Bougenville of Love

Bougenville of Love
63 - Tetap Solid.



Saat waktu istirahat tiba di siang hari, Damia dan Alina bahkan masih sibuk mengurus perawatan pasien. Hingga akhirnya kedua suster cantik itu baru bisa beralih pergi untuk makan siang saat waktu istirahat tersisa sedikit.


Damia dan Alina tampak berjalan dengan tak bertenaga, namun berusaha mempercepat langkah agar bisa memburu waktu. Alina bahkan menghela nafas panjang.


"Akhirnya tugas selesai juga, tapi kita hanya punya sedikit sisa waktu untuk istirahat. Kaki aku terasa berat saking lelahnya," ujar Alina


"Sabar sebentar, sedikit lagi kita sampai di tempat makan. Jangan terlalu banyak bicara karena itu akan semakin menguras tenaga kamu," kata Damia


Alina berjalan sambil bergelayut dengan menggandeng tangan Damia dan Damia tidak merasa keberatan karena prilaku sahabatnya itu.


Saat kedua suster cantik itu berusaha berjalan cepat di tengah rasa lelah, terdengar suara seseorang memanggil nama salah satu dari keduanya. Dan kedua suster cantik itu merasa familiar dengan suara seseorang itu.


"Damia, tunggu sebentar!" serunya memanggil.


"Bukannya itu suara Dokter Raffa? Katanya, kamu sudah menyelesaikan semuanya baik-baik sama dia. Lalu, untuk apa lagi dia datang mencari kamu?" tanya Alina


"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Damia


Damia dan Alina pun menghentikan langkah masing-masing.


"Kamu pergi makan duluan saja, nanti aku akan menyusul setelah bicara sama Dokter Raffa. Kamu tidak perlu menunggu aku," kata Damia


"Tidak. Aku mau tetap sama kamu di sini sampai kamu selesai bicara sama Dokter Raffa," sahut Alina


Sepertinya Alina sudah lebih dulu memiliki firasat kurang baik dengan kehadiran Dokter Raffa yang mencari sahabat cantiknya itu.


Dokter Raffa pun menghampiri Damia yang sedang bersama Alina.


"Ada perlu apa Anda mencari saya, Dokter Raffa? Apa Anda memerlukan sesuatu?" tanya Damia dengan keprofesionalan kerjanya yang sopan.


"Ada yang mau aku bicarakan lagi sama kamu dan aku sudah cukup lama menunggu kamu ke luar dari bangsal, tapi kenapa kamu baru ke luar? Buksnnya waktu istirahat sudah berlangsung dari tadi?" tanya balik Raffa


"Kan, kamu juga tahu kalau merawat pasien bukan hal yang mudah. Bangsal kami sedang sibuk tadi. Aku pikir kamu tahu soal itu," jawab Damia yang seolah menyindir Dokter Raffa pasti tahimu soal kesibukannya dari suster Lisa.


"Saya ke luar bersama Damia dan akan tetap bersamanya. Jadi, silakan katakan keperluan Anda, Dokter Raffa. Jika memang tidak ada yang ingin dibicarakan, kami akan segera pergi untuk makan siang. Karena waktu istirahat hanya tersisa sedikit lagi," ucap Alina yang sudah bersiap pergi bersama Damia.


"Tunggu, aku mau bicara soal ini. Aku dapat video itu dari seseorang," kata Raffa sambil memperlihatkan ponsel miliknya yang sedang memutar sebuah rekaman video.


Damia pun melihat isi video yang berdurasi beberapa nenit itu. Begitu juga Alina yang ada di sana pun ikut menonton videio tersebut hingga selesai.


Awalnya Raffa berniat untuk bicara empat mata dan membahas masalah ini dengan Damia. Namun, karena Alina seolah tak ingin lepas dari mantan kekasihnya, lelaki itu pun terpaksa tetap membahasnya dengan mengabaikan kehadiran Alina di sana.


Itu adalah video yang berisi rekaman Damia yang sedang bicara dengan kedua orangtuanya di restoran semalam. Namun, di dalam video tersebut hanya merekam percakapan tentang alasan Damia putus dari Raffa.


..."Rupanya ada yang nerekam percakapan kami semalam. Untung saja isinya hanya tentang alasan aku putus sama Raffa," batin Damia...


Alina yang ikut menyaksikan video tersebut ikut merasakan sakit hari dan kecewa dengan kenyataan bahwa Dokter Raffa telah berselingkuh dalam waktu yang cukup lama di belakang sahabat cantiknya itu.


"Kenapa percakapan kamu sama om dan tante bisa terekam oleh seseorang yang kurang bertanggung jawab seperti ini? Kenapa kamu malah membahas hal ini sama om dan tante di tempat umum?" tanya Raffa


"Semalam aku pergi makan malam di luar sama ibu dan ayah. Ibu dan ayah bertanya sama aku, tentu saja aku harus menjawab dengan jujur dan memberi tahu ibu dan ayah," jawab Damia


"Apa kamu tidak bisa menunda pembahasan ini setelah pulang ke rumah?" tanya Raffa


"Aku merasa sudah tidak bisa menyembunyikan tentang ini dari ibu dan ayah, jadi aku mengatakan semuanya. Sudahlah, Raff ... toh, ini memang sudah terjadi. Lagi pula, dengan bukti video ini ada di tangan kamu berarti video ini tidak tersebar ke mana pun, kan? Kamu sudah bisa merasa tenang," jawab Damia sesukanya karena sedang benar-benar merasa lelah hingga merasa jengah membahas persoalan yang sama berulang kali dengan Raffa.


"Baiklah. Aku minta maaf sama kamu. Aku janji hal serupa tidak akan terjadi lagi. Sebenarnya aku sudah lelah dengan pembahasan yang berulang seperti ini. Mungkin bagi kamu, kita baru membahasnya beberapa kali, tapi aku yang melihat sendiri kelakuan kamu di belakang aku membuat aku merasa sangat lelah. Aku pikir saat kita telah menuntaskannya tadi pagi, itu semua sudah benar-benar berakhir," sambung Damia yang akhirnya menyudutkan sang mantan kekasih.


Raffa terdiam. Lelaki itu tidak bisa berkata-kata karena memang semua perkataan Damia benar. Dokter tampan itu juga bisa melihat jelas rasa lelah dan kecewa pada raut wajah sang mantan kekasih.


"Saya benar-benar minta maaf dan saya harap pembahasan kali ini adalah yang terakhir. Maaf dan permisi, Dokter Raffa ... " kata Damia


"Maaf, kami berdua sedang buru-buru. Kalau begitu, kami berdua permisi, Dokter Raffa ... " ujar Alina


Damia dan Alina pun berbalik dan beralih pergi meninggalkan Raffa seorang diri di sana.


...


Saat ini, Damia dan Alina sedang ada di kafetaria. Keduanya sedang makan siang bersama setelah pesanan diantarkan.


"Apa kamu yakin hanya akan makan bubur di saat seperti ini, Damia?" tanya Alina


"Aku benar-benar lelah dan lemas tak ada tenaga. Aku hanya ingin mengisi dan mengganjal perut. Bubur sangat mudah dimakan dan cepat ditelan. Setelah pulang nanti, aku bisa makan lagi di rumah," jawab Damia


"Ya, aku mengerti seperti apa perasaan kamu saat ini. Kalau aku jadi kamu aku juga akan langsung malas dan tak selera makan, tapi kamu tetap harus makan. Aku yang ada saat kamu bicara sama dokter Raffa juga merasa marah, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena itu bukan urusan aku," ujar Alina


..."Tapi, kamu bahkan masih sanggup makan soto daging saat kita hanya punya sedikit waktu untuk istirahat makan siang seperti saat ini," batin Damia...


Damia dan Alina pun tidak punya pilihan selain makan dengan cepat.


Usai makan, Damia dan Alina pun segera kembali ke bangsal. Kedua suster itu memang tidak berlari, tapi terlihat jelas kalau langkah kaki mereka berdua sangat terburu-buru.


Saat tiba di bangsal, Alina langsung menuju ke pos jaga perawat untuk duduk di sana.


"Akhirnya kita sampai juga. Sebelum dan setelah makan sama saja lelahnya. Makan pun terasa seperti tidak makan. Aku tidak bisa merasakan nikmatnya makan karena tadi makan dengan terburu-buru," ucap Alina


"Kan, tidak hanya kali ini kita merasakan hal yang seperti ini. Kita memang selalu sibuk dan serba terburu-buru sambil memburu waktu," kata Damia


"Ya sudah, kamu di sini saja dulu. Aku mau sibuk lagi," sambung Damia


"Memangnya kamu mau apa dan ke mana?" tanya Alina


"Aku mau jemput pasien rujukan baru dari rumah sakit lain yang katanya akan sampai siang ini di IGD, tapi aku mau telepon staf IGD dulu. Mau tanya, apa pasiennya sudah ada di sana atau belum," jelas Damia


Alina hanya mengangguk tanda mengerti. Damia pun meraih telepon di sana. Suster cantik itu menekan tombol nomor yang akan menghubungkannya ke pihak ruang IGD.


"Halo. Dari Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Ananda Medika. Ada yang bisa kami bantu?"


"Halo. Ini dari bangsal rawat xxx Rumah Sakit Ananda Medika. Mau bertanya, kabarnya akan ada pasien rujukan baru dari Rumah Sakit xxx yang akan dipindahkan ke mari. Apa pasien tersebut sudah tiba di IGD? Karena rencananya kami mau menjemput pasien tersebut untuk dibawa ke bangsal kami."


"Mohon tunggu sebentar. Pasien atas nama xxx rujukan dari rumah sakit xxx baru tiba sekitar 10 menit yang lalu. Pasien masih sedang diperiksa oleh staf IGD kami dan maaf kalau kami belum sempat memberi kabar karena sedang sibuk. Pasien tersebut akan dijadwalkan untuk melakukan tes rontgen sebentar lagi, tapi kami sedang kekurangan staf untuk mengantar ke poliklinik rontgen."


"Kalau begitu, biar dari pihak bangsal kami saja yang nengantar pasien tersebut untuk melakukan pemeriksaan rontgen. Pihak IGD tolong untuk mengurus prosedurnya saja. Kami akan langsung ke sana setelah ini."


"Baik. Terima kasih atas ketersediaan dan kerja samanya. Pihak kami akan menunggu."


Tut!


Sambungan telepon pun terputus.


Damia pun meletakkan kembali gagang telepon.


"Bagaimana, apa pasiennya sudah sampai di IGD?" tanya Alina


"Sudah. Apa kamar untuk pasien baru itu sudah kamu rapikan, Al?" tanya balik Damia usai menjawab singkat.


"Sudah aku siapkan dari tadi pagi kok. Kalau begitu, aku akan ikut kamu jemput pasien itu," jawab Alina


"Pasien itu harus sekalian mekakukan pemeriksaan rontgen sebelum dibawa ke sini. Seperti yang kamu tahu, poliklinik rontgen sering kali punya banyak antrean. Apa kamu yakin mau ikut?" tanya Damia


"Ya, aku mau ikut. Berdoa saja semoga poliklinik rontgen sedang tidak antre," jawab Alina


"Baiklah. Ayo," kata Damia


Sebelum pergi dari bangsal, Damia lebih dulu menghampiri suster lain bersama Alina.


"Apa kalian ada yang melihat suster Lisa?" tanya Damia


"Kenapa kamu malah cari suster Lisa, Damia?" tanya Alina


"Suster Lisa adalah kepala perawat di sini. Kita harus izin dulu sebelum pergi," jawab Damia


"Kami tidak lihat shster Lisa."


"Tadi suster Lisa hanya bilang mau pergi karena ada urusan di tempat lain sebentar."


"Kalau begitu, saat suster Lisa kembali nanti, tolong sampaikan kalau aku dan Alina pergi menjemput pasien baru di IGD dan mungkin akan lama karena kami harus mengantar pasien untuk melakukan pemeriksaan rontgen lebih dulu sebelum membawanya ke sini," ujar Damia


"Oke, nanti akan kami sampaikan ke suster Lisa."


"Kami berdua pergi dulu. Permisi," kata Damia


Damia dan Alina pun beranjak pergi meninggalkan bangsal untuk menuju ke IGD.


"Untuk apa izin sama suster Lisa kalau dia sendiri saja sering kabur dari tempat bertugas untuk pacaran secara diam-diam," gumam Alina


"Kamu jangan julid seperti itu dong," kata Damia


"Habisnya aku merasa kesal. Apa kamu sama sekali tidak merasa jengkel padahal pacar sekaligus tunangan kamu direbut sama suster Lisa?" tanya Alina


"Tapi, sekarang sudah jadi mantan pacar dan dia adalah pacar barunya. Aku tidak merasa suster Lisa merebut Raffa dari aku karena nyatanya aku pun tidak punya perasaan untuk Raffa. Lagi pula, aku tidak mau punya hubungan buruk sama rekan kerja. Itu hanya akan membuat canggung selama aku bekerja," jelas Damia


"Sepertinya hanya kamu yang merasa seperti itu. Tidak kesal, tidak jengkel, dan tidak canggung ... tapi, sepertinya suster Lisa tidak seperti itu. Dia berbeda sama kamu," ujar Alina


"Setidaknya kami masih berusaha untuk menjalin hubungan yang baik," kata Damia


"Menjalin hubungan baik juga belum tentu tidak merasa canggung," sahut Alina


"Baiklah. Terserah kamu saja," sahut balik Damia sambil tersenyum pasrah.


"Yang jelas hubungan kita jangan sampai terasa canggung. Pokoknya kita berdua harus tetap solid," kata Alina


"Itu sudah pasti!" seru Damia


Akhirnya, Damia dan Alina pun terkekeh bersama. Kedua suster itu pun terus berjalan bersama menuju IGD.


"Permisi. Saya yang tadi menelepon dari bangsal xxx dan kami ingin menjemput pasien rujukan baru dari Rumah Sakit xxx dan mengantarnya untuk melakukan pemeriksaan rontgen lebih dulu," ucap Damia saat tiba di IGD.


"Tunggu sebentar. Pasien tersebut atas nama xxx. Suster, tolong antarkan dua Suster ini menemui pasien rujukan dari Rumah Sakit xxx atas nama xxx yang baru datang siang ini. Tolong sekalian antarkan pasien tersebut bersama walinya dan dua Suster ini menuju poliklinik rontgen."


"Baik. Mari, ikuti saya, Sus."


Salah satu perawat di IGD tersebut pun mengantar Damia dan Alina pergi menemui pasien di sana.


"Permisi. Pak, dua Suster ini yang akan menjemput putri Anda untuk dipindahkan ke ruang rawat intensif, tapi sebelum itu pasien harus melakukan pemeriksaan rontgen lebih dulu. Dan saya juga akan ikut mengantar."


"Oke, Sus."


Rupanya wali pasien adalah ayah dari pasien dan pasien adalah seorang wanita dewasa.


"Maaf, Pak. Apa pasien bisa duduk di kursi roda?" tanya Damia


"Tidak bisa, Sus. Anak saya belum lama ini baru habis melakukan operasi di rumah sakit sebelumnya dan kehilangan banyak darah, jadi masih belum punya banyak tenaga untuk duduk," jawab wali pasien. Damia juga melihat pasien menggeleng pelan tanda tak mampu untuk duduk.


"Kalau begitu, pasien bisa pakai dan pinjam pembaringan IGD ini dulu sebelum akhirnya nanti dipindahkan ke ruang rawat intensif, kan, Sus?" tanya Damia pada perawat IGD.


"Ya, tidak apa-apa. Sementara pakai dulu saja yang ini."


"Kalau begitu, mari kami antar untuk melakukan pemeriksaan rontgen lebih dulu," ujar Alina


"Al, tolong kamu bantu dorong pembaringannya, ya. Aku mau bantu si Bapak, kasian barang bawaannya banyak sekali. Karena belum pindah ke ruang rawat jadi harus selalu dibawa-bawa," bisik Damia


Alina hanya mengangguk kecil tanda mengerti. Alina dan seorang perawat IGD pun membuka kunci roda pembaringan dan mulai mendorongnya untuk ke luar dari IGD untuk menuju poliklinik rontgen.


"Mari, Pak. Saya bantu bawakan barangnya," kata Damia


"Tidak usah, Sus."


"Tidak apa-apa, Pak. Itu pasti berat karena sangat banyak. Saya hanya akan bantu bawa salah satu," sahut Damia


"Kalau begitu, terima kasih, Sus."


"Sama-sama, Pak ... " balas Damia


Damia memang berkata hanya akan membantu bawakan satu barang. Namun, nyatanya suster cantik itu membawa dua barang, satu di masing-masing tangannya. Lalu, ia juga masih saja berusaha membantu mendorong pembaringan pasien tersebut.


.


Bersambung.