Bougenville of Love

Bougenville of Love
94 - Menyangkal Setengahnya.



Angga memberikan ponsel milik sang kekasih yang masih tergelerak di atas tanah.


"Damia, ini HP kamu ... " kata Angga


"Ya. Terima kasih, Angga," ucap Damia yang langsung menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku seragam perawatnya.


"Sama-sama," balas Angga


Damia dan Angga pun bangkit dari posisi duduk di atas tanah. Untung saja di sana adalah tanah berbata dan sebelumnya tidak turun hujan hingga keduanya tidak terlalu kotor karena seolah lesehan di atas tanah.


"Kita sudah harus kembali karena sudah terlambat," kata Damia


"Ya, ayo kita kembali. Sekali lagi, maaf karena sudah menahan kamu di sini," ujar Angga


"Tidak masalah karena tentu aku harus menolong kamu, lagi pula aku juga sudah bilang untuk tidak meninggalkan kamu lagi. Dalam kondisi apa pun," sahut Damia


"Maaf juga karena baju kamu jadi kotor," kata Angga


"Hanya kotor sedikit, dibersihkan sebentar sambil ditepuk-tepuk juga akan hilang. Dari pada baju aku, jas putih kamu jadi terlihat lebih kotor," ujar Damia


"Tidak masalah. Aku bawa satu jas cadangan kok," sahut Angga


Keduanya pun beranjak pergi dari sana sambil saling bergenggaman tangan setelah membersihkan debu dan pasir yang menempel pada pakaian masing-masing dengan menepuk-nepuk pelan.


..."Kalau diingat-ingat, Damia sudah tiga kali memberi aku nafas buatan. Rasanya malu karena selalu saja aku yang butuh bantuannya dan dia selalu ada untuk membantu aku, tapi aku juga merasa senang karena bisa dibilang itu semua adalah ciuman kita," batin Angga...


..."Angga melamar aku hari ini, rasanya aku masih tidak menyangka-nyangka. Aku sangat senang. Seperti kata Angga, sudah tidak ada halangan lagi untuk kita bisa bersama. Aku sangat bersyukur karena Angga tidak marah atau merasa benci sama aku setelah mengingat semua yang terjadi di masa lalu. Ternyata selama ini hanya kekhawatiran aku yang sia-sia belaka," batin Damia...


Keduanya tersenyum karena merasakan kebahagiaan yang sama atas cinta yang satu.


"Maaf, ya, karena aku hanya bisa berikan kamu cincin yang kecil seperti itu, tapi saat kita menikah nanti, aku janji akan berikan cincin yang kamu suka," ujar Angga


"Aku suka cincin ini kok. Sangat pas, tidak terlalu mewah dan sederhana sama seperti aku," kata Damia


"Sebenarnya saat memilih cincin aku, aku sambil terus memikirkan kamu," sahut Angga


"Pantas saja sangat cocok sama aku. Terima kasih, Angga," ucap Damia


"Sama-sama," balas Angga


Keduanya terus berjalan sambil berpegangan tangan dengan senyum cerah yang tak memudar dari bibir dan wajah masing-masing.


"Kita lewat sini, ya ... " ajak Angga membawa sang kekasih melewati salah satu jalan di sana.


"Memangnya kenapa pilih lewat sini?" tanya Damia


"Karena melewati toilet," jawab Angga


"Apa kamu mau ke toilet dulu?" tanya Damia


"Tidak juga, sih ... hanya saja ini bisa jadi alibi kalau kita bisa terlambat karena habis dari toilet, seperti alasan yang aku buat saat merasa sakit tadi. Kalau-kalau ada yang melihat kita, setidaknya kita benar-benar terlihat seperti habis dari toilet. Kalau tidak juga tidak apa-apa dan kita bisa berpisah di persimpangan lorong yang dekat menuju bangsal rawat tempat kamu bertugas," jelas Angga


"Aku juga bisa mengatakan alasan yang sama kalau ada yang bertanya nanti. Namun, lain kali jangan pernah berbohong lagi, apa lagi kalau kamu sedang merasa sakit seperti tadi," ujar Damia


"Iya, tidak akan aku ulangi lagi, tapi tumben sekali kamu mau memakai alasan untuk berbohong ... " kata Angga


"Sesekali berbohong juga tidak apa-apa. Toh, aku tidak akan sering melakukannya dan kali ini demi menolong kamu," sahut Damia


"Maaf, ya, lagi-lagi aku sudah buat kamu repot sampai kamu terlambat untuk kembali bekerja," sesal Angga


"Aku yang mau melakukannya kok. Kalau memang harus, sebenarnya aku yang harus minta maaf karena sudah menyembunyikan kenyataan tentang apa yang sudah terjadi di masa lalu. Karena mengingat itu, kamu lagi-lsgi harus kesulitan bahkan merasa sakit," ucap Damia


"Itu bukan masalah atau salah kamu. Seperti kata kamu, memang aku yang harus mengingatnya sendiri," kata Angga


"Setelah aku pikir dan ingat lagi, baik sekarang atau pun dulu, aku paling senang saat bersama kamu. Bahkan sebenarnya, aku sudah suka sama kamu sejak kita bersama dulu. Hanya saja aku tidak bisa menerima kamu karena tidak bisa memutuskan hubungan dengan lelaki yang dipilihkan oleh orangtua aku dulu, tapi nyatanya hubungan itu tidak bisa bertahan lama hingga akhirnya aku bisa lebih bahagia bersama kamu," ungkap Damia


"Damia, aku tidak tahu harus bilang apa kalau seperti ini. Harusnya aku bisa ikut merasakan kesedihan kamu yang dulu, tapi yang ada hanya aku yang merasa sangat senang sekarang karena mendengar kamu bilang seperti tadi," ucap Angga


"Tidak apa-apa, toh itu hanya masa lalu dan yang penting adalah masa sekarang," kata Damia


"Kalau kita hanya berdua seperti tadi, mungkin sekarang aku sudah memeluk kamu lagi," ujar Angga karena bagaimana pun juga dirinya dan sang kekasih sedang berada di dalam gedung rumah sakit yang terdapat banyak orang berlalu-lalang di sana.


Damia hanya tersenyum. Namun, sebagai ganti dari keinginannya untuk memeluk sang kekasih, Angga pun mengangkat tangan Damia yang digenggam olehnya dan mendaratkan kecupan pada punggung tangannya.


"Sebagai gantinya, aku hanya bisa melakukan ini ... " bisik Angga


"Kamu ini apa-apaan, sih? Hal seperti ini juga tidak boleh dilakukan saat banyak orang, akan ada yang melihat," tegur Damia yang langsung menurunkan kembali tangannya yang sedang berada di dalam genggaman tangan sang kekasih.


"Berarti kalau tidak ada yang lihat dan kita hanya berdua, aku boleh melakukan hal seperti ini, kan?" tanya Angga dengan maksud menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Itu juga tidak boleh," jawab Damia dengan cepat.


"Kalau begitu, aku tunggu sampai kita sah saja," ujar Angga sambil tersenyum penuh arti.


"Dasar, kamu ini ... " dumel Damia yang kehabisan kata-kata.


Keduanya pun sama-sama menghentikan langkah. Damia juga melepaskan genggaman tangannya dengan Angga.


"Kita sudah harus jalan sendiri dari sini," kata Angga


"Nanti kita pulang bersama, ya. Kalau aku telat ke luar, kamu tunggu saja aku di tempat parkir mobil dan sampai jumpa," sambung Angga sambil melambai pelan ke arah sang kekasih.


Meski mungkin terasa berat, keduanya berjalan menuju ke arah yang berbeda dari sana. Namun, keduanya masih tetap mengembangkan senyuman.


Sesampainya di bangsal rawat, Damia lebih dulu masuk ke dalam ruang loker. Alina juga ada di dalam sana dan beberapa suster lain.


"Damia, kamu habis dari mana, sih? Kok tumben baru balik?" tanya Alina


"Aku habis ada urusan, lalu juga habis dari toilet," jawab Damia


"Urusan apa? Apa itu termasuk saat kamu bermesraan sama dokter Angga di belakang gedung rumah sakit?" tanya Suster Lusi yang baru menghampiri.


"Aku memang habis dari belakang gedung rumah sakit dan bersama Angga saat itu. Jadi, kamu juga habis dari sana dan yang kamu lihat adalah kami yang sedang bermesraan di sana saat itu?" tanya balik Damia


"Jadi, kamu tidak menyangkal, ya, Damia? Berarti itu benar?" tanya balik Suster Lusi lagi.


"Itu pasti tidak seperti yang kamu kira, Lusi. Pasti ada kesalah-pahaman," kata Alina


"Tidak, aku akan menyangkal setengahnya. Jika yang Lusi lihat tadi kami berdua bermesraan adalah saat aku memberi nafas buatan sebagai pertolongan pertama untuk dokter Angga, maka itu benar," ujar Damia


"Jadi, benar kata suster Lisa kalau yang tadi itu Damia sedang menolong dokter Angga dengan memberi pertolongan pertama ... " gumam Suster Lusi


"Lusi, jadi saat kamu pergi sama suster Lisa tadi, kalian sempat melihat Damia dan dokter Angga?" tanya Alina


"Kamu ... jadi tadi kalian berdua melihat aku dan dokter Angga, tapi tidak datang menghampiri kami? Kalau kalian bahkan tahu kalau aku sedang memberi pertolongan pertama, kenapa kalian tidak datang untuk menolong juga? Apa kalian bahkan tidak berpikir kalau aku kesulitan menolong orang sendirian dan butuh bantuan?" tanya Damia


"Tidak, maksud aku bukan seperti itu ... " jawab Lusi


"Ya ampun, apa kamu mengira kalau Damia dan dokter Angga sedang berbuat yang tidak benar di tempat seperti ini?" tanya Alina


"Itu ... ya, awalnya memang seoerti itu, tapi ternyata kata suster Lisa benar, kalau Damia sudah menolong dokter Angga. Lalu, suster Lisa pergi, jadi aku juga ikut pergi dari sana," jelas Lusi


"Tidak hanya tidak ikut menolong saat ada yang butuh bantuan, tapi kalau seandainya benar kami berbuat hal yang tidak benar pun kenapa kalian tidak datang untuk mencegah perbuatan buruk kami? Sebenarnya apa niat yang ada di dalam pikiran kalian sampai mengabaikan kejadian seperti tadi?" tanya Damia


"Saat aku mengira kalian sesang berbuat mesum, sebenarnya aku sudah mau menghampiri untuk mencegah kalian, tapi suster Lisa menahan aku karena katanya itu bukan seperti yang aku lihat dan sebenarnya kamu lagi menolong dokter Angga. Lalu, suster Lisa pergi, jadi aku juga ikut pergi. Sebenarnya saat itu aku juga mau ikut menolong kalian," ungkap Lusi


"Kalau suster Lisa pergi, lalu kamu juga ikut pergi ... kenapa tidak menolong Damia dan dokter Angga sendiri saja? Bukannya menolong orang lain adalah kewajiban sesama, apa lagi kalau kita adalah tenaga medis?" tanya Alina


"Tempat itu di belakang gedung rumah sakit yang sepi dan yang katanya angker, aku tidak berani ... maaf," jawab Lusi yang kini menyesali perbuatannya.


"Padahal kamu tahu itu tempat yang sepi, harusnya kamu bisa berpikir kalau kami semakin butuh bantuan karena tidak ada yang lewat di sana. Kamu tidak menolong kami, padahal sempat melihat kami yang berarti sempat melewati tempat itu juga," ujar Damia


Damia terlihat kecewa dan marah dengan kurangnya sikap kepedulian rekan kerjanya yang urung menolong saat ada orang yang butuh bantuan. Sangat kurang beruntung bahwa yang melihat kejadian sebelumnya itu adalah seseorang yang sepertinya lebih suka melihat orang merasa kesulitan dan seseorang yang suka bergosip seperti suster Lisa dan suster Lusi. Padahal Damia sangat berharap ada orang yang ikut menolong dan membantu.


Saat itu, Suster Lisa masuk ke dalam ruang loker tersebut.


"Ada apa sampai terdengar ramai di dalam sini? Kenapa kalian tidak kembali bekerja?" tanya Suster Lisa


"Maaf, Suster Lisa ... kami akan segera kembali bekerja. Permisi," jawab Damia


Damia hendak ke luar dari ruang loker seperti suster lainnya, diikuti Alina yang berjalan pelan di belakangnya. Namun, saat itu Suster Lisa menginterupsi gerakan Damia dengan menyebut namanya hingga Damia menghentikan langkahnya. Alina pun ikut berhenti karena berada di belakangnya. Bahkan Suster Lusi pun masih belum ke luar dari sana. Sepertinya Suster Lisa sengaja ingin bicara dengan mereka yang tertahan di dalam ruang loker itu.


"Maaf, ya, Suster Damia. Saya dan Suster Lusi tidak berniat seperti itu tadi. Kami terpaksa meninggalkan tempat itu karena sudah waktunya untuk kembali bekerja," ujar Suster Lisa seolah tidak ingin disalahkan.


"Padahal kalian berdua meninggalkan bangsal rawat setelah istirahat selesai. Kalau kalian bahkan tidak mau menolong saat melihat orang yang butuh bantuan dengan dalih harus kembali bekerja, harusnya dari awal pun sekalian saja tidak usah meninggalkan bangsal," gumam Alina


Damia yang mendengar suara Alina yang bergumam dengan jelas pun meraih dan menggenggam lengan sahabatnya itu seolah berusaha menahan niat sahabatnya agar tidak berdebat dengan kepala perawat yang merupakan atasan di sana. Damia berpikir biar saja kali ini menjadi urusannya secara pribadi tanpa melibatkan orang lain.


"Tidak apa-apa, Suster Lisa. Toh, itu sudah terjadi dan dokter Angga pun sudah baik-baik saja sekarang," kata Damia


"Saya juga minta maaf, ya, Suster Lusi, karena tadi sudah mengajak berdebat," sambung Damia sambil menoleh ke arah Suster Lusi.


"Kenapa malah jadi kamu yang minta maaf, Damia?" tanya Alina sambil berbisik.


Damia hanya diam tidak menjawab pertanyaan Alina yang didengar olehnya. Saat Damia hendak ke luar sambil mengajak Alina, lagi-lagi langkahnya terhenti karena Suster Lisa menginterupsi dengan pertanyaan untuknya.


"Tapi, Suster Damia ... padahal di sana adalah tempat sepi, untuk apa kamu dan dokter Angga ada di sana?" tanya Lisa


"Tadi dokter Angga sempat meminta untuk diajak berkeliling ke jalan dan tempat yang tidak diketahuinya, jadi saya ajak dia berjalan lewat jalan yang bisa dijadikan jalan pintasan dari tempat yang tidak seramai tempat yang sering dilewati, makanya kami lewat jalan belakang gedung rumah sakit, tapi malah terjadi kejadian seperti yang sempat kalian lihat tadi," jelas Damia


"Jangan bilang, kalau Suster Lisa juga sempat mengira kalau Damia dan dokter Angga sedang berbuat mesum di sana?" tanya Alina


Damia memberi isyarat pada Alina supaya bisa menahan diri. Menurut Damia, tidak baik jika sahabatnya itu mencari masalah dengan seseorang yamg memiliki jabatan lebih tinggi di tempat kerja itu dan biarkan ini jadi urusan pribadinya.


"Tidak seperti Suster Lusi yang mengira kalau tindakan kalian berdua adalah sesuatu yang tidak benar, saya langsung tahu kalau tadi dokter Angga sedang butuh pertolongan. Sebenarnya apa yang membuat dokter Angga jadi seperti itu? Apa dia punya suatu penyakit? Atau, apa ingatannya belum sepenuhnya pulih dari amnesia?" tanya Lisa


"Tidak, ingatan dokter Angga sudah pulih sepenuhnya. Seperti kejadian tadi hanya karena efek samping dari kondisinya yang pernah hilang ingatan sebelumnya itu terkadang masih suka kambuh. Saya memang tahu kalau ingatan dokter Angga sudah pulih sepenuhnya, tapi hanya dokter Angga sendiri yang tahu dengan jelas seperti apa kondisinya," jawab Damia sambil sedikit mengarang bebas.


"Apa benar hanya karena itu? Tidak yang dokter Angga sembunyikan, kan? Kalau ternyata dia punya masalah sama kesehatannya bukannya itu akan menghambat kinerjanya sebagai seorang dokter nanti bahkan saat dia masih menjalani program profesi seperti saat ini?" tanya Lisa


"Suster Lisa, tidak perlu merasa khawatir soal itu. Untuk menjadi seorang dokter, kita semua juga tahu kalau akan ada banyak tes yang harus dijalani, termasuk tes kesehatan bahkan saat mereka hendak masuk perguruan tinggi. Sebelum menjadi mahasiswa di sebuah Universitas, sebelum menjalani program profesi, bahkan sampai sebelum mereka benar-benar melakukan praktek sebagai dokter nantinya pun akan ada tesnya. Untuk itu, biarkan saja tanggung jawabnya diserahkan pada para dokter senior," jelas Damia


"Maaf, kalau tidak ada pertanyaan lain lagi, saya permisi ... " sambung Damia yang langsung berlalu ke luar diikuti Alina yang berjalan di belakangnya.


Semua yang dikatakan Damia memang benar. Namun, itu mampu membuat Suster Lisa merasa kesal karena Damia seolah berkata agar dirinya tidak perlu ikut campur dengan sesuatu yang bukan urusan atau tanggung-jawabnya. Suster Lisa merasa dirinya direndahkan, apa lagi saat Alina tampak tersenyum mengejek ke arahnya yang seolah kalah telak dan di-SKAKMATT oleh Damia.


.


Bersambung.