
Meski merasa ragu, bukan berarti suster cantik itu merasa takut jika harus pergi ke tempat wisata yang memicu adrenaline atau takut naik wahana yang anti-meanstream. Hanya saja gadis perawat itu justru memikirkan pasien lelakinya. Ini soal riwayat kesehatan Angga.
"Sepertinya itu kurang baik. Lebih baik kita kembali pulang ke rumah saja," ujar Damia
"Memangnya kenapa, Damia?" tanya Angga
"Ini soal kamu yang punya riwayat amnesia. Perasaan yang dipicu oleh adrenaline terkadang dapat menimbulkan efek besar untuk memunculkan ingatan yang sempat terlupa secara tiba-tiba. Ini terdengar bagus, tapi juga ada resikonya. Itu juga dapat meningkatkan resiko mengalami pusing atau sakit kepala. Jika seperti ini, bisa saja akan membuat keluhan lain malah bermunculan. Bagaimana jika sakit kepala kamu timbul dan tidak dapat tertahankan? Bukankah itu sangat bahaya?" tanya balik Angga
"Tapi, aku sudah sangat merencanakan hal ini. Aku sudah sangat menantikannya," kata Angga yang memohon sambil menunjukkan raut wajah memelas.
Damia pun terdiam. Suster cantik itu merasa serba salah, apa lagi dirinya adalah tipe orang yang tidak tegaan. Sejak dulu, dari awal menjadi perawat, gadis itu selalu merasa tidak tega saat melihat wali pasien yang memohon pertolongan dari pihak para medis.
Meski kali ini adalah hal yang berbeda, tapi Damia tetap lemah terhadap permohonan atau permintaan.
"Sepertinya dalam hal ini aku tidak bisa membuat keputusan," kata Damia
"Ayolah, Damia ... aku janji tidak akan naik wahana yang terlalu ekstrem," bujuk Angga
"Memangnya kamu punya rencana mau ke mana?" tanya Damia
"Awalnya aku mau mengajak kamu bermain di area outbound, tapi bagaimana kalau kita ke taman bermain Dunia Fantasi saja? Atau kamu saja yang memilih?" tanya balik Angga
"Aku tidak bisa memilih. Kalau kamu tanya sama aku, lebih baik kita kembali pulang ke rumah saja. Aku rasa itu pilihan yang terbaik dan paling aman," jawab Damia
"Jangan dong. Sudah lama kita tidak pergi berdua, lho. Kali ini ayo kita main dan jalan-jalan sepuasnya. Lagi pula, aku yang traktir," ujar Angga
"Ini bukan soal uang atau siapa yang traktir. Kalau kamu merasa berat dan tidak adil karena hal itu, kalau kamu merasa tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan uang yang kita habiskan saat di luar, aku bisa mengganti uang yang sudah kamu keluarkan untuk aku," ucap Damia
"Tidak, maksudnya bukan seperti itu. Aku benar-benar hanya ingin kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti dulu dan aku harap kamu menikmatinya," kata Angga
"Aku selalu menikmati waktu saat kita sedang bersama, tapi aku juga berpikir demi kamu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu," ujar Damia
..."Damia, memikirkan aku. Itu artinya dia peduli sama aku!" batin Angga...
"Aku senang mendengarnya, tapi aku juga ingin kita bisa bersenang-senang. Aku merasa kalau bukan sekarang, ke depannya akan sulit melakukannya bersama kamu lagi di lain waktu. Aku mohon ... " ucap Angga
"Aku tidak menerima permohonan," kata Damia yang sebenarnya merasa lemah dan tidak tega untuk menolak.
"Damia Lutfiah, untuk kali ini ... aku, Angga Purnomo Saputra mohon sama kamu," mohon Angga
"Tapi, jarak dari sini ke sana jauh, kan?" tanya Damia yang akhirnya terdengar pasrah.
"Memang lumayan jauh, sekitar setengah jam. Tapi, kamu jadi bisa istirahat selama perjalanan," jawab Angga
Damia terdiam.
"Damia, kamu mau, kan? Ya?" tanya Angga
Damia menghela nafas pasrah.
"Ya sudah, oke. Cepat pesan mobilnya, aku mau cepat-cepat duduk bersandar di dalam mobil pakai AC. Di dalam mobil nanti, kamu jangan ganggu aku yang sedang istirahat," jawab Damia
"Oke, siap. Aku langsung pesan mobilnya sekarang!" seru Angga yang langsung berkutat dengan ponsel miliknya untuk memesan taksi online via aplikasi.
"Tapi, sesuai sama perkataan kamu, ya. Aku tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun. Soalnya aku masih belum terima gaji," ujar Damia
"Soal itu kamu tenang saja. Jalan-jalan kali ini, aku yang akan mensponsori," kata Angga
Diam-diam Damia tersenyum saat Angga tidak menyadari karena sedang fokus pada ponsel miliknya untuk memesan taksi online.
"Mobilnya sudah berhasil dipesan. Hanya tinggal menunggu saja," kata Angga
"Ya, semoga mobilnya cepat sampai. Aku sudah lelah terus berdiri dan berjalan dari tadi," ujar Damia
"Apa kamu mau bersandar sama aku dulu?" tanya Angga menawarkan diri.
"Tidak perlu. Lagi pula, kenapa di sini malah tidak ada tempat duduk, sih ... " dumel Damia
"Sudah, sini ... " Angga langsung menarik dan merangkul tubuh Damia agar suster cantik itu bisa bersandar padanya.
"Eh, eh ... " Damia terkejut saat Angga tiba-tiba menarik dan merangkul dirinya.
Saat ini posisi Damia jadi bersandar pada Angga yang merangkul tubuhnya.
"Kamu jangan anggap aku sebagai pasien terus dong!" seru Angga
"Aku juga tidak bermaksud seperti itu. Aku juga tahu kamu bukan orang yang lemah, tapi aku hanya tidak ingin membebani kamu," kata Damia
Saat Damia menolak untuk bersandar padanya, Angga berpikir suster cantik itu terus menganggapnya sebagai pasien yang lemah. Padahal Damia hanya tidak ingin membebani lelaki itu apa lagi merepotkannya.
Tak sadar, kini Damia terus diam bersandar sambil dirangkul oleh Angga. Hingga akhirnya suster cantik itu tersadar saat mobil taksi online yang telah dipesan datang menjemput dan berhenti di dekat mereka berdua.
Damia pun segera menjauhkan diri dari Angga dengan cepat dan suasana antara keduanya menjadi canggung.
"Mobilnya sudah datang!" seru Damia demi menghilangkan suasana canggung antara dirinya dan Angga.
"Benar, nomor plat mobilnya sesuai dengan yang ada di aplikasi. Cepat sekali datangnya," kata Angga
"Kalau begitu, aku masuk mobil duluan, ya," ujar Damia
Damia berusaha menghindar dari Angga dengan masuk ke dalam mobil lebih dulu agar tidak lagi merasa canggung dengan lelaki itu. Padahal di dalam mobil pun keduanya akan tetap duduk bersebelahan.
..."Aku kira mobil yang sudah dipesan tidak akan datang secepat ini. Mengganggu saja! Padahal tadi lagi asik memeluk Damia! Tapi, alu tidak boleh seperti ini. Ini justru bagus karena Damia ingin beristirahat di dalam mobil selama perjalanan nanti. Hanya saja aku merasa kesempatan untuk berdekatan dengan Damia telah hilang," batin Angga...
Angga pun ikut beranjak masuk ke dalam mobil.
"Angga, aku mau memejamkan mata dulu sebentar, ya. Kalau memang nanti sudah sampai, bangunkan saja aku," ucap Damia
"Oke," sahut Angga
Damia pun sibuk mencari posisi duduk yang nyaman sambil bersandar. Sedangkan Angga memasangkan headset pada ponsel miliknya.
"Damia, apa kamu mau sambil mendengar lagu?" tanya Angga menawarkan.
"Boleh, deh ... " Angga pun langsung memasangkan sebelah headset pada telinga Damia dan sebelahnya lagi di telinganya sendiri.
"Terima kasih," ucap Damia
"Hmm ... sama-sama," balas Angga
Sambil mendengar lagu dengan headset yang terpasang pada salah satu telinganya, Damia pun memejamkan kedua matanya.
Mobil pun mulai melaju.
Posisi Damia saat ini bersandar sambil memejamkan kedua matanya. Sebenarnya suster cantik itu tidak bisa tertidur meski sudah memejamkan mata. Hanya saja gadis perawat itu tidak ingin terus menerus berada dalam suasana canggung dengan Angga saat hanya berdua berada di dalam mobil dengan lelaki itu di jok penumpang.
Awalnya Damia hanya sekadar memejamkan mata. Namun, karena suasana hening lama kelamaan suster cantik itu terlelap juga.
Angga sesekali memerhatikan arah jalan. Namun, lelaki itu lebih sering memandang ke arah wajah suster cantik yang tertidur di sampingnya.
Sore hari berada di perjalanan di dalam sebuah mobil, sinar matahari yang mulai meredup masih saja menembus masuk ke dalam melalui kaca mobil.
Meski redup, sinar matahari itu mengusik tidur Damia. Hingga suster cantik itu terlihat tidur sambil mengerutkan keningnya karena terkena sinar matahari. Melihat itu, Angga langsung menghalau sinar matahari menggunakan tangannya agar tidak mengenai wajah Damia. Suster cantik itu pun kembali tertidur dengan wajah teduh tanpa merasa terusik dengan sinar matahari.
Saat hampir tiba di lokasi tujuan selama perjalanan 30 menit, Angga pun membangunkan Damia yang masih tertidur dengan nyaman.
"Damia, ayo bangun ... kita sudah hampir sampai!" Angga berseru pelan untuk membangunkan Damia yang tertidur.
Saat hendak mencari tempat berhenti yang aman, tiba-tiba saja mobil berguncang karena melintas di atas batu yang cukup besar. Karena guncangan itu, Damia yang tertidur tanpa sadar menjatuhkan kepalanya pada bahu Angga yang duduk dan berada di sampingnya.
Berada di dalam posisi itu, jantung Angga jadi berdegup kencang karena menjadi sangat dekat dengan Damia.
"Maaf, ya. Saya tidak sadar kalau tadi ada batu."
"Tidak apa-apa, Pak," kata Angga
Saat itu juga, Damia pun terbangun dari tidurnya tepat saat mobil berhenti. Suster cantik itu terlihat mengerjapkan kedua matanya secara perlahan.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Damia dengan suara lirih karena baru saja terbangun dari tidurnya.
"Ya, kita sudah sampai. Baru saja," jawab Angga
Tersadar sepenuhnya, Damia baru menyadari bahwa posisi tidurnya jadi bersandar pada bahu Angga. Buru-burulah suster cantik itu menegakkan posisi duduknya.
..."Kenapa aku bisa jadi bersandar di bahu Angga? Padahal aku sangat yakin tadi tidak seperti itu. Lagi pula, kenapa aku jadi tidur sungguhan, sih? Dasar, Damia! Apa aku tidak punya pertahanan diri? Bisa-bisanya aku tertidur di samping lelaki begitu saja!" batin Damia yang merutuki dirinya sendiri....
"Kalau begitu, Angga ... aku turun duluan, ya," ujar Damia
Angga hanya mengangguk kecil. Damia pun beranjak turun dari mobil. Sedangkan Angga lebih dulu membayar ongkos perjalanan, baru setelah itu turun dari mobil menyusul suster cantik yang sedang menunggunya.
"Angga, aku mau ke toilet," kata Damia
"Kalau begitu, kita masuk dulu dan langsung cari toilet. Aku juga mau ke toilet," ujar Angga
Saat masuk usai membeli dan membayar tiket, keduanya pun langsung mencari toilet terdekat.
Di dalam toilet, selain buang air, Damia juga membasuh wajahnya agar bisa kembali segar setelah sempat tertidur di dalam mobil selama perjalanan.
Sama seperti Damia, Angga juga membasuh wajahnya. Tentu saja di dalam toilet yang berbeda karena toilet antara pria dan wanita terpisah.
Angga menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada tepat di hadapannya.
..."Damia hanya tidak sengaja bersandar di bahu aku saat tidur, itu pun karena guncangan pada mobil. Kenapa karena hal seperti itu saja jantung ini terus berdebar kencang? Lalu, kenapa juga aku merasa panas? Padahal ini sudah sore, matahari sudah tidak terik lagi. Tadi pun aku ada di dalam mobil ber-AC," batin Angga masih dengan wajah yang basah setelah dibasuh dengan air....
Angga pun membasuh wajahnya sekali lagi dengan air. Lalu, lelaki itu pun mengeringkan air di wajahnya. Setelah itu, Angga pun ke luar dari toilet.
Saat ke luar, terlihat Damia sudah menunggunya di dekat tanda masuk toilet. Angga pun menghampiri suster cantik itu.
Berjalan mendekat ke arah Damia sambil membayangkan saat dirinya berada dalam jarak yang dekat dengan suster cantik itu, membuat wajah Angga bersemu merah.
Damia menoleh dan tersenyum saat melihat Angga sudah ke luar dari toilet. Melihat senyuman manis suster cantik itu, wajah memerah Angga semalin menjadi-jadi.
"Angga, wajah kamu merah. Kenapa? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Damia
"Tidak kok. Aku hanya merasa sedikit kepanasan," jawab Angga
"Benarkah hanya karena itu?" tanya Damia
"Benar, sungguh ... " jawab Angga
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita beli es krim dulu? Aku sedang ingin makan es krim," ujar Damia
"Baiklah. Ayo, kita cari dan beli," kata Angga
Keduanya pun beranjak untuk mencari dan membeli es krim.
..."Aku jadi seperti ini karena kamu, tahu ... Damia!" Angga hanya mampu berteriak di dalam hatinya....
Setelah membeli es krim, Damia dan Angga berjalan-jalan sebentar sambil menghabiskan es krim seraya memerhatikan beberapa wahana yang mereka lewati.
"Lihat, wajah kamu sudah lebih baik. Tidak terlalu merah lagi!" seru Damia
"Baguslah," singkat Angga
"Apa wajah kamu memerah karena sudah lebih dulu merasa tegang sebelum naik wahana? Kalau begitu, kita pulang saja dan tidak perlu main di sini," ujar Damia
"Tidak kok. Aku masih sangat bersemangat ingin main di sini. Jangan pulang dulu dong. Kan, sayang kalau belum apa-apa, tapi sudah pulang," ucap Angga
"Siapa suruh kamu malah mengajak pergi ke sini padahal sudah menghabiskan banyak uang sebelumnya?" tanya Damia
"Damia, apa kamu sebegitunya tidak ingin pergi main sama aku?" tanya balik Angga
"Maksudnya juga bukan seperti itu, tapi kamu janji, ya! Jangan naik wahana yang terlalu ekstrem!" seru Damia
"Lelaki itu yang dipegang adalah ucapan janjinya," sahut Angga
Damia terkekeh kecil.
"Apa sebenarnya kamu yang takut naik wahana ekstrem?" tanya Angga
"Enak saja, tidak kok. Ini juga demi kebaikan kamu," jawab Damia
"Kalau begitu, ayo kita mulai bermain dan naik wahananya!" seru Angga
"Tapi, es krimnya masih belum habis," kata Damia
"Kita naik wahana yang santai dulu saja. Ayo, pergi ke istana boneka," ujar Angga
"Baiklah," sahut Damia
Keduanya pun beralih nenuju ke istana boneka.
.
Bersambung.