calon suami kamu ke sini padahal dia tahu kalau kamu sedang dipingit?" tanya Ibu Rita
"Aku tidak tahu, Bu, tapi aku habis pesan makanan dan Angga yang ambil pesanan makanan yang baru diantar tadi. Aku minta tolong Ibu ambilkan makanan itu dari Angga dong," ungkap Damia
"Tolong, ya, Bu. Terima kasih," ucap Damia
Ibu Rita mengangguk dan beranjak ke luar rumah, sedangkan Damia tetap di sana.
Angga sedikit kecewa saat tidak bisa melihat sang calon istri yang ke luar untuk menemuinya. Namun, lelaki itu tersenyum saat melihat sang calon ibu mertua.
"Selamat malam, Bu ... " sapa Angga yang mulai memanggil calon ibu mertuanya dengan sebutan Ibu.
"Malam, Angga. Ada perlu apa?" tanya Ibu Rita
"Ini saya ambil makanan dari pengantar tadi, katanya ini pesanan Damia ... " jelas Angga sambil menyerahkan bingkisan pesanan makanan pada Ibu Rita.
"Terima kasih banyak, ya," ucap Ibu Rita
"Sama-sama, Bu. Omong-omong, apa Damia-nya ada?" tanya Angga
"Ada di dalam," jawab Ibu Rita
"Apa saya boleh bertemu Damia sebentar saja?" tanya Angga
"Tidak bisa, kan, kamu juga tahu kalau Damia sedang dipingit karena kalian mau menikah sebentar lagi. Tahan dulu saja rindunya, nanti kalian berdua juga bisa bertemu," jelas Ibu Rita
"Saya mengerti. Kalau begitu, saya pulang saja," ujar Angga yang hanya bisa pasrah untuk saat ini.
"Ya, hati-hati di jalan," pesan Ibu Rita
Angga mengangguk dan beranjak masuk ke dalam mobilnya yang lalu melaju kembali menuju ke rumahnya.
Ibu Rita pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Apa Angga sudah pergi, Bu?" tanya Damia
"Sudah, ini makanan kamu ... " jawab Ibu Rita sambil memberikan bingkisan makanan pada sang putri.
"Ayo, kita makan bareng, Bu. Aku beli tiga porsi sekalian buat ayah, nanti bisa dihangatkan saat ayah pulang," kata Damia
Damia pun makan sup daging pesanannya bersama sang ibu.
•••
Saat ini adalah hari besar. Pernikahan antara Damia dan Angga. Keduanya kini telah sah menjadi sepasang suami istri.
Angga tak henti-hentinya merasa takjub dengan kecantikan gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya. Tampak begitu luar biasa.
Para tamu undangan tampak ikut berbahagia saat menghadiri acara pernikahan keduanya. Di sana juga ada Alina yang hadir bersama sang kekasih yang bernama Fahri.
"Damia, Angga, apa ada alasan khusus ... kalian pilih menikah di out door seperti ini?" tanya Alina
"Kami berdua memang sengaja pakai konsep taman terbuka," jawab Damia
"Tapi, kenapa harus bougenville? Bukannya terlalu biasa?" tanya Alina
"Karena itu punya arti khusus tersendiri bagi kami berdua," jawab Damia
"Apa karena kalian bertemu lagi di kamar bangsal dengan nama Bougenville?" tanya Alina
"Ya, itu adalah salah satunya," jawab Angga
"Apa tidak takut tertimpa nasib sial dari arti buruk semua bunga kertas ini?" tanya Fahri, kekasih Alina.
"Anggap saja kami berdua adalah pasangan yang berhasil menangkal nasib sial dari arti buruk semua bunga ini," jawab Angga
"Bagi kami berdua, bunga ini bagai ... Bougenville of Love," ungkap Damia dan Angga secara bersamaan.
"Apa pun itu, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian berdua," ucap Alina
"Terima kasih," ucap Damia dan Angga secara bersamaan.
Kekasih Alina, Fahri, memang masih mempercayai mitos karena pengaruh lingkungan karena pernah tinggal di sebuah desa kecil. Hingga merasa sedikit khawatir saat melihat pesta pernikahan di tengah taman bunga Bougenville.
Seperti yang diketahui, Angga pernah dirawat di dalam kamar bangsal bernama bougenville nomor 8. Di sanalah lelaki itu bertemu kembali dengan Damia setelah sekian lama.
Bunga Bougenville yang sering disebut bunga kertas memiliki arti kasih sayang yang baik dan cocok untuk segala kalangan, termasuk bagi pasangan. Namun bunga ini juga memiliki arti mitos bunga setan dan penghalang jodoh.
Meski begitu, mitos rersebut tidak berlaku pada pasangan suami istri yang baru resmi menikah hari ini. Seperti kata Angga, arti mitos itu mampu ditangkal oleh kekuatan cintanya dengan sang istri, Damia.
Saat ini adalah waktunya untuk pelemparan buket bunga pernikahan. Tanpa adanya satu pun MC, para tamu yang hadir mulai berhitung mundur sebagai aba-aba.
3 - 2 - 1!
"Selamat untuk Alina dan Fahri!" seru Damia
"Semoga segera menyusul ke pelaminan!" pekik Angga
Semua pun bersorak dan berbahagia bersama.
......TAMAT.......
...~\=~...