Bougenville of Love

Bougenville of Love
6 - Tanaman Bunga Kertas di Sepanjang Jalan.



Angga terus menatap tanaman berbunga di jalan tersebut dengan tatapan sendu. Damia pun tersenyum miris.


"Ini adalah bunga kertas di sepanjang jalan. Biasa juga disebut Bougenville flowers. Bunga ini seperti tanaman semak belukar, namun berbunga. Bunga ini juga punya makna tersendiri, lho. Yang artinya kehidupan dan kasih sayang," ungkap Damia


"Itu arti dalam makna positifnya. Selain itu pasti ada arti dari makna negatifnya," kata Angga


"Apa kamu mengetahuinya atau mengingat sesuatu dari ingatan lama kamu tentang bunga ini?" tanya Damia


"Tidak tahu, tapi aku mungkin pernah tahu sesuatu. Mungkin aku pernah diberi tahu seseorang tentang bunga ini. Sepertinya," jawab Angga


"Aku kira kamu tahu atau ingat sesuatu," kata Damia


^flashback on^


Suatu hari sepasang manusia sedang berjalan kaki di atas trotoar pinggir jalan. Kedua insan berjalan santai sambil salah satunya bicara dan satu lainnya terus mengetik dengan ponsel karena tidak bicara normal.


Mereka berdua pun berhenti saat menyadari ada tanaman berbunga di trotoar jalan yang dilewati bersama.


"Damia, berhenti dulu," ucap si lelaki.


Si gadis yang tidak bicara pun mengetik sesuatu dengan menggunakan ponselnya yang lalu diperlihatkan pada teman lelakinya, ^ada apa?^


"Di sini ada banyak bunga. Cantik, deh. Seperti kamu."


^Kamu bisa saja. Itu bunga kertas. Bisa disebut juga Bougenville flowers.^


"Apa kamu tahu arti dari makna bunga ini, Damia?"


^Aku tahu. Makna bunganya bagus, lho. Artinya kehidupan dan kasih sayang. Ada juga yang mengartikannya sebagai bunga penuh berkah.^


"Bagus, ya, artinya."


Si gadis itu mengangguk.


^Tanaman ini seperti semak belukar, tapi memiliki bunga yang indah. Bunganya tipis dan terlihat rapuh, meski begitu tanaman ini juga memiliki duri seperti semak belukar pada umumnya. Seolah memiliki kemampuan melindungi diri dari bahaya yang mengancam, mungkin karena itulah arti bunganya adalah kehidupan. Sama seperti bunga mawar.^


"Itu adalah makna dalam artian positifnya. Apa kamu juga tahu makna dalam arti negatifnya?"


^Ya, aku tahu juga. Ada yang bilang bunga ini adalah bunga iblis. Yang buat jadi sulit dapat jodoh dan jika ditanam di halaman rumah, konon katanya akan membuat para lelaki tidak betah berada di rumah.^


"Itu agak mengerikan. Tapi, rasanya tidak masuk akal memberi artian negatif pada bunga yang cantik seperti ini. Aku lebih suka dengan arti positifnya. Apa lagi saat aku menemukan bunga ini, ada kamu yang sedang bersamaku. Sepertinya aku mendapat berkah dari bunga ini seperti makna positifnya. Semoga hubungan antara kita juga dipenuhi dengan kasih sayang sama seperti arti lain bunga ini yang juga bertahan di sepanjang kehidupan seperti arti lain bunga ini juga dan seperti bunga ini yang ada di sepanjang jalan."


Si gadis pun tersenyum.


Percakapan di dalam tanda ^^ adalah yang diketik pada ponsel karena si gadis tidak bicara.


^flashback off^


Damia teringat akan momen masa lalu saat masih berteman hangat dengan Angga yang masih mengiranya sebagai gadis bisu yang tidak bisa bicara.


..."Rupanya tanpa sadar kamu menyadari momen itu sebagai ingatan yang menyakitkan bagimu. Mungkin karena ada aku di dalam ingatanmu tentang bunga ini. Maafkan aku, Angga," batin Damia...


Angga sibuk memotret bunga kertas di sepanjang jalan tersebut dengan menggunakan ponselnya.


"Apa kamu juga tahu arti dari makna negatif bunga ini?" tanya Angga


Damia hanya bisa tersenyum saat Angga bertanya seperti yang sudah pernah ditanyakan di masa lalu tanpa menjawabnya lagi seperti dulu.


..."Rasanya aku sangat familiar dengan bunga kertas ini. Bukan karena bunga ini sering ditemui di jalan seperti saat ini, tapi karena hal lain. Dan aku merasa itu ada hubungannya dengan Damia. Seperti aku sudah lama kenal dengan Damia. Saat di rumah tadi, aku juga bukan tanpa alasan bertanya apa Damia suka memasak, melainkan sepertinya aku memang tahu hobi suster ini dari dulu. Apa benar aku sudah lama saling kenal dengan Suster Damia?" batin Angga...


Tanpa sadar, pandangan Angga beralih dari bunga kertas pada Damia. Lalu, lelaki itu memetik bunga tersebut dan secara otomatis tangannya bergerak menyelipkan bunga tersebut di sela belakang telinga Damia.


"Nah, kalau seperti ini baru terpadu dengan serasi. Yang cantik harus bersama dengan yang cantik juga supaya terlihat semakin cantik dan indah," ujar Angga


Damia tertegun sambil memegangi bunga yang diselipkan di belakang telinganya oleh Angga. Dulu lelaki di hadapannya itu juga pernah melakukan hal yang sama.


Angga pun mengambil potret diri gadis di depannya dengan menggunakan ponsel miliknya.


"Aku bantu kamu mengambil foto. Sayang kalau hal indah seperti ini dilewatkan tanpa diabadikan. Setelah ini aku bisa mengirimkan fotonya ke HP kamu. Tapi, aku butuh nomor kamu dulu supaya bisa mengirim foto. Jadi, berapa nomor HP kamu?" tanya Angga


Damia pun menyebutkan nomor ponsel miliknya yang telah dihafal hingga ke luar kepala. Tanpa sadar gadis itu memberi tahu nomor ponselnya lagi pada Angga padahal dulu gadis itu sudah meminta dan yakin Angga telah menghapus nomor miliknya.


..."Tanpa sadar aku langsung menyebut nomor HP-ku lagi dan memberitahunya pada Angga. Padahal dulu aku sudah minta Angga menghapusnya," batin Damia...


Angga merasa aneh. Saat Damia menyebut nomor ponselnya, lelaki itu seolah tahu bahkan saat Damia menyebutkan satu per satu angka, Angga seolah hafal dengan angka lanjutannya hingga bisa mengetik dengan lancar pada layar ponsel miliknya.


..."Aku hafal nomor ini seolah de javu. Tapi kalau aku tahu dan hafal, kenapa nomor ini masih belum tersimpan di kontak HP-ku? Jejaknya seolah hilang seperti ingatanku. Nomor HP, sekaligus pemiliknya ... Damia. Lupakan dulu tentang ingatanku yang hilang, yang penting sekarang aku punya nomor Suster Damia. Entah kenapa rasanya aku senang sekali," batin Angga...


Lalu, Angga langsung mengirim potret diri Damia ke nomor yang tadi disebutkan oleh gadis itu.


"Fotonya sudah aku kirim. Kamu bisa cek HP kamu," kata Angga


"Ya, kiriman fotonya sudah masuk. Hasilnya bagus. Terima kasih," sahut Damia setelah mengecek ponselnya yang diambil dari saku pakaiannya.


"Tentu saja. Kalau soal foto memfoto, aku ahlinya!" seru Angga membanggakan dirinya sendiri.


..."Rupanya keahlian kamu masih ada dan tidak hilang. Dari dulu kamu memang suka sesuatu yang berbau fotografi," batin Damia...


"Tapi, saat aku mengirim foto, kenapa HP kamu tidak berbunyi?" tanya Angga


"Aku sudah biasa mengatur HP-ku ke mode diam. Karena saat di rumah sakit tidak boleh berisik dengan suara HP supaya tidak mengganggu pasien. Meski aturannya harus menyimpan HP di loker saat jam kerja, terkadang suster bahkan dokter membandel dengan membawa HP di dalam saku seragam. Jadi, kami tidak punya pilihan lain selain mengaktifkan mode diam," jelas Damia


"Wah ... aku kira, kamu sangat disiplin dengan segala peraturan yang ada," ledek Angga


"Aku juga manusia biasa. Apa lagi, para senior dan dokter juga melakukan hal serupa, jadi aku tergoda melakukan yang sama," ujar Damia


"Kamu tidak akan memberi laporan buruk tentang kelalaian kinerjaku yang seperti ini pada pihak rumah sakit, kan?" tanya Damia


"Untuk apa aku melakukan hal seperti itu? Kan, saat ini kamu tidak sedang bekerja di rumah sakit. Memangnya pasien bisa membuat laporan yang seperti itu?" tanya balik Angga


"Tentu saja. Saat pasien rumah sakit mendekati waktu pulang atau saat dokter penanggung jawab sudah memutuskan waktu kepulangan pasien, maka kepala perawat pada setiap bangsal rumah sakit akan memberikan secarik kertas formulir untuk pasien isi. Itu adalah rincian penilaian pasien tentang kinerja para perawat. Kelebihan, kekurangan, kelalaian ... perawat favorit, atau sebaliknya. Semacam itu. Entah jika di rumah sakit lain menggunakan cara yang sama atau tidak, tapi di rumah sakit tempat aku bekerja melakukan hal seperti itu," ungkap Damia


"Mungkin saat waktu kerjaku denganmu habis, aku akan diminta pihak rumah sakit untuk mengantar kertas fomulir itu padamu untuk kamu isi tentang penilaianmu terhadap kinerjaku," sambung Damia


"Yang seperti itu mungkin Mama yang akan mengisi dan mengurusnya," kata Angga


Setelah itu, Angga dan Damia pun memilih untuk kembali menuju ke rumah. Saat itu ada beberapa ibu-ibu yang lewat di sana.


"Angga, lagi jalan-jalan, ya? Sama siapa? Pacarnya?"


"Bukan, Bu. Saya perawat yang datang dari rumah sakit," sangkal Damia dengan cepat.


..."Cepat sekali buat klarifikasi. Sepertinya hanya aku yang berlebihan dalam berharap," batin Angga...


"Oh, ya, benar ... kabarnya Angga habis kena kecelakaan, ya? Sempat dirawat di rumah sakit, kan? Bagaimana keadaannya?"


"Sudah lebih baik, Bu," jawab Angga


"Semoga cepat sembuh, ya, Angga."


"Terima kaaih atas doanya, Bu," ucap Angga


.



Bersambung.