
Usai mandi dan berpakaian rapi, Angga pun beranjak ke luar dari dalam kamarnya sambil membawa gitar miliknya menuju ke dapur. Untuk apa ia membawa gitar pergi ke dapur? Lelaki itu juga tidak tahu.
Di dapur, Angga menemui Damia yang sedang memasak di sana.
"Damia ... " panggil Angga
"Angga, kamu sudah selesai mandi? Lama sekali, kamu mandi seperti perempuan saja. Padahal aku sendiri yang perempuan sudah hampir selesai memasak setelah mandi di waktu yang bersamaan denganmu," ujar Damia
"Lupakan soal mandi, kita bahas hal yang lain saja. Kenapa kau menyuruhku membawa gitar padahal kita akan makan? Apa alasannya?" tanya Angga
"Aku memang sengaja memintamu sekalian membawa gitar saat ke luar dari kamar. Aku ingin kau melakukan sesuatu dengan gitar itu, tapi nanti. Kita makan lebih dulu, setelah masakannya matang. Sebentar lagi," jawab Damia
Angga memang membawa gitar atas permintaan Damia. Saat baru ke luar dari kamar mandi, lelaki itu melihat layar ponsel miliknya menyala. Begitu diperiksa, rupanya itu adalah pesan masuk dari Damia.
From: Damia.
Angga saat ke luar dari kamar nanti, tolong kamu sekalian bawa gitar, ya.
Seperti itulah isi pesan teks dari Damia yang tidak bisa diabaikan oleh Angga. Lelaki itu langsung mengikuti permintaan dari suster cantik itu seperti yang ada di dalam pesan.
"Apa yang kamu ingin aku lakukan dengan gitar ini? Apa aku harus bernyanyi?" tanya Angga
"Sudah aku bilang, itu ... pikirkan nanti saja. Sayur yang aku masak sudah matang. Sementara aku menaruh sayur ke dalam wadah mangkuk, tolong kamu bawakan makanan lainnya ke meja makan. Supaya lebih cepat, aku mohon bantuan darimu, ya," ujar Damia
"Kamu memburu-buru aku seperti orang yang tidak sabar saja. Atau mungkin sebenarnya kamulah yang merasa lapar, ya? Mengaku saja," desak Angga
"Apa kamu tidak salah bjcara? Aku cepat-cepat masak seperti ini karena tadi ada suara keras yang terdengar dari perut seseorang. Bahkan sekarang, mungkin tidak ada suara keras yang terdengar lagi, tapi aku rasa telah mendengar adanya suara dari getaran halus ysng berasal dari perut seseorang lagi. Dan anehnya getaran itu baru terdengar saat kau datang," sindir Damia
"Jangan terus meledek diriku, Damia. Kali ini perutku tidak bergetar," kata Angga yang secara tidak sadar langsung memegangi perutnya karena khawatir akan benar-benar mengeluarkan suara getaran, padahal nyatanya tidak.
"Baiklah. Kamu tidak ingin aku ledek atau kamu tidak ingin membantu aku, nih?" tanya Damia yang kini sedang menuang sayur ke dalam sebuah mangkuk.
"Oke, aku akan bantu. Memangnya kau masak apa? Kok masaknya bisa cepat?" tanya balik Angga
"Aku hanya menggoreng ikan dan membuat sayur sup dengan jamur," jawab Damia
"Apa sebenarnya tadi kau langsung masak dan tidak jadi pergi mandi? Kok masaknya bisa cepat?" tanya Angga lagi.
"Enak saja. Memangnya kamu ada mencium bau tidak sedap di sini?" tanya balik Damia
"Tidak. Yang ada hanya aroma sedap masakan dan aroma harum dari tubuhmu. Aku suka," jawab Angga yamg mengecilkan suaranya setelah berkata tidak.
..."Jangan jadi merasa ge'er, Damia. Yang dimaksud oleh Angga adalah dia suka masakannya yang mengeluarkan aroma sedap. Bukan yang lain. Jadi, jangan salah paham," batin Damia yang ternyata dapat mendengar suara kecil Angga yang tadi berbicara....
Angga membantu Damia memindahkan masakan dari meja masak dapur ke atas meja makan dan setelah suster cantik itu membawa semangkuk sayur sup jamur tahu, keduanya pun makan bersama.
"Kenapa tadi siang kamu ke luar begitu saja dari kamar, padahal ... bukannya kamu sedang bercerita?" tanya Angga
"Ya, mau bagaimana lagi? Orang yang mendengarkan saat aku bercerita malah tertidur seolah cerita dariku adalah dongeng sebelum tidur. Mungkin cara aku bercerita sangat membosankan hingga membuat jenuh sampai akhirnya kamu malah tertidur," jawab Damia
"Cerita kamu tidak membosankan kok. Hanya saja aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba jadi sangat mengantuk tadi. Jadi, tanpa sengaja aku malah tertidur padahal masih banyak yang ingin aku tahu," ujar Angga
"Aku tahu kok. Mungkin karena sebelumnya kamu habis minum obat, jadi kamu merasa mengantuk," kata Damia
..."Itu bukan mimpi, Angga, tapi bagian dari ingatan kamu yang hilang. Mungkin itu adalah salah satu waktu saat kita bertemu. Karena dulu kamu menganggap aku sebagai gadis bisu dan aku tidak langsung mengungkap dan menjelaskan bahwa aku bisa bicara dengan normal. Makanya, dulu hanya kamu yang selalu bicara," batin Damia...
"Kira-kira siapa gadis yang ada di dalam mimpi aku tadi, ya? Apa kamu tahu?" tanya Angga
"Kenapa kamu malah bertanya sama aku? Kan, itu mimpi kamu, jadi aku tidak tahu," jawab Damia
..."Tapi, mungkin itu bukan aku. Mungkin itu adalah gadis pendiam lain yang Angga kenal," batin Damia...
..."Kenapa Damia tiba-tiba seperti berubah menjadi murung, ya? Apa mungkin Damia merasa cemburu saat aku bercerita tentang aku yang memimpikan gadis lain selain dia? Tapi, masa dia cemburu, sih? Kan, Damia sudah punya pacar. Dia tidak mungkin cemburu dan ini hanya angan-angan aku saja," batin Angga...
"Omong-omong, Angga ... kamu tidak punya indikasi alergi pada suatu atau bahan makanan, kan?" tanya Damia
"Tidak ada kok," jawab Angga
"Lalu, kenapa wajah kamu berubah jadi muram seperti itu?" tanya Damia lagi.
"Masa, sih? Mungkin karena aku lagi berpikir keras soal siapa gadis yang ada di dalam mimpi aku tadi," jawab Angga
"Jangan terlalu berpikir keras, apa lagi memaksa untuk mengingat sesuatu kembali. Takutnya sakit kepala kamu kambuh lagi," ucap Damia
..."Tuh, kan, Damia sudah tidak murung lagi. Berarti dia bukan merasa cemburu karena aku bermimpi tentang gadis lain. Mungkin dia malah sedang merasa rindu dengan pacarnya itu," batin Angga...
"Kalau kamu sendiri, apa kamu punya suatu alergi?" tanya Angga
"Ada. Aku alergi pada buah ceri dan sawo," ungkap Damia
"Benarkah? Lalu, hanya itu? Tidak ada yang lain?" tanya Angga
Damia hanya mengangguk kecil sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari Angga.
"Lalu, Damia ... soal kamu yang menyelamatkan aku saat tenggelam tadi, saat itu apa kamu juga memberi nafas buatan untuk aku?" tanya Angga
Pertanyan dari lelaki itu hampir membuat Damia yang sedang meminum air jadi tersedak. Jika saja suster cantik itu tidak memiliki pengendalian diri yang baik, mungkin sekarang sedang terbatuk-batuk.
Damia pun berusaha mengontrol emosinya dan menelan air dengan baik.
..."Kenapa Angga malah bertanya soal itu, sih?" batin Damia yang melihat Angga tampak antusias ingin mendengar jawaban darinya....
"Aku hanya menolong kamu dan itu adalah pertolongan pertama," ungkap Damia
"Yang aku tanyakan itu, apa kamu memberi nafas buatan untuk aku? Apa kamu melakukannya?" tanya Angga
Damia yang sudah selesai makan pun langsung merapikan alat makan bekasnya dan Angga untuk dibawa ke dapur. Suster cantik itu berusaha melarikan diri dan mengabaikan pertanyaan dari Angga.
..."Mungkin bagi kamu itu tidak penting, tapi kalau benar terjadi ... aku merasa sangat senang," batin Angga...
Karena Damia sudah beranjak menjauh, Angga lagi-lagi jadi kegirangan dan cekikikan seorang diri karena rasa senang di hatinya. Seketika saja lelaki itu melupakan tentang suster cantik yang ditaksir olehnya itu sudah memiliki pacar yang berprofesi sebagai seorang Dokter.
.
Bersambung.