
Duduk di kursi belakang taksi, Damia masih sibuk dan fokus mengatur kembali nafasnya yang tersenggal karena merasa panik dan jalan terburu-buru dengan setengah berlari sebelumnya. Suster cantik itu juga beberapa kali menarik dan menghembuskan nafas untuk menenangkan diri.
..."Aku harus beri tahu Angga dulu. Sekarang dia pasti sedang menunggu aku datang," batin Damia...
Damia pun menggunakan ponsel miliknya yang sedari tadi masih berada di dalam genggamannya untuk mengetik dan mengirim pesan pada sang kekasih.
^^^To: Angga.^^^
^^^Angga, maaf karena sepertinya aku akan terlambat datang. Aku masih sedang berada di jalan.^^^
From: Angga.
Tidak masalah. Aku akan menunggu sampai kamu datang. Tidak perlu terburu-buru dan hati-hati di jalan.
..."Angga langsung membalas pesan dari aku dengan cepat. Pasti karena dia sudah menunggu aku sejak tadi," batin Damia...
"Pak, tolong lebih cepat lagi. Saya sudah terlambat," pinta Damia
"Baik, Mba."
Mobil taksi pun masih terus bergerak dan mempercepat lajunya.
---
Di tempat lain.
Angga bersama para mahasiswa/i lainnya sedang berada di tengah lapangan. Usai mendengar pidato salam perpisahan dan ucapan selamat dari Rektor Universitas, Angga dan para mahasiswa/i yang telah berhasil lulus pun melempar topi wisuda mereka semua sebagai tanda merayakan kelulusan mereka semua. Sedsngkan gulungan kertas legalisir tanda kelulusan masih tetap berada dalam genggaman mereka masing-masing. Para mahasiswa/i di sana pun saling berbaur untuk sekadar mengucapkan kata perpisahan atau mrengucapkan kata selamat pada satu sama lain.
"Angga, pacar lo mana? Dari acara prom nigth semalam tak kelihatan. Masa pacar lo tak datang lagi? Atau jangan-jangan lo bohong kalau sudah punya pacar, ya?"
"Berisik banget lo pada! Gue juga masih menunggu pacar gue, nih. Pacar gue sudah janji mau datang kok. Tunggu saja," jawab Angga
Para mahasiswa/i lain pun berpencar untuk istirahat atau berbaur dengan mahasiswa/i lainnya atau berkumpul dengan keluarga yang ikut hadir pada acara wisuda kali ini. Saat Angga tertinggal sendiri, lelaki itu menyempatkan diri untuk memeriksa ponsel miliknya.
Saat itu, rupanya sangat kebetulan karena ada pesan masuk dari sang kekasih yang sedang ditunggu-tunggu.
..."Aku tahu kamu pasti akan datang," batin Angga saat membaca pesan masuk dari sang kekasih hati....
Angga pun langsung mengetik dan mengirim pesan balasan pada sang kekasih.
Saat dirinya masih terfokus pada ponsel miliknya, keluarganya yang secara khusus datang pun menghampirinya.
"Apa, sih, yang kamu lihat di HP sampai tidak peduli sama keluarga yang datang?" tanya Mama Yuli
Angga pun langsung menoleh ke arah sumber suara yang sangat familiar baginya. Karena itulah family alias keluarganya.
"Paling juga lagi menungggu kabar dari pacar," sahut Linda
"Angga, selamat, ya, atas kelulusan kamu ... " ucap Papa Nassar
"Mama, Papa, Kak Linda ... terima kasih sudah mau datang," ucap Angga
"Akhirnya, anak Mama lulus juga kuliahnya. Selamat, ya," ujar Mama Yuli
"Yaps, congratulation, Bro. Ini bunga untuk adik tersayang yang akhirnya lulus kuliah," kata Linda sambil memberi buket bunga pada sang adik.
"Thank you," ucap Angga sambil menerima sebuket bunga dari sang kakak.
"You're wellcome," balas Linda
"Anak Mama terlihat keren saat pakai baju wisuda seperti ini," kata Mama Yuli
"Masa, sih, Ma?" tanya Angga yang sebenarnya merasa tidak percaya diri dengan penampilannya saat ini.
"Benar kata Mama kok. Kalau begitu, bagaimana kalau kita berfoto? Rasanya tidak afdol saat acara perayaan seperti ini kalau tidak diabadikan dalam kenangan," ujar Papa Nassar
"Setuju sama Papa. Kebetulan aku juga sudah bawa kamera punya Angga dari rumah. Ayo, kita foto bersama," kata Linda
"Kameranya mana, Kak? Sini, biar aku minta tolong sama teman aku untuk ambil fotonya," ujar Angga
"Nih, Kakak cuma bawa kamera kecil ini saja ... " kata Linda sambil memberi sebuah kamera saku pada sang adik.
Angga mengambil alih kamera miliknya dari sang kakak, lalu lelaki itu memanggil salah seorang temannya untuk minta bantuan mengambil foto keluarga sambil memberikan kamera saku miliknya.
"Tio, tolong ambil foto gue sama keluarga pakai kamera ini, ya," pinta Angga
"Oke, sini biar gua foto lo sama keluarga," katanya, Tio
Teman Angga, Tio pun menerima kamera saku milik Angga untuk mengambil beberapa jepret foto Angga bersama keluarganya. Sejak Tio mulai berhitung sebagai aba-aba, kini sudah ada beberapa hasil foto yang di ambil olehnya.
"Oke, sudah cukup. Thanks, Tio ... " ucap Angga
"U're wellcome. Nih, kameranya ... " kata Tio yang mengembalikan kamera saku tersebut pada sang pemilik.
Angga pun langsung melihat hasil dari beberapa foto yang di ambil oleh teman lelakinya barusan.
"Oke, hasilnya bagus-bagus ... " gumam Angga
"Angga, apa kamu memang benar menunggu Damia? Apa Damia bilang mau datang?" tanya Mama Yuli
"Iya, Ma. Sudah cukup lama aku minta sama Damia supaya dia datang saat acara wisuda jika aku lulus kuliah. Damia juga sudah janji mau datang. Tadi dia kirim pesan, katanya dia mungkin akan terlambat karena masih sedang di jalan menuju ke sini," jelas Angga
"Sudah lama tidak bertemu sama Damia. Mama jadi agak rindu," ujar Mama Yuli
"Yang pasti dan yang lebih rindu sama Damia itu Angga sendiri," kata Linda
"Saat ada waktu Angga masih bisa bertemu sama Damia, berbeda dengan Mama Papa atau kamu. Buat apa merasa rindu kalau masih bisa bertemu?" tanya Papa Nassar
"Kali ini Papa salah. Orang pacaran itu kalau makin sering bertemu, justru makin rindu. Maunya bersama selalu," jawab Linda
"Apaan, sih, Kak? Pikirin saja pacar Kakak sendiri," ujar Angga
Namun, Angga tidak berusaha untuk mengelak atau pun menyangkal. Karena memang tidak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu terhadap sang kekasih semakin menjadi dan menggebu-gebu meski keduanya sering bertemu.
...
Damia beranjak turun dari mobil taksi saat sampai tempat tujuannya dengan terburu-buru, tentu saja usai membayar ongkos perjalanan pada supir taksi.
"Terima kasih, ya, Pak ... " ucap Damia pada supir di dalam taksi.
"Sama-sama," balas Pak supir
Damia pun melangkah ke dalam area Universitas dengan langkah besar yang tergesa-gesa sambil membawa tas wanita miliknya yang disampirkan pada bahunya dan buket bunga di tangannya. Ya, suster cantik itu menyempatkan diri untuk mampir ke toko bunga saat dalam perjalanan sebelumnya.
"Semoga aku tidak datang terlalu terlambat," gumam Damia
"Baik. Terima kasih banyak, Pak. Permisi," ucap Damia
"Sama-sama."
Damiapun semakin mempercepat langkahnya dan berjalan setengah berlari menuju lokasi wisuda seperti yang diarahkan pada penjaga tempat parkir sebelumnya.
Akhirnya, Damia melihat sekumpulan massa yang memakai baju wisuda berwarna hitam tak jauh di depannya. Saat itu, Damia pun mulai memperlambat langkahnya.
..."Akhirnya, aku sampai juga ... " batin Damia...
Saat itu ada seseorang yang juga berpakaian seragam wisuda yang menghampirinya. Mau tak mau Damia pun menghentikan langkahnya karena seseorang itu berada di depannya.
"Halo, Cantik. Kalau dilihat dari penampilannya, kamu bukan mahasiswi yang ikut acara wisuda atau bahkan bukan yang kuliah di sini karena aku belum pernah lihat kamu sebelumnya selama aku kuliah di sini. Kamu lagi cari seseorang di kampus ini, ya? Apa teman kamu juga lulus kuliah di sini hari ini? Apa mau aku bantu cari teman kamu? Siapa nama teman kamu? Mungkin aku mengenalnya, tapi mungkin juga tidak. Karena orang secantik kamu pasti temannya juga cantik, tapi aku belum pernah lihat mahasiswi kampus ini yang secantik kamu. Hanya kamu yang sangat cantik di sini hari ini. Sumpah, deh ... " cerocosnya merepet seolah bicara seperti petasan banting.
Selama orang yang di hadapannya bicara, Damia hanya tersenyum tipis sambil sering kali mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menemukan seseorang yang sedang dicarinya.
"Wah ... kapan kampus ini berubah jadi surga? Sepertinya hari ini aku sangat beruntung karena bisa melihat bidadari yang sangat cantik bahkan melihat senyumannya yang sangat manis," ujarnya, lelaki itu menggombal.
Saat itu, Damia melebarkan senyumannya saat melihat sosok orang yang dikenal olehnya.
"Joshua, ngapain lo di sini, malah ganggu cewek lagi!? Damia, kamu datang juga, ya?" tanyanya, seorang perempuan alias mahasiswi yang juga mengikuti acara wisuda karena lulus kuliah hari ini.
"Rena, lo kenal dia? Apa dia ini teman lo?" tanyanya, Joshua.
"Ya dan mungkin juga tidak," jawab Rena
"Maksud omongan lo apa, sih? Kok gue gak paham?" tanya Joshua
"Iya, gue kenal dia, tapi dia bukan teman gue karena mungkin gue dan dia baru resmi berteman hari ini," jelas Rena
"Ya, ya, ya. Gue bisa paham sedikitlah. Gue juga sudah menduga kalau lo bukan teman Damia karena lo gak mungkin temenan sama cewek secantik Damia," kata Joshua
"Dan Damia gak mungkin mau kenal dan berteman sama cowok jelek seperti lo, Jo," sahut Rena
"Cewek cantik seperti Damia pasti hatinya baik dan mau berteman sama gue," sangkal Joshua
"Jadi, nama kamu Damia, ya?" tanya Joshua melanjutkan menyapa perempuan cantik yang baru ditemuinya itu.
"Ya, halo. Salam kenal, Joshua ... " sahut Damia
"Ren, meski lo kenal Damia, kan, katanya lo bukan teman dia ... berarti kalian berdua baru ketemu lagi hari ini, ya? Jadi, lo gak lagi janjian sama Damia, Ren? Terua, lo menunggu siapa dari tadi dan Damia cari siapa di sini?" tanya Joshua yang mulai nyerocos lagi.
"Sudahlah, lo gak perlu tahu atau ganggu Damia lagi. Yuk, Damia, ikut aku ... " ujar Rena yang langsung menarik tangan Damia untuk pergi meninggalkan Joshua di sana.
"Woi, Ren! Lo jangan main tarik pergi Damia aja dong!" teriak Joshua
"Maaf, ya, Joshua pasti menahan dan mengganggu kamu dari tadi, ya. Dia memang seperti itu kalau bertemu perempuan cantik. Maklumi saja," ujar Rena
"Ya, tapi pasti aku sudah ditunggu dari tadi ... " kata Damia
Saat itu Angga pun muncul begitu melihat sosok sang kekasih yang sangat dikenalinya. Keduanya pun saling tersenyum saat bertemu pandang damg menghampiri satu sama lain.
"Itu dia, Angga. Sana, cepat temui dia ... " kata Rena
"Ya. Terima kasih, Rena," ucap Damia yang lalu berlalu dari Rena dan menghampiri sang kekasih.
"Sama-sama," balas Rena
"Damia, apa kamu sulit menemukan tempat ini?" tanya Angga yang menghampuri kekasih cantiknya.
"Tidak juga. Maaf, ya, aku baru datang. Tadi aku mampir dulu ke toko bunga dan setelah itu sempat macet. Untungnya macetnya hanya sebentar," jelas Damia
"Ini bunga untuk kamu. Selamat atas kelulusannya," sambung Damia sambil memberikan buket bunga pada sang kekasih.
"Padahal kamu datang saja sudah cukup. Terima kasih, ya," ucap Angga
"Sama-sama," balas Damia
"Sudah aku duga kamu cocok pakai gaun itu dan seperti biasa, kamu terlihat sangat cantik ... " puji Angga yang merasa senang saat melihat sang kekasih memakai gaun pemberiannya, apa lagi melihat penampilan cantik sang kekasih demi menghadiri acara wisuda kuliahnya juga mampu membuatnya merasa bahagia.
"Kamu juga cocok pakai seragam wisuda. Terlihat lebih tampan dan gagah," kata Damia
"Memang biasanya aku tidak terlihat tampan?" tanya Angga
"Biasanya juga tampan kok," jawab Damia
"Tapi, apa tidak gagah?" tanya Angga
Saat itu Damia hanya terkekeh kecil. Saat itu pula, Joshua menghampiri kedua insan yang tampak bahagia dan mesra itu.
"Angga, lo kenal Damia? Jangan bilang kalau kalian berdua-" Joshua menggantungkan kalimat bicaranya karena tidak mau percaya dengan pra-dugaan yang bersarang dalam pikirannya.
"Ya, sepertinya yang ada di pikiran lo itu benar. Ini pacar gue, tapi kenapa lo bisa tahu nama pacar gue?" tanya Angga usai mengungkap hubungannya dengan Damia pada teman lelakinya itu.
"Tadi kamu lihat aku datang sama Rena, kan? Saat aku baru sampai tadi, aku sempat bertemu Joshua sebelum bertemu sama Rena dan akhirnya bertemu sama kamu," ujar Damia yang memberi penjelasan yang sesuai pada sang kekasih.
"Bahkan kamu sudah tahu nama Joshua? Pasti dia tadi habis mengganggu kamu dengan gombalannya yang klasik itu, kan?" tanya Angga
"Sembarangan aja lo bilang omongan gua klasik dan itu bukan gombalan, tahu!" seru Joshua
"Angga, lo kok gak pernah kasih tahu dan kenalin pacar lo sama teman-teman, sih? Terus kok lo gak pernah bilang kalau punya pacar secantik ini?" tanya Joshua melanjutkan.
"Kayaknya sebelum ini lo malah gak percaya kalau gue punya pacar, deh ... lagi pula, gue bukannya gak mau kenalin pacar gue, tapi gue gak mau kalau lo dan yang lain jadi punya rasa iri dengki karena lihat gue punya pacar yang amat sangat cantik," jawab Angga sembari menambahkan sedikit candaan.
"Dasar, sombong lo, Ngga!" seru Joshua mencibir sambil tertawa kecil.
"Sudahlah, jangan sampai lo kepincut sama pacar gue. Apa lagi berniat merebut pacar gue. Kalau gak, pertemanan kita kandas ... " ujar Angga
"Tenang saja, Ngga. Gua juga bukan pengkhianat yang tukang tikung pacar teman sendiri," kata Joshua
"Ya sudah, sana lo ... jangan ganggu gue sama pacar gue lagi!" seru Angga
"Gak asik lo, Ngga. Mentang-mentang ada pacar, jadi lupa dan buang teman sendiri," cibir Joshua dengan maksud bercanda karena bisa memaklumi temannya yang sedang kasmaran.
"Ya sudahlah. Damia, nikmati waktu kamu di sini karena kamu pasti baru pertama kali datang ke sini. Kalau begitu, gue pergi dulu, ya ... " sambung Joshua yang berlalu pergi dari sana.
Akhirnya Angga bisa merasa lega karena temannya yang bermulut besar itu pergi meninggalkannya yang sedang bersama sang kekasih.
.
Bersambung.