
Setelah makan malam, Linda beranjak masuk ke dalam ruang seni. Saat Angga melihatnya, lelaki itu pun mengikuti kakak perempuannya mengingat dirinya belum sempat membereskan lukisan yang belum sempat diselesaikan semalam.
"Sedang apa kamu di sini? Apa kamu mengikuti Kakak?" tanya Linda
"Tidak usah ge'er. Aku hanya mau membereskan lukisan yang belum aku selesaikan semalam," jawab Angga sambil merapikan alat lukisnya.
"Sepertinya di dalam ruangan ini sudah bertambah satu lukisan lagi. Bukannya ini Damia? Apa kamu yang membuat lukisan ini?" tanya Linda
"Sudah pasti aku yang membuat lukisan itu. Memangnya siapa lagi?" sahut Angga
"Lalu, kenapa warna latarnya suram seperti ini?" tanya Linda
"Sudah terlanjur dibuat seperti itu," jawab asal Angga yang sudah hendak ke luar dari ruang seni karena sudah selesai membereskan alat lukis miliknya.
"Mau ke mana kamu? Sudah mau pergi saja? Kenapa tidak diselesaikan saja lukisannya?" tanya Linda
"Lain kali saja," jawab Angga yang langsung berlalu ke luar dari ruang seni.
Setelah Angga ke luar dari sana, Linda berjalan mendekat ke papan lukisan yang belum diselesaikan oleh adik lelakinya itu. Rupa lukisan tersebut masih belum terlihat dengan jelas karena memang belum diselesaikan. Namun, yang sudah mulai terlihat adalah warnanya yang lebih suram dari pada lukis potret Damia yang ada di dalam ruang seni itu.
Bernjat hanya ingin melihat-lihat isi ruang seni, Linda pun kembali beranjak ke luar dari sana usai merasa puas melihat-lihat. Putri sulung itu menghampiri sang adik lelaki yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Kenapa malah ke sini? Apa kamu tidak mau istirahat saja di dalam kamar?" tanya Linda
"Aku mau nonton TV, Kak. Jangan ganggu," jawab Angga
"Bilangnya mau nonton TV, tapi sebenarnya mau menunggu sampai Damia pulang, kan?" tanya Linda
"Kak Linda terlalu banyak tanya. Lebih baik Kakak istirahat saja sana. Pasti lelah setelah terus bekerja di luar kota," ucap Angga
"Dasar, bocah. Jangan begadang. Ingat kata Damia, tidak perlu menunggu sampai dia pulang," ujar Linda
"Iya, Kak," kata Angga
Linda pun beralih untuk istirahat di dalam kamarnya dan meninggalkan adik lelakinya di ruang tengah. Sedangkan, Angga tetap berada di sana. Benar kata sang kakak, menonton TV hanya sebuah dalih. Tujuan sebenarnya memang ingin menunggu hingga Damia kembali.
Saat Damia hendak berbalik pergi, rupanya terlihat Suster Lisa juga ada di sana. Damia hanya tersenyum. Namun, tidak disangka, Suster Lisa menghampiri Damia lebih dulu.
"Damia, maaf ...."
"Bagi aku, Suster Lisa sudah aku anggap seperti Kakak aku sendiri. Baik-baik sama Dokter Raffa, ya. Kalau dia menyakiti Kak Lisa, bilang saja sama aku. Biar aku yang menasehati dia," ujar Damia yang lalu meraih dan menggenggam tangan Suster Lisa juga memeluk perempuan yang sudah dianggap seperti seorang kakak baginya.
"Bahagialah kalian berdua. Tidak perlu pedulikan aku. Aku pergi dulu. Permisi," sambung Damia usai melepaskan pelukannya dari Suster Lisa.
Setelah itu, Damia pun pergi dari sana meninggalkan Dokter Raffa dan Suster Lisa yang terdiam mematung di sana.
"Maaf, Raff. Kamu jadi putus sama Damia," kata Lisa
"Bukannya memang ini yang kamu mau?" tanya Raffa
"Ya. Aku tidak menyesal," jawab Lisa
Raffa tidak bisa berkata-kata. Dokter tampan itu tidak bisa marah karena selain Damia, ia juga menyayangi Lisa dengan cara yang istimewa.
Raffa mengepalkan tangannya yang terdapat cincin tunangan peninggalan Damia. Ia menyesal dan merasa amat bersalah. Namun, terkadang apa yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi. Sama seperti hubungannya dengan Damia yang sudah hancur dan berakhir.
"Aku harap hubungan kita sama Damia tetap terjalin dengan baik," ucap Lisa
"Sudah jadi seperti ini, kamu masih bisa berharap seperti itu? Apa harapan kamu tidak berlebihan?" tanya Raffa
"Menjalin hubungan pertemanan yang baik, kan, bukan hal yang buruk," jawab Lisa
"Apa aku sudah salah dalam mengambil keputusan?" tanya Raffa sambil bergumam.
"Apa yang kamu bicarakan? Apa maksudnya kamu menyesal memilih untuk berpacaran sama aku?" tanya Lisa yang dapat mendengar gumaman Raffa.
"Sudah, jangan berpikir berlebihan. Aku mau kembali bekerja. Aku sudah ada janji sama Profesor Susan," ujar Raffa sambil menghela nafas pelan.
Raffa pun berjalan kembali untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dokter tampan itu menyimpan cincin tunangan peninggalan Damia ke dalam saku jas dokternya. Suster Lisa pun mengikuti untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit.
Damia pun kembali menuju ke rumah Angga dengan menaiki taksi online. Di dalam mobil Damia terus menangis sepanjang perjalanan. Meski hanya rintikan, air matanya tidak bisa berhenti jatuh. Suster cantik itu menangis tanpa suara, meski begitu hatinya sangat sakit.
Saat mobil berhenti begitu tiba di rumah Angga, Damia menghapus jejak air matanya. Gadis perawat itu kembali menguatkan dirinya dan mengontrol emosinya. Ia pun beranjak ke luar dari dalam mobil dan berjalan masuk menuju ke dalam rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, tampak lampu dan televisi yang masih menyala. Tentu saja juga ada yang menonton di sana, seseorang yang masih berada di ruang tengah.
"Damia, kamu sudah kembali!" seru Angga yang langsung menyapa saat Damia masuk ke dalam rumah.
"Ya. Kamu sedang nonton TV, ya? Kenapa tidak istirahat? Bukankah ini sudah malam?" tanya balik Damia sambil tersenyum kecil.
"Aku sudah terbiasa, ingin menonton TV hingga malam. Ini 15 menit sebelum jam 9 malam. Kamu habis dari mana saja?" tanya balik Angga lagi
"Aku habis jalan-jalan di luar," jawab Damia
"Apa bekerja di sini untuk merawat aku membuat kamu terbebani sampai kamu butuh me-refresh diri dengan jalan-jalan?" tanya Angga
"Tidak kok, bukan seperti itu. Sebenarnya tadi aku ke rumah sakit untuk bertemu teman-teman, tapi karena aku hanya datang tepat saat mereka sedang luang, jadi sebelum itu aku memilih untuk jalan-jalan lebih dulu," jelas Damia
"Jadi, kamu sudah berhasil bertemu dengan teman-teman kamu di sana?" tanya Angga
"Sudah, aku bertemu dengan beberapa teman sebentar karena mereka harus kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing," jawab Damia sambil tersenyum lesu.
Sejak tadi, Damia sudah berusaha menahan rasa sedih di hatinya ditambah harus berpura-pura tersenyum. Maka, saat ditanya tentang pertemuan dengan teman-teman di rumah sakit, ia tidak bisa lagi mengontrol senyumnya dengan baik bila mengingat kejadian memilukan yang dialaminya hari ini.
"Lalu, kenapa raut wajah kamu terlihat tidak begitu baik?" tanya Angga
"Ya, padahal bisa dibilang aku pergi ke luar untuk bersenang-senang, tapi entah kenapa aku jadi merasa lelah. Mungkin karena seharian berada di luar," jawab Damia
"Benar juga, kamu pasti lelah. Kalau begitu, istirahatlah," ujar Angga
"Kamu juga jangan menonton sampai terlalu malam, jangan begadang. Kamu harus istirahat dengan baik," pesan Damia
"Iya, aku mengerti. Tadi kak Linda juga sudah berpesan seperti itu," kata Angga
"Kalau kak Linda sudah berkata seperti itu, kenapa kamu masih menonton di sini? Apa kamu menunggu aku?" tanya Damia
"Tidak kok. Film layar lebar kesukaan aku sedang ada jadwal tayang di TV, makanya aku menontonnya. Kebetulan memang waktu tayangnya lumayan malam," jawab Angga
"Baiklah. Kalau begitu, selamat menonton. Aku tinggal, ya," ujar Damia
Saat Damia hendak berlalu pergi, Angga menahan tangannya. Seolah tidak ingin cepat berpisah dengan suster cantik itu.
"Ada apa? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Damia yang kembali menoleh ke arah Angga.
"Itu ... kan, hari ini kamu pergi seorang diri. Apa kamu mau pergi sama aku besok?" tanya Angga
"Mau kok. Kalau mama papa kamu memperbolehkan, ayo kita pergi bersama. Untuk tempatnya kamu yang menentukan," jawab Damia
"Angga, tangan aku ... " Damia bicara sambil menatap ke arah tangannya yang masih digenggam oleh Angga.
Angga pun mengikuti arah tatapan mata Damia. Rupanya, lelaki itu masih menahan tangan Damia. Setelah tersadar, ia pun melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan suster cantik itu pergi.
"Ah, maaf. Aku tidak sadar," kata Angga
"Tidak apa-apa. Sampai jumpa besok." Sambil tersenyum Damia beralih menuju ke kamarnya.
Di dalam kamarnya, setelah menutup pintu dengan rapat, air mata kembali lolos jatuh ke pipinya. Suster cantik itu menghela nafas panjang seolah telah melalui hari yang berat dan sulit.
Air matanya terus berjatuhan karena dari tadi sudah berusaha ditahan untuk tetap tersenyum dan dadanya terasa sesak.
"Apa-apaan, deh? Padahal tadi sudah berhenti, sekarang malah menangis lagi. Masa iya, mau terus seperti ini," gumam Damia
Akhirnya Damia memutuskan untuk langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dalam posisi tengkurap, wajah cantiknya dibenamkan ke bantal. Suster cantik itu ingin segera melupakan rasa sakit hati yang dirasakannya hari ini dan berharap semua akan baik-baik saja di hari esok.
Sedang Damia merasa galau di dalam kamarnya, sementara itu Angga malah merasa bahagia karena besok bisa pergi berdua bersama dengan Damia. Lagi-lagi lelaki itu senyum-senyum sendiri.
..."Akhirnya Damia susah setuju mau pergi berdua sama aku besok. Apa ini sudah bisa dianggap sebagai kencan? Aku jadi tidak sabar menunggu sampai besok. Lebih baik aku cepat tidur supaya besok tidak bangun kesiangan," batin Angga...
Angga pun segera mematikan televisi dan langsung beranjak ke dalam kamarnya untuk tidur. Karena sejak awal pun menonton TV hanyalah alasan untuk menunggu Damia kembali ke rumah. Tidak hanya bisa melihat dan bertemu dengan suster cantik itu sebelum menutup malam harinya, ia juga bisa pergi berdua dengan gadis perawat itu besok. Ia merasa telah menjadi lelaki yang beruntung.
•••
Keesokan harinya.
Berbeda dari yang sudah-sudah, biasanya Damia hanya makan dan sarapan bersama Angga dan sang mama, tapi kini juga ada sang papa dan kakak perempuannya.
"Silakan dimakan sarapannya. Maaf, kalau ada yang kurang," kata Damia
"Ini kamu yang masak, Damia?" tanya Papa Nassar.
"Betul, Om," jawab Damia
"Makanan kemarin saat papa dan Linda baru pulang Damia juga yang masak, lho. Mama sampai lupa bilang," ujar Mama Yuli
"Padahal jadi perawat itu pasti sibuk, tapi kamu juga pintar masak. Damia, hebat!" puji Linda
"Hanya hobi saja kok, Kak," sahut Damia
"Ma, Pa, hari ini Angga mau pergi ke luar. Boleh, kan?" tanya Angga
"Memangnya mau ke mana?" tanya Papa Nassar.
"Masih belum ditentukan, tapi aku mau pergi sama Damia," jawab Angga
"Kalau berdua sama Damia, boleh ... " kata Mama Yuli
"Terima kasih, Ma," ucap Angga
"Kita pergi bertiga saja, ajak Kak Linda juga," kata Damia
"Aku mau, tapi tidak bisa," sahut Linda
"Maaf, Kak, tapi kenapa?" tanya Damia
"Setelah mengurus bisnis di luar kota, aku masih ada yang harus diurus dan dilaporkan ke kantor. Meski mungkin bisa dikerjakan dari rumah," jawab Linda
"Kasihan, deh ... padahal sudah mengurus kerjaan sampai ke luar kota, setelah pulang masih harus kerja juga. Aku juga tidak ada niat mengajak Kakak kok," ujar Angga
"Tidak boleh seperti itu, Angga. Semangat, ya, Kak Linda. Nanti akan aku buatkan camilan," kata Damia
"Jadi adik itu yang pengertian dan perhatian kayak Damia dong. Pantas saja kamu masih belum punya pacar. Terima kasih, Damia," ucap Linda
"Kalau harus buat camilan dulu, kapan kita bisa pergi, Damia?" tanya Angga
"Kita bisa pergi agak siang. Nanti camilannya juga bisa kita bawa saat pergi," jawab Damia
"Kalau begitu, nanti aku akan bantu kamu buat camilannya," ujar Angga
"Oke," sahut Damia dengan singkat.
"Kalau kamu ikut bantu, bukannya cepat selesai, malah akan lama dan tidak selesai-selesai. Pasti kamu hanya akan mengganggu," ujar Linda
Usai sarapan, Angga langsung semangat mengajak Damia membuat camilan.
Karena melihat Angga yang sudah semangat, Damia pun ikut senang saat hendak mulai memasak.
"Apa yang akan kita buat kali ini?" tanya Angga
"Karena kita ingin buat yang mudah dan sesuai dengan bahan yang ada, kita akan buat lumpa isi udang bihun," ungkap Damia
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Angga
"Tolong bantu kupas udangnya, ya. Sebelum itu dicuci dulu udangnya," pinta Damia
"Baiklah," kata Angga
Angga pun menuang seplastik udang mentah ke dalam baskom untuk lebih dulu dicuci sebelum dikupas kulitnya. Sedangkan Damia merebus bihun selama 10 menit dengan tambahan garam secukupnya dan minyak goreng agar bihun tidak lengket.
Setelah meniriskan dan menyisihkan bihun ke dalam wadah, Damia pun beralih membantu Angga yang masih berkutat dengan udang.
Damia terkekeh pelan melihat wajah Angga saat itu.
"Ya ampun, Angga ... kulit udangnya sampai menempel di wajah kamu," ujar Damia yang membantu membersihkan kulit udang yang menempel pada wajah Angga.
"Kulit udangnya banyak yang mental," kata Angga
Saat jemari Damia menyentuh kulit Angga, sontak lelaki itu langsung menoleh menatap suster cantik di sampingnya itu.
Jarak keduanya cukup dekat hingga tanpa sadar saat bersitatap keduanya saling menahan nafas. Suasana pun menjadi canggung.
"Biar aku bantu kupas kulit udangnya," kata Damia yang memecahkan kecanggungan antaranya dan Angga.
"Baiklah. Hati-hati saat menyentuh ekornya, itu tajam," ujar Angga
"Aku lupa mengatakan kalau bagiannekornya langsung dipotong dan buang saja," ucap Damia yamg sudah mulai membsntu Angga mengupas kulit udang.
"Baiklah. Aku mengerti," sahut Angga langsung mengikuti arahan Damia untuk memotong dan membuang bagian ekor udang.
"Di keluarga kamu tidak ada yang alergi udang atau seafood, kan?" tanya Damia
"Tidak ada kok," jawab Angga
Keduanya pun mengupas kulit udang bersama dengan posisi bersebelahan. Tanpa sadar, jantung Angga berdetak dengan cepat. Lelaki itu menjadi gugup saat dekat dengan Damia.
.
Bersambung.