
Setelah ke luar dari ruang loker, Lusi menghampiri rekan kerjanya yang lain untuk segera pulang bersama.
"Ada apa, Lusi? Kenapa kamu seperti sedang dikejar-kejar hantu serperti itu?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa lelah saja dan ingin segera pulang ke rumah supaya bisa istirahat," jawab Lusi
"Kalau merasa lelah dan mau cepat pulang, sih ... bukan cuma kamu saja. Semua juga seperti itu."
"Sayang sekali, aku terlambat menyebar video atau gosip tebtang Damia yang djselingkuhi oleh dokter Raffa karena Damia sudah tahu kalau aku merekam video percakapan dia sama dua orangtuanya. Apa tetap aku sebar saja gosipnya? Tapi, Damia sampai minta maaf dan bilang terima kasih. Aku merasa tidak enak kalau tetap menyebarkan gosip. Aku juga tidak mau hubungan sama teman kerja jadi canggung kalau aku benar-benar menyebar gosipnya," batin Lusi
Damia tidak menyangka jika pelaku yang merekam video percakapan dirinya dan kedua orangtuanya adalah rekan kerjanya sendiri. Seolah suster cantik itu lagi-lagi ditusuk dari belakang oleh orang yang bekerja dekat dan di tempat yang sama dengan dirinya.
..."Sungguh kebetulan karena Lusi juga ada di restoran semalam. Aku harap dia benar-benar tidak menyebarkan video itu ke orang lain selain hanya memperlihatkannya sama Raffa," batin Damia...
Alina yang masih ada di ruang loker hanya menyaksikan dalam diam saat Damia adu debat dengan Lusi. Namun, saat ini adalah waktu untuk ia mulai bereaksi.
"Aku tidak sangka kalau Lusi yang merekam video saat kamu sedang bicara sama ibu dan ayah kamu semalam. Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia yang melakukannya?" tanya Alina
"Aku juga tidak menyangka dan tadi itu hanya tebakan yang beruntung," jawab Damia
"Meski pun memang terlihat sangat jelas kalau dia pelakunya, tapi sampai akhir dia tidak mau mengaku dan hanya diam. Bahkan sampi akhir pun dia tidak minta maaf atau bilang terima kasih, justru malah sebaliknya ... " ujar Alina
"Aku tidak menyangka, kenapa malah kamu yang minta maaf dan bilang terima kasih sama dia? Kamu ini terlalu berbaik hati atau apa, sih, Damia?" tanya Alina melanjutkan.
"Tidak. Tadi itu adalah teknik memanipulasi mental dan perasaan seseorang. Dia memang dicap sebagai orang yang bersalah karena telah melanggar hak privasi seseorang karena sudah merekam percakapan aku sama ibu dan ayah, tapi tanpa mau mengaku, aku malah mengungkap perbuatannya. Ada saja orang yang jika diperlakukan seperti itu bukannya merasa bersalah atas yang telah diperbuat, dia malah merasa marah," jelas Damia
"Namun, karena aku meminta maaf karena mengungkap apa yang berusaha dia rahasiakan dan bilang terima kasih karena tidak menyebar rahasia yang sebenarnya milik aku itu, kalau dia memang merupakan orang baik, dia pasti berpikir dan merasa bersalah, lalu dia benar-benar tidak mengungkap rahasia itu ke orang lain. Itulah yang aku harapkan. Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan," sambung Damia
"Tapi, dia sudah memperlihatkan video itu sama Dokter Raffa. Apa maksud dia mekakukan itu?" tanya Alina
"Aku juga tidak tahu pasti. Aku tidak ada hubungannya dengan urusan dia dan Raffa. Mungkin dia mau mempergunakan video itu, karena di dalam video itu aku mengungkap kesalahan Raffa, bisa jadi dia menjalin transaksi dan minta uang sebagai tutup mulut atau agar dia tidak menyebar-luaskan video yang berisi tentang Raffa itu. Makanya, tadi Raffa sempat marah sama aku," jawab Damia
"Itu ... bisa jadi," kata Alina
"Meski pun, video itu sudah diperlihatkan ke Raffa dan entah apa urusan mereka berdua, aku tidak ingin terlibat. Makanya, aku melakukan yang seperti tadi. Alih-alih marah, aku malah berbaik hati dengan minta maaf dan bilang terima kasih. Aku harap video itu tidak tersebar luas dan hanya berhenti di Raffa supaya tidak ada lagi orang-orang yang membicarakan soal ini dan memandang aku dengan tatapan yang menyedihkan karena masalah yang terjadi antara aku dan Raffa," ujar Damia
"Kali ini yang salah adalah Lusi yang menjadi pelaku perekam video itu, kamu tidak bersalah. Kamu hanya berpikir cerdik untuk mengatasinya," ucap Alina
"Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuat aku merasa lelah," kata Damia
Damia hanya tersenyum saat mendengar perkataan sahabatnya itu. Suster cantik itu pun melanjutkan merapikan barang-barang miliknya yang ingin dibawa pulang dari tempatnya bekerja itu.
"Tapi, apa Lusi benar-benar tidak akan menyebarkan video atau gosip tentang hal itu setelah kamu bicara seperti tadi?" tanya Alina
"Kalau dia masih berbaik hati dan merasa bersalah, dia tidak akan melakukannya. Aku hanya bisa berharap dia tidak melakukannya karena aku tidak punya banyak uang untuk nembayarnya sebagai uang titup mulut," jawab Damia
"Ya, harusnya dia masih punya perasaan dan hati nurani ... " kata Alina
Setelah membereskan barang-barang, Damia pun ke luar dari ruang loker bersama Alina.
Tidak kembali berpapasan dengan rekan kerja lain selama ke luar dari rumah sakit, Damia dan Alina pun berjalan menuju tempat parkir motor bersama.
"Hari ini kamu bawa motor sendiri lagi?" tanya Alina
"Ya, sudah sekitar satu minggu ini aku selalu kerja naik motor sendiri," jawab Damia
"Sebelumnya kamu sempat tidak bawa motor saat bekerja karena apa? Apa saat itu kamu diantar pergi kerja sama pacar kamu?" tanya Alina
"Aku hanya beberapa kali diantar kerja sama Angga. Selebihnya terkadang aku sedang malas bawa motor sendiri atau motor punya aku sedang dipebaiki di bengkel," jelas Damia
"Ya sudah, ayo kita ke luarkan motor masing-masing dari tempat parkir," kata Alina
Damia hanya mengangguk. Kedua suster cantik itu pun mengeluarkan sepeda motor milik masing-masing dari area parkir motor rumah sakit tersebut.
Setelah mengeluarkan motor dari tempat parkir, kedua suster cantik itu pun bersiap untuk berpisah karena harus menempuh jalan yang berlawanan arah untuk pulang menuju ke rumah masing-masing.
"Hati-hati di jalan pulang. Sampai jumpa besok, Alina ... " pesan Damia
"Kamu juga hati-hati di jalan, Damia. Sampai jumpa lagi," sahut Alina
Damia dan Alina pun melajukan motor masing-masing ke luar dari wilayah rumah sakit menuju arah yang berbeda.
Begitu sampai di rumah,Damia langsung masuk ke dalam rumah setelah menempatkan motor miliknya di halaman rumah. Suster cantik itu lebih dulu membuka pintu yang terkunci dengan kunci cadangan karena pada waktu tersebut rumahnya sedang kosong karena kedua orangtuanya juga pergi meninggalkan rumah untuk bekerja.
.
Bersambung.