
Sulit diartikan ekspresi raut wajah Damia saat ini.
"Apa lagi yang harus aku mengerti, Raff? Bahwa aku tidak bisa bersatu sama kamu? Karena kamu masih punya Damia yang sudah jadi tunangan kamu? Jadi, siapa yang akan kamu beri kepastian dan yang akan kamu pilih? Aku atau Damia?"
"Maaf, Lis. Aku masih belum bisa memilih antara kamu dan Damia."
"Dokter Raffa, tolong jangan jadi plin-plan. Jangan mempermainkan perasaan kami para perempuan. Kalau Damia yang sudah jadi tunangan kamu saja tidak bisa kamu beri kepastian, apa lagi aku yang hanya selingkuhan kamu? Kalau dilihat dari status hubungan kami sama kamu, tentu saja aku tidak bisa menang dari Damia. Apa memang aku tidak punya kesempatan dan hubungan kita tidak bisa dipertahankan?"
"Tolong beri aku kesempatan waktu untuk berpikir soal ini."
"Kesempatan waktu berapa lama lagi? Apa aku harus mengalah dan mundur saja?"
"Tidak. Aku mohon, Lisa. Ini juga sulit untuk aku."
"Lalu, apa kamu pikir aku tidak merasa sulit?"
Dua orang yang sedang bicara itu diketahui adalah Dokter Raffa dan Suster Lisa. Keduanya berdebat masalah hubungan tersembunyi mereka dan Damia ada tak jauh dari sana, mendengarkan semua pembicaraan keduanya sambil menyembunyikan diri.
Dokter Raffa pun memeluk Suster Lisa untuk menenangkan kekasih keduanya alias selingkuhannya itu.
Damia berusaha untuk tegar. Ia menghela nafas pelan.
"Rupanya, Raffa memang masih sibuk. Sepertinya aku tidak seharusnya datang ke sini untuk mengganggu dia," gumam Damia dengan suara yang sangat pelan. Seolah suster cantik satu ini sudah terbiasa dengan adegan perselingkuhan antara tunangan dan rekan kerja sesama susternya.
..."Sepertinya pesan dariku tadi masih belum sempat dibaca sama Raffa. Lebih baik aku hapus saja pesan tadi dan pergi dari sini," batin Damia yang lalu menghapus pesan chat dari ponsel miliknya....
Damia memilih opsi hapus untuk semua pada pesan chat yang dikirim olehnya pada nomor Raffa.
Setelah itu, Damia hendak beralih pergi. Namun, dari arah belakangnya ada rekan perawat lain hendak melewati koridor tersebut dan bertemu dengannya.
"Lho, Suster Damia ... sedang apa di sini?" tanyanya
"Aku hanya mampir sebentar. Tadinya aku mau bertemu dengan Dokter Raffa, tapi pesan yang aku kirim tidak dibaca. Mungkin dia masih sibuk, jadi aku mau pergi saja," jawab Damia
"Begitu, rupanya. Nanti kalau aku bertemu dengan Dokter Raffa, aku akan bilang kalau tadi Suster Damia sempat datang mencarinya."
"Terima kasih. Ya sudah ... kalau begitu, aku pergi dulu. Permisi," pamit Damia
"Hati-hati, Suster Damia."
Mendengar adanya suara percakapan tak jauh dari sana, Dokter Raffa langsung melepaskan pelukannya dengan Suster Lisa.
"Sepertinya ada orang di dekat sini," kata Raffa
"Huh, siapa?" tanya Lisa
"Aku juga tidak tahu. Biar aku yang cek," jawab Raffa
Dokter tampan itu pun melangkah menyusuri koridor tersebut dan tepat saat jalan bercabang, ia berpapasan dengan salah satu perawat lainnya di sana.
"Oh, ya ampun! Dokter Raffa! Buat saya terkejut saja!"
"Suster, kamu sudah lama diam di sini?" tanya Raffa
"Tidak kok, saya baru saja mau lewat jalan ini, tapi tadi saya sempat bicara dengan Suster Damia di sini. Benar juga, tadi katanya Suster Damia mencari dan ingin bertemu dengan Dokter Raffa, tapi pesan darinya tidak dibaca. Suster Damia mengira Dokter Raffa sedang sibuk, jadi dia pergi lagi. Aneh, padahal Dokter Raffa ada di sini. Kenapa malah tidak bertemu dengan Suster Damia?"
"Kamu bilang apa tadi? Suster Damia ada di sini dan pergi lagi?" tanya Raffa
"Iya, Dok. Barusan saja, tepat ada di sini dan bicara sebentar sama saya. Lalu, pergi lagi dan sepertinya sedang terburu-buru."
Saat itu Suster Lisa menghampiri Dokter Raffa.
"Oh, ada Suster Lisa juga!"
"Ada apa di sini?" tanya Lisa
"Tadi Damia habis dari sini," jawab Raffa
"Maaf, Dokter Raffa, Suster Lisa ... saya permisi dulu."
"Ya. Silakan," kata Raffa
Perawat lain itu pun pergi dari sana.
"Bagaimana ini, Raff? Apa tadi Damia mendengar percakapan kita?" tanya Lisa
"Aku juga tidak tahu. Aku akan menemui Damia dulu," jawab Raffa
Tanpa bicara apa pun lagi, Raffa langsung pergi meninggalkan Lisa untuk mencari keberadaan Damia. Bahkan Lisa pun diabaikan oleh Dokter tampan itu.
"Giliran Damia datang, aku langsung diabaikan," gumam Lisa yang langsung menekuk wajahnya karena merasa cemburu.
"Apa ini adalah hal yang bagus? Kalau Damia mengetahui tentang perselingkuhan aku sama Raffa, mungkin dia akan minta putus dan Raffa bisa jadi milik aku sepenuhnya. Apa aku juga harus menemui Damia dan menjelaskan tentang hubungan diam-diam aku dan Raffa sama dia? Mungkin dengan begitu, Dania akan merelakan Raffa untuk aku," batin Lisa
Tanpa berpikir panjang untuk kedua kalinya, Suster Lisa pun mengikuti langkah Dokter Raffa dengan jarak tertentu agar tidak ketahuan atau dianggap menjadi pengganggu oleh pasangan selingkuhannya itu.
Raffa berjalan sambil mengecek ponsel miliknya.
"Pesan dari Damia sudah dia hapus," batin Raffa yang mengecek riwayat pesan chat dari ponsel miliknya.
"Bisa-bisanya Damia langsung pergi dengan terburu-buru pula. Apa dia sudah tidak sabar untuk bertemu pasien sekaligus teman lamanya itu? Apa sebenarnya diam-diam dia sudah pacaran lagi dan berselingkuh di belakang tanpa aku ketahui?" gumam Raffa bertanya-tanya dengan melupakan fakta bahwa dirinya sudah lebih dulu berselingkuh dengan gadis lain.
Setelah ke luar dari rumah sakit, barulah Raffa dapat melihat sosok Damia yang terus menjauh dari sana. Raffa pun langsung mempercepat langkahnya untuk menghampiri gadis tunangannya itu.
Sebelum Damja semakin pergi menjauh, Raffa sudah lebih dulu meraih tangan gadis itu dan menghentikan langkahnya.
"Damia, kenapa kau buru-buru pergi sebelum bertemu sama aku?" tanya Raffa dengan sedikit menarik lengan Damia.
"Dokter Raffa, kok kamu ada di sini? Apa kamu sudah tidak sibuk lagi?" tanya balik Damia setelah menoleh pada Raffa saat tangannya ditarik oleh tunangannya itu.
"Apa maksud pertanyaan Damia barusan? Apa dia mau menyindir aku? Apa dia benar-benar sudah mendengar percakapan antara aku sama Lisa? Apa dia sudah mengetahui hubungan kami?" batin Raffa bertanya-tanya.
"Kita sudah ada di luar rumah sakit. Panggil pakai nama aku saja," ujar Raffa
"Tapi, kan, kamu tidak sedang bekerja di rumah sakit," sahut Raffa
"Bagaimana kabar kamu? Kamu sedang apa tadi? Apa sudah tidak sibuk lagi?" tanya Damia
"Aku baik kok. Kamu sendiri kenapa datang tanpa beri tahu aku dulu? Apa pasien rumahan itu sudah sembuh?" tanya balik Raffa
"Aku datang karena ingin bertemu sama kamu. Tadi aku sudah kirim pesan, tapi tidak kamu baca. Angga masih butuh memuluhkan ingatannya yang hilang," jelas Damia
"Aku tidak menanyakan nama pasien rumahan itu. Lalu, kenapa pesan yang kamu kirim ke aku malah kamu hapus lagi?" tanya Raffa
"Karena aku pikir itu akan mengganggu kamu dan aku tidak ingin seperti itu," jawab Damia
"Apanya yang mengganggu? Atau kamu salah kirim pesan yang harusnya buat pasien rumahan itu malah kirim ke aku? Isi pesannya rahasia tentang cinta untuk dia yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Raffa
"Aduh, jangan berpikir berlebihan dong, Raff. Dia cuma teman aku kok," jawab Damia
"Teman apa? Teman tapi mesra?" tanya Raffa
"Kamu ini pacar sekaligus tunangan aku. Apa kamu tidak bisa percaya saja sama aku?" tanya balik Damia
"Kalau kamu saja terus dekat sama lelaki lain, bagaimana aku bisa percaya begitu saja sama kamu?" balas Raffa bertanya balik.
..."Aku memang tidak bisa dipercaya, aku memang sudah mengkhianati kamu, tapi aku juga lelah kalau kamu terus berpikir berlebihan seperti ini. Padahal kamu juga sama saja," batin Damia...
"Maaf, kalau aku kurang baik sampai buat kamu tidak bisa percaya begitu saja sama aku. Lalu, apa kamu juga bisa dipercaya?" tanya Damia
"Apa maksud kamu? Selama ini aku cuma kerja kok," ujar Raffa
"Aku juga cuma kerja, Raff. Dia itu teman aku yang kebetulan jadi pasien. Aku tidak bisa menolak pasien hanya karena dia buat kamu jadi cemburu. Ini juga tugas yang dikasih atasan tanpa bisa aku tolak," ucap Damia
"Aku tidak cemburu kok," bantah Raffa
"Kalau begitu, aku yang cemburu," ujar Damia
"Kamu juga bisa cemburu, rupanya? Tapi, kamu cemburu sama apa dan siapa?" tanya Raffa
"Aku cemburu karena kamu selalu sibuk," jawab Damia
"Kan, kita sama-sama sibuk di sini," kata Raffa
"Kamu juga tahu aku juga sibuk karena kerja, kenapa kamu selalu berpikir berlebihan sama aku? Tapi, bukan itu saja ... " ujar Damia
"Lalu, apa lagi?" tanya Raffa
"Aku juga cemburu saat kamu sibuk sama Suster Lisa. Aku tahu kalau ini juga termasuk bagian dari kerjaan, tapi sudah seberapa dekat kamu sama Suster Lisa?" tanya balik Damia
"Kami berdua hanya rekan kerja," jawab Raffa
"Apa iya? Mungkin aku memang salah paham di sini. Kamu dan Suster Lisa hanya rekan kerja yang sangat dekat karena pekerjaan sampai bisa membuat kalian bicara tentang pernikahan. Kalian sudah membicarakan, membahas, dan merundingkan tentang pernikahan karena orangtua Suster Lisa sudah terus mendesaknya. Aku merasa cemburu ... padahal aku yang adalah tunangan kamu saja belum pernah sama sekali kita berbicara soal rencana pernikahan. Raff, apa aku cuma jadi penghalang bagi kamu dan Suster Lisa?" Akhirnya Damia mengeluarkan uneg-unegnya.
Tentu saja hal itu membuat Raffa terkejut.
"Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku sama Lisa tidak pernah berbicara tentang hal yang seperti kamu bilang," elak Raffa
"Kamu masih tidak mau mengaku? Aku tahu, aku sudah dengar semuanya. Selama ini aku selalu bersabar dan mengalah serta menahan semuanya seorang diri. Aku tahu, tapi aku berdalih pada diri sendiri bahwa mungkin antara kamu dan Suster Lisa cuma pekerjaan. Aku diam karena aku pikir aku hanya salah paham. Aku membiarkan karena berpikir kamu cuma khilaf," ujar Damia
"Aku sedang merasa lelah, Raff. Makanya aku datang karena ingin bertemu sama kamu, tapi yang aku lihat malah kamu sedang asik berpegangan tangan dengan mesra sama Suster Lisa dan aku juga mendengar topik pernikahan yang kalian bicarakan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi dan harus bersikap seperti apa," sambung Damia
"Ada di mana kamu saat aku bersama Lisa?" tanya Raffa yang tidak bisa membahas hal lain lagi saat Damia sudah mengetahui semuanya.
"Kamu mencari tempat yang sepi saat berduaan sama Suster Lisa agar tidak ada yang tahu skandal perselingkuhan kalian karena sudah hampir semua tahu kalau akulah pacar sekaligus tunangan kamu. Kalian asik bermersaan sampai tidak sadar aku juga ada di sana. Ya, memang setelah melihat kalian berdua, aku langsung bersembunyi. Suster yang kamu lihat ... di balik dinding tempat Suster itu datang, aku ada dan bersembunyi di sana," jelas Damia
"Suster tadi benar. Kamu ada di sana dan mendengar semuanya," gumam Raffa
"Apa kamu tidak ingin mengelak atau bertanya lagi? Apa kamu sudah terima kenyataan bahwa kamu ketahuan selingkuh dari aku?" tanya Damia
Raffa terdiam. Dokter tampan itu menatap Damia dengan sendu. Ekspresinya tampak kacau, namun sepertinya lelaki itu sudah pasrah saat hubungan gelapnya terungkap. Damia lebih kacau lagi. Suster cantik itu berusaha tegar, namun terlihat seperti menahan air mata agar tidak terjun bebas ke pipinya.
"Aku lelah bahkan tidak bisa menghampiri kamu untuk mengungkap perselingkuhan kamu sama Suster Lisa secara langsung. Aku tahu dan hanya diam, aku tidak mau mengganggu pekerjaan kamu sama Suster Lisa. Aku selalu menanamkan dalih seperti itu dalam diri aku, tapi rupanya benar dan tidak bisa dipungkiri lagi kalau sebenarnya kamu sudah selingkuh," ucap Damia
"Raff, kita putus saja," sambung Damia dengan berat hati.
"Ini tidak bisa diputuskan seperti ini begitu saja. Kalau kita putus, bagaimana dengan orangtua kita yang sudah menjodohkan kita? Bukankah kita juga sudah bertunangan?" tanya Raffa
"Lalu, mau bagaimana lagi? Kalau kamu mau mempertahankan hubungan kita hanya karena orangtua, apa kamu hanya mau mempermainkan perasaan Suster Lisa? Apa kamu mau terus menyakiti perasaan kami berdua? Aku selalu diam dan mengalah, maka biar saja terus seperti itu. Biarkan aku yang mundur," ujar Suter Damia yang bicara sambil memegangi kepalanya.
Damia teringat saat melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, bahwa hubungannya dengan Raffa sudah tidak semanis dulu dan tidak bisa lagi dipertahankan. Karena sudah jadi seperti ini, Damia pun melepaskan cincin tunangannya dan memberikan cincin itu pada Raffa.
Damia meraih tangan Raffa untuk meletakkan cincin itu di atas telapak tangan Dokter tampan itu. Lalu, menarik tangannya kembali.
"Relakan saja, Raff. Jangan sampai ada penyesalan antara kita, orangtua kita juga pasti bisa mengerti kok bahwa apa yang tidak cocok itu tidak busa dipaksakan atau terus dipertahankan, yang ada nanti kita juga yang tersakiti," ucap Damia
"Lebih baik kamu berikan cincin itu sama Suster Lisa atau jual saja dan beli yang baru untuk Suster Lisa. Atau kamu bisa membuangnya karena itu bekas aku. Kamu pasti mampu beli yang baru dan yang lebih bagus untuk Suster Lisa. Suster Lisa itu orang baik yang patut dipertahankan. Kamu harus membahagiakan dia, Raff," sambung Damia
"Damia ...."
"Ini memang berat. Kamu tidak salah. Lagi pula, kamu benar kok. Bukan hanya kamu yang selingkuh. Aku dan pasien rumahan itu juga ... anggap saja seperti itu," kata Damia
"Apa maksud Damia? Jadi dia juga selingkuh sama pasien rumahan itu atau tidak? Kenapa aku tidak mengerti dengan apa yang dia maksud terakhir itu?" batin Raffa
..."Kenapa hanya aku saja yang terus berusaha untuk mengerti dan mengalah? Padahal aku suda sudah merasa bersalah karena menganggap aku sendiri telah mengkhianati Raffa. Rupanya memamg hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan," batin Damia...
Saat Damia hendak berbalik pergi, rupanya terlihat Suster Lisa juga ada di sana. Damia hanya tersenyum.
Untung saja di sana adalah tempat parkir yang sepi karena dekat ruang jenazah. Kalau tidak mungkin Dokter Raffa dan Suster Lisa sudah merasa amat malu karena skandal perselingkuhan mereka telah terungkap.
.
Bersambung.