Bougenville of Love

Bougenville of Love
26 - Papa dan Kakak.



Keesokan harinya.


Pagi hari ini, Angga terbangun setelah tidur nyenyak semalaman. Wajah cerahnya terlihat semakin tampan saat lelaki itu mengawali hari dengan senyuman.


"Luar biasa. Kali ini rasanya sangat puas setelah bangun dati tidur. Sungguh aneh, padahal sejak kemarin aku masih merasa sakit kepala yang sangat hebat, tapi begitu bangun aku merasa segar dan bugar," gumam Angga


"Apa ini karena Damia?" sambung Angga bergumam pelan.


Tangan lelaki itu pun terjulur untuk menyentuh bibirnya sambil tersenyum-senyum sendiri.


..."Semalam itu, Damia tidak menolak ciuman aku, kan? Ya, meski awalnya dia cuma berniat kasih nafas buatan untuk aku, tapi saat aku menciumnya, dia sama sekali tidak menolak atau mendorong aku sedikit pun. Apa ini artinya dia juga punya perasaan yang sama seperti aku? Apa ini artinya aku masih punya kesempatan?" batin Angga...


Rasanya hati lelaki tampan itu sedang berbunga-bunga, bahkan senyuman cerah dan wajah ceria tidak pernah luntur atau pudar sedikit pun sejak awal bangun tidur karena bahagia mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, ada satu hal yang Angga lupakan. Bahwa sebenarnya Damia sudah memiliki kekasih.


Entah lelaki itu benar-benar melupakan fakta tersebut atau dirinya sedang berusaha menipu diri sendiri karena harapan besarnya yang seolah memiliki kesempatan untuk memiliki hubungan istimewa dengan suster cantik yang merawatnya itu.


Dengan senyum dan semangatnya, Angga pun bangkit dari ranjang dan beralih menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beranjak ke luar dari dalam kamar tidurnya untuk bertemu sang pujaan hati. Lelaki itu berniat mempersiapkan diri dan berpenampilan sebaik mungkin agar dapat penilaian positif dari suster cantik pujaan hatinya.


...


Di kamar lain.


Damia sudah siap dan rapi setelah bangun pagi, membersihkan diri, dan berpakaian. Suster cantik itu kini sedang memoles sedikit wajahnya agar dapat memiliki kesan baik.


Saat sedang bercermin, gadis perawat itu memerhatikan pantulan dirinya dan perlahan menyentuh bibirnya.


..."Semalam itu bukan hanya aku yang memberi nafas buatan untuk Angga, tapi setelah itu dia juga mencium aku. Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan? Kenapa sama sekali tidak menolak atau menjauh dari dia sedikit pun? Sungguh memalukan ... padahal aku sudah punya pacar. Aku telah berkhianat di belakang Raffa," batin Damia...


"Mungkin ...anggap saja aku sudah gila, tapi jangan sampai hal seperti semalam terulang lagi," gumam Damia


Di dalam hatinya, Damia merasa bersalah pada pacar sekaligus tunangannya karena merasa dirinya telah berkhianat dari lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu saat berciuman dengan Angga semalam, meski suster cantik itu pun tidak membalas ciuman lelali yang berstatus sebagai pasiennya itu. Namun, tetap saja gadis perawat itu tidak melakukan penolakan yang berarti.


Setelah itu, Damia menyadarkan diri dari lamunamnya dan kembali bersemangat untuk memulai harinya. Lalu, suster cantik itu pun beranjak ke luar dari dalam kamarnya dan memutuskan untuk memasak lebih dulu.


...


Selepas membersihkan diri dan bersiap dengan rapi, Angga langsung ke luar dari dalam kamarnya dan hendak langsung mencari keberadaan Damia.


Saat mencium aroma masakan, Angga bisa langsung mengetahui bahwa suster cantik itulah yang sedang memasak di dapur. Lelaki itu pun langsung bergegas menuju ke arah dapur.


Saat di dapur, benar saja. Angga melihat sosok punggung gadis cantik yang sedang sibuk menghadap ke arah kompor dan wajan penggorengan.


"Selamat pagi, Damia!" seru Angga menyapa saat menghampiri suster cantik itu di dapur.


"Selamat pagi juga. Angga, pagi-pagi seperti ini kamu sudah ke dapur pasti karena sudah merasa lapar, ya? Tenang saja, sarapannya sebentar lagi siap kok," ujar Damia


"Bukan seperti itu. Aku menghirup aroma masakan dari dapur, jadi pasti ada yang sedang masak, makanya aku datang," kata Angga


"Kalau begitu, berarti aku benar, kan? Kamu tahu ada yang sedang masak di dapur bahkan aroma masakannya pun sampai tercium, pasti karena kamu merasa lapar?" tanya Damia


"Sudahlah, terserah kamu saja mau menganggapnya seperti apa," jawab Angga


..."Kenapa aku tidak bisa berkata jujur saja kalau aku datang ke dapur karena kamu ada di sini. Alias ingin bertemu kamu. Padahal kata orang yang tidak peka itu adalah lelaki, tapi kenapa kamu malah tidak peka, sih? Padahal baru semalam kita masih bersama, tapi aku sudah rindu ingin bertemu. Dan padahal semalam kita sudah sedekat itu, kenapa kamu balik cuek sama aku? Apa kedekatan kita semalam hanya perasaan aku saja? Tidak, bukan seperti itu, kan? Aku pasti masih tetap punya kesempatan, kan?" batin Angga...


Meski merasa kesal dengan ketidak-pekaan Damia, Angga masih saja terus memandangi punggung suster cantik itu sambil tersenyum dan tidak berniat untuk mengalihkan pandangannya.


Saat itu, Mama Yuli pun muncul.


"Anak Mama sudah menunggu waktunya sarapan, ya?" tanya Mama Yuli


"Iya, nih ... sebentar lagi sarapannya siap kok, Tante," kata Damia


"Bukan seperti itu kok," sahut Angga karena merasa kesal.


Damia pun terkekeh pelan. Baginya reaksi wajah kesal Angga terlihat lucu.


Setelah menyiapkan dan menghidangkan menu sarapan, ketiganya pun memulai sarapan bersama.


"Maaf, Tante, Angga ... siang ini rencananya saya mau izin pergi," ungkap Damia


"Memangnya kamu mau ke mana, Damia?" tanya Angga


"Boleh saja. Kan, hari ini memang waktunya kamu libur," kata Mama Yuli


"Terima kasih, Tante," ucap Damia sambil tersenyum. Namun, tidak menjawab pertanyaan dari Angga.


"Tapi, sebelum itu ... kalau bisa, Tante mau minta tolong sama kamu, Damia," kata Mama Yuli


"Ya, ada apa, Tante? Kalau saya memang bisa, tentu akan saya bantu lakukan," ujar Damia bertanya.


"Setelah sarapan ini, bisa tolong masak lagi yang lebih banyak? Soalnya papa dan kakaknya Angga akan pulang hari ini," ujar Mama Yuli


"Baik, Tante. Kalau itu saya bisa kok. Sebelum pergi nanti pasti saya akan masak lagi. Kalau begitu, saya harus masak apa, ya, Tante?" tanya Damia


"Masak apa saja. Keluarga saya suka masakan rumahan kok," jawab Mama Yuli


"Mama, Damia bukan pembantu," kata Angga


"Tidak masalah, Angga. Hitung-hitung melakukan hobi saja," sahut Damia


"Ya, Mama tahu kok, Angga. Mama hanya minta tolong. Lagi pula, Damia-nya tidak keberatan," ujar Mama Yuli


"Lagi pula, papa dan kakak sudah mau pulang, kok Mama tidak beri tahu aku?" tanya Angga


"Iya, Mama lupa. Soalnya kemarin papa kasih kabar pas Mama masih kerja di kantor," jawab Mama Yuli


"Yah, waktu aku sama Damia jadi berkurang banyak. Dia memang mau pergi siang nanti, tapi sebelum pergi dia harus masak dulu," batin Angga


Setelah sarapan, meja makan pun dirapikan.


Hari ini Mama Yuli nenunda waktu berangkat kerja setidaknya sampai suami dan anak sulungnya pulang dari luar kota hingga tiba di rumah. Sedangkan, Angga tampak enggan beranjak dari ruang makan.


"Hari ini Tante menunda berangkat ke kantor sampai papa dan kakaknya Angga sampai di rumah, jadi Tante bisa bantu kamu masak, Damia," ucap Mama Yuli


"Baik, Tante," sahut Damia


"Angga, apa kamu mau tetap di sini? Apa tidak mau pindah ke depan atau ke kamar kamu?" tanya Mama Yuli


"Tidak, ah. Aku lagi malas gerak. Mau di sini saja," jawab Angga


"Ya sudah, tapi jangan ganggu Mama sama Damia masak di sini," ujar Mama Yuli


"Iya, Ma," kata Angga


..."Aku ingin terus di sini karena ada Damia. Aku sudah merasa senang hanya dengan melihatnya, meski hanya terlihat sosok belakangnya saja dan Mama sering menghalangi aku melihat dia," batin Angga sambil tersenyum tipis....


Saat masakan sedang dihidangkan, suara mobil atas kepulangan papa dan kakak Angga terdengar.


"Sepertinya mereka sudah sampai," kata Mama Yuli


"Ya sudah, biar saya yang selesaikan di sini," ujar Damia


Mama Yuli pun beralih setelah mencuci tangannya.


"Angga, apa kamu tidak menyambut kepulangan papa dan kakak kamu?" tanya Damia


"Tidak, biar saja. Nanti juga mereka masuk ke dalam rumah kok," jawab Angga


Damia pun hanya membiarkannya saja. Angga tetap di sana sambil memerhatikan suster cantik itu dari kejauhan sambil sesekali mencuri foto gadis perawat yang sedang sibuk menata hasil masakan.


"Di mana Angga?"


"Dia sedang istirahat setelah sarapan, tapi istirahatnya di ruang makan. Katanya lagi malas gerak."


Papa dan kakak Angga pun menghampiri Angga.


"Bocah ini sedang malas-malasan di sini sambil curi-curi pandang ke arah suster, rupanya ... " ujar kakak perempuan Angga sambil mengacak-acak rambut adik lelakinya itu.


"Apaan, sih, Kak Linda?!" sahut Angga


"Kamu tidak seperti habis kecelakaan, malah terlihat sehat bugar, Angga," kata papa Angga.


"Ya. Bagaimana kondisi kamu, Angga?" tanya kakak perempuan Angga, Linda.


"Ya, aku memang baik-baik saja. Hanya perlu memulihkan sebagian ingatan yang hilang," jawab Angga


"Ya, katanya kamu lupa ingatan, tapi kamu tidak lupa sama keluarga sendiri, kan?" tanya papa Angga, Nassar.


"Tidak kok, Pa. Aku hanya lupa memori 3 tahun belakangan ini," jawab Angga


"Jadi, siapa suster cantik yang terus kamu pandangi ini?" tanya Linda.


"Perkenalkan saya, Damia. Saya yang ditugaskan untuk merawat Angga di sini," ungkap Damia memperkenalkan diri.


"Damia ini adalah teman yang Angga lupakan sementara ini," ucap Mama Yuli


"Jadi, Angga dan Damia sudah berteman sebelumnya?" tanya Papa Nassar.


"Benar, Om. Kami berteman sejak 3 tahun lalu dan itu termasuk waktu yang dilupakan oleh Angga," jelas Damia


"Jadi, bagaimana urusan Papa dan Kak Linda di luar kota?" tanya Angga


"Syukurlah, semua urusan bisnis di sana lancar jaya," jawab Linda


"Kalau begitu, Damia, kamu sudah bisa pergi karena sudah izin tadi," ujar Mama Yuli


"Terima kasih, Tante," ucap Damia


..."Padahal izin perginya siang nanti, tapi Damia sudah mau pergi saja. Tapi, aku tidak bisa melarangnya karena dia sudah izin dan Mama juga sudah memberinya izin," batin Angga...


"Kapan kamu kembali ke rumah ini, Damia?" tanya Angga


"Mungkin nanti malam atau bahkan larut malam nanti," jawab Damia


"Ciiye, yang sudah merasa rindu padahal Suster Damia belum juga pergi," ledek Linda


"Apaan, sih, Kak Linda?!" seru Angga


"Kamu istirahat saja dengan baik di rumah, Angga. Jangan menunggu sampai aku kembali," ucap Damia


"Baik, aku mengerti," kata Angga


Damia pun bersiap, lalu pergi dari rumah tersebut.


Damia lebih dulu pergi ke taman terdekat untuk me-refresh dirinya sendiri dan saat jam makan dan istirahat siang hari, suster cantik itu langsung menuju ke rumah sakit untuk bertemu sang kekasih.


Mungkin karena rasa bersalahnya karena telah berkhianat di belakang sang kekasih, Damia jadi ingin menemui tunangannya itu untuk sekadar melepas rindu.


Setibanya di rumah sakit, Damia langsung menuju tempat yang sering kali disinggahi Dokter Raffa agar bisa bertemu dengan tunangannya itu.


"Apa tidak masalah kalau aku datang dan mau menemui Raffa tanpa bilang dulu? Dokter itu tidak lagi sibuk, kan?" gumam Damia bertanya-tanya.


Namun, Damia malah berputar arah.


"Aku datang nanti saja setelah mengabari Raffa, deh. Sepertinya dia masih sibuk," gumam Damia


Padahal, nyatanya Damia sempat melihat sosok yang mirip dengan tunangannya di sana. Namun, karena 'kemungkinan sedang sibuk', akhirnya gadis perawat itu memilih untuk mengurungkan niatnya sementara.


Karena sudah direncanakan, Damia lebih dulu bepergian untuk self healing ke tempat favoritnya. Hingga memasuki waktu malam hari, Damia pun kembali pada rencananya menuju ke rumah sakit untuk menemui sang kekasih.


Damia berjalan di koridor rumah sakit yang terbilang sepi sambil mengotak-atik ponsel miliknya untuk mengirim kabar pesan singkat pada sang kekasih jika dirinya ingin bertemu melalui chatting online.


Namun, tiba-tiba saja Damia berbelok ke arah koridor lain saat melihat dua insan yang sedang berjalan sambil berpegangan tangan.


"Dok, orangtua saya sudah mendesak saya untuk cepat menikah."


"Kamu yakin? Apa tidak bisa didiskusikan untuk ditunda dulu? Kan, kita sedang sama-sama sibuk sekarang."


"Saya juga sudah membicarakan ini dengan orangtua. Penundaan waktu bahkan sampai coba menghindar dari topik pembicaraan pernikahan ini, tapi orangtua saya tetap bersikeras menuntut saya. Sebenarnya Dokter punya niat atau tidak dengsn saya? Apa Dokter hanya mau pecaran tanpa berniat menikah atau bahkan melamar saya?"


"Bukan seperti itu."


"Lalu, apa lagi?"


"Tolong mengertilah dengan situasi masing-masing dari kita saat ini."


Sebenarnya, Damia berhenti melangkah setelah berbelok. Suster cantik itu mendengar perdebatan dua insan yang bekerja di rumah sakit yang sama itu dan hanya terdiam seolah sedang mencuri dengar alias menguping.


Tangan Damia menggenggam erat ponsel yang berada di tangannya dengan kuat. Ponsel miliknya tampak baik-baik saja, namun tangannya seperti akan muncul kemerahan saking kuatnya mencengkram. Semua tampak baik-baik saja, tapi tidak dengan suasana hatinya. Wajah suster cantik itu pun tampak tidak baik.


Damia terus berdiam di tempatnya berdiri saat ini sambil bersandar seolah sedang bersembunyi. Suster cantik itu terus mencuri dengar percakapan antara sepasang kekasih yang bekerja di tempat yang sama dengannya itu. Gadis perawat itu sungguh tidak menyangka akan mendapat kenyataan dari informasi yang seperti ini.


.


Bersambung.