Bougenville of Love

Bougenville of Love
76 - Timezone.



Akhirnya, Damia dan Angga meneruskan menonton film horor di dalam bioskop hingga akhir. Ralat, hanya Damia yang benar-benar menyaksikan.


Semua penonton tampak merasa dan bisa bernafas lega setelah dibuat merasa tegang dan berteriak ketakutan selama film berlangsung. Sedangkan, Damia malah tersenyum lega. Di satu sisi, suster cantik itu memang merasa lega setelah film berakhir, di lain sisi gadis perawat itu merasa senang bisa menonton film di bioskop bersama sang kekasih meski hanya dirinya yang menikmati tayangan film tersebut.


Namun, berbeda dengannya, Angga yang bahkan tidak menyaksikan film dengan benar malah mengeluarkan keringat dingin pada telapak tangannya.


Dengan keduanya yang saling bergenggaman tangan, Damia jadi bisa merasakan jika saat ini Angga sedang berkeringat dingin.


"Ya ampun, Angga ... tangan kamu sampai berkeringat dingin seperti ini," ujar Damia yang langsung sadar saat berjalan ke luar dari dalam bioskop sambil bergenggaman tangan dengan sang kekasih.


"Tangan kamu jadi ikut basah, ya? Maaf, ya ... " kata Angga


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu dan bukan itu masalahnya. Lain kali, kamu harus mengatakan dengan jelas tentang apa saja hal yang tidak kamu sukai. Jadi, lain kali kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini lagi," ucap Damia


"Aku juga tidak mengerti. Padahal biasanya rasa takut aku tidak separah ini dan bahkan sekarang aku terus bersama kamu. Harusnya aku tidak perlu merasa takut seperti ini," ujar Angga


Saat itu Damia pun menghentikan langkahnya hingga membuat Angga juga berhenti setelah keduanya ke luar dari dalam bioskop.


Lalu, Damia mengeluarkan sebungkus tissue kecil dari dalam tas yang bibawa olehnya dan mengambil selembar tissue dari bungkus plastiknya.


"Sini, biar aku keringkan dulu keringat kamu ... " kata Damia


Dengan lembut dan telaten, Damia mengelap telapak tangan sang kekasih yang basah karena keringat seolah mengelap telapak tangan bayi yang kotor akibat mencoba makan seorang diri saat pertama kali.


Tak hanya telapak tangan, Damia juga mengelap keringat yang juga membasahi kening Angga. Saat itu Angga hanya diam mematung memerhatikan wajah sang kekasih yang sangat cantik dan begitu perhatian, peduli, dan pengertian terhadapnya. Lelaki itu merasa gugup sekaligus senang saat mendapat perlakuan manis dari sang kekasih yang sangat dicintainya.


"Aku sudah sampai seperti ini, tapi kenapa kamu malah terlihat seperti biasa-biasa saja bahkan seolah merasa senang tanpa merasa takut sedikit pun? Apa rahasia dan tipsnya?" tanya Angga dengan senyum yang tak pernah luntur dan pandangan yang tak bisa lepas dari wajah cantik kekasihnya.


"Aku tidak punya rahasia atau tips khusus, aku hanya berusaha menempatkan diriku di sudut pandang yang lain. Aku tidak terlalu menganggap film yang kita tonton tadi adalah sesuatu yang menyeramkan atau mengerikan, tapi aku lebih ke merasa senang karena pergi nonton bersama kamu. Sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama kamu seperti ini," jelas Damia


"Benar juga. Kenapa aku bisa terpikir yang seperti kamu, ya? Lalu, kenapa kamu juga tidak memberi tahu aku hal seperti itu?" tanya Angga


"Aku tidak tahu kalau kamu takut nonton film horor, kamu tidak bilang apa-apa ... " jawab Damia


"Baiklah, aku mengerti. Aku yang salah, harusnya aku memilih filmnya dengan cermat sebelum kita nonton bersama," kata Angga


"Jadi, setelah ini kita mau ke mana?" tanya Angga melanjutkan.


"Sebelum kita ke tempat berikutnya, aku mau ke toilet dulu sebentar. Kamu tunggu di sini," jawab Damia


"Tentu saja, aku akan menunggu. Memangnya aku boleh ikut?" tanya Angga sambil menaik-turunkan alisnya.


"Jangan harap! Huh!" seru Damia sambil menatap tajam le arah sang kekasih.


"Coba saja kalau kamu mau diamuk massa ... " sambung Damia sambil terkekeh kecil.


"Tidak, ah ... takut," sahut Angga sambil bergidik ngeri.


Kedua tangan yang terus bertautan itu kini saling melepas saat Damia berjalan menjauh menuju ke toilet meninggalkan Angga di sana.


Lumayan lama Angga menunggu, hingga akhirnya lelaki itu tersenyum saat melihat sang pujaan hati berjalan kembali ke arahnya.


"Maaf, ya ... tadi lumayan banyak yang antre. Kamu jadi harus menunggu lama," ujar Damia


"Tidak masalah," kata Angga


Setelah itu, Damia dan Angga pun beralih pergi dari sana.


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Kalau sebelumnya tenaga terkuras karena terus merasa tegang, ada baiknya kalau kita makan untuk mengisi ulang tenaga," ujar Damia memberi saran.


"Memangnya siapa yang sebelumnya terus menerus merasa tegang?" tanya Angga


"Kamu ... sebelumnya meski tidak takut karena tidak menonton filmnya, kamu pasti merasa tegang karena suara-suara menyeramkan selama film tadi diputar," jawab Damia


"Sepertinya aku benar-benar telah menunjukkan sisi lemah yang aku punya. Memalukan sekali," ujar Angga


"Rasa takut memang ada, tapi saat aku berpikir untuk langsung melupakannya jadi tidak terlalu buruk atau merasa takut yang berlebihan. Lagi pula, kita nonton film saat siang hari. Kalau kita nonton saat malam hari, aku mungkin juga akan berpikir panjang untuk nonton film horor atau mungkin aku akan lebih memilih film lain untuk ditonton," jelas Damia


"Sebelum makan, bagaimana kalau kita bermain dulu?" tanya Angga


"Masih ada sedikit waktu sebelum waktu makan siang tiba," sambung Angga


"Bermain apa?" tanya Damia


"Apa saja ... semua hal yang menyenangkan," jawab Angga


Tak jauh dari lokasi bioskop ada time zone yang dilewati oleh Damia dan Angga. Melihat tempat main yang menyenangkan itu, Angga pun mengajak Damia berbalik dan menarik sang kekasih singgah untuk bermain di sana.


Dimulai dari bermain bola basket. Saat Damia dan Angga mulai lomba melempar dan memasukkan bola ke dalam ring, poin Damia tertinggal cukup jauh di bawah Angga.


Hingga akhirnya, Angga beralih untuk mengajari Damia cara bermain bola basket.


"Gerakan tangan kamu sangat kaku, Damia," ucap Angga


"Aku tidak pernah main. Tidak pernah ke bioskop, main di time zone, atau pergi ke mall. Sangat jarang," kata Damia


"Bukannya aku sudah pernah mengajari kaku cara bermain bola basket sebelumnya? Kalau kamu mengikuti cara yang pernah aku ajarkan sebelumnya, kamu pasti bisa melakukannya dan bermain dengan baik," ujar Angga


"Benar juga, aku sudah pernah belajar ... " sahut Damia


"Sekarang coba kamu lakukan sendiri," kata Angga


Damia pun kembali mencoba melempar dan memasukkan bola basket ke dalam keranjang seorang diri tanpa bantuan. Mengingat apa yang pernah diajarkan oleh sang kekasih sebelumnya, Damia lumayan bisa melakukan dan bermain dengan baik meski masih belum mahir atau mampu mengalahkan poin Angga.


Dari bola basket, keduanya beralih bermain bola bowling. Kali ini poin keduanya seimbang setelah beberapa kali bermain.


"Tidak mudah bermain bola bowling karena bolanya yang berat," ujar Damia


"Tapi, kamu lumayan jago. Kamu punya kekuatan tangan," kata Angga


Setelah bermain 2 permainan bola, Damia dan Angga beralih ke permainan Whack n Win, yaitu pemukul palu untuk mendapat poin tertinggi, Pump it up atau dansa lantai, balap motor, dan lain-lain. Hingga terakhir, Angga memainkan mesin capit boneka untuk dihadiahkan pada Damia.


"Kamu mau boneka yang mana, Damia? Beruang atau kelinci, atau yang lain?" tanya Angga


"Boneka apa saja, aku suka ... " jawab Damia


Pada akhirnya Angga hanya bisa mendapatkan dua boneka macan tutul.


"Masing-masing kita dapat satu," kata Damia


"Maaf, ya ... aku hanya bisa daoat boneka macan tutul ini. Padahal aku ingin mendapatkan boneka yang lebih lucu," ujar Angga


"Tidak apa-apa. Justru aku ingin kamu memenangkan boneka macan tutul ini untuk aku dan kamu berhasil mewujudkannya. Terima kasih," ucap Damia


"Kamu tidak bicara seperti itu agar aku merasa senang, kan?" tanya Angga


"Tidak kok. Justru aku yang sangat senang," jawab Damia


Sepasang kekasih itu pun sama-sama tersenyum senang.


"Kita sudah dapat boneka yang serasi. Sekarang, ayo kita berfoto!" seru Angga


Angga pun mengajak Damia masuk ke dalam photobox untuk berfoto bersama dua boneka lucu yang telah didapatkan sebelumnya.


.


Bersambung.