
"Ayah jadi merasa tidak enak karena menyuruh kamu cepat pulang saat kamu sedang pergi sama Angga," ucap Ayah Dodi
"Tidak apa-apa kok, Ayah. Angga juga bisa mengerti," kata Damia
"Apa benar seperti itu? Apa tadi Angga sempat terlihat merasa kesal atau moodnya hilang saat harus mengamtar kamu pulang lebih cepat dari rencana?" tanya Ayah Dodi
"Tidak kok, Ayah. Malah tadi Angga yang menyarankan supaya aku langsung pulang setelah aku menerima telepon dari Ayah yang minta aku cepat pulang. Ya, meski tadi kami masih sempat beli camilan dan sapu tangan sebelum pulang," jelas Damia
"Omong-omong, memang sebenarnya apa urusan yang Ayah bilang saat telepon tadi? Kenapa tidak langsung beri tahu aku saat telepon tadi?" tanya Damia melanjutkan.
"Rasanya tidak enak jika mengatakannya di telepon. Sebenarnya urusan yang Ayah bilang saat telepon tadi adalah om Herman meminta untuk bertemu. Masih belum jelas karena apa, tapi sepertinya ini ada hubungannya sama putusnya pertunangan kamu sama Raffa," ungkap Ayah Dodi
"Oh, soal itu. Sudah aku duga waktu seperti ini akhirnya datang juga," gumam Damia
"Om Herman minta untuk bertemu saat makan malam nanti," kata Ayah Dodi
"Om Herman ingin bertemu kita di mana?" tanya Damia
"Sepertinya mereka akan datang ke rumah saat waktu makan malam nanti," jawab Ayah Dodi
"Sepertinya sedikit tidak pantas untuk mereka datang saat pertunangan antara Damia dan Raffa sudah putus," ujar Ibu Rita
"Aku juga berpikir yang sama seperti Ibu, tapi sepertinya tidak masalah kalau untuk terakhir kali dan untuk menjelaskan keadaan yang terjadi," ucap Damia
..."Dari pada kita bertemu dengan mereka di tempat lain dan ada yang merekam percakapan kita seperti yang pernah terjadi di restoran sebelumnya," batin Damia...
"Hitung-hitung ... anggap saja terima tamu biasa. Tolong siapkan makanan untuk malam nanti," kata Ayah Dodi
"Harus masak apa untuk makan malam nanti, Ayah?" tanya Ibu Rita
"Apa saja, yang sederhana juga tidak apa-apa ... " jawab Ayah Dodi
"Meski merasa kecewa sama Raffa, tapi kita harus tetap menjaga sikap saat terima tamu nanti," ujar Ayah Dodi
"Aku mengerti, Ayah ... " kata Damia
Ibu Rita hanya mengangguk pelan. Sepertinya Ibu Rita sangat merasa kecewa dan marah saat sang putri kesayangan dipermaikan hatinya dengan diselingkuhi.
Menjelang makan malam, Damia pun membantu sang ibu untuk memasak di dapur.
"Damia, kamu harus banyak sabar saat bertemu Raffa nanti, ya ... " ucap Ibu Rita
"Ya, Bu. Aku mengerti. Aku sudah biasa bertemu dengan dia di rumah sakit," kata Damia sambil tersenyum kecil.
"Kasihan, putri kesangan Ibu ... " batin Ibu Rita
"Ibu pikir kalau kamu ingin marah sama Raffa nanti juga tidak apa-apa. Ibu juga akan ikut memarahi dia nanti. Berani-beraninya dia selingkuh saat statusnya masih bertunangan sama kamu!" seru Ibu Rita yang seolah ikut merasa kekesalan sang putri.
"Aku pikir sia-sia saja kalau aku marah. Percuma saja dan hanya buang-buang tenaga, lagi pula aku sudah baik-baik saja dan tidak mempermasalahkan hal yang sudah berlalu," ujar Damia
"Omong-omong, tumben sekali Ibu jadi emosian bahkan sampai mengompori aku untuk meluapkan amarah di depan orang lain," sambung Damia
"Itu karena Ibu kecewa sama kelakuan Raffa yang sudah selingkuh di belakang kamu," kata Ibu Rita
Damia hanya tersenyum kecil. Suster cantik itu bisa mengerti bahwa sang ibu ikut merasakan kekecewaannya yamg diselingkuhi oleh lelaki yang sudah menjadi tunangannya sendiri.
Usai memasak dan menata makanan di atas meja makan, dua perempuan di rumah itu langsung berganti pakaian demi bersiap untuk menerima tamu. Begitu juga dengan satu-satunya pria di rumah itu.
Setelah bersiap dengan rapi dan menunggu beberapa saat, tamu yang telah ditunggu akhirnya datang jua. Mereka yang datang adalah Raffa dan kedua orangtuanya, Om Herman dan Tante Risma.
Saat tamu datang, Damia-lah yang membukakan pintu.
"Selamat malam, Raffa," sahut Damia sambil mengulas senyum tipis sebatas formalitas.
"Damia masih tetap sama ... Dia sangat cantik," batin Raffa
"Apa kabar, Tante, Om?" tanya Damia yang beralih bicara pada kedua orangtua mantan tunangannya sebagai sikap sopan santunnya.
"Kami baik, Damia," jawabnya, Mama dari Raffa, Tante Risma.
"Damia, apa Ayah dan Ibu-nya ada?" tanya Om Herman, Papa dari Raffa.
"Ada di dalam. Silakan masuk, semuanya ... " jawab Damia yang langsung mempersilakan para tamu untuk masuk ke dalam rumah.
Raffa dan kedua orangtuanya pun masuk ke dalam rumah Damia.
Rupanya, Raffa datang dengan membawa bingkisan. Damia tidak terlalu memerhatikan itu sebelumnya. Raffa pun langsung memberikan bingkisan yang dibawa olehnya pada Ibu Rita.
"Om, Tante, apa kabar? Ini saya ada bawa sesuatu," ujar Raffa
"Kami baik-baik saja," jawab Ayah Dodi
"Terima kasih, Raffa," ucap Ibu Rita saat menerima bingkisan dari mantan tunangan putri cantiknya itu.
Sepertinya Ibu Rita sudah sangat berusaha untuk menahan emosinya saat melihat lelaki yang sudah tega mengecewakan dan menyakiti hati anak gadisnya.
"Karena sudah waktunya makan malam, bagaimana kalau kita makan dulu? Makanan sudah disiapkan," ujar Ayah Dodi
"Tidak perlu. Jadi merepotkan," sahut Om Herman
"Tidak apa-apa. Ayo, kita makan dulu," kata Ayah Dodi
Mereka semua pun beralih bersama ke meja makan dan satu per satu dari mereka duduk di kursi yang ada.
"Maaf, kami hanya bisa menyuguhkan makanan seadanya," kata Ibu Rita
"Tidak masalah, Bu. Justru kami yang tidak enak karena di saat seperti yang sekarang ini, kami malah masih bisa menerima sambutan dan suguhan yang baik," ujar Tante Risma
"Makanan sudah didepan mata, ayo makan dulu. Silakan dinikmati," ucap Damia
Mereka pun mulai melangsungkan makan malam bersama. Namun, hanya ada keheningan selama proses makan malam berlangsung dan yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring. Masing-masing dari mereka pun hanya makan sedikit. Mungkin karena berada di tengah masalah yang bahkan belum sempat dibicarakan dengan jelas membuat mereka semua kurang berselera untuk makan.
Setelah makan malam berakhir, semua menjadi hening dan tidak ada satu pun tangan yang berada di atas meja.
"Sebenarnya kami datang ke sini karena ada sesuatu yang ingin kami bicarakan," ucap Om Herman
"Kalau begitu, mari kita pindah ke ruang tamu agar bisa bicara dengan lebih nyaman," ujar Ayah Dodi
"Saya akan buatkan minuman untuk kita semua," kata Damia
"Tidak perlu repot-repot lagi, Damia. Kita baru saja selesai makan," ujar Tante Risma
"Tidak apa-apa, Tante. Hanya sekadar minuman. Nanti pasti akan merasa haus jika terus bicara tanpa minum. Semuanya silakan pindah lebih dulu ke ruang tamu," ucap Damia
"Saya akan menyusul nanti. Saya mau bantu anak saya," kata Ibu Rita
Saat itu hanya Ayah Dodi-lah yang memandu para tamu untuk berpindah menuju ke ruang tamu setelah makan malam berakhir.
.
Bersambung.