Bougenville of Love

Bougenville of Love
34 - Kesemutan.



"Setelah makan, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu di sekitar tepi pantai?" tanya Angga


"Maksud kamu, kita mau ke pantai Ancol dulu setelah dari Dunia Fantasi ini?" tanya balik Damia


"Ya. Kita bisa jalan-jalan di sana sambil melancarkan percernaan setelah makan," jawab Angga


"Sepertinya menyenangkan, tapi ini sudah malam. Angin malam itu tidak baik untuk kesehatan, nanti kamu bisa sakit," ujar Damia


"Aku tidak apa-apa kok. Sebentar saja, lagi pula ini baru jam 7 malam. Masih belum terlalu malam," kata Angga


"15 menit saja, ya?" tanya Damia menawarkan.


"Baiklah, ayo!" seru Angga


Angga pun langsung mengajak Damia beralih ke pantai sambil menggenggam tangan suster cantik itu. Sepertinya Damia benar-benar tidak bisa menang dari pasien lelakinya itu. Bahkan, mungkin tanpa dirinya sadari Angga telah memenangkan hatinya.


Keduanya tampak tersenyum bahagia. Berjalan bersama, menyusuri tepi pantai.


Damia dan Angga sama-sama melepaskan dan menjinjing alas kaki masing-masing. Sambil bertelanjang kaki, keduanya merasakan sentuhan pasir halus dan terpaan ombak kecil yang ringan pada kaki mereka. Sesekali bahkan tak jarang keduanya terlihat saling melontarkan kata dan bercanda hingga tertawa bersama.


Dengan jahilnya, Angga menciprati Damia dengan menendang pelan air ke arah suster cantik itu. Meski begitu, tidak sampai mengenai pakaian gadis perawat itu.


"Jangan dong, Angga. Kalau nanti basah, aku tidak bawa pakaian ganti," protes Damia


"Kalau begitu, balas aku juga dong," ujar Angga menantang.


Namun, Damia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.


..."Si*l! Aku tidak sempat mengambil foto padahal Damia terlihat sangat cantik saat ini. Bagi aku dia selalu cantik hingga tak henti-henti membuat aku terpesona," batin Angga...


Angin pantai yang nakal mampu membuat helaian rambut Damia berkibar dengan indah. Merasa pandangannya terusik, suster cantik itu pun menyelipkan helaian rambutnya ke sela belakang telinga hingga membuat lelaki yang berjalan bersama dengannya jatuh cinta lagi untuk yang ke sekian kalinya.


"Ini sudah lebih dari 15 menit. Ayo, kita pulang," kata Damia


"Baiklah," sahut Angga


Tak terasa sudah 30 menit keduanya berjalan di tepi pantai, padahal rencana awalnya hanya akan di sana selama 15 menit. Itu sudah dua kali lipat lebih banyak dari waktu yang direncanakan.


Sebelum pulang, Damia dan Angga lebih dulu ke toilet untuk membersihkan kedua kaki mereka sehabis berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki. Setelah itu, Angga pun memesan taksi online untuk kembali pulang ke rumah bersama Damia.


Di dalam mobil, saat mobil mulai melaju Angga langsung bersandar pada bahu Damia dengan mesra dan manja.


"Ada apa? Kamu kenapaa, Angga? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Damia


"Tidak ada. Aku hanya merasa agak lelah. Aku izin bersandar sama kamu sebentar saja," jawab Angga


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu selama perjalanan pulang menuju ke rumah," ujar Damia


Entah apa maksud Angga, sepertinya lelaki itu merasa optimis kalau Damia akan menerima perasaannya hingga dirinya sudah mulai bersikap mesra dan manja. Lagi pula, Damia pun tidak menolaknya.


Angga tersenyum sambil memejamkan kedua matanya.


Setelah hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil tiba di lokasi tujuan.


"Angga, bangun. Kita sudah sampai di rumah ... " Damia pun membangunkan Angga yang tertidur sambil bersandar pada bahunya.


Damia menepuk-nepuk pipi Angga hingga lelaki itu membuka matanya karena terusik.


"Sudah. Kamu bayar dulu ongkos taksinya. Sudah ditunggu, tuh ... " jawab Damia


"Aduh, maaf, ya ... aku ketiduran. Padahal niatnya cuma mau pejam mata sebentar," kata Angga


"Tidak masalah. Kalau begitu, aku turun duluan, ya," ujar Damia yang langsung membuka pintu mobil dan beranjak turun ke luar dari dalam mobil.


Angga pun lebih dulu membayar biaya perjalanan dan menyusul Damia yang sudah lebih dulu beranjak turun ke luar dari dalam mobil. Lelaki itu melihat Damia yang sedang merenggangkan otot tubuhnya yang mungkin terasa kaku.


"Maaf, ya, Damia. Aku jadi terus bersandar sama kamu karena ketiduran selama perjalanan hampir satu jam. Badan kamu pasti terasa sakit semua," ucap Angga yang merasa bersalah setelah melihat waktu pada layar ponselnya.


"Tidak apa-apa kok. Untung saja di perjalanan sebelumnya aku juga sudah sempat istirahat di dalam mobil, jadi kita berdua tidak sama-sama tertidur," kata Damia


"Ayo, kita masuk ke dalam rumah," sambung Damia


Saat Damia hendak berbalik, tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir terjatuh. Namun, untung saja Angga langsung bergerak merangkul pinggang suster cantik itu agar tidak terjatuh.


"Hati-hati, Damia. Kenapa kamu bisa hampir terjatuh seperti ini?" tanya Angga


"Kaki aku kesemutan. Maaf, ya," jawab Damia yang langsung mencoba kembali berdiri tegak sambil berpegangan dengan Angga.


"Harusnya aku yang bilang maaf. Kaki kamu jadi kesemutan seperti ini pasti karena tidak bisa bergerak selama duduk di dalam mobil karena aku tidur sambil bersandar sama kamu," ucap Angga


"Sini, biar aku bantu," sambung Angga yang langsung berjongkok.


Angga langsung menggunakan kedua tangannya untuk memijat kedua kaki Damia agar aliran darah pada kedua kaki suster itu kembali lancar dan tidak lagi merasa kesemutan.


"Angga, apa yang sedang kamu lakukan? Tidak perlu sampai seperti ini. Aku hanya perlu menghentak-hentakkan kedua kaki aku supaya rasa kesemutannya hilang," ujar Damia


"Tidak apa-apa. Kalau lagi kesemutan seperti ini, biasanya harus digelitiki dulu baru bisa sembuh," kata Angga yang langsung dengan jahilnya menggelitiki kedua kaki Damia


"Angga, jangan macam-macam, deh. Nanti aku malah jadi jatuh ... "


Jika saja Damia tidak berpegangan dengan bahu Angga pasti suster cantik itu sudah terjatuh menimpa tubuh lelaki yang sedang berjongkok di dekat kedua kakinya.


"Apa aku bilang?! Jangan macam-macam! Untung saja aku tidak jatuh menimpa tubuh kamu!" seru Damia


"Supaya lebih cepat, biar aku gendong saja," kata Angga


Angga pun langsung mengangkat tubuh Damia seperti sedang mengangkut karung beras di punggungnya menuju ke dalam rumah. Suster cantik itu pun langsung membelalakan kedua matanya sambil menutup mulutnya dengan tangannya sendiri agar tidak berteriak dan mengganggu ketenangan setempat.


"Kamu apa-apaan, sih, Angga? Cepat turunkan aku!" seru Damia


"Memangnya kaki kamu sudah tidak kesemutan lagi?" tanya Angga


"Sudah tidak lagi kok. Makanya cepat turunkan aku," jawab Damia


Angga pun langsung menurunkan tubuh Damia secara perlahan.


"Dasar, jahil!" dumel Damia sambil memukul kecil lengan Angga.


Damia mencoba menghentakkan kedua kakinya untuk memastikan kedua kakinya sudah baik-baik saja dan rasa kesemutan pada kedua kakinya sudah hilang. Setelah itu, Damia pun beranjak masuk ke dalam rumah bersama Angga.


.


Bersambung.