
Saat melihat Angga perlahan semakin bergerak turun ke dasar kolam, Damia menjadi panik seketika. Suster cantik itu jadi yakin jika suara pekikan yang didengar olehnya tadi adalah milik Angga yang merasa kesulitan.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Damia langdung melepas piring dan gelas dari tangannya hingga terjun bebas ke lantai dan pecah berserakan.
PRANGG!!
Byuuurr~
Damia langsung berlari dan meluncur masuk ke dalam kolam renang. Buru-buru, suster cantik itu meraih tubuh Angga yang semakin merosot turun ke dasar kolam. Damia memeluk tubuh Angga dengan satu tangan dan langsung bergerak berenang ke atas hanya dengan menggunakan satu tangan dan kedua kakinya yang mendayung sekuat tenaga.
Setelah meletakkan dan membaringkan tubuh Angga di tepi kolam renang, Damia langsung melompat naik dengan cepat. Suster cantik itu langsung berjalan mendekati tubuh Angga dan bersimpuh di samping lelaki itu.
Berusaha untuk tenang, Damia langsung mengambil langkah cepat untuk memberikan pertolongan pada Angga yang tak sadarkan diri akibat tenggelam. Suster cantik itu langsung melakukan CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation) atau RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Suster cantik itu mengingat kembali apa yang pernah dipelajarinya dahulu.
Pertama, membuka jalan napas dengan menengadahkan kepala (Airways), kedua lakukan 30 x kompresi dada disertai tekanan dengan kekuatan penuh serta berirama di setengah bawah dari tulang dada (Compression), dan 2 x pemberjan nafas buatan (Breathing). (Rasio 30 : 2 kompresi dada dan nafas buatan).
..."Sadarlah, Angga. Aku mohon," batin Damia...
Akhirnya, Angga pun terbatuk dengan keras dan tersadar dengan membuka kedua matanya. Damia pun membantu membangunkan Angga agar bisa terduduk supaya bisa mengeluarkan air yang tertelan dengan lebih mudah.
"Berbatuklah lagi dengan lebih keras agar bisa mengeluarkan semua air yang tertelan," kata Damia
"Terima kasih, Damia," ucap Angga dengan lirih.
"Jangan bicara dulu, fokus saja untuk batuk. Harusnya dari awal aku melarangmu untuk berenang. Kenapa kamu bisa tenggelam? Apa yang terjadi? Bukankah tadi kamu baik-baik saja? Apa ada yang terasa sakit? Atau mungkin kaki kamu terasa kram?" tanya Damia
Angga hanya bisa mengangguk pelan.
"Bagian mana yang terasa sakit? Tunjuk saja," kata Damia
Angga pun menunjuk pergelangan kakinya yang sebelah kiri. Damia langsung beralih mendekat ke arah kaki lelaki itu dan memijatnya perlahan namun bertenaga untuk menghilangkan rasa kram.
"Rileks saja," kata Damia saat memijat pergelangan kaki Angga dengan sedikit menekannya menggunakan tenaga.
"Bagaimana? Sudah terasa lebih baik?" tanya Damia lagi.
Lagi-lagi Angga hanya mengangguk.
"Atur nafas kamu dengan baik secara perlahan," kata Damia
Angga diam tidak bersuara. Mungkin sakit di kepalanya akibat mengingat memori absurd tadi belum hilang atau mungkin merasa syok setelah tenggelam atau kakinya yang terasa kram masih sakit atau karena malu diselamatkan oleh seorang gadis karena kecerobohannya yang tenggelam saat berenang. Tidak ada yang tahu selain diri Angga sendiri.
Saat itu tiba-tiba Mama Yuli datang dan muncul di sana sambil menyerukan nama Angga dan Damia.
"Angga, Damia! Kenapa tidak ada satu pun yang menyahut? Ya ampun, ada apa ini? Apa yang telah terjadi?" tanya Mama Yuli saat melihat ada pecahan beling dari piring dan gelas yang berserakan di lantai beserta minuman dan makanan yang ikut berhamburan.
Dilihatnya, Angga dan Damia juga dalam kondisi basah kuyup dengan putranya yang bertelanjang dada.
"Maaf, Tante. Saya tidak bisa menyahuti panggilan Tante karena tadi Angga tenggelam saat sedang berenang," jelas Damia
"Apa, tenggelam? Kok bisa?" tanya Mama Yuli
"Saya yang lalai karena tidak bisa menjaga Angga dengan baik," jawab Damia
Damia pun membantu Angga untuk bangkit berdiri dan juga memapah lelaki itu untuk berpindah tempat agar bisa berganti dan memakai pakaian baru yang tidak basah.
"Ayo, aku bantu kamu ke kamar," kata Damia
Damia hanya mengangguk karena harus fokus menahan beban tubuh Angga yang dibebankan padanya. Mama Yuli ikut memegangi tangan Angga untuk menuntun putranya itu berjalan.
Damja membantu Angga hingga duduk di tepi ranjang di dalam kamarnya.
"Apa harusnya aku bantu kamu ke kamar mandi? Kamu harus basuh tubuh dulu sebelum ganti baju, kan?" tanya Damia
"Tidak usah. Kamu sudah sangat membantu," tolak Angga
"Tante, sekali lagi maafkan saya. Lalu, untuk kekacauan di dekat kolam renang tadi akan segera bereskan," ucap Damia yang bermaksud pada piring dan gelas pecah yang berserakan di lantai.
"Itu bukan masalah. Mungkin kalau bukan karena kamu, Angga masih tenggelam. Sekarang lebih baik kamu ganti pakaian, kamu basah kuyup. Jangan sampai kamu masuk angin. Lalu, sepertinya kaki kamu juga terluka. Lihat, darahnya ... " ujar Mama Yuli yang menunjuk jejak noda darah di lantai.
"Sepertinya saya sudah sangat mengotori lantai rumah ini. Maaf," sesal Damia
"Bukan itu maksudnya. Sepertinya kaki kamu terluka karena menginjak pecahan beling tadi. Lebih baik kamu cepat obati luka kamu agar tidak infeksi. Nanti malah jadi berbahaya," kata Mama Yuli
"Baik, Tante. Saya permisi dulu," patuh Damia yang berlalu pergi dari kamar Angga.
Angga tampak khawatir dengan suster cantik yang telah menyelamatkannya itu. Rupanya, Damia terluka karena menolongnya. Bahkan sejak tadi Angga juga dapat merasakan tubuh Damia yang beegetar. Angga mengira Damia yang bergetar karena menahan rasa sakit akibat kakinya yang terluka, padahal itu karena suster cantik itu takut terjadi hal yang buruk padanya.
"Kamu ini bagaimana bisa tenggelam, sih, Angga?" tanya Mama Yuli
"Kaki aku kram waktu berenang tadi. Ini salah aku, tapi aku baik-baik saja sekarang. Mama, jangan marahi Damia," ungkap Angga
"Siapa juga yang mau marah sama siapa? Makanya, kamu jangan ceroboh. Lagi sakit, tuh, istirahat saja, bukan malah berenang," ujar Mama Yuli mengomel.
"Sekarang kamu basuh badan dulu di kamar mandi, lalu ganti pakai baju kering. Ayo, Mama bantu. Kaki kamu pasti masih sakit," sambung Mama Yuli
"Tidak usah, Ma. Aku bisa sendiri. Tadi kaki aku juga sudah dipijat sama Damia," tolak Angga
"Jangan malu sama Mama kamu sendiri," kata Mama Yuli
Akhirnya, Mama Yuli tetap membantu Angga beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Mama Yuli juga mengambil dan mengantar setelan baju bersih pada Angga di dalam kamar mandi agar bisa langsung memakai pakaian yang kering saat ke luar dari kamar mandi.
"Mama, kenapa kembali ke rumah? Bukannya tadi harus buru-buru berangkat kerja?" tanya Angga setelah ke luar dari kamar mandi.
"Ada file Mama yang tertinggal, makanya Mama pulang dulu sebentar. Harusnya Mama balik ke kantor lagi setelah ini," jelas Mama Yuli
"Kalau begitu, Mama harus cepat balik ke kantor lagi dong?" tanya Angga lagi.
"Ya, mau bagaimana lagi? Pas Mama pulang, malah lihat kamu celaka di rumah. Kamu itu lebih penting," ujar Mama Yuli
"Aku sudah tidak apa kok, Ma. Mama, tidak usah khawatir dan bisa balik lagi ke kantor. Kan, ada Damia di rumah," kata Angga
"Ya, Damia sudah sering menolong kamu. Kamu harus baik-baik dengannya. Untung saja urusan Damia di rumah sakit cepat selesai dan bisa cepat kembali ke rumah dan juga bisa cepat selamatkan kamu yang tenggelam," ucap Mama Yuli
"Iya, aku mengerti, Ma," sahut Angga
Saat itu, pintu kamar diketuk dari luar. Siapa lagi kalau bukan Damia? Suster cantik itu pun masuk ke dalam kamar tersebut sambil membawa nampan berisi semangkuk makanan dan segelas air.
"Permisi, saya akan masuk," kata Damia
Damia masuk ke dalam kamar sudah dengan setelan seragam perawat yang baru dan lilitan perban di kedua kakinya yang tadi sempat terluka.
.
Bersambung.