Bougenville of Love

Bougenville of Love
64 - Cita-Cita yang Terkabul.



Sampai di poliklinik rontgen, rupanya masih ada dua pasien lain yang sedang mengantre untuk melakukan pemeriksaan.


Saat itu perawat IGD langsung mendaftarkan nama pasien untuk mengantre periksa rontgen.


Usai mendaftar, perawat IGD itu kembali menghampiri.


"Maaf, Sus, saya harus langsung kembali ke IGD karena di sana masih kekurangan perawat. Saya hanya bisa mengantar sampai sini dan tidak bisa menunggu sampai pemeriksaan rontgen selesai."


"Baik, tidak apa-apa. Kalau begitu, pembaringan pasiennya biar nanti saya yang kembalikan ke ruang IGD," ujar Damia


"Ya, pakai saja dulu dan kembalikan saat sudah selesai pindahkan pasien ke ruang rawatnya nanti. Lalu, ini riwayat penyakit pasien yang baru diperiksa di IGD tadi dan riwayat dari rumah sakit yang sebelumnya." Perawat IGD itu pun memberikan data riwayat pasien pada Damia.


"Baik, terima kasih sudah mengantar sampai ke sini. Semangat dan selamat bekerja," ucap Damia


"Terima kasih kembali. Saya permisi ...."


Perawat IGD tersebut pun kembali ke tempatnya bertugas. Sedangkan, Damia dan Alina masih menunggu giliran pasien atas nama Dina untuk melakukan pemeriksaan rontgen bersama walinya.


"Untung yang antri cuma sedikit. Semoga pemeriksaan dab antreannya bisa cepat selesai," kata Alina


"Suster, maaf ... saya mau tanya."


"Ya, Pak. Silakan," kata Damia


"Sebenarnya untuk apa pasien saya periksa rontgen kalau saya rasa tidak ada hubungan sama penyakitnya?"


"Terlepas dari apa pun penyakitnya, terkadang dokter ingin memastikan melalui pemeriksaan rontgen ini kalau pasien baik-baik saja dan tidak ada virus yang menyebar pada organ yang diperiksa. Supaya tidak ada satu kondisi pun yang terlewat karena dokter ingin pasien benar-benar sembuh dari penyakitnya," jelas Damia


"Kalau boleh tahu, memangnya pasien sakit apa, Pak?" tanya Alina


"Anak saya sakit kanker rahim, Sus. Awalnya itu hanya tumor kecil, makanya saat hamil dia terus mempertahankan kandungannya hingga akhirnya dokter mengatakan tumor itu sudah berubah jadi kanker stadium 2, tapi kemarin itu dia sempat drop jadi bayi dan kanker di dalam rahimnya harus diangkat. Usia kandungannya sudah 7 bulan dan saat operasi pengangkatan kemarin untungnya saja ibu dan bayinya sama-sama selamat meski kondisi bayinya kurang baik karena lahir prematur. Lalu, sehari setelah operasi anak saya dirujuk untuk pindah ke rumah sakit ini, tapi bayinya masih di rumah sakit sebelumnya. Ada istri saya dan suami anak saya yang menunggu cucu saya di sana."


"Begitu, rupanya. Itu artinya ibu dan anaknya sama-sama kuat dan saling menguatkan hingga bisa bertahan. Semoga pasien bisa cepat sembuh dan bayinya bisa tumbuh dengan kuat agar keduanya bisa bertemu lagi nanti. Sabar saja semoga semua ini ada hikmahnya," ujar Damia


"Terima kasih, Sus," ucap pasien Dina dan ayahnya secara bersamaan.


"Saya tidak menyangka Bapak mau menunggu anak perempuannya yang sudah berkeluarga di rumah sakit sendiri seperti ini. Biasanya seorang ayah terkadang merasa sungkan saat merawat anak perempuannya yang sudah dewasa dan pasien perempuan biasanya lebih sering dirawat sama ibunya," ucap Damia


"Ya, mau bagaimana lagi, Sus? Suaminya tidak bisa mengurus bayinya yang baru lahir seorang diri karena baru pertama kali punya anak, jadi istri saya juga harus ikut menunggu dan merawat bayinya di rumah sakit sebelumnya. Soalnya orangtua suaminya masih ada di kampungnya di luar kota dan baru bisa datang besok lusa. Kalau bukan saya yang peduli dan merawat anak saya, lalu siapa lagi?"


"Benar, Pak. Karena itu yang sabar, ya. Semoga setelah datang dan dirawat di rumah sakit ini pasien Dina bisa cepat sembuh dan Bapak dan Dina bisa kembali kumpul sama keluarga," ucap Damia


"Sekali lagi, terima kasih, Sus."


"Omong-omong, berapa usia pasien Dina? Sepertinya dari yang terlihat masih muda, ya?" tanya Alina


"Usia saya 21 tahun, Sus," jawab Dina


"Kalau begitu, masih lebih tua setahun dari saya. Kalau sama Suster Damia, seumuran," ujar Suster Alina


"Benar, usia saya juga sama 21 tahun. Memang masih muda dan cantik. Pasti bisa cepat sembuh," kata Damia


Setelah menunggu antrean, kini giliran pasien Dina untuk melakukan pemeriksaan rontgen.


Rontgen merupakan tindakan medis yang menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik untuk mengambil gambar bagian dalam dari tubuh seseorang. Biasanya rontgen digunakan untuk mendiagnosa masalah kesehatan dan pemantauan kondisi kesehatan pada diri seseorang.


"Bapak, di sini saja jaga barang-barang bawaannya atau mau ikut masuk ke dalam?" tanya Damia


"Bapak di sini saja, ya, Din. Mau jagain barang-barang."


"Iya, Pak."


"Tidak apa-apa. Bapak tunggu di sini saja. Biar pasien Dina sama saya dan Suster Alina saja," kata Damia


Damia dan Alina pun membawa pasien Dina masuk ke dalam ruang pemeriksaan rontgen. Sementara wali pasien tetap di ruang tunggu sambil menjaga barang-barang bawaannya yang banyak.


Tak perlu berlama-lama, setelah beberapa menit Damia dan Alina pun ke luar dari ruang pemeriksaan rontgen dengan mendorong pembaringan pasien Dina.


"Pemeriksaan rontgen pasien Dina sudah selesai, Pak. Sekarang kita sudah bisa langsung pindah ke ruang rawat. Mari, ikuti kami, Pak ...." ucap Damia


"Maaf, Mba Dina ... tumpang barangnya di ranjang, ya. Kasihan Bapaknya bawa banyak sekali barang," sambung Damia yang meletakkan beberapa barang bawaan di atas pembaringan pasien.


Damia dan Alina pun kembali mendorong pembaringan pasien untuk beralih menuju ke bangsal dan memindahkan pasien ke ruang rawat. Kali ini, Damia membantu bawakan satu barang di tangannya yang juga digunakan untuk mendorong pembaringan pasien.


Saat sampai di bangsal, Damia dan Alina langsung mendorong pembaringan pasien Dina ke dalam salah satu ruang rawat yang sudah disiapkan sejak pagi ini sambil diikuti oleh wali pasien yang juga masuk ke dalam ruang rawat tersebut.


"Di sini ruang rawatnya. Setelah ini pasien Dina dan Bapak bisa istirahat di sini," kata Alina


"Maaf, Mba Dina ... karena sudah sampai, Mba Dina harus pindah ke ranjang rawat yang ada di kamar ini karena ranjang yang sekarang harus segera dikembalikan ke ruang IGD. Mari, saya bantu pindah ranjangnya. Pelan-pelan saja," ujar Damia


Melihat seorang suster yang membantu anaknya, wali pasien tersebut pun langsung meletakkan barangnya begitu saja di lantai ruang rawat dan ikut membantu anaknya untuk pindah dari atas ranjang ke ranjang lainnya.


"Terima kasih, Sus," ucap pasien Dina


"Sama-sama," balas Damia


"Maaf, Sus, mau tanya lagi ... pemeriksaan rontgen tadi, bagaimana dengan hasilnya dan kapan hasilnya akan ke luar?" tanya wali pasien.


"Untuk seperti apa hasilnya, saya kurang tahu karena tadi saya hanya menemani pasien Dina dan tidak masuk ke dalam ruang monitoring-nya. Kalau untuk ke luaran hasil cetaknya, paling cepat 3 atau 5 hari atau bisa lebih lama dari itu," jawab Damia


"Tadi saya yang masuk ke dalam ruang monitoring. Saya memang tidak terlalu paham dengan hasilnya karena saya bukan dokter, tapi sepertinya itu terlihat baik-baik saja," ujar Alina


"Pasien Dina, apa sudah makan atau belum?" tanya Damia


"Siang ini belum makan karena dari sebelum waktu makan sudah sibuk pindah dari rumah sakit sebelumnya dan saat sampai di sini sudah lewat waktu makan siang," jawab wali pasien


"Kalau begitu, nanti saya akan mintakan makan siang untuk pasien Dina ke dapur rumah sakit. Selamat istirahat. Kami berdua, permisi ... " ujar Damia


"Terima kasih banyak, Sus," ucap pasien dan walipasien secara bersamaan.


"Sama-sama," balas Damia dan Alina secara bersamaan.


Damia dan Alina pun mendorong pembaringan IGD yang sudah kosong ke luar dari ruang rawat tersebut.


"Damia, kalau kata kamu kenapa pasien barusan dipindahkan ke rumah sakit ini, ya? Padahal kanker pasien hanya stadium 2 dan sel kanker pun sudah diangkat dari dalam rahim. Harusnya sekali pun rahimnya yang diangkat, bukannya hanya tinggal pemulihan saja?" tanya Alina


"Bukannya data riwayat penyakit pasien sudah ada sama kamu? Itu yang dikasih sama suster dari UGD tadi?" tanya Alina


"Kita tidak ada hak untuk melihat data tersebut kecuali dokter atau saat dokter meminta kita membacakannya saat peninjauan pemeriksaan rutin. Jadi, tidak aku buka atau utak-atik sama sekali," jelas Damia


"Seperti inilah orang yang terlalu patuh dan berpegang teguh sama aturan. Padahal lihat atau intip sedikit juga tidak apa-apa," kata Alina


"Sudahlah, Al. Aku mau antar kembali pembaringan pasien ini ke IGD sekalian minta jatah makan siang untuk pasien Dina," ujar Damia


"Apa mau aku antar? Aku ikut, ya, Damia?" tanya Alina


"Tidak usah. Kamu di sini saja. Aku tahu kamu lelah," jawab Damia


"Lalu, ini ... data riwayat pasien Dina dari suster IGD yang tadi kamu bilang. Aku tidak mungkin selalu membawanya pergi ke sana-sini. Tolong kamu rapikan dan simpan yang benar. Kalau kamu mau intip, silakan saja, tapi aku sarankan jangan lakukan itu," sambung Damia yang meletakkan data riwayat pasien di atas meja pos jaga perawat.


Alina hanya mengangguk tanda mengerti. Damia pun beralih kembali menuju ke IGD untuk mengembalikan pembaringan pasien ke sana.


Alina memang merasa lelah dan alasannya ingin terus bersama dan mengikuti Damia adalah ia merasa khawatir jjka Damia diganggu oleh Dokter Raffa alias mantan kekasihnya itu lagi dan ja tidak mau itu terjadi.


"Semoga dokter Raffa tidak mencarinya untuk mengganggunya lagi," batin Alina


Alina pun melirik ke arah lembaran kertas yang bertuliskan data riwayat pasien Dina yang Damia letakkan di atas meja pos perawat jaga tadi.


"Aku lebih suka kamu yang memberi tahu aku karena tidak mudah untuk membaca riwayat medis seseorang kalau memang bukan ahlinya," gumam Alina yang sepertinya terpengaruh oleh Damia untuk tidak mengintip data riwayat medis pasien.


Alina pun merapikan data riwayat medis tersebut dan menyimpannya dengan baik.


 


Saat sampai di IGD, Damia langsung menemui salah satu perawat yang ada di sana.


"Permisi, saya datang dari salah satu bangsal, ingin mengembalikan pembaringan yang tadi dipakai untuk memindahkan pasien ke ruang rawat. Ini pembaringan milik IGD," ujar Damia


"Mau ditempatkan di mana pembaringannya, ya?" tanya Damia melanjutkan.


"Biar saya saja yang urus pembaringannya. Terima kasih sudah mengantar kembali pembaringannya ke sini."


"Terima kasih kembali. Kalau begitu, saya permisi karena masih ada tugas lain yang harus diurus ... " ucap Damia


Setelah itu, Damia pun beranjak pergi dari sana dan beralih menuju ke dapur rumah sakit untuk meminta satu porsi makanan tambahan untuk pasien yang baru datang.


Setelah memberi penjelasan singkat, Damia pun mendapat satu porsi makanan tambahan yang diminta olehnya dari staf dapur rumah sakit. Lalu, suster cantik itu pun beralih untuk kembali menuju ke bangsal tempatnya bertugas.


Begitu tiba di bangsal, Damia langsung masuk ke dalam ruang rawat pasien Dina untuk mengantarkan makan siang yang tertunda setelah mengetuk pintu dari luar.


"Permisi, maaf mengganggu ... saya mau mengantar makan siang," kata Damia


"Terima kasih, Sus," ucap pasien Dina


"Sama-sama," balas Damia


"Kalau Mba Dina belum makan, berarti Bapak juga belum makan, kan? Maaf, Pak, karena rumah sakit ini hanya menyediakan makanan untuk pasien, tapi maksud saya kalau Bapak mau pergi beli makanan, silakan saja. Biar saya yang menjaga Mba Dina di sini sekalian saya juga akan menyuapi Mba Dina makan siang selama Bapak pergi," sambung Damia


"Tidak usah, Sus. Nanti malah merepotkan. Biar saya saja yang menyuapi anak saya dan saya akan ke luar beli makan nanti saja," kata wali pasien


"Tidak apa-apa, Pak. Tidak merepotkan sama sekali karena ini juga sudah termasuk tugas saya. Tidak baik jika terus menunda waktu makan. Dari pada nanti Bapak malah sakit karena telah makan dan tidak bisa menjaga Mba Dina dengan baik, lebih baik Bapak cepat mencari makan supaya bisa cepat kembali ke sini juga," ujar Damia


"Ya sudah. Kalau begitu, saya titip anak saya sebentar, ya, Sus. Makanannya taruh saja di atas meja, biar saya yang suapi anak saya makan setelah kembali nanti. Saya tidak akan lama kok," ujar wali pasien


"Jangan khawatir. Bapak, tenang saja," sahut Damia


"Din, Bapak pergi ke luar dulu sebentar, ya ... " pamit wali pasien


"Iya, Pak. Beli makannya jangan jauh-jauh biar bisa cepat balik," kata Pasien Dina


Wali pasien itu hanya mengangguk kecil tanda mengerti dan langsung bergegas ke luar dari ruang rawat tersebut. Mungkin ia bermaksud agar bisa cepat kembali. Sementara, Damia masih ada di sana.


"Nah, Mba Dina ... ayo, duduk dulu supaya lebih mudah makannya. Sini, saya bantu ... " kata Damia


Damia lebih dulu meletakkan makan siang di atas meja dan beralih untuk membantu Pasien Dina agar bisa duduk bersandar di atas ranjang rawat.


"Terima kasih, Sus. Tapi, tidak perlu. Tinggalkan saja makanannya di atas meja seperti yang bapak saya bilang. Saya juga tidak apa-apa ditinggal sendiri. Bapak saya bilang tidak akan lama kok," ucap Pasien Dina


"Saya juga tidak apa-apa menyuapi Mba Dina di sini soalnya saya juga lagi senggang," sahut Damia dengan bumbu dusta.


Tugas perawat mana yang tidak sibuk, apa lagi mendekati jam pulang kerja seperti saat ini. Namun, Damia pun tidak bisa dibilang menganggur atau bermalas-malasan saat bekeria karena menyuapi makan pasien juga bagian dari pekerjaannya merawat pasien.


Akhirnya, Pasien Dina pun menurut dan dibantu duduk oleh Damia. Dengan bantal yang Damia tinggikan, Pasien Dina pun duduk sambil bersandar.


Damia menusuk gelas air kemasan dengan menggunakan sedotan dan memberikannya pada Pasien Dina.


"Sebelum makan, minum dulu supaya lebih mudah menelan," kata Damia


"Terima kasih, Sus," ucap Pasien Dina yang menerima gelas kemasan dan meminumnya, lalu tetap memegangnya dengan kedua tangan.


"Mba Dina, bilang saja kalau suapan saya terlalu cepat atau kasar. Maka, saya akan memperbaiki cara menyuapinya," ujar Damia yang mulai menyuapi sesendok makanan pada Pasien Dina.


"Panggil saya dengan nama, Dina, saja, Sus. Kan, kita seumuran," pinta Pasien Dina


"Saya lebih nyaman memanggil dengan sebutan Mba Dina, seperti Mba Dina memanggil saya dengan sebutan Suster. Lalu, nama saya Damia. Kalau suster tadi yang satu lagi, namanya Alina. Lagi pula, kalau dari pengalaman hidup sepertinya Mba Dina lebih berpengalaman dari pada saya. Mba Dina sudah menikah dan sudah punya anak juga," ucap Damia


"Apa sakit juga termasuk pengalaman hidup? Apanya yang namanya berpengalaman kalau saya hanya diam di rumah setelah menikah? Lalu, setidaknya Suster Damia sudah punya pacar, kan? Apa tebakan saya benar?"


"Meski pun baru punya anak, menjadi ibu rumah tangga itu juga sebuah pekerjaan. Lalu, dulu saya juga pernah sakit parah saat kecil, makanya saya ingin menjadi seorang perawat karena merasakan kebaikan perawat yang merawat saya saat sakit dulu. Saya hanya sedikit lebih beruntung karena cita-cita saya bisa terkabul. Dan sepertinya dari yang saya lihat, Mba Dina ini tipe orang rumahan yang tidak bisa hanya diam. Pasti Mba Dina punya usaha kecil-kecilan di rumah, kan? Apa tebakan saya benar?" tanya balik Damia


"Iya, benar. Di rumah, saya berjualan ke teman-teman dekat atau persekitaran rumah dengan promosi lewat media sosial. Lalu, tebakan saya soal pacar Suster Damia sepertinya memang benar," jawab Pasien Dina


Damia hanya menanggapi kalimat terakhir Pasien Dina dengan tersenyum. Lalu, keduanya melanjutkan mengobrol ringan dengan Damia yang duduk di kursi di samping ranjang rawat sambil menyuapi Pasien Dina sedikit demi sedikit.


.


Bersambung.