Bougenville of Love

Bougenville of Love
24 - Makan Bakso.



Setelah Rena beranjak dari sana, Damia pun menghampiri Angga sambil memerhatikan lelaki itu karena khawatir akan muncul reaksi berlebihan yang tidak mengenakkan padanya.


"Teman kamu sudah pergi. Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Damia


"Tidak banyak yang kami bicarakan berdua tadi dan katanya dia sudah ada janji. Jadi, dia pergi," jawab Angga


Damia terus memerhatikan Angga karena lelaki itu tampak seperti merasakan dan berusaha menahan sesuatu.


"Damia, ayo kita juga pergi saja!" seru Angga


"Mau ke mana? Kan, kita belum makan. Ayo, kita pergi cari makan dulu," ujar Damia


"Aku mau pulang," kata Angga


Angga pun bangkit berdiri. Damia langsung mengikuti lelaki itu.


"Kenapa terburu-buru, Angga? Ada apa? Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Damia


Angga tidak menjawab apa pun. Namun, lelaki itu mulai memegangi kepalanya.


"Jangan hanya ditahan, beri tahu aku. Apa yang sakit? Di mana obat yang kamu tebus di rumah sakit tadi?" tanya Damia


"Ada di dalam tas," jawab Angga


Damia pun langsung memeriksa dan menggeledah tas yang dibawa oleh lelaki itu agar bisa mengambil obat Angga yang ada di dalam tas tersebut. Saat menemukan obatnya, suster cantik itu langsung meminta segelas air putih mineral pada staf kafe.


"Minum dulu obatnya. Kamu tenangkan diri dulu di sini, setelah tenang, baru kita pulang," kata Damia sambil menyerahkan obat dari dalam tas dan segelas air putih mineral yang diminta dari staf kafe.


Angga hanya mengangguk dan langsung meminum obatnya sambil duduk di kursi yang ada di sana.


"Bagaimana, sudah tenang atau belum? Apa mau langsung pulang sekarang saja?" tanya Damia


Angga hanya mengangguk pelan.


Akhirnya, Damia memutuskan untuk membawa dan membantu Angga berjalan ke luar kafe setelah melakukan pembayaran untuk pulang agar tidak merepotkan banyak orang atau staf kafe jika sesuatu lebih parah terjadi pada kondisi Angga. Damia pun memesan taksi online untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Angga langsung duduk istirahat di atas sofa.


"Apa kamu tidak mau istirahat di dalam kamar saja supaya lebih nyaman?" tanya Damia


"Tidak, aku di sini saja. Terlalu malas untuk pindah," jawab Angga sambil menggeleng pelan.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Karena kamu belum makan, aku akan masak dulu," ujar Damia


"Tidak usah masak. Aku mau makan sesuatu, tapi kamu beli saja. Maaf karena tetap merepotkan kamu," kata Angga


"Memangnya kamu mau makan apa?" tanya Damia


"Aku mau makan bakso. Tolong belikan, ya," jawab Angga


"Kamu ini seperti ibu hamil yang sedang ngidam saja," kata Damia sambil terkekeh kecil.


"Boleh, ya?" tanya Angga sambil menunjukkan raut wajah yang memelas.


"Boleh kok. Kalau begitu, aku belikan dulu. Tapi, aku belum hafal tempat makan daerah sini. Aku harus beli di mana?" tanya balik Damia usai menjawab pertanyaan.


"Ada penjual bakso di dekat gerbang kompleks. Kamu beli di sana saja," jawab Angga


"Baiklah. Sebelum aku pergi, apa kamu membutuhkan sesuatu? Biar aku ambilkan dulu untuk kamu," ujar Damia bertanya.


"Tidak usah. Aku hanya mau duduk bersandar di sini," kata Angga


"Ya sudah, aku beli makanan ke luar dulu. Kamu tunggulah di rumah," pamit Damia


Damia pun beranjak ke luar rumah untuk membeli bakso. Begitu kembali, suster cantik itu melihat sudah ada mangkuk yang tersedia di atas meja. Mungkin Angga-lah yang sudah menyiapkannya.


"Apa kamu sudah tidak merasa pusing saat mengambil mangkuk tadi?" tanya Damia


"Kalau hanya berjalan di rumah sendiri, tidak masalah ... " jawab Angga


"Harusnya kamu tidak perlu memaksakan diri," ujar Damia


"Aku tidak mau selalu merepotkan kamu," kata Angga


"Sudah jadi tugas aku untuk merawat kamu, tapi ... ya sudahlah. Kita makan saja baksonya," ucap Damia


Damia pun menuangkan bakso yang sudah dibeli olehnya ke dalam mangkuk yang sudah disiapkan oleh Angga.


"Ini untuk kamu, makanlah ... " kata Damia sambil menyerahkan semangkuk bakso pada Angga.


Lalu, keduanya pun makan bakso bersama.


"Kata kamu, dulu kita juga sering makan bakso saat bertemu. Lalu, apa yang suka kita lakukan atau bicarakan saat itu?" tanya Angga


"Ya, tapi dulu ... aku tipe orang yang tidak banyak bicara," jawab Damia


..."Aku mengerti dan bisa membayangkannya. Dulu, kamu adalah orang yang tidak banyak bicara dan aku jadi lebih sering memperhatikan kamu. Seperti saat ini," batin Angga...


..."Sebenarnya aku bukan tipe orang yang tidak banyak bicara, tapi dulu yang kamu tahu, aku adalah gadis bisu dan aku membiarkan hal itu dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya kita tidak pernah bertemu lagi," batin Damia...


Keduanya pun terhanyut dalam pikiran masing-masing sambil fokus memakan bakso.


"Sekarang giliran aku yang bertanya. Apa saja yang kamu bicarakan sama teman perempuan kamu saat di kafe tadi?" tanya Damia setelah makan bakso sampai habis.


"Namanya adalah Rena dan dia teman kuliah aku. Aku hanya bisa kasih tahu itu. Memikirkan percakapan kami saat di kafe tadi saja sudah bisa membuat aku merasa pusing lagi," jelas Angga


"Baiklah, aku tidak akan memaksa kamu, tapi kalau kamu merasa ingin bercerita ... aku siap menjadi pendengar yang baik," kata Damia


"Terima kasih, Damia," ucap Angga


"Tidak perlu sungkan. Selain perawat, aku adalah teman kamu juga," kata Damia


"Setelah makan ini, kamu istirahat saja dulu," sambung Damia


"Kalau begitu, aku mau tidur saja di dalam kamar," ujar Angga


"Silakan saja. Kalau ada perlu apa pun panggil saja aku," ucap Damia


Setelah itu, Angga pun beralih menuju kamar tidurnya untuk istirahat. Sementara itu, Damia beralih ke dapur untuk membersihkan dan mencuci piring kotor.


Di dalam kamarnya, tak lama setelah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Angga langsung tertidur. Mungkin karena telah terpengaruh oleh obat yang sebelumnya diminum olehnya juga. Namun, tak lama memasuki alam mimpi, dahi lelaki itu berkerut dan mulai mengeluarkan peluh keringat.


Sepertinya, mungkin Angga sedang bermimpi buruk.


"Aku tahu kamu tak pernah bisa cinta pada aku, kamu yang merubah haluan cinta kamu untuk dia dan memilih aku tanpa dasar rasa apa pun hanya untuk pelarian. Kamu tidak salah, hubungan ini yang salah. Karena suatu hubungan butuh 2 rasa yang mengikat dan melengkapi, kamu tak punya rasa itu dan aku pun sudah tidak bisa berharap lagi sama kamu. Maaf, tapi aku tidak bisa tahan sama semua ini."


"Maaf, Ngga, aku pergi ...."


Mimpi itu terputus begitu saja dan Angga pun terbangun dari tidurnya.


"Baru ketemu lagi saja sudah buat stress. Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa tidur dengan tenang?" gumam Angga


Angga sudah mencoba untuk kembali tidur, tapi nihil ... ia tidak bisa. Meski kepala lelaki itu masih terasa pening, tetap saja terasa sulit dan tidak bisa memejamkan mata.


.


Bersambung.