
"Jadi, Mba Dina jualan apa di rumah?" tanya Damia
"Saya berjualan camilan seperti cilok, cireng, tahu bulat, dan lain-lain. Saya membuat menu pesanan dan apa pun yang dipesan baru saya buatkan. Terkadang saya antar pesanan ke rumah pembeli atau pembeli yang datang ke rumah saya untuk mengambil pesanan," jelas Pasien Dina
"Wah ... lumayan untuk mengisi waktu luang sambil mencari cuan," kata Damia
"Benar, Sus ... " sahut Pasien Dina
Damia masih terus menyuapi Pasien Dina makan siang secara perlahan karena pasien pasca operasi tidak bisa makan terlalu cepat, makanya Damia juga sambil mengajak Pasien Dina mengobrol.
"Omong-omong, bayi Mba Dina itu lelaki atau perempuan?" tanya Damia
"Saya melahirkan bayi perempuan. Saat saya melihatnya diangkat ke atas, bayi mungil yang kecil itu tidak bersuara. Saya sempat merasa takut, tapi setelah penanganan dokter, ternyata suara tangisnya sangat keras. Seketika itu saya langsung merasa lega," jelas Pasien Dina
"Bayinya pasti sangat cantik. Selain itu dia juga pasti kuat seperti ibunya," kata Damia sambil memberi pujian.
"Tapi, saya bahkan tidak kuat untuk menggendong dan menimang bayi saya sendiri," sahut Pasien Dina
"Lemahnya seorang wanita itu adalah karena dia terlalu kuat. Lagi pula, di balik penciptaannya yang seperti itu, diciptakan juga seorang pria sebagai pelengkap dan tempatnya bersandar. Hingga keduanya saling melengkapi," ujar Damia
"Omong-omong, siapa nama bayi cantiknya Mba Dina? Apa bayinya sudah diberi nama atau belum?" tanya Damia melanjutkan.
"Bayi kami masih belum diberi nama. Kami belum sempat memilkirkannya dengan serius karena saat itu terlanjur sibuk dengan kelahirannya yang tiba-tiba dan kondisi saya yang terus menurun," jawab Pasien Dina
"Tapi, Mba Dina dan suami serta keluarga pasti sudah sempat memikirkan dan memiliki beberapa nama pilihan, kan?" tanya Damia
"Apa Suster Damia juga mau memberi kami saran nama yang bagus untuk bayi kami?" tanya balik Pasien Dina
"Saya tidak terpikirkan sama sekali karena saya tidak bisa asal menyebut nama dengan sembarangan karena seorang anak harus diberi nama baik supaya bisa tumbuh dengan baik pula. Kalau memang masih belum diberi nama, lain kali saya akan mencarikan nama yang baik dan cantik untuk bayi perempuan Mba Dina," jawab Damia
"Saya jadi ingin mulai lagi mencoba cari nama untuk bayi perempuan kami," kata Pasien Dina
"Kalau begitu, pakai HP punya saya saja dulu untuk mencari nama yang bagus di internet," ujar Damia yang langsung mengeluarkan ponsel miliknya dari saku seragam perawat dan diberikan pada Pasien Dina.
"Saya jadi merasa tidak enak kalau memakai HP punya Suster Damia. Apa bisa tolong ambilkan HP saya saja di dalam laci meja itu?" tanya Pasien Dina sambil menunjuk ke arah laci sebuah meja.
"Justru saya yang merasa tidak jika harus mencari sesuatu dengan mengobrak-abrik barang milik orang lain. Tidak apa-apa pakai HP punya saya dulu saja. Saya pinjamkan sebentar. Silakan," ucap Damia yang masih menyodorkan ponsel miliknya pada Pasien Dina.
"Oke, saya pinjam dulu HP punya Suster Damia sebentar, ya ... " kata Pasien Dina yang menerima ponsel dari Damia.
Damia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Pasien Dina pun menggunakan ponsel milik Damia untuk mencari nama bayi dari internet sambil disuapi makan oleh Damia. Sesekali keduanya berdiskusi, apa nama yang ditemukan di internet saat itu bagus atau tidak. Atau keduanya berdiskusi untuk merangkai sepatah kata nama dan menyusunnya menjadi nama yang baik dan cantik.
"Sudah cukup untuk kali ini, Sus. Terima kasih sudah mau meminjamkan HPnya sama saya," ucap Pasien Dina yang mengembalikan ponsel milik Damia pada sang pemilik saat melihat makan siang miliknya yang dipegang oleh Damia tinggal tersisa sedikit lagi.
"Sama-sama, tapi tolong jangan bilang-bilang kalau saya pernah meminjamkan HP sama Mba Dina, ya. Soalnya sebenarnya tidak boleh membawa serta HP saat bekerja," sahut Damia sambil tersenyum kecil.
"Oke, Sus ... " kata Pasien Dina
Kedua perempuan cantik itu pun terkekeh pelan bersama. Lalu, Damia pun kemhali menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku seragam perawat.
"Saya jadi rindu dan ingin bertemu sama bayi saya secepatnya," gumam Pasien Dina
"Merasa rindu memang tidak ada yang melarang. Kalau begitu, Mba Dina harus banyak-banyak berpikir tentang hal baik dan tersenyum. Ini adalah salah satu cara mensugesti diri untuk merasa bahagia. Karena saat merasa bahagia, maka kondisi seseorang akan terus merasa baik dan orang yang sedang sakit pun bisa cepat pulih dan sembuh," ujar Damia memberi saran.
"Saya juga pernah menonton sebuah drama, di sana dikatakan bahwa ... tidak apa-apa jika kita merasa tidak baik baik-baik saja. Namun, tetaplah tersenyum karena dengan itu kita akan merasa semua baik-bsik saja dan merasa telah menjadi orang yang paling bahagia. Berkhayal sesuatu yang indah pun boleh-boleh saja. Karena di balik khayalan itu terkadang terdapat sebuah atau bahkan banyak harapan," sambung Damia
"Saran yang bagus, apa lagi jika yang mengatakannya adalah seorang perawat seperti Suster Damia," sahut Pasien Dina
"Mba Dina, harus semangat untuk bisa cepat sembuh dan supaya bisa cepat bertemu dan berkumpul sama anak dan keluarga," kata Damia
"Makan siangnya sudah habis, ya, Mba Dina ... " sambung Damia
"Terima kasih sudah mau repot-repot menyuapi saya seperti ini," ucap Pasien Dina
"Tidak masalah," sahut Damia
"Bapak kok belum balik juga, ya? Padahal saya makannya lama, tapi sampai saya selesai makan Bapak belum balik juga," ujar Pasien Dina
"Apa Mba Dina mau saya temani sampai Bapak kembali? Maksud saya, apa Mba Dina butuh sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya Damia
"Tidak perlu. Bukan itu maksud saya. Saya hanya merasa khawatir," jawab Pasien Dina
"Jangan terlalu merasa khawatir, itu tidak baik untuk kondisi Mba Dina. Bapak pasti baik-baik saja dan akan segera kembali," ujar Damia
Saat itu ada yang membuka pintu ruang rawat tersebut dan itu adalah wali pasien yang baru kembali setelah membeli makanan sambil membawa bungkus makanan yang dibeli dari luar rumah sakit.
"Dina, Bapak kembali. Maaf karena terlalu lama," kata wali pasien.
"Seperti dugaan saya, Bapak akan segera kembali," sahut Damia
"Sepertinya Bapak terburu-buru saat kembali ke sini. Tenangkan diri Bapak dulu dan setelah itu silakan nikmati makanan yang telah Bapak beli secara perlahan. Makan siang Mba Dina sudah dihabiskan," sambung Damia
"Ternyata Suster masih ada di sini. Maaf kalau jadi merepotkan Suster dan terima kasih," ucap wali pasien
"Tidak masalah, Pak. Saya jadi punya teman bicara saat menemani Mba Dina di sini," kata Damia
"Bapak, kenapa sangat lama perginya?" tanya Pasien Dina
"Ya sudah, karena Bapak sudah kembali ... kalau begitu, saya permisi dulu," ujar Damia
"Oh, ya ... selain makanan yang sudah dimakan, juga ada buah dan susu bubuk. Susunya bisa diseduh saat ingin diminum nanti. Lalu, ada juga telur rebus yang sudah matang. Tolong habiskan setidaknya telur putihnya saja karena itu sangat baik untuk pemulihan pasca operasi, tapi kalau mau makan kuning telurnya juga baik karena bagus untuk memulihkan tenaga," sambung Damia
"Terima kasih, Sus," ucap Pasien Dina
"Sama-sama," balas Damia
"Suster, apa anak saya harus tetap minum obat dari rumah sakit sebelumnya? Apa nantinya anak saya akan dapat resep obat baru dari sinu dan tidak perlu minum obat dari rumah sakit sebelumnya lagi?" tanya wali pasien
"Obat sebelumnya tetap diminum saja supaya pengobatan yang sebelumnya tidak terputus dan jadi sia-sia. Kalau nanti memang diresepkan obat baru, baru hentikan konsumsi obat sebelumnya dan mulai minum obat yang baru setelah ditebus. Karena kunjungan pemeriksaan dokter hari ini sudah lewat, jadi Mba Dina akan diperiksa mulai besok," jelas Damia
"Besok silakan tunjukkan obat dari rumah sakit sebelumnya pada dokter yang datang memeriksa supaya bisa ditentukan apa mau melanjutkan resep yang sama atau mengganti resep atau mungkin mengubah dosisnya. Kalau butuh sesuatu silakan bilang ke suster yang berjaga di luar. Seperti jika muncul demam, bilang saja ke suster supaya bisa diberi obat dan penanganan yang tepat. Lalu, karena Mba Dina baru selesai makan tolong jangan langsung berbaring. Setidaknya duduk dan tunggu dulu minimal 15 sampai 20 menit," sambung Damia
"Oke, saya mengerti. Terima kasih, Sus," ucap wali pasien
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu, saya permisi ... " ujar Damia
Damia pun beranjak ke luar dari dalam ruang rawat tersebut sambil membawa tempat makan siang pasien yang telah kosong.
Setelah ke luar dari ruang rawat tersebut, ternyata Damia disambut oleh pekerjaan yang tidak ada henti-hentinya.
"Damia, tadi kamu habis ke mana? Kok tiba-tiba aku tidak melihat kamu?" tanya Alina
"Aku habis menemani pasien baru yang tadi karena ditinggal sendiri sama bapak-nya yang pergi beli makanan ke luar dan karena pasien belum makan siang, aku sekalian menyuapi makan siang," jelas Damia
"Sudah aku duga, kamu memang pekerja teladan. Kamu tidak mungkin mangkir dari pekerjaan," kata Alina
"Tapi, sekarang pekerjaan kita sangat banyak. Setiap hari selalu saja seperti ini," sambung Alina
Hingga mendekati waktu pulang kerja, Damia baru bisa menyelesaikan bagian pekerjaannnya. Begitu pula dengan Alina dan perawat shift pagi lainnya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Damia dan para suster shift pagi lainnya pun mulai bersiap untuk pulang. Para perawat shift siang pun telah hadir untuk memulai giliran kerja.
Saat bersiap hendak pulang, Damia dan para suster shift pagi lainnya berkumpul di ruang loker untuk mengambil kembali barang milik masing-masing untuk dibawa pulang. Saat itu merasakan salah satu suster rekan kerjanya terus mencuri pandang dan melirik ke arahnya. Namun, saat ia membalas pandangan rekan kerjanya tersebut malah mengalihkan pandangan ke arah lain. Bahkan suster tersebut seolah melarikan diri darinya dengan pergi terburu-buru.
"Lusi, ada yang mau aku tanyakan sama kamu ... " kata Damia sebelum rekan kerjanya itu ke luar dari ruang loker setelah banyak suster lain yang sudah ke luar dari sana.
"Ya, boleh saja. Mau tanya apa?"
"Aku tidak melihat suster Lisa lagi selain hanya pagi tadi. Apa kamu sudah menyampaikan kalau tadi aku pergi menjemput pasien ke IGD?" tanya Damia
"Tadi aku sudah bilang sama suster Lisa kok. Suster Lisa memang hari ini lebih sering meninggalkan bangsal. Sudah, ya ... aku mau pulang lebih cepat hari ini."
"Tunggu dulu. Lusi, apa aku punya salah sama kamu?" tanya Damia
"Apa? Tidak ada kok."
"Lalu ... kalau begitu, apa kamu yang punya salah sama aku?" tanya Damia
"Kamu sedang bicara soal apa, sih, Damia?"
"Kenapa aku merasa hari ini kamu seperti menghindar dari aku? Padahal kamu terus melihat ke arah aku dan saat aku menoleh, kamu malah membuang wajah. Hari ini kamu juga tidak seperti biasanya, jadi lebih banyak diam padahal kamu yang paling suka bicara dan bergosip di sini," ujar Damia
"Aku tidak mengerti maksud kamu, Damia."
"Aku bicara kurang jelas, ya? Maaf, tapi maksud aku ini soal kamu yang merekam video rentang pembicaraan aku sama dua orangtua aku di restoran semalam," ujar Damia
"Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud, Damia. Sudah, ah ... aku mau pulang." Lusi pun berbalik hendak segera pergi.
"Lalu, kenapa kamu malah sudah mau langsung pergi? Apa karena kamu takut atau merasa bersalah? Biasanya orang akan jadi penakut karena merasa bersalah, kan?" tanya Damia yang menyindir rekan kerjanya yang bernama Lusi.
"Tidak kok," sangkal Lusi yang langsung kembali berbalik sambil tersenyum canggung dan tak berani untuk langsung menatap ke arah Damia.
Kedua tangan Lusi saling menggenggam, bola matanya memandang tak menentu arah seolah terus berlarian.
"Senyum kamu sama sekali tidak terlihat natural, mata kamu terus berlarian tanpa menatap satu objek yang tetap, apa lagi bukan menatap ke arah aku, dua tangan kamu saling menggenggam dengan sesekali bergesekkan. Itu adalah salah satu ciri orang yang sedang merasa gugup karena bersalah atau menyembunyikan sesuatu. Sebentar lagi kamu pasti mulai berkeringat dingin dan mungkin wajah kamu akan pucat serta sulit untuk menelan ludah lalu jantung kamu semakin berdedup dengan kencang," ucap Damia
Semua ucapan dan tebakan Damia benar. Wajah Lusi mulai memutih pucat, dahinya mulai basah dengan titik keringat, dan sulit memproduksi atau menelan saliva hingga kerongkongannya terasa kering seolah telah berteriak keras meski nyatanya tidak sama sekali, bahkan detak jantungnya juga memompa semakun cepat.
Namun, saat itu Damia malah tersenyum dengan lembut.
"Aku benar-benar minta maaf karena membuat kamu jadi seperti ini. Aku tidak akan marah atau menyalahkan kamu kok. Justru aku mau bilang terima kasih karena kamu tidak menyebar video rekaman itu ke banyak orang dan aku harap kamu tetap bisa bekerja sama dengan baik seperti ini," ucap Damia
"Kamu mau pulang, kan? Silakan saja. Maaf karena aku malah jadi menahan kamu terlalu lama dan sekali lagi terima kasih, Lusi," sambung Damia
"Ummh ... ya sudah, aku pulang duluan, ya."
"Ya, sampai jumpa besok. Hati-hati di jalan pulang dan selamat menikmati waktu setelah pulang bekerja," kata Damia
Lusi hanya mengangguk kecil dan langsung berbalik pergi ke luar dari ruang loker. Damia pun menghela nafas panjang setelah kepergian Lusi.
.
Bersambung.