Bougenville of Love

Bougenville of Love
11 - Disuapi Oleh Suster Cantik.



"Damia, apa kamu baik-baik saja? Apa luka di kaki kamu sudah diobati? Cepat sekali kamu kembali ke sini?" tanya Angga


"Sudah kok, aku tidak apa-apa. Aku ke sini karena tahu kamu pasti belum minum obat dati dokter tadi, jadi aku bawakan makanan untuk kamu makan sebelum minum obat," jelas Damia


"Cara kerja kamu cepat sekali, Damia. Sini, biar Tante saja yang urus makannya Angga," kata Mama Yuli


Mama Yuli pun mengambil alih nampan dari tangan Damia. Menaruh nampan di atas meja samping ranjang dan hanya mengambil mangkuk makanannya.


Damia langsung beralih membersihkan jejak noda darah bekas kakinya yang terluka di lantai kamar Angga dengan kain bersih yang dibawa dan disampirkan ke dalam kantong seragam perawatnya.


"Taruh saja makanannya, Ma. Nanti aku yang makan sendiri. Katanya, Mama harus balik ke kantor lagi," ujar Angga


"Kamu ini disayang-sayang malah tidak mau. Ya sudah, Mama mau ambil file di kamar Mama dulu dan langsung balik ke kantor lagi," ucap Mama Yuli


Saat Mama Yuli hendak beranjak pergi, Damia yang sedang berjongkok mengelap lantai langsung kembali berdiri. Memberikan sikap sopan di depan wanita yang memperkerjakannya itu dan membiarkan kain lap lantai di sudut ruang kamar.


"Damia, tolong jaga Angga selama Tante kerja, ya. Pastikan dia istirahat dengan benar," pesan Mama Yuli


"Baik, Tante. Saya mengerti," patuh Damia


"Kamu di sini saja," kata Mama Yuli


"Tante, sekali lagi saya minta maaf atas kekacauan yang terjadi hari ini," ucap Damia


"Bukan salah kamu kok. Yang penting kamu juga harus berhati-hati," ujar Tante Yuli


Damia pun mengangguk tanda mengerti dan Mama Yuli pun beranjak ke luar dari kamar Angga itu.


"Angga, aku permisi numpang ke kamar mandi di kakar kamu ini, ya," ujar Damia


"Hati-hati, Damia. Kan, luka di kaki kamu tidak boleh sampai terkena air dulu," kata Angga dengan suara keras karena Damia sudah lebih dulu berlarian ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar Angga itu.


Tak butuh waktu lama, Damia kembali dari kamar mandi dan langsung mengambil mangkuk makanan di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang untuk menyuapi Angga


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Angga


"Kamu pasti malas untuk makan, tapi kamu harus minum obat. Jadi, aku akan suapi kamu. Ayo, buka mulutnya," jawab Damia yang langsung menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Angga.


Angga pun hanya patuh membuka mulutnya dengan pasrah dan senang hati karena bisa disuapi oleh Damia.


"Lalu, kamu melakukan apa di dalam kamar mandi tadi?" tanya Angga lagi.


"Hanya cuci tangan," ungkap Damia


Karena tidak mungkin Damia langsung menyuapi Angga makanan saat dirinya naru saja mengelap jejak noda darah di lantai. Untuk menjaga kebersihan, tentu saja suster cantik itu harua mencuci tangannya lebih dulu.


"Maaf, karena terburu-buru aku hanya membuatkan bubur instan yang ada di dalam kulkas untuk kamu," ujar Damia


"Tidak apa-apa. Kan, bubur juga makanan yang bisa dimakan," kata Angga


"Harusnya aku buatkan makan yang lebih baik, bukannya malah makanan instan seperti ini. Apa kamu ingin makanan yang lain? Kalau kamu mau meunggu, akan aku buatkan makanan lain dan aku akan memasak. Apa kamu mau makan sup?" tanya Damia


Angga tidak menjawab. Lelaki itu langsung menahan tangan Damia yang terlihat ingin beranjak pergi dari sana.


Damia mengangguk dan langsung kembali menyuapi Angga dengan tenang. Angga pun membuka mulut dan makan dengan lahap yang disuapi oleh suster cantik yang kini ada di sisinya.


Angga kembali meraih, menarik, dan meletakkan satu tangan Damia di atas dada yang bertepatan pada letak jantungnya.


"Damia, kamu tenanglah. Aku baik-baik saja kok. Kamu sendiri bisa merasakan bahwa jantungku ini masih berdetak dengan normal. Kamulah yang tadi menyelamatkan aku tadi," ucap Angga


"Sudah menjadi tugas dan kewajiban aku untuk menolong siapa pun yang membutuhkan," kata Damia


..."Jangan bicara seperti itu dong. Seolah kamu telah menjalani tugas dan kewajiban kamu sebagai istri yang melayani suaminya dengan baik. Saat ini sepertinya detak jantung aku jadi tidak normal dan kamulah penyebabnya, Damia. Kamu sudah sering menolong aku. Aku bisa hidup dan jantung ini bisa berdetak karena dan untuk kamu. Aku suka sama kamu meski aku sadar tidak bisa memiliki kamu," batin Angga...


"Tapi, kamu juga jadi terluka. Bagaimana luka di kaki kamu? Apa itu parah?" tanya Angga sambil melihat ke arah kedua kaki Damia yang dibalut dengan perban.


"Bukan masalah, hanya luka kecil. Aku sudah mengobati dan membalut dengan perban," jawab Damia


Angga merasa bingung harus bicara apa lagi. Padahal lelaki itu tidak ingin suasana jadi hening dan canggung saat bersama dengan Damia seperti saat ini.


"Damia, bukankah katanya kita berteman? Sudah berapa lama kita berteman? Bagaimana dengan pertemuan pertama kita?" tanya Angga yang akhirnya bertanya karena merasa penasaran.


"Buburnya sudah habis. Kamu minum obat dulu dan aku akan pergi sebentar untuk membersihkan area kolam renang yang berantakan tadi. Setelah itu aku akan kembali untuk menceritakan pertemuan pertama kita," ujar Damia


"Yang benar? Kamu tidak bohong dan tidak ada yang ingin kamu sembunyikan, kan?" tanya Angga lagi


"Ya, tidak ada," jawab Damia


Damia mengambilkan segelas air dan obat yang ada di atas meja samping ranjang dan memberikannya pada Angga.


"Ini, minumlah obatnya. Jangan sampai tidak. Kamu bisa tenggelam saat berenang pasti kamu merasa sakit saat berada di kolam renang tadi," kata Damia


"Aku tinggal dulu sebentar," sambung Damia


Angga hanya bisa mengangguk dengan patuh. Rupanya, Damia bisa menebak alasannya saat tenggelam di kolam renang tadi.


Damia meraih kembali mangkuk kosong dan tidak lupa mengambil kain lap yang tadi digunakan untuk membersihkan jejak noda darah di lantai kamar Angga, barulah ke luar dari sana.


Damia langsung beralih menuju area kolam renang dengan membawa alat kebersihan. Suster cantik itu berjongkok untuk membersihkan pecahan beling piring dan segalas, serta bekas makanan dan minuman yang berserakan di lantai.


Damia membersihkan kekacauan di sana sambil termenung memikirkan sesuatu. Itu adalah tentang Angga.


..."Aku sudah menduga kalau hal seperti saat ini akan terjadi. Angga akan menanyakan masa lalu tentang pertemuan kami hingga akhirnya kami berteman. Aku memang tidak seharusnya menutupi perihal itu dari Angga, tapi bagaimana kalau Angga jadi teringat kalau dia pernah merasa sakit hati karena aku? Tidak, ini memang tanggung jawab aku untuk membantu Angga mengingat kembali bagian dari ingatannya yang hilang. Tidak seharusnya aku takut Angga menyalahkan aku, itu sudah hak dia mengingat kembali ingatannya yang hilang dan menyalahkan aku atas rasa sakit yang dialami dan dirasakannya. Aku hanya berharap Angga tidak terlalu terpuruk saat dia berhasil mengingat kembali semuanya dan ternyata ingatan yang teringat kembali hanya tentang rasa sakit di hatinya," batin Damia...


Awalnya Damia merasa seperti diuntungkan saat ternyata Angga mengalami hilang ingatan. Karena Damia tidak perlu merasa bersalah seperti dulu karena telah membuat Angga merasa sakit hati, ia pun bisa kembali berteman dengan Angga tanpa keduanya teringat lagi dengan bayang-bayang akan memori menyakitkan di masa lalu. Namun, rupanya Damia merasa itu semua tidak benar. Nyatanya Damia malah semakin merasa bersalah karena sudah seharusnya ia membantu Angga untuk bisa mengingat kembali memori masa lalu itu.


Tidak masalah jika Angga menyalahkan dirinya, tidak masalah jika pertemanannya dengan Angga kembali pudar dan rusak seperti dulu. Yang penting adalah Angga bisa mendapatkan haknya untuk mendapatkan dan mengingat kembali memorinya yang hilang dan Damia sendiri pun bisa melakukan tugas untuk membantu memulihkan kembali semua ingatan Angga yang hilang.


Memikirkan masalahnya dengan Angga, membuat Damia menjadi tidak fokus dan kembali terluka karena salah malah menyentuh bagian tajam dari pecahan piring dan akhirnya jemari tangannya berdarah.


.


Bersambung.